Hari-hari Echa dipenuhi dengan kebahagiaan bersama kedua pasang orangtuanya dan juga Radit. Keempat orangtua Echa sudah sangat dekat dengan Radit. Dan selalu mengijinkan Radit untuk pergi bersama Echa. Karena mereka tahu, Radit akan selalu membuat Echa tertawa.
Pada suatu malam, tepat malam Minggu. Radit datang ke rumah Rion. Kebetulan malam ini Echa sedang menginap di rumah ayahnya.
"Kok datang gak bilang?" tanya Amanda yang sudah hamil besar.
"Surprise, Tante."
Amanda pun tersenyum. "Echa ada di halaman belakang."
Radit pun menuju halaman belakang dan langkah kakinya terhenti. Ketika dia melihat Echa sedang bersama Riza. Sakit, teramat sakit hatinya. Radit tidak mampu mendekat. Sayup-sayup Radit mendengar Echa mengatakan bahwa dia juga masih sayang kepada Riza.
Hanya senyum tipis yang menyiratkan luka yang luar biasa. Tubuh Radit mundur namun, tak sengaja dia menyenggol meja kecil yang berada di sana.
Echa dan Riza menatap ke arah Radit, dan Radit pun tersenyum ke arah mereka berdua. Menutupi semua luka dan sakit yang dia rasakan.
"Kak ...."
"Aku pulang, ya. Maaf ganggu," ucap Radit dengan suara yang sangat terluka.
"Kak," panggil Echa yang berlari mengejar Radit.
Radit terus melangkah menjauhi Echa tanpa berbalik arah. Meskipun panggilan demi panggilan Echa lakukan.
Akhirnya, Echa berhasil menahan tangan Radit. Menatap Radit dengan kesedihan. "Itu tidak ...."
"Aku senang, melihat kamu bahagia kembali," ujarnya sambil mengusap lembut pipi Echa.
"Cha," panggil Dimas yang baru saja datang.
"Ya udah, aku pulang, ya. Sampaikan salam ku untuk Tante dan Om." Radit pun menghidupkan mesin motornya dan meninggalkan rumah Echa.
Sekarang, hanya tersisa Echa, Riza dan juga Dimas. Kenapa rencananya untuk jalan bersama Radit pupus seperti ini?
Di halaman belakang sudah ada Echa, Riza dan juga Dimas. Echa sibuk dengan ponselnya. Mencoba menghubungi Radit yang sedari tadi susah untuk dihubungi.
Amanda menghampiri Echa di halaman belakang. Mata Amanda mencari-cari sosok yang baru saja dia temui.
"Kak, Radit ke mana?" Dimas dan juga Riza hanya terdiam mendengar ucapan dari ibundanya Echa.
"Kak Radit pulang, Bun. Tadi titip salam buat Ayah dan Bunda," ujarnya namun, dengan wajah yang sedih.
"Ada apa, Bun?" tanya Rion yang menghampiri istrinya.
"Radit mana, Dek?" tanya Rion.
Dimas dan Riza semakin merasa canggung mendengar ucapan dari Rion. Sedari tadi yang dicari hanya Radit. Padahal mereka berdua ada bersama Echa.
"Kata si Kakak dia pulang, Yah."
Rion melirik ke arah dua anak laki-laki yang sedang bersama Echa. "Dek, sudah malam."
Padahal jam baru menunjukkan pukul 19.30, Echa tahu maksud dari ucapan ayahnya. Wajah ayahnya terlihat sangat sangar.
"Iya, Yah." jawab Echa.
Dimas dan Riza pun bangun dari duduknya dan pamit pulang kepada Echa. Setelah kedua laki-laki itu pergi, Rion memanggil Echa ke ruang keluarga.
"Tumben Riza main ke sini?" tanya Rion dingin. Echa hanya mengangkat bahu.
"Si Dimas juga tumben banget ke sini," ujar Rion lagi.
"Gak tau Ayah. Udah ya, Echa mau masuk ke kamar."
Echa terus mengirim pesan kepada Radit. Pesan terkirim namun, tak pernah Radit baca. Mencoba untuk telepon pun tidak pernah Radit jawab.
Sudah beberapa hari ini hari-hari Echa terasa hambar. Tidak ada yang mengirimkan cokelat, ponselnya pun sangat sepi. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Radit. Radit seperti hilang ditelan bumi.
Hari ini tepat hari kelima Radit tidak mengganggu Echa. Echa benar-benar merasa kesepian. Dicek ponselnya, tak satu pun pesannya dibaca oleh Radit.
"Kamu ke mana?" gumamnya.
"Aku di sini," sahut Dimas.
Echa hanya tersenyum kecut. Hari ini mood-nya benar-benar jelek. Apalagi mendengar ocehan Dimas yang sama sekali tidak menghibur. Malah membuat Echa semakin kesal.
