Setelah resmi si gembul dan si gombal menjalin hubungan, mereka semakin lengket bak perangko. Perhatian Radit yang membuat Echa nyaman dan sikap Echa yang selalu membuat Radit gemas.
Radit tahu, Rindra tidaklah menyerah begitu saja. Dia masih mendekati Echa melalui Gio. Terlebih, Gio dan Rindra sedang menjalin kerjasama untuk kemajuan perusahaan mereka.
Seperti malam ini, Rindra mengundang keluarga Echa untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Rindra tidak sendiri, dia juga bersama sang ayah dan adik pertamanya.
"Selamat malam Om," sapa sopan Gio kepada Addhitama.
"Malam Gio, makin bahagia rupanya," ucap Addhitama. Gio hanya tertawa menanggapinya.
Addhitama beralih kepada Echa. "Hai, cantik sekali malam ini," puji Addhitama.
"Makasih banyak, Om."
Mata Rindra tidak berkedip menatap Echa yang terlihat sangat cantik malam ini. Rambutnya digerai dengan dress selutut berwarna peach menambah keanggunannya.
"Biasa aja sih itu mata," ledek Rival. Rindra menatap kesal ke arah adiknya.
Echa tak banyak bicara karena dia memang tidak mengerti apa yang sedang orang dewasa itu bicarakan. Dia hanya fokus pada makanannya saja. Dan sesekali mengecek ponselnya.
"Om, Radit gak ikut?" tanya Gio.
"Dia lagi lembur, udah beberapa hari ini dia membantu Rindra dan Rival di perusahaan."
Mendengar ucapan ayah dari pacarnya, Echa langsung meraih benda pipihnya. Jarinya mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Rival melirik ke arah Echa dan juga Rindra bergantian. Echa terlihat cemas menunggu pesan balasan dari Radit. Sedangkan di dalam saku celana Rindra selalu terdengar notif pesan meskipun sangat kecil suaranya.
Rival sedikit curiga, ponsel Rindra ada di atas meja. Dan di saku celana Abangnya ini ponsel milik siapa? Begitulah pikirnya.
Rival mencoba menghubungi Radit dengan sesekali melihat ke arah saku sang Abang. Ketika sambungan telponnya terhubung, ponsel yang berada d saku celana Abangnya berdering. Dan ketika sambungan telpon Rival putus, ponsel di saku Abangnya pun tak bersuara.
Parah nih, nikungnya kebangetan.
Satu jam sudah Echa mengirimkan pesan, namun tak pernah ada balasan dari Radit. Hingga dia meminta kepada Papa dan Mamahnya untuk kembali ke rumah.
Berhubung Gio masih ada urusan dengan keluarga Addhitama, Gio menyuruh Rindra untuk mengantarkan Echa. "Papa suruh sopir aja jemput Echa," tolaknya.
"Lama Kak," imbuh Ayanda.
"Gak apa-apa."
Hati Rindra mencelos ketika Echa menolaknya di depan semua orang. Rindra menatap ke arah Echa dengan tatapan tak terbaca. Sedangkan Echa masih fokus dengan ponselnya.
"Nyerah aja sih, dia itu punya adik Abang loh. Tega emang ngerebut kebahagiaan adik Abang," bisik Rival. Rindra menatap tajam ke arah Rival.
"Radit gak hubungin kamu?" tanya Ayanda yang tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Echa hanya menggeleng. "Dia mungkin sibuk," ujar Ayanda.
"Sesibuknya Radit pasti nyempetin chat Echa, Mah."
Ayanda hanya mengangguk dan mengusap lembut punggung Echa. Rindra melihat jelas betapa Echa sangat mengkhawatirkan Radit. Dan Addhitama hanya tersenyum ke arah Echa.
Ketika sopir sudah tiba di depan restoran, Echa pamit kepada semua orang dan bergegas masuk ke dalam mobil. Dia masih memikirkan Radit.
Tibanya di rumah, Echa mengerutkan dahinya ketika mobil Radit terparkir di halaman rumahnya. Dan seseorang sedang duduk di kursi depan rumahnya dengan mata terpejam.
Echa menghampirinya dan rasa khawatirnya pun hilang. "Bhal," panggil Echa seraya mengusap lembut tangan Radit.
Radit mengerjapkan matanya. Dia tersenyum ke arah Echa. "Udah pulang?" Echa hanya mengangguk pelan.
"Masuk yuk," ajak Echa. Radit pun mengikuti langkah Echa.
Mereka langsung menuju taman belakang. "Kamu dari mana?" tanya Radit yang sudah duduk di samping Echa.
