"Tahu dari mana lu?" Rifal hanya berdecak kesal.
"Kapan pintarnya sih itu otak? Ponsel lu pemberian dari gua, kan. Jadi, gua hubungin GPS lu ke ponsel gua."
"Anjim ... kakak durjana lu ya," sarkas Radit.
"Lah, durjana dari mananya coba. Gua mah Kakak yang baik. Buktinya selalu mantau keberadaan lu," imbuh Rifal.
"Bukan mantau, tapi KEPO."
Deheman seseorang bersuara berat membuat Rifal dan Radit terdiam. Tanpa berbicara pria itu bergabung dengan Rifal dan juga Radit.
Radit yang ditatap tajam oleh sang Abang, hanya menundukkan kepalanya. "Ngapain si es balok datang, sih?" gerutunya dalam hati.
"Kenapa sekarang kalian diam?" tanya Rendra kakak pertama Radit.
"I-itu Bang, si Radit noh mau ngomong sama Abang," sahut Rifal. Mata Radit pun melebar dengan sangat sempurna.
Mata Rendra menatap ke arah Radit. Meminta penjelasan tentang perkataan Rifal, adiknya yang sangat usil.
"Ada apa?"
"Ng-nggak ada apa-apa, Bang. Si Kakak mah bohong," jawab Radit yang tidak berani menatap Rendra.
"Udah, ah. Aku permisi, dulu." Radit pun meninggalkan Rifal dan juga Rindra. Meskipun mereka satu kandung. Namun, sifat mereka jauh berbeda.
Rindra adalah pria es balok, Rifal pria slengean, dan Radit pria yang lurus-lurus aja. Dan paling mudah diajak berkomunikasi oleh sang Papih.
Radit melajukan motornya menuju sekolah Echa. Sebelumnya, dia sudah menghubungi Ayanda, Gio maupun Rion. Dan para orangtua Echa membolehkan Radit untuk menjemput putri mereka.
Radit masih anteng duduk di atas motornya sambil fokus ke layar ponselnya. Suara seseorang sangat mengganggunya. Dengan tatapan kesal, Radit melihat ke arah Tere.
"Anterin aku pulang, Kak," rengeknya. Radit hanya berdecak kesal.
"Pacarmu kan ada," sahutnya sedingin mungkin.
"Dia ada ekskul musik." Mendengar ucapan Tere, Radit bergegas turun dari motornya.
"Pak Muh, nitip ya," teriak Radit. Pak Muh hanya mengacungkan jempolnya.
Radit tidak terlalu susah mencari ruangan musik, dulu dia juga bersekolah di sini. Jadi, sudah hafal ruangannya.
Langkah Radit terhenti ketika seorang guru sedang menjelaskan kepada beberapa murid di depannya. Ada Echa, Riza dan dua siswa yang lainnya. Radit bersandar di daun pintu memperhatikan arahan guru itu dan menatap gadis bodoh yang dia sukai.
"Radit? Ngapain di sini?" tanya Pak Frans guru musik dan juga kesenian.
"Mau jemput siswi cantik itu, Pak," ucapnya sambil menaik-naikan kedua alisnya. Echa benar-benar jengah melihat sifat Radit.
"Beruntung ya, lepas dari Riza dapat Radit," goda Pak Frans. Radit pun hanya tersenyum, berbeda dengan Echa. Apalagi Riza, wajahnya terlihat sangat kusut.
"Lanjutkan latihan kalian." Pak Frans pergi meninggalkan Radit dan juga empat siswa di ruangan kesenian.
Radit menghampiri Echa yang sedang merengut kesal. "Jelek, ih." Radit mencubit pipi Echa.
Di mata Riza, perlakuan Radit kepada Echa seperti sepasang kekasih. Hatinya benar-benar sakit. Namun, kesakitannya ini adalah buah dari pengkhianatannya.
Doni menepuk pundak Riza yang sedang menatap Echa dan juga Radit. "Makanya jangan pernah lakukan hal yang bodoh. Lu akan ngerasa kehilangan ketika dia benar-benar pergi dari lu. Dan mendapat pendamping lebih sempurna dari lu."
Perkataan Doni tembus sampai ke ulu hati Riza. Sakit teramat sakit, jika ada kesempatan kedua Riza ingin berlutut dan meminta kesempatan itu kepada Echa.
"Aku tunggu di luar, ya. Aku gak mau ganggu kamu latihan," ujar Radit yang memilih mengalah karena Echa masih merajuk.
Radit hanya menghela napas ketika melihat mimik muka Riza. "Apa salah, gua hadir diantara mereka?" gumamnya yang terus memandang Echa dan juga Riza yang sedang berembuk.
Radit menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia memikirkan ucapan papihnya yang akan mengirimnya ke London. Untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Sedangkan, hatinya berat untuk meninggalkan Echa di sini. Dia takut, jika Echa kembali lagi kepada Riza. Tak bisa dipungkiri, hatinya sudah terisi penuh oleh Echa.
