Echa masih memandangi Radit dengan wanitanya, hingga mata Radit melihat sosok Echa yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak terbaca.
"Echa," ucapnya.
Echa langsung bangkit dari duduknya dan menjauhi Radit. Tak sengaja dia menabrak seorang pria tampan. Jika, pria itu tidak merengkuh pinggangnya, sudah pasti Echa akan terjatuh.
Manik mata Echa membuat pria itu terpesona. Pria tampan berperawakan atletis, berkulit putih dengan mata cokelat. "Maaf," ucap Echa.
"Tidak apa-apa. Kalo jalan hati-hati," ucapnya lembut.
Echa pun tersenyum, dan senyuman Echa membuat pria itu tersihir. "Pak Rindra," sapa Giondra.
"Wah, Kak Gi. Panggil Rindra aja," kata Rindra.
"Kak, kamu kenal Rindra ini?" Echa menggeleng.
"Rindra, kenalkan ini putri pertama saya, Echa," ucap Gio.
Rindra pun mengulurkan tangannya kepada Echa dan disambut ramah oleh Echa.
"Dia ini kakaknya Radit," imbuh Gio. Echa hanya mengangguk pelan.
Mendengar nama Radit membuat dadanya sesak. Apalagi dia sudah melihat Radit bersama wanita lain dan tersenyum sangat amat bahagia.
Setelah perbincangan mereka selesai, Echa mengajak papanya untuk kembali ke rumah. Dia beralasan ingin rebahan. Dan Gio pun menyetujuinya.
Ketika sampai di rumahnya, ternyata sudah ada Radit di sana. Masih memakai pakaian yang sama. Gio mengerutkan dahinya begitu pun Ayanda. Mereka menatap ke arah Echa yang tanpa ekspresi.
"Malam Om, Tante," sapa Radit.
Hanya anggukan yang Ayanda dan Radit berikan. "Bukannya tadi semua keluarga kamu ada di acara ulangtahun?" Radit mengangguk.
Melihat Papa dan Radit mengobrol, ini kesempatan Echa untuk masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kak ...."
"Echa lelah, Mah." Ayanda hanya menghela napas kasar. Ada yang tidak beres antara Radit dan juga Echa.
Radit masuk ke dalam rumah bersama Gio, dia menanyakan keberadaan Echa.
"Dia sudah masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Katanya Echa lelah," jelas Ayanda.
Radit pun tersenyum getir, Echa marah kepadanya. Dia akan berusaha mengejar maaf dari Echa.
Keesokan paginya, Echa bergegas turun ke lantai bawah. Berkali-kali panggilan dari Radit tidak pernah dia jawab. Pesan pun tidak pernah dia baca. Dia tidak boleh jatuh cinta kepada Radit. Tidak boleh, begitulah batinnya.
"Pa, berangkat bareng, ya." Gio hanya mengangguk. Dia tidak ingin terlalu banyak bertanya perihal apa yang terjadi dengan putrinya.
Baru di tengah jalan, mobil yang Gio gunakan tiba-tiba berhenti. Ketika sopir memeriksa keadaan mesin tenyata ada kerusakan. Membuat Gio geram.
"Sudah saya katakan, cek mobil secara berkala," sentaknya.
Echa baru mengetahui sisi lain dari papanya. Jika, kepada keluarga dan sahabat dia akan bersikap hangat tapi, jika kepada orang lain dia menjelma menjadi manusia yang berbeda.
"Udah Pa, gak apa-apa. Echa bisa pesan taksi online," imbuhnya.
Baru saja Echa keluar dari mobilnya bersama dengan Gio, mobil hitam mengkilat berhenti di depan mereka. Kaca mobilnya diturunkan, Echa dan Gio bisa melihat siapa orang di dalam mobil itu.
"Rindra?" Hanya seulas senyum yang Rindra tunjukkan.
"Bareng aku aja, Kak."
"Anterin Echa aja ke sekolahnya, saya udah memanggil sopir yang lain," ujar Gio.
Rindra membuka pintu mobilnya, Echa melihat ke arah sang papa dan menganggukkan kepalanya.
"Echa duluan, Pa," pamit Echa dan mencium tangan sang papa.
Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada sepatah kata pun yang Echa maupun Rindra katakan. Sesekali, Rindra melirik ke arah Echa.
"Ponsel kamu terus saja berdering," ucap Rindra membelah keheningan.
