"Aku ingin ...."
"Ra-radit aku mohon, jangan ...."
Radit memeluk tubuh Echa. "Aku ingin kembali seperti dulu lagi, maafkan aku," lirihnya.
Tangis Echa pun pecah, tubuhnya masih bergetar dan air matanya tak berhenti menetes.
Radit menangkup wajah Echa, menghapus jejak air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Mengecup mata Echa bergantian.
"A-a-ku takut," ucapnya.
Radit memeluknya lagi. "Aku tidak akan pernah melukaimu apalagi menodaimu. Aku sayang sama kamu," kata Radit.
Tangan Echa pun mulai membalas pelukan Radit dengan Isak tangis yang masih terdengar. Radit membawa Echa untuk duduk di atas tempat tidurnya. Menatapnya penuh dengan cinta.
"Maafkan aku, telah membuatmu takut," ucapnya sambil membelai rambut Echa.
Echa memeluk pinggang Radit membuat Radit tersenyum sendiri. Tangan Radit dengan lembutnya membelai rambut Echa dan dengkuran halus pun terdengar. Radit membaringkan tubuh Echa di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Aku merindukan momen seperti ini," ucapnya sambil membelai lembut pipi Echa.
Radit memfoto Echa lalu mengirimnya ke Ayanda. Dia tahu, pasti orangtua Echa sangat khawatir Echa belum kembali ke rumah.
"Hampir saja Tante mau telpon Papa dan juga Ayahnya. Jaga Echa ya, Dit. Kalo Echa bangun langsung anter pulang. Dan temani Echa dulu di rumah, soalnya Tante sama Om mau pergi ke acara undangan."
"Baik Tante."
Radit bisa bernapas lega, dia bisa semakin dekat dengan Echa. Apalagi mamahnya Echa selalu memberi lampu hijau kepadanya.
"Kamu anak spesial, dan aku akan menjagamu agar tetap spesial di mata semua orang."
Dua jam berlalu, Radit sibuk dengan tugas kuliahnya dan Echa masih terlelap dalam tidurnya.
Radit melihat ke arah tempat tidur dan Echa sudah duduk di sana. Radit menghampiri Echa dan duduk di hadapannya.
"Mau minum?" Echa pun mengangguk. Radit ke dapur mengambil minuman dingin dan juga air putih.
Echa diperlakukan sangat manis oleh Radit membuat Echa salah tingkah. Apalagi, matanya yang bengkak karena menangis tadi.
"Aku ingin pulang," ucapnya.
Radit yang baru selesai menaruh minuman langsung mengiyakan. Tak lupa memakaikan jaketnya ke tubuh Echa.
"Di luar dingin, abis turun hujan," ucapnya. Echa pun tidak menolaknya.
Tangan Radit menggenggam jemari Echa menuju lantai bawah. Banyak ART di sana yang memandang kagum pada Radit dan juga Echa. Sungguh pasangan sempurna.
Radit mengeluarkan mobilnya, dan membukakan pintu untuk Echa. Di dalam perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Echa yang masih menatap ke arah luar jendela dan Radit yang sesekali melirik ke arah Echa.
Radit menghentikan mobilnya di sebuah area jajanan. "Kenapa ke sini?" tanya Echa.
"Kamu pasti lapar, kan."
Radit membukakan seatbelt Echa dan mereka turun dari mobil. Tangan Radit menggenggam tangan Echa membuat Echa menatap ke arah Radit.
"Takut kamu ilang." Perkataan Radit membuat Echa tertawa.
Tawa yang sangat Radit rindukan kini bisa Radit lihat kembali. Mereka menyusuri area jajanan tersebut dan seperti biasa Echa akan kalap jika masuk area jajanan. Mereka sudah membawa empat kantong kresek.
"Ini siapa yang mau makan?" Echa hanya tertawa. Mereka duduk di meja yang sudah disiapkan di sana.
Echa membuka bungkusan yang dia beli, matanya melebar ternyata banyak sekali yang dia beli.
"Abisin semua, ya," ucap Radit.
Echa tertawa lalu menggeleng. "Kan ada kamu," imbuhnya sambil menyuapi Radit cumi bakar kesukaan Echa.
Radit membuka kantong yang lainnya, dia menyuapi Echa sosis bakar dan bakso bakar ke dalam mulutnya.
"Kebanyakan," oceh Echa dengan mulut yang penuh dengan makanan. Radit pun terkekeh dan mengelap ujung bibir Echa yang belepotan dengan saos.
