# Flashback on.
Pukul 11.23 wib lahirlah putra ketiga dari Addhitama dan Vivi. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki dengan pipi merah dan tembem. Kedua kakaknya sangat antusias untuk melihat bayi mungil tersebut. Namun, ketika Rindra dan Rival asyik melihat bayi mungil itu. Suara tangis Papih mereka terdengar.
Dua bocah laki-laki itu menghampiri Papih mereka yang sudah terkulai lemas di lantai.
"Pi, kenapa?" Tanya Rindra yang pada waktu itu sudah berusia 7 tahun.
"Mamih kalian ...."
"Kenapa sama Mamih, Pih?" tanya Rindra lagi. Rival hanya diam karena dia belum cukup mengerti apa yang sedang terjadi.
"Mamih meninggal." Seketika tangis Rindra pecah dan Rival pun langsung memeluk tubuh sang Papih.
"Jangan bercanda Papih, Mamih masih hidup. Mamih gak mungkin mati," ucap Rindra dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Mamih kalian sudah meninggalkan kita semua," jawab Addhitama lirih.
"Papih bohong, Mamihku masih hidup," teriak Rindra. sedangkan Rival hanya menangis dalam dekapan sang Papih.
Rindra terus berteriak seakan dia tidak menerima atas apa yang diucapkan papihnya. Dia menangis meraung-raung hingga jenazah Mamihnya dibawa ke rumahnya pun, Rindra tak melepaskan pelukannya kepada jenazah sang mamih.
"Jangan tinggalin aku, Mih." Hanya kata itu yang terus terucap dari mulut Rindra. Membuat semua keluarganya semakin meneteskan air mata.
"Mamih bangun, Mih. Bangun," pinta Rindra dengan air mata yang sudah berjatuhan.
Hingga di pemakaman pun Rindra harus dipegangi oleh beberapa orang. Karena dia tidak menginginkan tubuh Mamihnya ditimbun tanah.
"Mamih aku belum mati," teriak Rindra.
Sungguh sakit hati Addhitama mendengar kepiluan anak pertamanya. Rindra sangat dekat dengan Vivi sehingga dia belum bisa menerima kenyataan yang ada. Rival hanya menangis dan menangis. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Setelah kepergian istrinya, Addhitama harus menjadi ayah dan ibu bagi ketiga putranya. Rindra yang masih mengurung diri dan Radit yang sama sekali tidak merasakan hangatnya pelukan sang ibu. Dan dia sama sekali tidak merasakan kasih sayang dari ibunya semenjak dia lahir.
Anak-anak Addhitama tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri. Radit sudah berusia 5 tahun, Rival 8 tahun dan Rindra sudah 12 tahun.
Diusia Radit 5 tahun ini, dia sudah terbiasa dimaki-maki Rindra. Dia sudah terbiasa diacuhkan dan juga tidak pernah dianggap ada oleh Rindra. Ketika bermain dengan teman sebayanya pun, Radit selalu dijauhi oleh teman-temannya.
"Jangan bermain dengan seorang pembunuh. Dia telah membunuh Mamihku," ucap Rindra.
Hati adik mana yang tidak sakit mendengar ucapan seperti itu. Apalagi, Rindra berkata di depan teman-teman bermain mereka. Radit hanya bisa menunduk dan menjauhi mereka.
Radit duduk di bawah pohon besar. Dia menelungkupkan wajahnya dengan air matanya yang sudah tidak terbendung.
"Aku bukan pembunuh," lirihnya.
Ada lengan yang merangkulnya. Radit menegakkan kepalanya dan itu adalah Rival.
"Jangan diambil hati, Bang Rindra emang seperti itu," ujar Rival. Radit hanya tersenyum, senyuman yang sarat akan makna.
Hari terus berganti, bulan berganti tahun. Sikap Rindra masih saja seperti itu kepada Radit. Radit berubah menjadi anak rumahan yang tidak kenal pergaulan. Statusnya sebagai pembunuh menjadi momok yang mengerikan untuknya. Sudah pasti dia tidak akan diterima oleh teman-temannya yang lain.
Addhitama yang merasa curiga dengan perubahan sikap Radit akhirnya mengajak Radit pergi berdua ke sebuah taman.
"Kamu kenapa gak mau main sama teman-teman kamu?" Sekarang Radit sudah duduk di bangku SD.
Radit hanya menggeleng. "Pih, apa Radit adalah yang membunuh Mamih?"