"Kak Dimas, ada yang nyariin tuh di kelas," ujar Mima yang baru masuk kelas.
"Siapa?" Mima hanya mengangkat bahunya.
"Cha, aku ke kelas dulu, ya." Dimas memberikan senyuman manisnya namun, tak membuat Echa luluh. Malah lelah, mendengar ocehan yang tidak jelas dari Dimas.
"Masih belum baikan juga?" tanya Sasa.
Echa hanya menggeleng. "Dia sama sekali gak jawab pesan maupun panggilan dari gua. Padahal dia lagi online."
Dikediaman Radit.
"Sakit woiy," geram Radit karena ulah Rifal yang memukul siku dan juga dengkul Radit.
"Cemen lah, patah hati begini mulu lu. Gak kreatif," omel Rifal.
"Ck, sok tahu lu."
"Serah lu, lah. Lu gak pernah pintar, Raditya," ujar Rifal.
Rindra dan Addhitama baru saja bergabung dengan Radit dan juga Rifal. "Kamu gak bosen apa?" tanya Addhitama.
"Sakit, Pih. Bukannya diobatin malah diomel-omelin," keluhnya.
"Nih." Rindra memberikan obat semprot dan juga obat dalam untuk menangani luka Radit.
"Motor gak apa-apa?"
"Astaghfirullah, Pih. Harusnya yang ditanyain itu aku bukan motornya," geramnya.
Sekarang masuk hari ketujuh Radit tidak mengganggu Echa. Kegalauan kini yang dia rasakan.
"Kak, Radit ke mana? Kok gak pernah ke sini lagi," tanya Ayanda.
"Gak tau, Mah. Semua pesan dan panggilan aku aja gak dibalas."
"Emang Kak Radit tidak menghubungi Mamah?" Ayahnya hanya menggeleng.
"Kalian ada masalah?" Echa hanya menggeleng.
Setelah perbincangan singkat dengan sang mamah. Echa menunggu papanya pulang kerja. Dia ingin bertanya kepada sang papa.
"Kamu belum tidur?" tanya Gio yang baru saja pulang.
"Echa nunggu Papa."
"Loh, ada apa?" tanya Gio dengan lembut.
Lelahnya hilang begitu saja ketika disambut oleh Echa. Tidak biasanya putrinya seperti ini. Gio menghampiri Echa dan duduk di sampingnya.
"Pa, apa Kak Radit menghubungi Papa?"
"Tidak, kenapa memang?"
"Sudah seminggu Kak Radit gak ada kabar."
"Yang semenjak banyak laki-laki ngapelin kamu, kan. Di rumah Ayah," ujar Gio.
"Kok ngapel sih, mereka tamu tak diundang," imbuhnya.
"Radit tidak pernah menghubungi Papa, sudah seminggu ini kayaknya."
"Apa Papa tau rumah Kak Radit?" tanya Echa.
Gio tersenyum, lalu mengusap lembut rambut Echa. "Kamu kangen sama Radit?" godanya.
Wajah Echa bak kepiting rebus, dengan cepat dia menggeleng. "Bukan, Echa hanya ingin menjelaskan semuanya. Biar Radit gak salah paham."
"Menjelaskan kalo mau rindu gitu," goda Gio lagi.
"Apa sih, Pa?"
"Besok pagi, sopir akan antar kamu ke rumah Radit. Perbaiki hubungan kalian." Echa pun mengangguk dan memeluk tubuh Gio.
"Makasih, Pa. Love you."
"Love you more, Sayang."
Pagi harinya, Echa sudah berpakaian rapi. Membuat Ayanda mengerutkan dahinya.
"Mau kemana, Kak?" Biasanya anak gadisnya ini hanya selalu memakai piyama jika di rumah.
"Dia mau ke rumah Radit, Mom."
"Mau ngapain?" tanya Ayanda pada Echa.
"Mau ngelurusin yang bengkok," sahut Gio sambil terkekeh. Sedangkan Echa hanya menatap kesal kearah sang papa.
Mobil sudah berhenti di rumah mewah. Meskipun tak semewah rumah Papanya. Sebelum turun dari mobil, Echa menarik napas dulu. Mengatur kegugupan sekaligus ketakutannya.
Echa menekan bel, dan tak lama seorang pria muda membukakan pintu. Matanya tak berkedip melihat seorang gadis cantik di hadapannya.
"Siapa Kak? Pagi-pagi begini da ...."
Echa melihat ke asal suara dan matanya nanar melihat Radit. Begitu pun Radit yang hanya bisa mematung di tempatnya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Rafi haikal
baru sempet mampir kesini aku😁😁maklum
2021-01-30
0
Tri Widayanti
Echa juga keras sprti batu.
2021-01-22
0
Panca Dian
ih nangung 😋😋
2021-01-21
0