"Anda tahu kan apa konsekuensinya jika ada orang yang sengaja mengusik keluarga saya?" Seringai licik dan jahat pun muncul di wajah Gio.
"Ma-maafkan saya Pak. Maafkan saya ...."
Ponsel Resky berdering, dahinya mengkerut ketika dia melihat nama dari panggilan tersebut.
"A-apa? Ditarik semua sahamnya?"
Gio tersenyum tipis dan masih duduk manis di tempatnya. Sedangkan Resky, tubuhnya seperti tulang ayam lunak. Dia menatap Gio, Gio masih bersikap seperti orang yang tak melakukan apapun.
Sedangkan Rion dan Arya sedang menyilangkan tangan mereka. Menonton pertunjukkan yang sangat menghibur untuk mereka berdua. Akhirnya, seorang Resky yang super songong kalah telak oleh seorang Giondra.
"Pak Gio ...."
"Itu tidak sebanding dengan ucapan Anda yang sangat merendahkan putri saya. Asal Anda tahu, sepuluh perusahaan yang Anda miliki pun tidak akan pernah cukup untuk membeli putri saya."
"Dan satu hal yang harus Anda tahu, laki-laki yang membawa motor matic, yang Anda rendahkan adalah putra bungsu dari seorang Addhitama. ADDHITAMA."
Mata Resky membulat dengan sempurna. Dia pasti tahu siapa Addhitama. Dan harta Resky hanya seujung kuku dari Addhitama.
"Saya mohon Pak, jangan berbuat kejam kepada saya. Saya akan membawa Dimas untuk meminta maaf kepada putri Bapak. Saya akan menyuruh Dimas bersujud di kaki Echa," pintanya.
Gio hanya berdecih, apalagi Rion yang sudah ingin sekali menghajar wajar Resky.
"Saya tidak kejam, dan saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."
"Perusahaan Anda sudah membuat kecurangan, dan sudah saatnya semua investor tahu bagaimana liciknya Anda. Memperkaya diri sendiri dengan memakan uang orang lain."
Wajah Resky pucat pasi mendengar ucapan Gio. "Anda tahu kan, perusahaan Anda adalah anak dari perusahaan yang Ayah saya miliki. Dan saya yang bertanggung jawab atas semua perusahaan itu."
"Katanya horang kaya, tapi keok menghadapi milyarder muda," ejek Arya.
"Saya masih berbaik hati karena tidak menjebloskan Anda ke jeruji besi. Tapi, jika Ayah saya tahu sudah pasti beliau akan menyeret Anda tanpa ampun."
"Pak Gio, saya mohon." Resky berkata dengan berlutut di kaki Gio.
"Kenapa sekarang Anda menjadi anak kucing seperti ini? Bukannya tadi berlagak seperti sang raja hutan," imbuh Gio.
"Dia mah bukan raja hutan tapi orang utan," sahut Arya.
"Mulut Anda sangat lancar sekali ketika merendahkan putri saya. Menginjak-injak harga diri putri saya. Dan sekarang, malah Anda yang merendahkan diri Anda di hadapan saya."
Resky hanya diam, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ucapan ketus dari Gio menandakan jika Gio sudah tidak bisa diajak negosiasi.
"Masih untung lu masih hidup, kalo gua jadi Gio udah gua bunuh lu sama anak lu," sentak Rion dengan emosi yang menggebu.
"Saya tidak suka penjilat," tegasnya.
Gio berdiri dan pamit kepada Arya dan juga Rion. Masih ada yang harus dia selesaikan. "Gua harus pergi," ucapnya.
Rion dan Arya mengangguk pelan. "Di atas langit masih ada langit," imbuh Rion.
"Orang kaya sesungguhnya tidak akan menunjukkan jati dirinya kepada orang lain. Tapi, orang yang MERASA kaya pasti mulutnya akan berkoar-koar kepada orang lain. Mengatakan bahwa dirinya kaya, padahal kekayannya hanya sebatas hasil korupsi," sambung Arya.
Ponsel Resky berdering kembali. "Apa? Dimas di skorsing?"
Arya dan Rion tersenyum penuh kemenangan, berurusan dengan Gio sama dengan berurusan dengan kematian.
***
Jam istirahat sudah tiba. Echa dan dua sahabatnya menuju ke kantin. Namun, ketika Echa melihat Dimas, Echa langsung berjalan dengan langkah seribu. Dia masih takut, jika Dimas akan berbuat hal nekat kepadanya.
"Mau makan apa?" tanya Sasa.
"Pesenin minum aja, gua gak lapar," jawab Echa.
