Langkah Echa terasa gontai ketika dia menjauhi Radit. Kedua tangan melingkar di pinggang Echa hingga langkahnya terhenti.
"Aku menyayangimu, Cha."
Echa tersentak mendengar perkataan Radit dan tangan yang sudah melingkar di pinggangnya. Empat pasang mata menatap Radit dan Echa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ehem." Deheman seseorang membuat Radit melepaskan tangannya. Dan Echa langsung menunduk ketika dia melihat siapa yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Maaf, Om." Radit benar-benar santai dan tidak ada sedikit pun kecemasan dalam hatinya.
Bagi laki-laki lain yang menghadapi papa dan ayah Echa akan gugup dan takut. Berbeda dengan Radit, dia tahu bagaimana sifat Rion dan juga Gio.
"Kalian duduk," titah Rion kepada Echa dan juga Radit.
Rion menatap kotak yang ada di meja lalu membukanya. Dia menghela napas kasar.
"Anak saya sudah memiliki kekasih, jadi tidak usah menjadi orang ketiga di dalam hubungan anak saya." Echa melebarkan matanya dan dia merem*s tangannya karena ayahnya menyangka dia masih berpacaran dengan Riza.
"Masih pacaran kan, Om. Masih bisa aku tikung dipertigaan atau diperempatan," sahutnya santai.
Echa hanya tertunduk dan tidak bisa menimpali ucapan ayahnya. Gio di sana hanya jadi penonton. Ketika Echa melihat ke arahnya, Gio hanya mengangkat bahunya. Padahal dalam hatinya dia tertawa.
"Dasar batu," omel Rion pada Radit.
"Bukankah cinta itu harus diperjuangkan, Om?" tanya Radit.
"Karena aku serius sayang sama Echa, makanya aku sangat berniat menikung Echa. Sebelum buku nikah di tangan masih banyak kesempatan, Om." Gio tersenyum tipis ke arah Radit. Anak yang luar biasa.
"Tapi saya hanya ingin anak saya setia pada satu orang pria," tegasnya.
Echa memberanikan diri untuk menatap sang ayah. "Yah, boleh Echa bicara." Gio dan Radit menatap lekat ke arah Echa.
"Sebenarnya, hubungan Echa dan Riza sudah lama berakhir. Dan maaf, Echa baru berbicara sekarang. Karena Echa tahu jika Ayah tahu semua ini, Ayah akan marah dan membenci Riza," lirihnya.
"Echa nyesel karena gak nurutin apa yang Ayah katakan dulu. Ternyata sakit ketika pengorbanan dibalas dengan pengkhianatan." Echa pun tertunduk menahan sesak di dadanya.
"Sini, Dek," titah Rion.
Echa pun menghampiri Rion dan memeluk tubuhnya. "Maaf, Yah. Maaf." Hanya itu yang Echa katakan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Dari sini kamu bisa belajar, tulusnya pengorbanan kita tidak selamanya dibalas dengan ketulusan cinta oleh mereka."
Radit dan Gio saling pandang dan tersenyum. Pada akhirnya, Echa menjabarkan semuanya kepada sang Ayah. Berarti luka di hatinya perlahan sudah mulai sembuh.
"Bagaimana dengan Radit?" tanya Rion.
Echa menatap Radit sekilas. "Tidak Ayah, luka Echa masih menganga dan tidak ingin menambah luka baru," ucapnya sedikit menyindir Radit.
Rion dan Gio pun tersenyum, sedangkan wajah Radit terlihat pilu. "Aku serius dengan ucapanku tadi, Cha," kata Radit.
"Aku pun serius dengan ucapanku barusan."
Ingin rasanya Gio dan Rion tertawa terbahak-bahak. Watak anak mereka memang unik.
"Ini apa?" tanya Rion yang melihat kotak berwarna biru.
"Itu barang pemberian dari Kak Radit, dan Echa kembalikan semuanya."
"Kenapa?" tanya Rion.
Echa hanya menggeleng lalu pamit meninggalkan ayah dan Papanya serta Radit. Radit hanya menghela napas kasar.
"Makanya jangan cemburuan, anak Om memang cantik jadi laris manis," imbuh Rion.
"Kalo kamu beneran sayang sama Echa, buktikanlah. Echa bukan orang yang hanya percaya ucapan tapi juga tindakan yang nyata," ujar Gio.
Radit hanya mengangguk, jika dia mendekati Echa pasti Echa akan semakin marah. Radit benar-benar galau malam ini. Terus memandanginya dari jauh, dan sangat terlihat wajah Echa yang sendu.
