Radit baru saja tiba di rumah dan masuk ke kamarnya. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Rival masuk ke dalam kamar Radit.
"Mau kemana?"
"Ngapel lah," jawab Radit sambil memakai jam tangan.
"Emang udah jadian?"
"Kepo," sahutnya.
"Dit." Ucapan Rival terhenti membuat Radit menatap bingung ke arah Rival.
"Ada apa?" tanya Radit.
"Gua mau nanya," ujarnya.
"Nanya apaan? Kenapa berbelit sih?"
"Misalkan, misalkan saudara lu suka sama cewek yang lagi lu deketin, gimana menurut lu?" tanya Rival ragu.
"Kok nanya ke aku? Tanya ke ceweknya lah," jawabnya.
"Emang gak bakal lu perjuangin tuh cewek?"
"Gini ya Kak, aku deketin dia itu berarti aku udah berjuang untuk membuat dia jatuh cinta sama aku. Keputusannya balik lagi ke cewek itu. Dia mau milih siapa? Kalo dia milih yang lain, aku bisa apa?" jelasnya.
"Lu nyerah?"
"Ya kalo keputusan dia seperti itu mau gimana lagi. Kalo cuma aku doang yang berjuang dan dia malah asyik sama yang lain mending mundur Kak. Aku percaya, jika aku jodohnya, sejauh apapun aku pergi pasti akan dipertemukan lagi. Tapi, jika aku gak berjodoh sama dia, sedekat apapun hubungan aku sama dia jika Tuhan tidak mengizinkan, pasti kita akan dipisahkan."
"Andai yang suka sama cewek yang lu suka itu Kakak lu sendiri?"
"Aku ajak gelut. Udah tau gebetan adeknya, masih aja mau nikung Adek sendiri," geramnya.
Andai lu tau Abang lu juga suka sama cewek yang lagi lu perjuangkan. Bagaimana reaksi lu?
Rival hanya menghela napas panjang ketiak Radit sudah keluar dari kamarnya. Dia pun menuju lantai bawah. Baru saja dia duduk di ruang tv Rindra sudah rapih dengan penampilan santainya.
"Mau ke mana Bang?" tanya Rival.
"Main." Rival mendengus kesal mendengar ucapan dari abangnya ini. Si manusia es yang irit bicara.
"Mampoes, ketemu dah lu berdua," gumam Rival. Rival berlari mencegah abangnya untuk membatalkan acaranya bertemu Echa.
"Bang, tunggu," ucap Rival.
"Aku ikut," ucap Rival. Rindra mengerutkan dahinya.
"Aku mau ketemu temen," ucapnya.
"Cewek apa cowok?" selidik Rival.
"Temen kuliah, sudahlah minggir. Aku udah telat." Rindra masuk ke dalam mobilnya.
Semoga saja mereka berdua gak ketemu.
Radit sudah sampai rumah Echa, Gio dan Ayanda menyambutnya dengan senyuman hangat. "Echa di taman belakang," imbuh Ayanda.
Radit pun tersenyum dan menuju taman belakang. Dia melihat seorang gadis sedang berdiri dan menatap indahnya bintang.
Lengan seseorang jatuh di pundak Echa membuat Echa menoleh ke arah sampingnya. Radit sudah ada di sisinya.
"Kok gak bilang mau datang?" tanyanya.
Radit Meletakkan kepala Echa ke pundaknya. "Aku kangen kamu," ucapnya.
Sedangkan di sebuah cafe. Rindra sedang berbincang santai dengan sahabatnya, Riko.
"Lu gak salah?" Rindra hanya menggelengkan kepalanya.
"Umur lu beda jauh," ucap Riko.
"Lu mau jadiin dia baby sugar?" tambah Riko lagi.
"Dia beda, Ko. Pertama kali gua ngeliat dia ada rasa yang berbeda di hati gua."
"Lu pernah deketin dia?" Rindra menggeleng.
"Lu kaku banget sih kayak kanebo. Kalo lu suka deketin lah. Tapi dengan cara seperti remaja. Ingat, dia masih bocah," terang Riko.
"Lagian aneh, suka sama anak SMA. Gak ingat umur," sarkas Riko.
"Apa cinta mengenal usia?"
"Ya nggak juga," jawab Riko.
"Gua mau coba deketin dia, dia itu spesial. Wa gua gak pernah dia bales. Sekalinya dibales singkat doang." Curhatnya pada Riko.
Riko tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan Rindra. "Karma itu," ucapnya yang tak henti tertawa.
Rindra mengerutkan dahinya tak mengerti. "Lu selalu dingin sama cewek-cewek yang deketin lu. Sekarang lu didinginin sama cewek yang lu suka."
"Itu lah yang membuat gua merasa tertantang untuk dapetinnya. Dia bukan cewek gampangan," imbuh Rindra.
"Terus mau lu sekarang apa?"
