"Resky?" Rion hanya menganggukkan kepalanya.
"Bapak sama anak brheng sek emang," geram Rion.
Ayanda dan Gio pulang ke rumah mereka, sebenarnya Rion dan Amanda ingin ikut ke sana. Namun, dilarang oleh Radit. Radit sudah berjanji kepada Echa untuk tidak memberitahukan semuanya kepada orangtuanya.
Pada kenyataannya, Radit sebagai psikolog harus menyampaikan semua yang Echa alami kepada orangtua Echa. Karena Echa masih tanggungjawab orangtuanya. Hal sekecil apapun yang terjadi pada Echa harus Radit laporkan. Supaya orangtua Echa tahu dan memiliki jalan keluar atas apa yang Echa rasakan.
Ayanda dan Gio masuk ke kamar putri mereka. Echa sudah terlelap dengan damainya. Terlihat jelas wajah yang menahan sakit dan luka yang selama ini dia simpan rapat-rapat.
"Maafkan Mamah, Kak. Maafkan Mamah," ucap Ayanda pelan sambil membelai rambut Echa.
Gio mengusap lembut pundak Ayanda, dan menganggukkan kepalanya. Ayanda mengerti apa yang dimaksud oleh Gio meskipun hanya melalui isyarat tubuh.
Mereka keluar dari kamar Echa dan tangis Ayanda pun tumpah. "Kenapa Echa harus mengalami ini? Kenapa dia lebih memilih memendamnya sendiri?"
"Masa lalunya yang pahit membuat putri kita memilih seperti ini. Dia melihat, bagaimana perjuangan Mommy untuk menghidupinya, untuk menyekolahkannya ketika ayahnya sendiri membuangnya. Dia tidak ingin melihat Mommy menangis lagi, dia tidak ingin melihat Mommy bersedih. Penderitaan Mommy sangatlah banyak pada waktu itu. Sehingga Echa menuntut dirinya sendiri menjadi dewasa sebelum waktunya."
"Hati Mommy sakit, Dad. Apalagi Radit bilang putri kita hampir ternoda," lirihnya
"Mulai besok Echa akan dijaga oleh orang kepercayaan Daddy. Mereka hanya memantau dari jauh, supaya Echa tidak curiga dan tetap nyaman di sekolahnya." Ayanda pun mengangguk setuju.
"Jangan biarkan laki-laki yang bernama Dimas itu mendekati putri kita." Apapun akan mereka lakukan untuk kebahagiaan putri mereka. Uang bisa dicari tapi, kasih sayang tidak akan pernah bisa diganti.
Pagi harinya, Rion dan Amanda sudah datang ke rumah Gio. Echa yang baru turun pun sedikit terkejut ketika melihat Ayah dan Bundanya sedang memangku si kembar.
"Ayah, Bunda, tumben masih pagi ke sini?" tanya Echa.
"Ayah kangen si kembar." Echa mencebikkan bibirnya.
"Si kembar doang yang dikangenin, Echa nggak."
Rion pun tertawa melihat putrinya yang sedang cemburu. "Lihat tuh Bang, Kakak cemburu sama kamu." Ghassan merespon dengan tertawa.
"Sini, Dek. Ayah juga sangat merindukanmu." Echa berhambur memeluk tubuh Rion. Amanda hanya menatap nanar ke arah Echa. Dibalik usianya yang masih remaja sudah menanggung luka yang amat dalam.
Ayanda dan Gio yang memperhatikan Echa dari kejauhan hanya tersenyum perih. Ayanda memeluk tubuh suaminya karena tidak sanggup melihat wajah putrinya. Di setiap tawanya menyimpan luka yang teramat dalam.
Setelah selesai sarapan, Echa diantar Rion dan Amanda ke sekolah. Karena Radit harus membantu papihnya menangani pasien.
Setelah tiba di sekolah Echa menjadi pendiam. Ada rasa takut di hatinya, dia takut Dimas akan berbuat macam-macam kepadanya. Dan Echa memilih untuk tidak menceritakan kejadian kemarin kepada dua sahabatnya.
Sedangkan Rion sudah berada di ruangannya. Rahangnya terus mengeras karena ucapan Radit masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Nape lu?" tanya Arya.
"Bhas, lu masih ingat si Resky, kan."
"Resky? Resky Gunawan?" Rion mengangguk.
"Kenapa sama bocah songong ntu?" tanya Arya.
"Hari ini gua ngundang dia untuk datang ke sini."
"What? Lu mau diinjek-injek lagi harga diri lu," sentak Arya.
"Biarin harga diri gua diinjek-injek, asalkan jangan anak gua yang dinodai oleh anaknya," imbuh Rion.
"Maksudnya?" Rion menatap Arya dengan tatapan sendu.