"Aku makan malam sama keluarga kamu, dan kenapa kamu malah ke sini?"
"Makan malam bareng keluarga aku?" tanya balik Radit.
"Iya, ada Kak Rindra sama Kak Rival juga," sahutnya.
"Aku gak dikasih tau, Bhul. Dan ponsel ku juga ilang." Echa mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Tapi tadi Kak Rindra bilang, kamu lembur."
"Lembur? Aku gak lembur. Aku lama di kantor karena sibuk nyari ponsel aku," balasnya.
Radit hanya menghela napas kasar. Dia tahu ini rencana Abangnya. "Dia gak ngapa-ngapain kamu, kan?" Echa mengerti siapa yang dimaksud dia oleh Radit.
"Papa tadi minta dia untuk nganterin aku pulang. Tapi, aku nolak dan minta dijemput supir." Radit tersenyum bahagia. Dan mengacak-acak rambut Echa.
"Tetap jaga hatimu, ya." Echa pun tersenyum.
"Anter aku nyari ponsel baru, ya. Sekalian jajan," ucap Radit.
"Ijin Mamah Papa dulu," imbuh Echa. Radit mengangguk.
Mata Rindra melebar ketika mendengar nama Radit disebut Ayanda. "Dad, Echa mau pergi sama Radit nyari ponsel. Ponsel Radit ilang, makanya dari tadi Echa susah hubungin dia," ujar Ayanda.
"Jangan pulang malam-malam," jawab Gio.
Rival tersenyum kecil melihat wajah Abangnya berubah. Apalagi Radit selangkah lebih maju dari Abangnya.
"Gimana?" tanya Radit. Seulas senyum menjadi jawaban Echa.
Radit dan Echa pergi ke sebuah mall untuk mencari ponsel sekaligus makan di sana. Tangan Radit terus menggenggam tangan Echa dan sesekali mereka bercanda.
Langkah Echa terhenti ketika melihat Riza dan Tere sedang berada di toko perhiasan. Genggaman erat tangan Radit mampu membuat senyum Echa merekah.
Radit tahu, Echa belum sepenuhnya melupakan Riza. Radit tidak mempermasalahkannya, yang penting Echa sudah menjadi miliknya dan dia membalas cinta Radit.
Setelah mendapat ponsel yang diinginkan Radit, mereka menuju salah satu food court untuk makan malam.
****
Keesokan paginya, Rival menghampiri Radit di kamarnya. Hari ini weekend, jadi Radit biasa menghabiskan waktunya di kamar atau ke rumah pacarnya. Namun, hari ini pacarnya sedang ada acara pergi ke Bandung bersama ayahnya.
"Dit, hape lu ilang?" tanya Rival.
"Bukan ilang, tapi ada yang sengaja ngambil hape aku," jawabnya.
"Siapa?"
"Tukang tikung," balas Radit kesal.
"Gua gak ngerti sama jalan pikiran Abang. Dia rela ngelakuin apapun cuma buat dapetin Echa. Padahal dia tahu, Echa pacar lu," imbuh Rival.
"Itulah sifat jelek Abang," sahut Radit.
"Sabar ya, Dit."
Radit hanya menghela napas kasar. "Kurang sabar apa coba aku? Dari dulu aku disuruh sabar terus," balas Radit dengan ucapan yang sangat menusuk hati Rival.
"Kalo bukan karena Papih, aku lebih memilih tinggal di Ausy sendiri."
Ada banyak rahasia dibalik keceriaan Radit. Ada banyak luka yang Radit rasakan hingga dia tumbuh menjadi anak penurut dan juga ramah. Banyak rahasia tentang Radit yang tidak banyak orang tahu.
"Papih akan sedih," ucap Rival.
"Aku lebih sedih Kak, selalu mengerti orang lain tapi orang lain tidak ada yang mau mengerti aku. Lelah Kak aku tuh," katanya.
Inilah sisi lemah Radit, hanya Rival yang tahu. Karena hanya Rival lah yang dekat dengan Radit.
***
Happy reading ...
Ketika ada notif Up langsung baca ya ...
Bantu aku ngumpulin receh siapa tau aja bisa kebeli pesawat😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
guntur 1609
lha berati seharusnya radit panggil gio abang kan....secara gio panggil adithama om
2023-09-09
0
Maria Agustina Bungalay
kangen sama kemesraan Daddy Gio
2022-01-14
0
Dilah Mutezz
radit sma echa sama sma punya sisi yg lemah tpii gx d tunjukin ke orang, smoga echa bsa ngertiin raditt...
2021-10-23
1