Rindra mengeluarkan ponselnya. Semua pesannya tak satupun dibuka oleh Echa. Dia menghela napas kasar. Dia mencoba menghubungi Echa.
Panggilan pertama.
Panggilan kedua.
Panggilan ketiga.
Panggilan keempat.
Dipanggilan kelima baru lah panggilannya dijawab oleh Echa.
"Halo."
Bibir Rindra melengkung dengan sempurna meskipun hanya mendengar suara Echa. Riko hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rindra.
"Papamu ada di rumah gak?" Riko melebarkan matanya.
Ini anak mau ketemu bapaknya atau anaknya, batin Riko.
"Ada, kenapa gak hubungi Papa aja?"
"Nomor Papamu ke hapus."
"Modus," ucap Riko.
"Oh."
"Aku mau ke rumahmu."
"Iya, nanti aku bilang ke Papa Kakak mau datang ke rumah. Bye."
Panggilan pun berakhir. Bukannya Rindra yang mengakhiri panggilannya malah Echa yang terlebih dahulu memutus sambungan teleponnya.
"Benar-benar beda," gumam Rindra seraya tersenyum.
"Semoga sukses PDKT-nya," kata Riko dan dia pamit kepada Rindra karena dia ingin menemui kekasihnya.
Rindra melajukan mobilnya menuju toko kue terenak untuk dibawa ke rumah Echa.
Sedangkan di rumah Echa.
"Siapa yang telepon?" tanya Radit dengan raut wajah tidak suka.
"Temen Papa."
"Kok telpon ke kamu?" tanyanya heran
"Katanya nomor Papa kehapus."
"Modus itu," sahut Radit.
Echa hanya tersenyum melihat raut wajah Radit. "Jangan diledinin," tambah Radit.
"Ciye yang cemburu," goda Echa
Radit menatap jengah ke arah Echa. Membuat Echa tergelak dan merangkul lengan Radit.
"Jangan ngambek dong, nanti gantengnya ilang," ucap Echa sambil tersenyum.
Radit mengacak-acak poni Echa karena merasa gemas dengan tingkah gadis di sampingnya ini.
"Cha, aku boleh jujur gak?" ucap Radit.
"Apa?" Mereka berdua sudah saling berhadapan. Radit menggenggam tangan Echa.
"Aku sayang sama kamu, Cha. Aku ingin selalu jadi obat dalam setiap kesedihan kamu. Aku ingin selalu menjadi orang yang selalu ada buat kamu."
Echa hanya terdiam, hanya keseriusan yang Echa lihat di mata Radit. "Cha, kamu juga sayang kan sama aku?" Jantung Echa berdegup sangat cepat. Dia tidak bisa menjawabnya. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama kepada Radit. Tapi, dia masih takut untuk jatuh cinta lagi.
"Aku tahu, kamu masih takut untuk kembali menjalin hubungan. Tapi, aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan kamu ke aku?
"Kalo kamu gak memiliki perasaan apapun ke aku, pasti kamu akan cuek sama aku. Akan marah kalo aku deketin kayak pertama kali kita ketemu."
"Aku juga sayang kamu, Dit," ucapnya pelan.
"A-apa kamu bilang tadi?" tanya Radit dengan senyum bahagia.
"Gak ada siaran ulang," jawab Echa dengan wajah yang sudah memerah.
Radit pun tertawa dan memeluk tubuh Echa. "Makasih sudah membalas rasa yang aku miliki."
Tangan Echa membalas pelukan Radit dengan erat. "Makasih, sudah mau menyayangi aku. Maaf, kalo aku gak sempurna," ujar Echa.
Ayanda dan Gio tersenyum bahagia melihat Echa dengan Radit. Radit mampu menyembuhkan luka putri mereka.
Suara bel membuat Ayanda dan Gio pergi ruangan depan. Gio memandang heran kepada sosok yang ada di depannya.
"Malam Kak," ucap Rindra sopan.
"Tumben?"
"Tadi abis main dari rumah temen yang gak jauh dari sini, makanya mampir."
"Ya udah masuk," ujar Gio.
Setelah duduk di ruang tamu, mata Rindra seolah sedang mencari sesuatu. Matanya terus berkeliling.
"Silahkan diminum." Ucapan Ayanda membuyarkan lamunannya.
Panggilan seseorang membuat ketiga orang dewasa ini menoleh. Mata Rindra mlebar dengan sempurna melihat Radit ada di rumah Echa.
"Tante aku ma ...."
****
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Winny OT7'S 💜💜
aduuhh mulai gelut ini kyk nya?? 😆😆😆
maafkan aku yg baru gabung ini ya thoorrr 💜💜💜💜
2021-12-15
0
Novie Gwen Naura
lahhh Echa kan Uda pernah kerumah Radit n nabrak Rindra kan kok g kenal n tau muka Echa siiih....
2021-11-08
0
Dilah Mutezz
brantem dah tuh sma abang mu haha 🤣🤣🤣
2021-10-22
0