Mima menyenggol lengan Echa yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. "Apa?" Mima menunjuk dengan bibirnya.
"Papa," ucap Echa yang melihat Gio masuk ke dalam kantin.
Semua mata tertuju pada Gio. Siapa yang tidak mengenal Giondra. Pengusaha muda sukses di negeri ini.
Senyum Gio mengembang ketika melihat putrinya yang berdiri dan menatap bingung ke arahnya. "Kenapa Papa ke sini?" tanya Echa yang sudah menghampiri Gio.
"Papa?" bisik siswa-siswa yang lain. Mereka tidak tahu, jika Echa adalah putri sambung dari seorang Giondra. Yang mereka tahu, Echa hanyalah anak dari pengusaha bakery.
"Ini Papa bawa makan siang untuk kamu dan juga dua sahabat kamu," ujarnya.
"Wow, h*kbe*," ucap Echa sangat senang.
"Makanlah, Papa ke sini hanya mengantarkan ini karena tadi searah. Makanya Papa mampir ke sini."
"Makasih, Pa." Gio pun mengangguk.
"Papa pergi ya," ucap Gio sambil mengusap lembut rambut Echa.
"Hati-hati, Pa," sahutnya.
Mata para siswa dan juga penjaga kantin masih tertuju pada Echa. Mereka tidak menyangka, jika siswa biasa seperti Echa adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya.
"Terpana kan, bingung kan," ucap Mima.
"Biar gak pada macem-macem sama Echa," balas Sasa.
Setelah selesai makan, Echa dan dua sahabatnya kembali ke kelas. Namun, keadaan diluar sedang ramai. Ternyata Dimas sedang ditampar oleh Ayahnya.
"Gua denger, si Dimas di skorsing makanya bokapnya ngamuk," ucap salah seorang siswa.
"Lagian di sekolah berbuat caboel, wajarlah kalo di skorsing." Mendengar ucapan itu, dada Echa berdegup dengan cepat.
Apa ini menyangkut yang kemarin?
Ada ketakutan di hati Echa, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Iya ada apa?"
"Ntar temenin aku rapat pensi."
"Kamu kenapa? Kenapa kamu seperti orang yang ketakutan?"
"Kak, aku mohon...."
"Iya, nanti aku ke sekolah ya. Izin ke Papih dulu."
Mendengar kata iya saja dari Radit, sedikit membuat hati Echa tenang. Dia benar-benar takut sekarang. Padahal, tanpa Echa sadari ada orang yang ditugaskan untuk menjaga Echa.
"Hey kenapa?" tanya Sasa.
Echa hanya menggeleng, Sasa dan Mima hanya saling pandang. Ada apa dengan Echa sebenarnya?
Jam pulang sekolah pun tiba, Echa harusnya masuk ke ruang kesenian untuk rapat bersama dengan murid yang lain. Tapi, Echa malah berada di pos satpam menunggu Radit.
Mobil berwarna putih pun masuk ke area sekolah. Dan Echa tahu itu mobil yang biasa Radit bawa.
"Kak," panggil Echa ketika Radit baru menutup pintu mobilnya.
"Kenapa gak masuk?" Echa malah menggandeng tangan Radit. Ada siluet ketakutan di wajah Echa.
"Aku antar ke ruang kesenian dan aku juga akan terus temani kamu."
Sebenarnya Radit sudah tahu kenapa Echa seperti ini. Gio sudah memberi tahu Radit jika Dimas di skorsing dan terancam dikeluarkan dari sekolah.
Echa mengetuk pintu ruangan kesenian membuat semua siswa menikah padanya. "Maaf telat," ucapnya.
"Masuk Cha, belum mulai kok rapatnya," jawab Pak Frans.
Yang membuat mereka bingung adalah tangan Echa dan Radit yang saling menggenggam. Dan Radit pun ikut masuk ke ruangan kesenian dan duduk di samping Echa.
Hati Riza sangat teriris melihat kebersamaan Echa dan juga Radit. Radit yang tak melepaskan genggaman tangannya meskipun Echa sudah duduk di bangkunya.
"Harusnya aku yang di sana. Dampingi mu dan bukan dia. Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia ...."
Semua siswa tertawa mendengar Doni menyanyikan lagu tersebut. Sebuah ejekan untuk Riza yang telah menyia-nyiakan seseorang. Dan sekarang seseorang itu sedang bersama pria lain di depan matanya.
****
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
keren juga lg di Doni 😃😃😃
2024-10-10
0
Nurwana
lagunya Armada. kena betul lagunya Doni.🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2022-10-04
0
Waode Yevo
masuk lagu armada nya hehe🤭
2021-09-10
0