Mata Rindra melebar dengan sempurna melihat Radit ada di rumah Echa.
"Tante aku ma ...."
Ucapan Radit terhenti ketika melihat orang yang dia kenal ada di depan matanya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rindra.
"Lah Abang ngapain di sini? Ini rumah pacar aku," imbuhnya.
"Pacar?"
"Iya, pacar aku, " jawabnya lagi.
Rindra pun terdiam. Gio menatap Radit dan Rindra bergantian. Dia hanya tersenyum tipis.
"Kamu mau bilang apa tadi Dit?" tanya Ayanda.
"Aku mau ajak Echa jajan keluar, ya. Janji deh sebentar doang,"ujar Radit.
Ayanda melirik ke arah Gio. Dijawab anggukan kepala oleh Gio.
"Boleh gak?" tanya Echa yang baru saja menghampiri Radit di ruang tamu. Radit mengangguk dengan tersenyum.
"Aku ambil jaket dulu." Tangan Echa dicekal oleh Radit. "Pake jaket aku aja," ujar Radit. "Waktu kita gak banyak," tambahnya seraya tertawa.
Echa baru menyadari jika ada Rindra di sana. "Eh, Kak Rindra udah datang. Maaf aku lupa bilang ke Papa, kalo Kak Rindra mau datang ke sini," kata Echa.
"Iya gak apa-apa," jawab Rindra datar.
"Ayo," ucap Radit sambil mengulurkan tangannya ke arah Echa. Echa pun menerima uluran tangan Radit.
"Dit, awas kamu lama. Tante coret dari daftar mantu kamu," ancam Ayanda.
"Siap Tante," sahut Radit.
Gio melirik ke arah Rindra yang nampak tidak suka dengan kedekatan Radit dan putrinya. Rindra pun pamit kepada Giondra dan juga Ayanda.
Setelah kepergian Rindra, Ayanda melirik ke arah Giondra. "Temen Daddy aneh." Gio hanya tertawa.
Rindra mengikuti motor yang dinaiki oleh Radit dan juga Echa. Mereka terlihat sangat bahagia. Tangan Echa yang melingkar di pinggang Radit dan Radit yang menggenggam tangan Echa dengan tangan kirinya.
Motor Radit berhenti di pusat jajanan. Tangan mereka berdua terus saja saling menggenggam. Seperti biasa Echa memilih semua makanan yang dia suka. Tentunya Radit yang akan membayarnya.
Dari stand satu ke stand yang lain. Echa terus memilih apa yang dia mau. Setelah hampir sepuluh bungkusan di tangan, Echa menyudahi acara kalapnya.
"Udah?" Echa pun mengangguk bahagia.
Radit mengacak-ngacak rambut Echa. Ada mata yang nampak memperlihatkan aura tidak suka. Radit melajukan motornya menuju rumah Echa.
Dia selalu tersenyum jika melihat Echa makan. Pipinya akan mengembung dan terlihat sangat lucu .
"Kenapa sih?" tanya Echa sambil mengunyah makanannya.
"Kamu tuh lucu kalo lagi makan," jawab Radit.
"Aku emang udah lucu dari lahir, Kak," sahutnya.
"Jangan panggil Kakak lah, kan kita udah jadian."
"Dih, alay banget sih," ujar Echa. Radit hanya tertawa.
"Aku merasa pacaran sama Adek aku sendiri tahu, kalo kamu manggil aku Kakak," imbuhnya.
"Aku manggil kamu bhul aja ya," kata Radit lagi.
"Apa itu bhul?"
"Gembul, artinya doyan makan."
"Gak ada bagus-bagusnya," dengus Echa.
"Mau aku panggil Sayang? Atau Ayang? Atau Ay? Atau Beb?"
"Jijik," pekiknya. Radit pun tertawa.
"Terserah Kakak deh mau manggil aku apa. Asalkan jangan panggilan yang tadi aku bilang jijik," pasrahnya.
"Terus kamu manggil aku apa?"
"Em ... Bhal."
"Apa Bhal?"
"Gombal," katanya sambil tertawa.
Malam ini penuh kebahagian antara si gembul dan si gombal. Jam menunjukkan angka semakin besar membuat mereka harus terpisah.
"Langsung tidur ya, nanti aku chat kamu pas aku sampe rumah," ucap Radit sambil membelai pipi Echa.
"Kamu hati-hati, ya," ujar Echa. Radit mengangguk kemudian melajukan motornya.
