Pak Frans sudah menentukan panitia dan juga pengisi acara di acara nanti. Doni, Echa, dan juga Riza akan menyanyikan satu buah lagu.
Kepanitian pun sudah dibentuk, semua panitia sedang berembuk menyusun acara dan juga memikirkan ide untuk mendekor panggung yang ada. Mereka ingin acara tahunan ini sukses.
"Gimana kalo gua sama Echa itu duet?" imbuh Riza. Echa terdiam mendengar ucapan Riza. Sedangkan murid yang lain mengejek keras.
"Modus," teriak Doni.
Echa tetap fokus pada tugas yang diembannya. Dia bersama dua orang siswa yang lain sedang berdiskusi, Radit mendekat dan duduk di samping Echa. Echa terkejut dan menatap Radit. Hanya senyuman manis yang Radit tunjukkan.
Dari kejauhan Riza menatap kedekatan Radit dan juga Echa dengan sendu. "Kenapa? Nyesel?" tanya Doni.
"Gua masih sayang sama Echa," imbuhnya.
"Echa masih sayang gak sama lu?" Riza pun terdiam.
"Ngeliat Echa sama kakak alumni itu, gua yakin Echa punya hubungan spesial sama dia." Riza menatap Doni dengan tatapan mata tidak suka.
"Ya lu liat aja coba, tawa Echa aja lepas banget. Apalagi tatapan beda dari cowoknya," ujar Doni. Riza hanya berdecak kesal.
"Yang," panggil Tere.
Doni dan Riza menoleh ke arah Tere yang sedang berjalan ke arah mereka. Dengan tidak tahu malunya dia menggandeng tangan Riza dan membawa Riza duduk di depan Echa.
Echa menatap sekilas dengan tatapan tidak suka. Sama halnya dengan Radit, Radit risih dengan sikap Tere. Bukan karena dua cemburu, tapi sikap Tere terbilang lebay.
Apalagi Tere yang dengan sengaja bermanja dengan Riza sedangkan mata Riza menatap Echa yang sedang fokus pada tugasnya menjadi panitia.
"Kamu udah selesai?" Echa tersentak ketika Edit menyentuh tangannya.
"Bentar lagi, Kak."
Raut cemburu nampak sekali di wajah Riza. Apalagi sekarang Radit sudah menyuapi Echa cokelat berbungkus ungu.
"Kak ...."
"Biar otak kamu jalan," jawab Radit. Radit pun memberikan dua teman Echa cokelat yang sama.
"Kak Radit, kok aku gak dikasih?" tanya Tere.
"Kamu kan punya tunangan, minta beliin lah ke tunangan mu," sinisnya.
Kedua teman Echa menahan tawa mendengar ucapan pedas dari Radit. Berbeda dengan Echa, dia sama sekali tidak bergeming.
"Ya udah, besok jam istirahat aja kita lanjut. Udah sore banget," ucap Echa. Kedua teman Echa pun mengangguk setuju.
"Udah selesai?" Echa mengangguk pelan. Radit mengulurkan tangannya, Echa menatap Radit penuh tanda tanya. Seulas senyum sarat akan makna yang tersungging dari bibir Radit.
Echa pun membalas senyum Radit dan menerima uluran tangan Radit. Mereka berdua pun saling menggenggam. Dan Riza hanya menghela napas kasar.
Setelah sampai di parkiran mobil, Radit dan Echa tertawa puas. "Jahat loh kamu," ucap Echa. Echa tahu ini cara Radit untuk membuat sepasang merpati itu tak berkutik.
"Mereka berdua aja jahat sama kamu, bermesraan di depan kamu." Echa pun terdiam.
"Biarin lah Kak," sahutnya.
"Kok si Sayang malah murung sih," goda Radit yang mencubit pipi Echa gemas.
"Sakit, Kak," ucapnya dan memegang tangan Radit yang sedang mencubit pipinya.
Langkah Riza terhenti melihat kemesraan Radit dan juga Echa. Hatinya sakit dan dadanya sangat amat sesak.
Aku harus mendapatkan kamu lagi, El. Harus.
Keesokan harinya, seperti biasa Radit mengantarkan Echa ke sekolah. Ternyata Riza sudah menunggu Echa sedari tadi. Ketika Echa baru melewati gerbang, dia dihadang oleh Riza.
"Aku ingin bicara," kata Riza.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," sahut Echa dan berjalan menjauhi Riza.
"El, tunggu," teriaknya. Namun, Echa tidak menghiraukan panggilan Riza. Hingga Riza berhasil mencekal tangan Echa.