Baru saja Rion hendak membuka mulutnya, asisten Rion mengetuk pintu dan mengatakan jika Resky sudah ada di depan ruangannya. Rion pun menyuruhnya masuk.
Rion menyapa Resky dengan hangat hanya tatapan sombong dan juga angkuh yang Resky tunjukkan. Arya sudah mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia menghajar Resky.
"Tumben banget lu nyuruh gua ke sini? Mau pamer kalo toko lu udah maju," cibir Resky.
Rion hanya tersenyum. "Ini gak ada sangkut pautnya sama toko gua ataupun kekayaan lu," sahut Rion dengan nada sedikit emosi.
"Lalu? Lu ngundang gua ke sini hanya untuk berbasa-basi. Waktu gua sangat berharga," ujarnya dan bangkit dari duduknya.
"Ini masalah anak lu sama anak gua." Mendengar ucapan Rion, Resky kembali duduk.
"Kenapa dengan anak gua?"
"Bilang ke anak lu gak usah nyari perkara ke anak gua," gertaknya.
"Cih, bilang ke anak lu jangan sok kecantikan. Tubuhnya aja bisa dibeli sama anak gua." Rahang Rion mengeras dan menarik kerah kemeja Resky.
"Jaga omongan lu, bang sat," teriak Rion.
Di depan pintu Gio mendengar semua ucapan orang yang berada di dalam. Tangannya mengepal dengan sangat keras.
"Silahkan masuk, Pak." Gio masuk ke ruangan Rion dan melihat Rion sudah menarik kerah kemeja Resky dengan wajah merah padam.
Resky melihat ke arah Gio dan langsung mendorong tubuh Rion. Dia menghampiri Gio dan menyapa dengan sangat sopan.
"Anak tukang roti aja belagu nolak cinta anak gua, kecuali anak lu kayak anak Pak Gio wajar kalo nolak anak gua," ucapnya pelan di depan wajah Rion.
Gio mampu mendengar apa yang diucapkan oleh Resky kepada Rion. Dia hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Arya tersenyum tipis melihat tingkah Resky.
"Sepertinya kalian sedang membicarakan masalah pribadi," ujar Gio.
"Biasa Pak, masalah anak-anak kami. Anak dia (sambil menunjuk ke arah Rion) nolak cinta anak saya dan lebih memilih anak kuliahan yang hanya pake motor matic antar-jemput anaknya. Padahal anak saya setiap hari bawa mobil sport ke sekolah," pamernya kepada Gio.
"Anak lu udah hampir nodai anak gua," bentak Rion.
"Ya, kalo anak lu ternoda anak gua pasti akan tanggung jawab kok. Lu mau minta mahar berapa pun gua kasih. Anak lu dijamin bahagia nikah sama anak gua," sahut Resky tak kalah sengit.
"Kenapa Anda merendahkan sekali anaknya Rion?"
"Bukan merendahkan Pak, harusnya Rion itu berterimakasih kepada saya karena anak saya sudah mencintai anaknya. Masa depan anaknya dijamin cerah jika menikah dengan anak saya," jelasnya.
"Jika anak Rion itu anak saya juga gimana?" tanya Gio.
Resky hanya tertawa. "Anak bapak itu cowok semua dan kembar. Seantero negeri ini tahu anak Pak Gio," ucapnya.
"Lagi pula, jika Echa anak Pak Gio saya juga akan melarang Dimas untuk berbuat hal yang aneh-aneh kepada Echa," tambahnya.
Gio mengeluarkan benda pipih di saku celananya. Dia membuka galeri ponselnya. Sedangan Rion dan juga Arya sedang saling tatap dengan seringai licik.
"Anda tau ini siapa?" tanya Gio yang memperlihatkan sebuah foto kepada Resky.
"Itu mantan istri orang ini," jawabnya sambil menunjuk Rion.
Gio menggeser kembali fotonya dan Resky pun membelalakkan matanya tak percaya.
"Di-dia is-tri Pak Gio?" tanya Resky penuh dengan ketakutan. Gio mengangguk mantap.
"Echa adalah putri sambung saya," tegasnya.
Tubuh Resky lemas ketika mendengar penjelasan dari Gio. Matanya masih tak percaya.
"Anda tahu kan apa konsekuensinya jika ada orang yang sengaja mengusik keluarga saya?"
Seringai licik dan jahat pun muncul di wajah Gio.
****
Happy reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
mood lah kau Resmi.
tamat lah riwayat mu, yg takabur.
ingat woi di atas langit msh ada l
jadi jangan merasa paling di atas
2024-10-10
0
Ai
triple like
playboy mengejar cinta
2021-04-25
0
shofia
mampoosss dh...
2021-04-25
0