"Biarkan saja, Kak."
"Dari pacar kamu?" tanya Rindra.
Echa menatap ke arah Rindra. "Aku gak punya pacar."
Tanpa Rindra sadari, lengkungan senyum menghiasi bibirnya. Sebelum keluar mobil, Echa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu kepada Rindra dengan seulas senyum yang sangat manis di mata Rindra.
Tangan Echa dicegah Rindra ketika Echa hendak membuka pintu mobil. "Ada apa Kak?" tanya Echa.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Rindra.
"Tanyalah pada Papa," ucapnya dan kemudian turun dari mobil.
Rindra tertawa kecil di dalam mobil. "Ternyata dia sangat berbeda," gumamnya.
Radit sudah menunggu Echa di kelasnya, dan dia menjadi pusat perhatian seluruh murid perempuan. Ketampanan seorang Radit tidak ada yang bisa menandingi.
Radit tersenyum ketika orang yang ditunggunya sudah tiba. Berbeda dengan Echa yang terus bersikap acuh kepada Radit.
Echa melewati Radit tanpa sepatah kata pun. Radit terus saja membuntuti Echa hingga dia duduk di depan meja Echa.
"Kenapa semua chat aku gak dibales?"
"Males," ketusnya.
"Kenapa semua panggilan aku gak dijawab?"
"Gak penting."
Radit hanya menghela napas kasar. Di sinilah kesabarannya diuji. "Kamu kenapa sih Cha? Kalo aku punya salah aku minta maaf. Tapi, jelasin dulu di mana letak kesalahan akunya," ujar Radit.
"Kamu gak salah, hanya aku yang ingin menghindar dari kamu," sahutnya.
"Kenapa?"
Echa menatap Radit. "Aku tidak ingin melukai hati wanita lain," imbuhnya.
"Wanita lain? Maksudnya?" Bel masuk pun sudah berbunyi. Membuat Radit harus menelan pil pahit lagi.
"Ya udah, nanti kita bicarain lagi. Aku gak ngerti maksud kamu apa. Tapi, Please ... jangan diemin aku kaya gini," pintanya.
Radit pun keluar dari kelas. Mima dan Sasa menatap ke arah Echa. "Gua gak boleh jatuh cinta sama dia," katanya.
Mima dan Sasa hanya bisa memeluk tubuh Echa. Dia tahu apa maksud dari perkataan Echa tadi. Sungguh miris nasib hati seorang Echa.
Jam istirahat sudah tiba, Echa enggan sekali beranjak dari duduknya. Dia memilih menitip makanan kepada Mima dan Sasa. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dan sudah pasti, Riza akan mendekatinya terus.
Ponsel Echa berdering, namun nomor yang tidak dia kenal. "Siapa?" gumamnya.
Echa memilih untuk mengabaikannya. Panggilan dari nomor yang sama pun masuk kembali ke nomornya. Lagi-lagi Echa tidak menjawabnya.
"Jangan takut, aku Rindra." Itulah isi pesan yang dikirimkan Rindra kelas Echa.
"Oh maaf, Kak. Aku kira orang iseng."
"Aku gak iseng, aku serius sama kamu."
Echa mengerutkan dahinya. Tak lama, pesan baru pun muncul.
"Kamu lagi istirahat?"
"Iya."
"Sebentar lagi security akan memberikan makanan kepada kamu. Semoga kamu suka."
Baru saja Echa akan membalas pesan dari Rindra, Pak Muh sudah masuk ke kelas Echa. "Neng, titipan dari pria berjas ganteng."
"Makasih, Pak."
"Tau dari mana dia makanan kesukaan gua? Pasti Papa," gumamnya.
"Makasih, aku suka kok. Malah suka banget."
"Sama-sama, belajar yang benar ya. See you."
Di lain tempat, Rindra tersenyum bahagia. Dia sedang memandangi foto profil WhatsApp Echa yang sangat cantik.
"Gila, gila, gila. Kenapa gua suka sama bocah coba?" gumamnya.
"Tapi dia gadis yang berbeda, sangat berbeda," gumamnya lagi.
****
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
bakalan timbul perang nech
2024-10-10
0
Nurwana
waow.... kakak dan adik mncintai satu gadis..... siapakah pemenangnya????
2022-10-04
0
Dilah Mutezz
njirr saingannya sma adek sndiri...
bkalan sma cpa yaaa nanti echanya 🤔
2021-10-22
2