"Kak Radit ...."
Rifal menatap ke arah Radit dan juga gadis dihadapannya bergantian. Dia mengerutkan dahinya bingung.
"Ini tamu lu diemin aja, Dit?" tanya Rifal.
"Ikut aku," ucap Radit dingin.
Echa pun mengikuti langkah Radit. Mereka duduk di halaman samping rumah Radit. Ada kolam ikan cukup besar di sana.
"Kenapa semua chat dan panggilan aku gak pernah Kakak balas dan jawab?"
"Dan itu tangan dan kaki Kakak kenapa?" tanya Echa yang hendak menyentuh Radit namun, ditepis oleh Radit.
Dada Echa terasa sesak dan hatinya terasa sakit ditolak seperti itu oleh Radit.
"Sudah saatnya aku pergi, karena aku tidak mau menjadi perusak hubungan kamu sama dia." Enggan sekali Radit menyebut nama Riza.
"Ma-maksud Kakak apa?" tanya Echa bingung.
"Kamu masih sayang kan sama dia, dan masih belum bisa bahkan tidak akan pernah bisa lupain dia." Ucapan Radit benar-benar menusuk hati Echa. Dia ingin menyembuhkan lukanya malah Radit berkata seperti itu.
"Kakak kan yang bilang ke aku, kalo aku harus sembuh dari luka yang masih menganga ini. Sekarang, malah kakak yang menyuruh aku larut dalam luka yang dalam ini," lirihnya.
"Aku ke sini karena aku ingin menjelaskan kesalahan pahaman ini. Aku ...."
"Kak Radit, kok bisa sih kamu jatuh dari motor begini," ucap Rere yang entah dari mana sudah ada dihadapan Radit sambil berlutut.
Wajah Echa nampak pilu ketika Radit tidak menolak sentuhan dari Tere. Echa pun bangkit dari duduknya. Hatinya panas melihat Tere menyentuh Radit.
"Aku pulang, Kak. Mulai hari ini tugas Kakak menjagaku sudah selesai. Maaf, aku ganggu waktu Kakak."
Hati Radit tersentak mendengar ucapan Echa, dan Radit hanya menatap punggung Echa yang semakin menjauhinya.
Tak terasa bulir bening menetes membasahi pipinya. Echa terus menunduk, hingga dia tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
"Maaf," ucapnya sambil mencoba menghapus air matanya.
Rendra tak mengeluarkan suara, dia menatap Echa lekat. "Apa dia menyakitimu?" Suara Rendra terdengar sangat lembut di telinga Echa.
Echa hanya menggeleng, dan melanjutkan langkahnya keluar dari rumah Radit. Disepanjang perjalanan Echa hanya diam dan menatap ke samping jendela. Hatinya sakit, ketika orang yang selalu membuatnya tertawa dan marah kini malah menjauhinya dan bersikap dingin kepadanya.
Untung saja di rumah hanya ada para pelayan. Kedua orangtua Echa dan juga si kembar sedang keluar. Berkunjung ke rumah ayah dan bundanya.
Echa membuka laci meja belajarnya. Banyak sekali cokelat berbungkus ungu di sana. Dia menatap nanar cokelat itu. Dan Echa hanya menghela napas kasar.
"Masih banyak yang menyayangi kamu kok, Cha," ucapnya pada diri sendiri.
Sedangkan dikediaman Radit. Dengan paksa Radit menarik tangan Tere agar keluar dari rumahnya. Ucapan Tere sangat membuat Radit marah.
"Kak, kamu tuh harus buka mata kamu. Echa itu cewek gak bener, dia masih ngejar-ngejar Riza. Padahal Riza itu tunangan aku."
Amarah Radit sudah tidak bisa terbendung lagi. Radit meninggalkan Tere yang mematung di halaman belakang.
Sedikit banyak otak Radit terpengaruh oleh ucapan Tere. "Apa benar?" tanyanya pada diri sendiri.
Setiap hari Radit selalu memantau Echa dari kejauhan. Sudah tiga hari ini Echa nampak murung dan seakan tidak bersemangat meskipun para sahabatnya selalu bersamanya. Dan rahang Radit selalu mengeras ketika melihat Riza atau Dimas mendekati Echa. Dan respon Echa kepada dua laki-laki itu dingin dan berlalu meninggalkan mereka.
Hari ini ada ekskul musik, Echa sungguh tak bersemangat. Radit yang sedari pulang sekolah sudah ada di sekolah Echa hanya dapat memandanginya dari kejauhan.
Matanya melebar ketika Echa bukan masuk ke ruangan musik malah keluar dari area sekolah. Langkah kaki Echa terus berjalan hingga dia berhenti di sebuah kedai kopi. Dia masuk ke sana dan memilih tempat di pojokan.