"Aku mohon, aku perlu bicara," pinta Riza.
"Gua buru-buru, Za. Ada PR yang belum gua kerjain," kilahnya.
"Aku gak percaya, kamu bukan tipe siswa yang seperti itu."
"Ck, sok tahu lu," sentaknya. Echa mencoba melepaskan tangan Riza namun gagal.
"Aku gak akan ngelepasin tangan kamu sebelum kamu ngijinin aku untuk ngomong sama kamu," imbuhnya.
"Ya udah cepetan mau ngomong apaan," ucap Echa.
Riza menggenggam tangan Echa, dia menatap manik Echa dengan sangat dalam.
"El, sebenarnya aku ...."
"Sayang." Suara Radit mampu memalingkan wajah Echa yang sedang menatap Riza.
Mendengar panggilan Radit kepada Echa membuat Riza melepaskan genggaman tangannya pada tangan Echa.
"Kok balik lagi?" tanya Echa yang sudah mendekat ke arah Radit.
Radit merangkul pundak Echa. "Kangen," bisiknya. Echa pun hanya tertawa.
Radit menyerahkan ponsel Echa yang tertinggal di mobilnya. "Ya ampun, kok aku pikun ya."
"Ya wajarlah, sekarang itu otak kamu isinya cuma aku." Echa pun tertawa. "Masih pagi udah gombal," sahut Echa sambil mencubit pinggang Radit.
"Bukan gombal tapi kenyataan." Riza seperti boneka manekin di sana. Melihat dua sejoli yang sedang dimabuk cinta, begitulah dugaannya. Ternyata sakit, melihat orang yang kita sayangi bersama pasangannya.
"Aku anterin kamu ke kelas, takut pacar aku digondol setan gondrong." Echa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Radit.
Setelah mengantarkan Echa ke kelasnya, Riza menghadang langkah Radit. "Ada hubungan apa kamu dengan El?" tanya Riza sangat dingin.
"Kamu liatnya gimana?"
"Gak usah bertanya kalo kamu liat kenyataannya seperti apa," timpal Radit lagi. Dia pun melenggangkan kaki meninggalkan Riza yang sedang mematung bergelut dengan pikirannya sendiri.
Jam istirahat telah tiba, setelah Echa makan Echa bergegas ke ruang kesenian menemui panitia yang lainnya. Ecah bergabung dengan dua rekannya yang mendapat tugas sama seperti Echa.
Doni dan Riza masuk ke ruangan itu, Riza terus memperhatikan Echa dari kejauhan.
"Udah sih, lepasin," ucap Doni di telinga Riza.
Riza hanya melirik kesal kepada Doni. Dan dia meraih gitar yang berada tak jauh dari dirinya. Riza memetik senar gitar dan mengeluarkan melodi yang indah.
Oh ..
Ini kisah sedihku
Ku meninggalkan dia
Betapa bodohnya aku
Dan kini aku menyesal
Melepas keindahan
Dan itu kamu
Echa terdiam mendengar lirik lagu itu. Suasana di ruangan itu pun seketika hening.
Tuhan tolonglah aku
Kembalikan dia ke dalam pelukku
Karena ku tak bisa mengganti dirinya
Ku akui, Jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa
Echa menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sejenak. Hatinya sesak mendengar lirik lagu tersebut.
Dan telah ku jalani semua
Cinta selain kamu
Tapi tak ada yang sama
Beribu cara ku tempuh
Tuk melupakan kamu
Tapi tak mampu
Tuhan tolonglah aku
Kembalikan dia ke dalam pelukku
Karena ku tak bisa mengganti dirinya
Ku akui, Jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa
Suara ketiak gitar pun terhenti. Riza bangkit dari duduknya menghampiri Echa yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
"El, aku masih sayang sama kamu. Aku ingin kamu kembali menjadi kekasihku ...."
****
Happy reading ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
lah tu lambe si Riza perlu di sumpal pakek bin cabe level setan
biar tau rasa😡😡😡
dia yg mengkhianati, dia yg kebakaran jenggot. aneh kan...
maka ny jadi orang jangan belagak
2024-10-10
0
Nurwana
bikin exmosi Thu si Riza.
2022-10-04
0
Dilah Mutezz
sableng udh ada tunangan tpii masih ngarep mantan yg udh u buang...
klo emang d jodohkn seharusnya bisa nolak sich bicara baik baik klo udh punya pasangan yg cocok...
tpi klo berhianat rasain sndiri akibatnya emang enak rsanya liat orng yg kita sayang sma yg lain ? kn gx....
2021-10-22
0