"Bagaimana, Dit?" tanya Gio ketika Radit yang baru saja turun dari kamar Echa.
"Traumanya sangat berbekas, Om. Jadi, harus sabar dan harus terus buat Echa bahagia. Melupakan apa yang pernah menyakitinya," jelas Radit.
"Untung kamu balik lagi," imbuh Ayanda.
"Radit lupa, tadi Echa pesen cokelat makanya balik lagi. Eh, malah begitu anaknya." Radit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Om, Tante apa Radit boleh tanya sesuatu?" tanya Radit ragu.
"Tanyalah," ujar Gio.
"Maaf sebelumnya, apakah Echa baik-baik saja ketika Tante berpisah dengan ayahnya Echa?"
Pertanyaan Radit membuat Ayanda terdiam, dia masih ingat apa yang dikatakan Echa. "Echa baik-baik saja, Mah."
"Apa yang dikatakan dia baik-baik saja itu sebaliknya?" tanya Ayanda.
Radit tersenyum. "Bisa seperti itu, Tante. Perpisahan Tante membuat dia takut untuk menjalin suatu hubungan. Dia takut gagal sama halnya dengan kedua orangtuanya, dan ketika dia merasakan pengkhianatan malah menimbulkan trauma yang cukup dalam."
Gio mengusap lembut bahu istrinya, dia yakin Ayanda pasti akan menyalahkan dirinya.
"Sekarang, buatlah dia bahagia. Jangan pernah bertanya atau mengungkit tentang hubungannya dulu. Sebelum dia berterus terang kepada Om dan Tante. Ketika dia sudah siap bercerita kepada Tante, berarti sedikit traumanya sudah hilang."
"Makasih Radit, tetap temani putri, Om. Dan sembuhkan lah lukanya," ujar Gio.
"Sebisa mungkin Radit akan menyembuhkan luka Echa." Gio hanya tersenyum, ucapan Radit memiliki makna yang berbeda.
Keesokan paginya.
"Ah, si*l. Kenapa harus keinget dia lagi? Mata galua bengkak, kan," umpat Echa kesal kepada dirinya sendiri.
Senyum secerah pagi ini Echa tunjukkan kepada kedua orangtuanya. Ayanda dan Gio menatapnya lekat. Echa salah tingkah sendiri.
"Matamu kenapa, Kak?" tanya Ayanda.
"Semalam nangis, Mah. Nonton drama Korea," jawabnya sambil terkekeh.
Ayanda pun tidak menanyakan terlalu dalam. Dia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dengan Echa masih menutupi semuanya, berarti rasa sakit di hati Echa masih ada.
Sebelum Echa masuk ke area sekolah dia menarik napas panjang terlebih dahulu. Kabar tentang dirinya pasti masih akan terdengar dengan sangat nyaring. Ternyata benar, derap langkah kakinya menimbulkan bisik-bisik dari siswa-siswa yang lain.
Echa menghela napas kasar ketika sudah duduk di bangkunya. "Berasa jalan di api neraka."
"Masih pada berisik mereka?" Echa hanya menjawab dengan anggukan pertanyaan dari Sasa.
"Sabar ya, Chut."
Echa mengeluarkan cokelat di dalam tasnya. Echa tersenyum ketika melihat cokelat yang tidak biasa dia makan.
"Biar kamu nyoba rasa baru."
Ucapan itulah yang membuat Echa beralih dari ratu perak ke cokelat yang berplastik ungu. Dan ternyata rasanya lebih enak.
Dua merk cokelat itu mengibaratkan Riza dan juga Radit. Riza si ratu perak dan Radit adalah cokelat berplastik ungu.
Dulu, Echa menyukai Riza dan sekarang apakah Echa menyukai Radit?
Jam istirahat sudah tiba, Echa, Sasa dan Mima menuju kantin sekolah. Sudah pasti keadaan sangat ramai.
"Mau makan apa?" tanya Sasa.
"Gua lagi pengen siomay," jawab Echa.
"Samain deh, mumpung ada bangku kosong noh," ucap Mima sambil menunjuk salah satu meja yang belum berpenghuni.
Sasa memesankan siomay sedangkan Echa dan Mima duduk di tempat yang kosong. Ternyata Tere dan Riza yang baru saja datang, duduk satu meja dengan Echa.
Mima meyenggol-nyenggol tangan Echa namun, Echa masih fokus ke layar ponselnya.
"Chut." Echa melihat ke arah Mima yang memberi kode lewat lirikan matanya.
Mata Echa bertemu dengan mata Riza yang sedari tadi menatap Echa dari arah sampingnya. Sorot mata Echa masih menyiratkan kesedihan. Dan Echa langsung memutus tatapan mereka.
"Mau pindah?" Echa menggeleng.