Dia memesan es kopi kesukaannya dan menatap ponselnya nanar. Echa berniat untuk mengembalikkan ponsel pemberian Radit dan juga cokelat-cokelat yang Radit berikan untuknya.
"Makasih atas semuanya," ucap Echa sambil melihat foto profil Radit yang sedang tersenyum.
Setelah es kopinya habis, Echa memesan ojek online menuju sebuah mall. Sebelumnya dia mengirim pesan kepada Mamah dan Papanya agar sopir menjemputnya di mall tersebut.
Radit terus mengikuti Echa dan langkah Radit terhenti ketika Echa masuk ke salah satu toko ponsel. Dia memilih ponsel yang biasa anak sekolah gunakan. Bukannya tak mampu membeli ponsel seperti Radit berikan, tabungan Echa masih mampu membeli 5-10 merk ponsel seperti itu.
Setelah Echa membayar dengan kartu, Echa pun meninggalkan toko tersebut dan langsung pulang. Sopirnya sudah menunggunya di depan mall.
Radit hanya menghela napas kasar. Selama ini Radit telah salah menilai perasaan Echa kepada mantannya. Jika, Echa masih menyayangi Riza pasti Echa tidak akan menghindari Riza terus-menerus.
Malam ini, Radit akan menemui Echa ke rumahnya dan meminta maaf kepadanya. Memperbaiki kesalahpahaman ini
Ketika sampai rumah, Echa dikejutkan oleh suara yang sangat dia rindukan. "Om Andri." Echa memeluk tubuh Andri begitupun Andri.
"Makin cantik aja kamu," ucap Andri.
"Kan aku cewek tulen bukan cewek jadi-jadian macam onta Andriyani," ucap Echa sambil terkekeh.
Setelah puas bercengkrama, Echa masuk ke kamarnya. Dia mulai mengemasi semua cokelat pemberian Radit dan juga ponsel pemberian Radit. Semua foto Echa pindahkan ke ponselnya yang baru dan data-data penting tak lupa dia pindahkan.
"Selesai," ucapnya tersenyum getir.
"Kak." Suara sang papa membuat Echa menoleh.
"Papa melihat ada notif pembelian ponsel baru," ucap Gio yang baru saja pulang kerja.
"Iya, Pa. Ini kan ponsel pemberian Kak Radit. Mau Echa balikin," ucapnya.
"Kenapa?"
Echa hanya tersenyum. "Sudah saatnya Kak Radit berhenti menjaga Echa. Karena Echa sudah baik-baik saja," jawab Echa dengan mata nanar.
Gio tahu sedang ada yang tidak beres dengan Echa dan juga Radit. "Tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak penting. Fokuslah belajar, berikan nilai terbaikmu untuk Papa dan Mamah."
Echa pun mengangguk mantap. "Iya, Pa."
Karena kedatangan Andri jauh-jauh dari Jogja, Ayanda dan Gio mengadakan pesta barbeque di halaman belakang rumahnya. Tak lupa Ayanda mengundang geng suami-suami tamvan dan hot mamah. Suasana pun semakin riuh dengan candaan dan gurauan dari Andri.
Panggilan dari seorang pelayan membuat Echa menoleh. "Non, ada Dengan Radit."
"Suruh tunggu sebentar, Mbak." Echa masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kotak yang sudah dia hias.
Echa duduk di hadapan Radit dengan wajah datar. "Kebetulan sekali Kak Radit ke sini. Ini, aku balikin semua pemberian dari Kak Radit." Echa meletakkan kotak yang dia bawa ke hadapan Radit.
"Makasih sudah membuat ku tertawa dan juga marah di beberapa bulan ini. Makasih sudah mau mendengarkan keluh kesah ku. Terimakasih," ucap Echa dengan senyuman getir.
Radit tidak menjawab, matanya menatap lekat wajah Echa. "Aku kira tugas Kak Radit untuk menjagaku sudah selesai. Dan aku sudah berbicara kepada semua orangtua ku." Echa bangkit dari duduknya dan meninggalkan Radit yang terdiam di tempatnya.
Langkah Echa terasa gontai ketika dia menjauhi Radit. Kedua tangan melingkar di pinggang Echa hingga langkahnya terhenti.
"Aku menyayangimu, Cha ...."
****
Happy reading ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Memyr 67
masalahnya tere ma echa apa? kenapa semua cowok yg dekat ma echa, digodain tere?
2023-05-10
0
Pungky Heruwulandari
bikin mewekkk
2022-03-02
0
Ai
like favorite
intip playboy mengejar cinta❤😘
2021-04-23
0