Addhitama tersentak dengan perkataan anak bungsunya ini. "Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Abang yang selalu bilang aku adalah anak yang jahat. Anak yang sudah membunuh Mamih hingga Abang tidak memiliki seorang ibu lagi. Radit tidak meminta untuk dilahirkan, Pih. Jika, Radit tau Mamih akan meninggal setelah melahirkan Radit, lebih baik Radit yang menggantikan Mamih untuk menghadap Tuhan terlebih dahulu." Radit berbicara dengan tatapan kosong dan memandang lurus ke depan.
Addhitama tak kuasa menahan air matanya. Sedangkan putranya yang berada di sampingnya terlihat menyimpan beban yang teramat berat. Addhitama memeluk tubuh putra bungsunya.
"Bukan kamu yang menyebabkan Mamih meninggal. Mamih memang sudah memiliki penyakit berbahaya sebelumnya. Mamih memilih mempertahankan kamu di dalam kandungannya meskipun itu akan merenggut nyawanya," jelas sang Papih.
Radit tidak menjawab apapun. Setalah Radit menanyakan hal tersebut, Addhitama mulai membawa Radit ke psikiater. Ternyata putra bungsunya ini memiliki beban tersendiri di rumahnya. Tekanan Rindra dengan ucapan pedasnya membuat kepercayaan diri Radit menghilang. Dia lebih suka mengunci kamarnya dan menyendiri di sana.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan Radit menjadi anak yang normal. Addhitama dengan sabar mengobati setiap goresan luka yang Radit rasakan. Sehingga Rindra menganggap jika sang Papih sudah tidak memperhatikannya. Hanya mementingkan adiknya itu.
Hingga Addhitama ditegur oleh keluarganya karena telah mengabaikan Rindra. Si penerus pertama perusahaan milik keluarga Addhitama. Karena cucu dari orang tua Addhitama semuanya perempuan. Hanya anak-anak Addhitama yang laki-laki.
Marah kepada Rindra pun Addhitama tidak bisa. Rindra adalah tipe anak yang keras. Jadi, hanya dengan cara lembut bisa menaklukan hatinya.
Diam-diam Radit selalu masuk ke kamar Kakaknya yaitu Rival. Dia mengambil foto di atas meja belajar Rival. Ada seorang perempuan yang sedang menggendong seorang anak dan juga menuntun seorang anaknya lagi.
"Kakak masih beruntung bisa melihat Mamih. Aku hanya bisa memandang Mamih hanya dari foto ini," lirihnya.
Rival mendengar ucapan dari Radit dan hatinya pun sedih. Di kamar Abang dan dia terpajang foto Mamihnya yang sedang menggendong mereka. Sedangkan di kamar Radit, tak satupun foto yang ada di sana.
"Bagaimana rasanya dipeluk Mamih?" gumamnya sambil mengusap foto sang Mamih.
"Aku ingin merasakan pelukan Mamih. Dari setiap buku yang aku baca, pelukan seorang ibu itu sangat menghangatkan. Benarkah seperti itu?"
Setelah puas berbicara dengan Mamihnya melalui figura, Radit kembali ke kamarnya dan langsung menguncinya kembali.
Rival selalu menceritakan semua yang dilakukan Radit kepada sang Papih. Hingga Addhitama pun tak kuasa menahan tangisnya.
Addhitama terus membawa Radit ke psikiater hingga kondisi psikis Radit sembuh. Dan dia bisa bergaul dengan teman-temannya.
Perlu waktu lima tahun untuk membuat Radit kembali seperti dulu lagi. Dia menjelma menjadi anak yang ramah dan sulit untuk terpancing emosi.
Pribadi Radit lebih baik dari kedua kakaknya. Namun, hubungannya dengan Rindra masih renggang meskipun Rindra sudah meminta maaf kepada Radit.
Addhitama menjelaskan kronologi sang Mamih meninggal ketika usia Rindra menginjak 17 tahun. Agar dia bisa lebih mengontrol emosinya. Rindra menangis dan menyesali perbuatannya kepada Radit. Apalagi Addhitama menjelaskan psikis Radit yang sangat amat terguncang karena ucapan dari Rindra.
# Flashback off.
Radit menghela napasnya mengingat kejadian demi kejadian masa lalunya.
"Aku akan tumbuh menjadi anak yang kuat, Pih. Aku janji."
****
Happy reading ....
Up langsung baca ya jangan ditimbun-timbun ...
Dengan begitu kalian membantu aku mendapatkan level silver.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
Radit yg malang
2024-10-10
0
Andaru Obix Farfum
kisah rindra m nesha judulnya apa ka
2023-01-12
0
Dilah Mutezz
😭😭😭😭😭😭
luka batin itu sulit buat d smbuhkn, slama
2021-10-23
0