Echa langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Bibirnya tersungging dengan sempurna.
Radit baru saja tiba di rumahnya. Rindra sudah menunggu dia di ruang tamu. Radit melewati Abangnya itu, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Radit. Hubungan mereka memang sedikit renggang dikarenakan perhatian Addhitama selalu terfokus pada Radit. Anak bungsu dari Addhitama.
"Sejak kapan kamu pacaran sama Echa?" tanya Rindra yang memecah keheningan.
Langkah kaki Radit terhenti ketika mendengar pertanyaan sang Abang. "Kenapa? Apa Abang juga suka sama Echa?" tanya Radit.
Rindra terdiam sesaat, Radit memang anak yang peka akan segala situasi dan kondisi. Apalagi menyangkut perasaaan keluarganya.
"Untuk urusan yang lain mungkin aku akan mengalah. Tapi, untuk perasaan aku kali ini akan aku perjuangkan," jelasnya. Radit meninggalkan Rindra dan melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.
Jika, menelisik ke belakang hidup Radit tidaklah seindah yang dilihat orang lain. Hidupnya penuh dengan kepiluan, dibenci dan terus disalahkan. Itulah alasan kenapa Radit ingin jadi psikolog karena ketika Radit kecil perlu waktu lama untuk mengembalikkan psikisnya yang terguncang. Makanya, Addhitama selalu mengutamakan Radit. Anak yang tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu dari semenjak dia lahir.
Radit menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia mencari ponselnya dan mengetikkan jarinya di layar yang berbentuk segi panjang itu.
"Bhul, aku udah sampe rumah. Night mbhul ku😘"
"Night too Bhal."
Radit masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sebelum beranjak tidur. Ketika dia keluar dari kamar mandi, Rival sudah ada di kamarnya.
"Abang ngamuk." Lapor Rival.
"Biarin lah Kak. Sesuka dia aja," sahut Radit malas.
"Lu kenapa?"
"Abang selalu merasa menjadi orang yang paling sial dan tertekan. Padahal di rumah ini aku yang sangat tertekan Kak," lirih Radit.
Rival hanya bisa mengusap punggung Radit. Dia tahu adiknya ini memiliki kepiluan yang mendalam. Dan mendapatkan kesakitan yang luar biasa.
"Ayah paling benci anak-anaknya rapuh," ujar Rival.
Radit menatap Rival dengan mata yang nanar. "Serapuh-rapuhnya aku, aku tidak akan bertindak bodoh seperti Abang."
Ya, Rindra memiliki sisi yang tidak sesuai dengan umurnya. Jika dia sedang ada masalah besar hanya dengan merusak seluruh isi kamarnya, marahnya akan mereda.
"Coba bicara sama Abang, kan Abang selalu dengerin omongan lu."
Radit menarik napas panjang sebelum menjawab perkataan Rival. "Abang begitu karena aku," balas Radit.
"Maksudnya?" tanya Rival tidak mengerti.
"Kakak tau kan, Abang suka sama Echa. Makanya tadi Kakak bicara seperti itu," imbuh Radit.
Rival hanya mengusap tengkuknya. "Aku gak akan pernah lepasin dia, Kak. Aku sudah banyak mengalah karena Abang. Sekarang waktunya aku mengikuti apa kata hatiku."
Rival mengangguk mengerti, dia tidak memihak kepada siapa pun. Karena dia melihat Abangnya dan adiknya ini memiliki sifat yang bertolak belakang. Rindra yang sering dibenci oleh orang lain karena sifat dingin dan arogannya, dan Radit banyak disukai orang lain karena keramahannya.
"Ya sudah, Papih sebentar lagi juga pulang. Paling si Abang kena omel Papih," ujar Rival.
Rival pun meninggalkan Radit, dan membiarkan Radit menenangkan hati dan pikirannya. Rival tahu, Radit sedang marah kepada Abangnya. Namun, kemarahannya bisa dia redam. Menimpali ucapan dari anggota keluarganya menandakan Radit sudah marah. Semua keluarga Radit tahu akan hal itu.
****
Happy reading ...
Ketika ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun ... akunya sedih kalo kalian nimbun cerita 🤧
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Ai
triple like dr playboy
saling dukung kk
2021-05-04
0
Anggi Mahg Firroh
critanya the best bingit..
2021-03-24
0
arman
perang sodara😀😀
2021-02-06
0