Mereka saling tatap dengan senyum sarat akan makna. Dikejauhan, ada sepasang mata yang cemburu melihatnya. Dia mengepalkan tangannya dan rahangnya pun mengeras.
Ketika Echa sedang menyuapi Radit seseorang duduk di samping Echa. Membuat Radit dan Echa menatap ke orang itu. Dengan tidak tahu malunya, dia mengarahkan tangan Echa ke mulutnya.
Radit cemburu? Pasti. Namun, dia tahan. Echa menatap Radit yang mulai menunjukkan wajah datarnya.
"Kak, minum aku," pinta Echa pada Radit..
Radit pun membukakan minuman untuk Echa dan memberikannya kepada Echa. Bukannya Echa yang mengambil minuman itu, Dimas lah yang mengambil minuman Echa dari tangan Radit dan langsung menengguknya. Setelah dia minum, dia memberikannya kepada Echa.
Amarah Radit pun memuncak, lalu dia menggebrak meja. "Gak punya sopan santun lu, ya," sentak Radit.
Echa berdiri dan langsung menghampiri Radit. Menenangkan Radit yang sudah tersulut emosi. "Kita pulang, Kak," ajaknya.
Setelah masuk ke dalam mobil emosi Radit masih memuncak. "Aku tuh gak suka sama orang yang gak punya tata krama kayak gitu," ucapnya.
"Iya, udah ya. Kita pulang," ucap Echa lembut.
Baru kali ini Echa melihat Radit semurka ini. Dia tau bagaimana caranya untuk meredam emosi Radit. Ketika Radit menjadi api, dia harus menjadi air untuk menenangkan Radit.
Setelah sampai di rumah, Echa langsung pergi ke dapur mengambilkan minuman dingin untuk Radit. Dan menyuruh ART di sana untuk memasak cumi bakar, sosis bakar dan juga bakso goreng dan juga kentang goreng. Karena sebenarnya Echa masih lapar. Berhubung ada insiden tak terduga, dengan berat hati Echa meninggalkan makanan yang sudah Radit belikan untuknya.
"Minum dulu, aku ganti baju dulu, ya."
Setelah Echa berganti pakaian, dia menghampiri Radit yang fokus dengan ponselnya. Radit menoleh ketika Echa duduk di sampingnya.
"Kamu masih lapar?" tanya Radit.
"Aku udah minta buatin makanan ke pelayan," jawabnya.
"Cha," ucapnya sambil menggenggam tangan Echa.
Echa menatap Radit. "Maafkan aku, kemarin aku cemburu," imbuhnya.
Echa hanya tersenyum. "Kamu mau maafin aku?" tanya Radit.
Echa pun mengangguk pelan dan Radit menarik tangan Echa untuk masuk ke dalam dekapannya. Entahlah, dekapan Radit lebih menghangatkan dari dekapan Riza. Dia merasa dekapan Radit sama dengan dekapan sang papa.
Kedatangan pelayan membuat Radit melepaskan dekapannya. Radit mengernyitkan dahinya melihat makanan yang cukup banyak di depan matanya.
"Ini buat kamu sendiri?"
"Kan berdua sama kamu," jawab Echa ketika mengambil garpu.
"Ciye, makan berdua judulnya." Echa pun tertawa dibuatnya.
Dengan telaten Radit menyuapi Echa sambil bercanda bersama. Wajah sendu Echa kini telah berganti menjadi wajah yang bahagia. Meskipun Echa belum mengatakan jika dia menyayangi Radit. Tapi, Radit merasakan jika Echa juga menyayanginya.
Gio dan Ayanda baru saja kembali dari acara undangan. Senyum mereka berdua melengkung dengan sempurna ketika melihat anak gadis mereka kembali ceria bersama Radit. Laki-laki yang mereka percaya untuk menjaga Echa.
"Tawa Echa adalah kebahagiaan untuk kita," ucap Ayanda.
Gio merengkuh pinggang Ayanda. "Dia sudah besar, dan sebentar lagi kita menjadi Oma dan opa," ujar Gio seraya tertawa.
Ayanda pun tersenyum ke arah Gio. "Terimakasih, sudah menyayangi Echa seperti darah daging Daddy sendiri."
*****
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Ai
hadir lagi
feedback playboy kk
2021-04-24
0
Nothing
Semangat up nya kakak 🥳
Like dariku sudah melayang tuh hehe 😁
Jangan lupa feedback ceritaku yah, judulnya "Asisten Husband".
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🏻☺️
2021-01-25
0
Devi Erawati
uuuhhuuuiiiyyyy
2021-01-24
0