Aisha mengikuti ibunya turun dari dalam bus, kedua tangannya penuh dengan tas dan oleh-oleh untuk nenek dan sepupunya mas Wisnu.
"Bu, ini anaknya ?" kernet bus yang membantu ibunya bertanya.
"iya, kenapa ?" pertanyaan itu sering terjadi jika Larasati pergi bersama dengan Aisha, karena badan Aisha yang mirip bule dan tinggi diatas rata-rata wanita Indonesia. Membuat dirinya sedikit berbeda.
"Cantik Bu " ucap laki-laki tersebut sembari menampilkan cengiran dibibirnya.
"Cantiklah, anakku " balas ibu Aisha.
Saat laki-laki tersebut ingin berbicara kembali, tiba-tiba datang lelaki gagah menghampiri Aisha dan ibunya.
"Apa yang kau lakukan Wandi, apa kau ingin menganggu ibu ku " ucap laki-laki yang baru datang tersebut.
"Pak Wisnu " ucap orang yang dipanggil Wandi oleh Wisnu.
"Wisnu.." terlihat senyuman diwajah ibunya Aisha.
"Mas Wisnu " Aisha juga gembira melihat sepupunya, yang sudah lama tidak ditemuinya.
"ibu, Aisha " Wisnu menyalim tangan Larasati, sejak kecil Wisnu selalu memanggil Larasati dengan sebutan ibu. karena Wisnu sudah sejak masih bayi merah sudah ditinggalkan ibunya, untuk selama-lamanya. Dan saat umur 16 tahun ayahnya yang tidak pernah menikah lagi sejak istrinya meninggal, ikut menyusul istrinya. Akibat sakit yang dideritanya sejak lama.
Larasati ikut mengurus Wisnu, dari Wisnu kuliah dia tinggal bersama Larasati sampai dia selesai kuliah. Dan kembali ke kampung menemani neneknya yang tinggal sendiri, karena kakeknya juga sudah meninggal.
"loh.. kenapa disini, apa tahu ibu datang ?" tanya ibunya Aisha.
"Tidak Bu, tadi Wisnu baru dari kelurahan. Saat bus berhenti lihat ibu turun " kata Wisnu.
"Hei adik mas, tambah cantik ya ? apa tadi di ganggu Wandi?" tanya Wisnu sambil melirik Wandi yang mesem-mesem.
"Hih Mas Wisnu " ujar Aisha.
"Nggak Pak Wisnu, mana berani ganggu saudara Pak Wisnu " kata Wandi.
"kalau tidak saudara saya, kamu berani ?"
"He..he.., permisi Pak " kemudian Wandi kembali masuk kedalam bus, dan bus kembali melanjutkan perjalanannya.
"Ayo.." Wisnu mengambil alih bawaan yang ada ditangan ibunya Aisha, dan meletakkan handphonenya kedalam mobil.
Aisha dan ibunya masuk kedalam mobil, Aisha duduk dibelakang dan ibunya bersama Wisnu didepan.
"Bagaimana nenek Wisnu, sehat kan ?" tanya Larasati tentang kondisi ibunya, walaupun sering berbicara melalui sambungan telepon. Ibunya Larasati hanya mengatakan kesehatannya baik-baik saja.
"Sehat Bu, hanya beberapa hari ini penyakit lamanya sering kambuh " kata Wisnu.
"Nenek mu itu sudah dibilang jangan suka kekebun lagi, pasti tetap kekebunkan "
"Bosen kata nenek jika dirumah terus " kata Wisnu.
"Panen padi nenek suka ikut juga ?"
"Mana bisa dilarang Bu " ucap Wisnu mengingat neneknya yang tidak bisa diam dirumah.
Ibunya dan Wisnu saling berbicara, sedangkan Aisha hanya diam matanya memandang keluar jendela. Menatap hamparan sawah yang padinya mulai menguning.
"Aisha, kenapa diam saja ? apa baru sebentar sudah rindu dengan yang ada di kota ?" goda Wisnu.
"Mas Wisnu, yang dikota siapa ?" tanya Aisha kembali kepada Wisnu.
"Mana mas tahu, Aisha yang tahu siapa yang dirindukan yang ada dikota "
"Mana ada yang dirindukan " jawab Aisha.
"Benar ? adik mas secantik begini, masa tidak ada yang mendekati ?"
"No..!" seru Aisha.
"Benar Bu, Aisha tidak ada yang mendekati. Buta semua pemuda dikota " kata Wisnu.
"Adekmu terlalu pemilih Wisnu" kata ibunya Aisha.
"Ibu.. bukan pemilih, tapi Aisha belum mau punya pacar "
"Bagus Aisha, belajar dulu " kata Wisnu.