Pak Frans menepuk pundak Radit, membawa Radit ke dalam ruangan. "Dia suaranya bagus banget loh," ujar Pak Frans pada murid yang berada di sana.
"Tunjukkan kemahiran mu, Dit," titah Pak Frans.
Radit mengambil gitar yang ada di sana, duduk sambil memangku gitar lalu memetiknya. Terdengar alunan suara yang indah.
🎶
Ketika ku mendengar bahwa
Kini kau tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya
Masihkah ada dia?
Di hatimu bertahta
Atau ini saat bagiku
Untuk singgah di hatimu
Namun,
Siapkan kau tuk jatuh cinta lagi
Meski bibir ini tak berkata
Bukan berarti ku tak merasa
Ada yang berbeda diantara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu
Hanya karna, dirimu tak mampu bicara
Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku
Tatapan mata Radit tak berpaling dari Echa begitu pun Echa. Tatapan mata yang menyiratkan akan kekaguman satu sama lain. Para murid yang mendengar Radit bernyanyi pun bertepuk tangan.
Setelah latihan selesai, Radit mengajak Echa pulang. "Udah dong, jangan marah lagi."
Tidak ada jawaban dari Echa, dia tetap mengikuti langkah Radit. Karena Papa, Ayah dan juga mamahnya sudah menghubungi Echa sedari tadi jika Radit akan menjemputnya pulang.
Radit memasangkan helm di kepala Echa. Meskipun Echa masih diam Radit masih bersikap manis kepada Echa. Tapi, tidak akan mengubah rajukan si gadis ini.
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta dan Echa pun duduk berjauhan dengan Radit. Radit pun meminggirkan motornya membuat Echa mengeluarkan suara. "Kenapa?"
Radit membuka helmnya, menatap manik Echa lekat. "Aku tuh bukan ojek, Cha. Kalo kamu kayak gini terus mending kamu turun deh, pulang sendiri."
Echa melepaskan helmnya dan memberikannya dengan kasar kepada Radit. Radit hanya tersenyum melihat kepergian Echa. Bukannya mengejar, Radit malah santai makan bakso dipinggir jalan. Tempat Radit meminggirkan motornya dekat dengan tukang bakso bertenda biru.
"Ih ... Kamu mah jahat, bukannya dikejar malah enak-enakan makan." Echa mengambil mangkok yang Radit pegang. Radit hanya tersenyum tipis, Echa tidak akan bisa pulang tanpa Radit. Karena sang mamah akan memberondong Echa dengan beribu-ribu pertanyaan.
"Udah ngambeknya?" goda Radit.
Echa tetap diam, Radit memakaikan helm ke kepala Echa dan mengambil mangkok yang dipegang Echa. Mengembalikannya ke pedagang bakso dengan membayar dengan pecahan lima puluhan ribuan.
Ketika si bapak penjual bakso memberikan kembaliannya Radit hanya bilang, "buat bapak aja."
Ada kebanggaan tersendiri melihat sikap Radit ini. Lelaki yang penyabar, ngeselin, dan juga baik hati. Tanpa Echa sadari, tangannya memeluk pinggang Radit dan wajahnya Echa sandarkan di punggung Radit. Radit pun tersenyum sangat bahagia. Begitu romantisnya naik motor berdua bersama Echa.
Tibanya di rumah, Echa langsung ke kamarnya untuk berganti pakaian. Radit menyapa Ayanda dan juga bermain dengan si kembar.
"Makasih, Dit," ucap Ayanda yang membawa segelas jus untuk Radit.
Radit hanya tersenyum ke arah Ayanda. Ayanda seperti ibunya lembut dan juga penuh kasih sayang.
"Tante, Radit ke kamar Echa dulu, ya. Mau pamit pulang."
Pintu kamar terbuka dan Echa sudah berganti pakaian. "Ditungguin di bawah juga," ujar Radit.
Echa membalikkan tubuhnya, menatap Radit dengan tatapan tak terbaca. Radit menghampiri Echa, jarak mereka hanya satu jengkal.
"Aku pulang, ya." Tidak ada jawaban dari Echa, Echa malah mendekat dan memeluk tubuh Radit.
Jantung Radit berdegup dengan cepat, apalagi Echa membenamkan wajahnya di dada bidang Radit.
Tangan Echa semakin erat memeluk tubuh Radit dan akhirnya tangan Radit pun membalas pelukan Echa.
Setelah pelukan Echa Mulai longgar, Radit menatap manik mata Echa. "Jika kamu sudah siap untuk jatuh cinta lagi, bilang ke aku, ya."
Tanpa Radit sadari, Radit mencium kening Echa sangat dalam. Hingga Echa pun memejamkan matanya, merasakan ketulusan yang Radit berikan untuknya.
****
Happy reading ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Aulia azmy
ada gak ya di dunia nyata pria yang seperti Radit
2022-12-02
0
Nurwana
so sweet....
2022-10-04
0
Indrawati
lanjut Thor
2021-07-14
0