Echa menyantap siomay itu dengan sangat tidak nikmat. Terlebih mata Riza yang tidak lepas menatapnya dengan lekat.
"Neng Echa," panggil Pak Muh satpam gerbang sekolah.
"Iya, Pak." Satu meja yang duduk bersama Echa menatap ke arah Pak Muh.
"Ada titipan." Pak Muh memberikan beberapa batang cokelat berbungkus ungu.
"Dari si cenayang katanya," ucap Pak Muh lagi.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Pak Muh, hanya Riza yang berwajah datar dan dingin.
"Makasih, Pak."
Setelah Pak Muh pergi, ponsel Echa berdering. Bibirnya tersungging dengan sempurna.
"Makasih."
"Sebagai permintaan maaf aku, hari ini aku gak bisa antar kau dan juga jemput kamu."
"Gak apa-apa, nanti sopir yang jemput aku, kok."
"Aku tahu mood kau sedang buruk. Semoga cokelat itu bisa merubah mood kamu."
"Dasar cenayang."
"Ya udah aku tutup, ya. Bye."
"Bye."
Bibir Echa masih tersenyum meskipun ponselnya sudah masuk ke dalam sakunya. Riza menatapnya dengan penuh luka, begitu juga Tere. Tere sangat tahu siapa cenayang itu.
"Mantab deh, sweet banget," goda Sasa.
"Enak lagi dong makannya," ledek Mima.
"Iya dong, menggugah selera," jawab Echa dengan tertawa diikuti oleh Mima dan Sasa.
Sengaja Echa mengatakan itu, tidak dipungkiri hatinya masih sakit. Dan kehadiran Radit mampu menyembuhkan sedikit demi sedikit lukanya.
Echa beranjak dari duduknya, begitu pun Riza. Di lorong sepi, Riza menarik tangan Echa hingga langkah Echa terhenti.
"Kamu pacaran sama dia?" Pertanyaan yang sangat mengintimidasi.
"Urusan sama lu apa?" tanya balik Echa penuh dengan penekanan.
"Aku gak suka," tegas Riza.
"Siapa lu? Ngaca dong ngaca!" sentak Echa.
Tangan Riza mulai melepaskan Echa. Menatap manik Echa dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Maafkan aku, El."
"Nasi sudah jadi bubur. Yang hancur tidak akan pernah kembali lagi seperti semula," jelas Echa dan berlalu meninggalkan Riza.
Hati yang sudah terluka mungkin akan lama sembuhnya. Echa mencoba untuk menyembuhkan lukanya namun, Riza selalu datang menghampirinya.
Echa duduk di kursinya, menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Berharap hatinya akan kuat menghadapi ini semua.
Ting! Menandakan ada sebuah pesan masuk ke ponsel Echa.
"Kalo dia ganggu kamu, bilang ke aku. Biar aku santet online."
"Ide bagus 😀"
"Jangan sedih, ingat banyak orang yang sayang sama kamu termasuk aku."
Echa mengerutkan dahinya ketika membaca kalimat akhir pesan yang dikirim Radit.
"Tapi bohong😝"
Echa pun tertawa melihat emoticon di belakangnya.
Aku bersyukur, kamu selalu ada untuk aku. Menguatkan aku dalam kondisi sakitku.
Radit menatap layar ponselnya dan mengutuk dirinya sendiri karena sudah keceplosan akan perasaannya sendiri kepada Echa.
"Bodoh, bodoh bodoh," gumamnya.
"Sejak kapan lu jadi orang pinter?" ejek Rifal pada Radit.
Rifal adalah kakak kedua Radit, dan dia lebih memilih menjalankan perusahaan ayahnya. Berbeda dengan Radit yang memilih menjadi psikolog, pekerjaan yang hampir sama dengan ayahnya. Tugasnya membantu menyembuhkan seseorang.
"Ngapain lu ke sini?" tanya Rifal.
"Bantu gua dong, Kak. Bilang ke Papih jangan kirim gua ke London," rengek Radit.
"Bukannya itu cita-cita lu, ya," sahut Rifal.
"Dulu, sekarang udah beda haluan gua, Kak."
"Apa karena cewek pasien lu itu?"
Mata Radit melebar dengan sempurna. "Tahu dari mana lu?"
****
Jempol dan komen dong biar semangat akunya,
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
guntur 1609
aju kepooo...dikisah yg lsinya si radit pernh putus sm echa..terus balik lagiii...teruskok ada radit pernah berkhianat lagi dari echa..mknya aku penasarsn thoor
2023-09-09
0
Novie Gwen Naura
pindah kesini dlw padahal bang duda belom selesai bacanya 🤭
2021-11-08
0
Nissa
ooalahhh menarik ceritanya ga bosenin kekinian banget
semangat kak 😊
2021-11-05
0