"Mas Wisnu, siapa pacarnya sekarang. Apa masih merindukan Susan ?"
Wisnu terdiam mendengar Aisha menyebutkan nama Susan, pacarnya saat kuliah dulu. Dan meninggalkan Wisnu untuk laki-laki yang kaya.
"Aisha " tegur ibunya, saat melihat Wisnu diam. Dan terlihat perubahan pada raut wajahnya.
"Maaf mas " ucap Aisha dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Aisha, mas sudah lama tidak ada orang yang menyebutkan namanya lagi. Sehingga saat Aisha menyebutkannya mas teringat kembali.
"Maaf .." ulang Aisha kembali.
"Sudah tidak apa-apa, lihat itu nenek " tunjuk Wisnu, saat mobil yang dikendarai Wisnu beserta ibu dan Aisha memasuki pekarangan rumah yang sangat luas. Dan disamping rumah banyak orang yang sedang menjemur padi hasil panen sawah neneknya.
"Nenek pasti kaget melihat kita Bu " kata Aisha.
"Iya " jawab ibunya.
Wisnu menghentikan mobilnya tepat dibelakang neneknya yang berdiri menatap para pekerja ladangnya.
Nenek kira hanya Wisnu yang berada dalam mobil, sehingga dia tidak melihat kedatangan mobil Wisnu.
Aisha dengan cepat turun, setelah mobil Wisnu berhenti.
Dengan mengendap-endap, Aisha berjalan mendekati neneknya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Nenek..!" seru Aisha sambil memeluk neneknya.
Mendapatkan pelukan secara mendadak, tentu mengangetkan neneknya. Apa lagi saat mendengar suara cucunya yang memeluknya.
'Aisha..!" nenek membalikkan badannya dan menatap wajah Aisha, mata neneknya basah.
"Nenek kok nangis, Aisha datang. Aisha pulang lagi ah " pura-pura ngambek Aisha.
"Ini datang diam-diam, mau pulang lagi "
"Ibu " Larasati memeluk ibunya.
"Kenapa pulang tidak ngabarin, pasti mau buat kejutan ya kan ?" tanya neneknya dengan gembira.
"Mendadak Bu, karena tidak sibuk. Kami memutuskan untuk pulang " kata Larasati.
"Hei..lihat cucu cantikku pulang !" seru nenek Aisha kepada para pekerja yang melihat majikannya yang sangat gembira.
"Nenek, malukan. masa pamer bilang cucunya cantik " Aisha memanyunkan bibirnya.
"Emang kenyataan cucu nenek cantik, mirip nenek masih muda " puji neneknya.
"Idih..nenek Muji diri sendiri " goda Aisha.
"Ayo masuk, mana Wisnu. Dia tahu kalian pulang, kenapa dia diam-diam saja " kata neneknya dan mengandeng Aisha dan Larasati masuk kedalam rumah.
"Tidak Bu " kata ibunya Aisha.
"Mas Wisnu tidak tahu kami datang nek " ucap Aisha juga.
" Saat pulang dari kelurahan, Wisnu melihat bus berhenti dipertigaan. Wisnu kaget nek, saat melihat ibu dan Aisha turun dari bus " cerita Wisnu.
"Jadi benar kamu juga tidak tahu, bukannya kerja sama dengan mereka berdua ?"
"Benar nek " kata Wisnu.
"Ibu sehat ?" tanya Larasati kepada ibunya.
"Sehat, lihat ibu masih sanggup ikut panen padi dengan para pekerja " ucap neneknya dengan perasaan senang.
"Betul, asma ibu tidak kumat lagi ?"
"Tidak " jawab ibunya.
"Betul Bu, jangan berusaha menutupinya dari Laras Bu " ujar anaknya Larasati.
"Wisnu pasti ngadu kan ?" neneknya melotot melihat Wisnu yang cengir duduk di kursi didepan neneknya.
"Nek, mas Wisnu bukan ngadu. Tapi karena rasa sayang kepada nenek, takut nanti penyakit asma nenek makin parah " kata Aisha, untuk membela Wisnu yang menjadi tertuduh.
"Iya, asma nenek kumat. Itu karena musim hujan, jadinya dingin. Bukan karena nenek ikut bantu panen padi "
"Vitamin yang Laras belikan, masih ibu makan kan ?"
"Masih, baru dibelikan Wisnu lagi. Wisnu mana Janah, suruh dia kepasar untuk belikan ikan " perintah nenek kepada Wisnu.
"Janah masih disini Bu ?"
"Mau kemana dia "
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
FAHRI GAMING
seneng pnya klrg yg saling sayang dan saling dukung
2021-10-05
0
Yunee Quinn
kapan ketemu om Richard
2021-09-28
0
Arinda_Na
ahhgg...
haru banget
2021-09-12
0