Masih pagi namun, Radit sudah ada di kediaman Gio dan juga Ayanda. Modus anak muda mengantar Echa ke sekolah sambil numpang sarapan.
"Papih mu masih di luar kota, Dit?" tanya Gio yang sedang meminum kopinya.
"Iya, Om. Katanya semingguan di sana. Pasiennya perlu penanganan khusus."
Suara langkah kaki membuat Radit menoleh, gadis yang dia tunggu baru saja bergabung dengan keluarganya.
"Loh kok?" ucap Echa heran.
"Sarapan Kak, nanti telat," ujar Ayanda.
Mereka menikmati sarapan dan setelah selesai, Radit dan Echa pamit kepada kedua orangtua Echa.
"Kamu bawa mobil?" tanya Ayanda.
"Motor, Tante."
"Hati-hati, sampe anak gadis Tante lecet ganti rugi kamu." Echa berdecak kesal ke arah Mamahnya.
Setelah menyalimi kedua orangtuanya, Echa mencium si kembar dan mengunyel-unyel pipi tembem mereka hingga mereka menangis.
Sebelum Ayanda berteriak, Echa langsung berlari mengejar Radit. "Dasar gadis jail," gerutu Ayanda.
"Kamu tuh kebiasaan, tiap pagi bikin si kembar nangis," ucap Radit sambil memakaikan helm di kepala Echa.
Di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, hingga tangan Radit menarik tangan Echa agar memeluk pinggangnya.
"Apa sih?" Echa mencoba memberontak.
"Biar gak jatoh."
"MODUS." Radit pun tertawa.
Setelah sampai di depan sekolah, Radit membantu Echa membuka helmnya. "Nanti pulang sekolah aku jemput, ya."
"Bilang ke orangtua ku dulu," sahut Echa.
"Iya."
"Aku ke kelas ya." Echa pun melambaikan tangan kepada Radit.
"Ciye, yang udah rujuk," goda Mima dan Sasa yang ternyata sudah menunggu Echa di depan pintu gerbang.
"Apa sih?"
"Ganteng banget loh, baik pula. Kurang apa sih Cha?" ucap Sasa.
"Kurang perjuangan," sahutnya sambil tertawa.
Langkah Echa terhenti ketika Tere sedang beradu mulut dengan Riza. Panggilan seseorang membuat Echa, Sasa, dan Mima menoleh.
"Kenapa masuk?" tanya Echa.
"Ini tadi ketemu Bunda kamu di bawah. Bunda minta aku buat anterin ini ke kamu." Radit menyerahkan paper bag yang berisi makanan kesukaan Echa.
"Makasih." Echa melihat isi di dalam paper bag tersebut. Ternyata ada empat kotak bekal makanan, Echa mengambil kotak makan berwarna merah hati yang bertuliskan Radit.
"Ini buat kamu, Bunda sepertinya sengaja buat banyak. Di masing-masing tempat makan ada namanya." Radit pun menerima kotak makan tersebut dan sebelum pergi Radit mengacak-acak poni Echa hingga Echa berdelik kesal.
Mata Riza terus memperhatikan Echa dan juga Radit. Jujur, Riza masih sangat mencintai Echa dan masih berharap Echa kembali kepadanya. Dan dia merasa sangat cemburu.
Jam istirahat pun tiba, Echa dan dua sahabatnya ke kantin untuk memakan bekal dari Amanda. Mereka mencari meja yang kosong dan hanya satu meja yang masih cukup untuk diisi tiga orang. Tapi, di meja itu juga Riza dan Tere sedang makan.
"Lu keberatan gak?" Echa menggeleng.
Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk satu meja dengan Riza dan juga Tere.
"Yang, kamu mau ini gak?" Perkataan Tere mampu didengar oleh Echa dan dua sahabatnya. Echa masih anteng dengan makanannya. Tak menggubris ucapan Tere sama sekali.
"Kok gua dengernya enek, ya," ejek Mima sambil tertawa.
"Yang haus yang haus," timpal Sasa.
Echa hanya tersenyum tipis mendengar dua sahabatnya yang sedang menyindir Tere dan juga Riza. Apakah Echa cemburu? Tentu tidak, setelah kehadiran Radit dan banyak wejangan-wejangan yang Radit berikan dalam ucapan santai, membuat Echa tersadar akan hati dan hidupnya.
Dari dulu Echa sering sekali mengorbankan perasaannya untuk kedua orangtuanya, dan sekarang dia juga pasti akan baik-baik saja.