"Maafkan aku, Cha."
Tepukan bahu dari seseorang membuat Radit menoleh. "Mendapatkannya bukan perkara mudah. Perlu perjuangan dan kesabaran ekstra menghadapinya," ucap Arya pada Radit.
Banyak sedikit Arya tahu bagaimana Echa. Dia sulit jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta pasti dia akan setia. Mendengar cerita Rion padanya barusan membuat Arya pun marah. Bukan tanpa sebab, dia sendiri yang melihat perjuangan Echa yang selalu dimarahi oleh ayahnya karena selalu mementingkan Riza. Hingga tamparan pun pernah Rion layangkan ke pipi Echa.
"Jangan pernah sakitin Echa, bukan cuma Papa dan Ayahnya yang akan murka. Gua akan lebih murka," jelas Arya. Radit pun hanya menganggukkan kepalanya. Echa anak yang spesial, sangat banyak orang yang melindunginya.
Hari terus berputar, Radit pun terus berjuang untuk kembali dekat dengan Echa. Berbagai cara sudah Radit lakukan, namun selalu gagal.
Hari ini sekolah pulang lebih awal, Echa lupa men-charger ponselnya. Jadi, dia tidak bisa menghubungi kedua orangtuanya. Sedangkan Mima dan Sasa sudah pulang.
Dia menghela napas kasar ketika melihat dompetnya, tidak ada uang cash yang dia pegang. Karena tadi sudah mentraktir kedua sahabatnya.
"Lah masa jalan kaki," keluhnya.
"Rumah Ayah dan juga rumah Papa sama-sama jauh." Echa terus menyusuri jalan. Mencari taksi pun tidak ada yang lewat. Naik ojek dia takut.
Keringat sudah bercucuran di wajahnya, dan dia melihat ada minimarket di depan sana. Senyum tersungging di wajahnya. Setidaknya dia bisa mengambil uang dan membeli minuman dingin untuk membasuh kerongkongannya.
Langkahnya terhenti ketika motor matic berhenti di sampingnya. Echa mengerutkan dahinya dan si pemotor itu membuka helm fullface-nya. Dia mengambil tisue di dalam tasnya dan mengelap keringat di dahi Echa.
"Nih." Dia memberikan air mineral kepada Echa namun, Echa memilih pergi meninggalkannya.
Radit terus mengejar Echa dan menahan tangannya. "Kita pulang," ucap Radit.
"Aku memang mau pulang, tapi tidak dengan kamu," ujar Echa.
Dengan paksa Radit menarik tangan Echa dan menyuruhnya untuk naik ke atas motornya. Awalnya Echa memberontak, namun ketika Radit mengancam untuk menciumnya di depan umum Echa pun menyerah.
Radit menghentikan motornya di depan rumahnya bukan di rumah Echa. "Ke-kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Echa sedikit takut.
"Mumpung rumah aku lagi sepi, semua penghuni lagi ke luar kota," jawabnya santai.
Radit menarik tangan Echa dan membawanya ke kamar miliknya di lantai dua. Setelah masuk ke kamar, tak lupa Radit mengunci pintu kamarnya. Echa benar-benar panik dibuatnya.
"Ka-kamu kenapa kunci pintunya?" Echa benar-benar takut sekarang ini.
Radit dengan santainya melepaskan jaketnya, lalu satu per satu membuka kancing bajunya dan mendekat ke arah Echa.
"Kamu mau apa Radit?" sentak Echa. Tubuh Echa bergetar hebat dan dia terus mencoba untuk mundur dan terus mundur. Senyum seringai tersungging di bibir Radit.
Tubuh Echa pun sudah terbentur ke dinding, dan Radit sudah mendekat ke arahnya. "Ra-dit aku mohon jangan," ucapnya dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata.
Radit terus mendekat ke arah Echa dan kini dia berhasil mengunci tubuh Echa dengan kedua tangannya. Dia sangat melihat tubuh Echa bergetar dan air mata yang terus menetes membasahi pipinya. Radit mendekatkan wajahnya ke telinga Echa. Hembusan napasnya membuat bulu kuduk Echa berdiri.
"Aku ingin ...."
***
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Nurwana
ingin ap Thu.....????🤔🤔🤔🤔🤔
2022-10-04
0
Anyle Tiwa
lanjut thor
2021-01-23
0
nia
ingin apa sih radit.....
2021-01-23
0