"Hay." Sapaan seseorang membuat Echa kesal. Siapa lagi jika bukan Dimas.
Echa menyudahi makannya dan beranjak dari duduknya. Dengan cepat Dimas menahan tangan Echa.
"Kamu marah karena kemarin?" Mendengar ucapan Dimas rahang Riza mengeras.
"Apa harus aku perjelas?" jawab Echa sinis.
"Aku gak suka kamu Deket sama si Radit itu. Aku suka sama kamu, Cha," ucapnya dengan suara keras.
Alhasil semua orang di kantin mendengar ucapan Dimas dan semua mata tertuju pada Echa dan juga Dimas. Wajah Riza merah padam mendengar ucapan Dimas.
"NORAK." Echa pun langsung pergi meninggalkan Dimas.
Langka Echa sangat terburu-buru dengan hati yang bergemuruh menahan marah. Hal yang paling Echa tidak sukai adalah ini. Dengan sengaja mengatakan suka atau cinta di depan umum.
Echa masuk ke kelas dan mendudukkan dirinya dengan kasar. Dia mengambil ponselnya ternyata sudah ada pesan dari seseorang.
"Jangan lupa makan, Sayang."
"Jijik🤢"
"Astagah, dibilang Sayang jijik pan."
"Aku nanti ada rapat buat panitia pensi, mungkin pulangnya agak sorean."
"Siap, kabarin aku aja."
"Hm."
"Merk baju itu?"
"Itu HM."
"Salah dong ya."
"Au ah."
"Ya udah, aku mau masuk kelas dulu."
"Belajar yang bener."
"Biar apa?"
"Biar pinter lah."
"Kirain biar cepet lulus terus langsung meminang kamu."
Echa tertawa sendiri membaca pesan yang dikirim oleh Radit. Beginilah Radit selalu menjadi penawar luka untuk Echa.
Pulang sekolah, Echa harus ikut rapat untuk membentuk kepanitiaan acara tahunan sekolah. Semangatnya memudar ketika dia harus bekerja sama dengan Tere dan juga Riza. Ingin sekali dia mengundurkan diri namun, Echa dipercaya oleh pihak sekolah untuk menjadi panitia sekaligus pengisi di pensi tersebut.
Sebenarnya Echa bosan karena Tere terus bersikap manja kepada Riza. Meskipun, mereka berempat bersama Doni sedang membahas acara pensi ini.
"Gua ke toilet, dulu." Echa beranjak dari duduknya dan membiarkan saja Riza menatapnya.
Ketika Echa sudah selesai dan hendak membuka pintu kamar mandi. Ternyata pintu itu dikunci dari luar. Berkali-kali Echa meminta tolong dan menggedor-gedor pintu kamar mandi tapi, tak ada yang membukakannya. Keadaan sekolah memang sudah sepi. Hanya anak-anak terpilih yang diusung jadi panitia pensi.
Echa hanya berdiri dan memejamkan matanya. Kejadian ini mengingatkannya ketika dia duduk di sekolah dasar.
Bullyan demi Bullyan selalu Echa terima. Namun, tak sekalipun Echa mengadukan kepada orangtuanya. Ketika TK semua orang menyebutnya anak yang tak memiliki Ayah. Dan ketika SD dia disebut sebagai anak yang tidak diinginkan.
Echa hanya dapat menghela napas kasar. Sudah biasa untuknya disakiti dan dilukai. Dia terus berusaha menyimpan sakit dan lukanya seorang diri.
"Apa nasib gua emang harus terus disakiti dan terluka begini?" gumamnya.
Radit terus menghubungi ponsel Echa namun tak pernah ada jawaban dari Echa. Dia berpapasan dengan Tere di lapangan sekolah dan menanyakan keberadaan Echa.
"Kayaknya udah pulang," jawab Tere acuh.
Radit tidak mempercayai ucapan Tere begitu saja. Dia mencari Echa ke setiap ruangan. Namun, nihil dia tidak menemukan Echa. Tasnya pun tidak ada. Dia meminta ke penjaga sekolah untuk mengecek CCTV sekolah.
Pintu toilet pun terbuka, Echa bangkit dari jongkoknya, hatinya merasa lega. Melihat senyum itu ....
****
Happy reading ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Devi Erawati
kasihan echa...pasti radit awas aja klu riza thor
2021-01-25
0
Anyle Tiwa
itu pasti radit kan?
2021-01-25
0
Tri Widayanti
kasihan si Echa
2021-01-25
0