"Itu kan cemcemannya Radit, bocah SMA," gumamnya.
"Masa si es kutub doyan sama bocah. Jangan-jangan dia pedofil lagi," ucap Rival yang kini bergedik takut.
Di sekolah.
Ponsel Echa terus saja berdering membuat Mima dan Sasa kesal. "Berisik tau, Chut," geram Mima.
"Tau nih, gak penting," sahut Echa yang hanya membaca pesan dari Rindra tanpa membalasnya. Dan Echa pun mensilent ponselnya.
Rindra terus menunggu balasan dari Echa. Namun, tak satu pun pesan yang dia kirimkan dibalas oleh Echa.
"Padahal dia online," gumam Rindra.
Ketika jam istirahat tiba, bibir Echa tersungging dengan sempurna ketika melihat ada pesan dari Radit. Radit mengirimkan foto dirinya.
"Uh gemush."
"Makasih 😘"
"Bukan kamu, tapi es kopinya 😁"
"Jahatnya😭"
"Mamang kopinya juga ganteng kok. Bisa dibungkus gak dibawa pulang?"
"Gak usah dibungkus neng, diajak ke KUA aja. Mamang mah ikhlas ridho."
Echa tertawa membaca chatannya bersama Radit. Radit selalu membuat dunianya berwarna.
"Kamu makan, jangan ngopi Mulu."
"Ciye, perhatian 😘"
"Perhatian tanda apa tuh?"
"Cinta dan sayang. Seperti aku sayang dan cinta sama kamu."
"Masa?"
"Serius, Cha."
"Mau kan?"
"Apaan?"
"Jadi kekasih hati aku."
"Si Mamang kopi ngelantur nih. Udah ah aku mau makan dulu. Bye Mamang Kopi."
"Bye pujaan hati."
Echa terus saja tersenyum seperti manusia setengah waras.
"Beda ya, orang yang lagi kasmaran mah," sindir Sasa.
"Hooh, mana ganteng pula. Jadi iri," timpal Mima.
"Iri? Bilang Bos," sahut Echa.
"Kini tinggal aku sendiri, hanya berteman dengan sepi. Menanti dirimu kembali, di sini ku terus menanti." Mereka bertiga berdendang ria sambil bergoyang ala tiktok. Hingga mereka pun tertawa puas dengan tingkah konyol yang mereka lakukan.
Setelah puas menari dan bernyanyi, Merkea bertiga menuju kantin. "Boleh gabung gak?" kata Riza.
Mima melirik kearah Echa. Namun, Echa tidak bergeming. "Cha," panggil Mima.
"Gak ada yang larang kok," jawab Echa.
Riza pun tersenyum dan duduk disebelah Echa. Dari kejauhan Tere sudah menunjukkan wajah yang cemburu. Dengan langkah lebar dia menghampiri Riza di meja Echa.
Byur!
Segelas es teh manis membasahi wajah dan sebagian tubuh Echa. "Apa-apaan sih kamu?" bentak Riza yang sangat marah.
"Kenapa? Kamu gak terima cewek gatel itu aku siram, iya?" sentak Tere.
Echa terus membersihkan wajah dan bajunya dengan tissue. Dia beranjak dari duduknya dan menatap sepasang kekasih di hadapannya dengan tatapan sinis.
"PASANGAN GAK TAHU MALU," sarkasnya.
Echa meninggalkan Riza dan Tere yang sedang bertengkar dan dia menuju ke kamar mandi. Wajah, rambut dan bajunya terasa sangat lengket.
"Si Alan banget sih tuh anak dua," gerutunya.
Ponsel Echa berdering, Echa hanya menghela napas kasar. Dia pikir Radit ternyata Rindra. Echa tidak berniat untuk mengangkat telpon dari Rindra.
"Udah?" tanya Sasa.
Echa mengangguk dan harus merelakan rambutnya sedikit lengket dan juga kemejanya basah.
"Apes banget sih nasib lu," ujar Mima.
"Tau nih."
Echa masuk ke kelasnya dan enggan sekali di kembali ke kantin. Hari ini dia sudah menjadi tontonan gratis semua orang.
Setelah pulang sekolah, Echa harus rapat. Dan harus bertemu Riza dan Tere kembali. Ingin sekali dia mengundurkan diri, namun dilarang oleh Pak Frans.
Sebelum Pak Frans masuk, Echa lebih memilih menunggu di luar. Dia tidak ingin bertemu dua makhluk astral yang membuat mood-nya kacau.
Segelas es kopi ada di hadapannya, membuat Echà mendongakkan kepala ke arah seseorang yang ada di depannya. Senyuman manis dari seorang Radit membuat hati Echa menghangat.
"Makasih." Echa menaruh kopinya bukan meminumnya.
"Kenapa?" Radit sudah berlutut di hadapan Echa.
"Lapar," ucapnya. Radit hanya tertawa dan mengacak-acak rambut Echa. Radit melihat kearah telapak tangannya yang terasa lengket.
"Rambut kamu ...."
"Mandi es teh manis," ketusnya.
"Kok bisa?"
"Diguyur pas jam istirahat di kantin." Radit tersenyum. Dia sudah tau siapa yang melakukan itu semua.
"Ya udah, aku beli makanan dulu ya. Nanti aku ke sini lagi." Echa hanya mengangguk.
Setelah kepergian Radit, Rindra datang ke sekolah Echa. Namun, sekolah Echa sudah sepi. Rindra memutuskan untuk kembali lagi ke kantornya.
Rapat sudah dimulai, semuanya sedang membahas acara apa saja yang akan diselenggarakan selain musik. Semua anggota panitia mendengarkan secara seksama dan setelah Pak Frans menerangkan setiap panitia harus berembuk kembali. Menuangkan ide-ide mereka yang kemudian akan diserahkan kepada Pak Frans dan juga kepala sekolah.
Echa sedang menikmati es kopinya dan ponselnya berdering.
"Kenapa chat aku gak di balas?"
"Aku terlalu bawel ya."
"Maaf Kak, aku lagi sibuk. Aku lagi ada rapat panitia." Echa hanya membalas sekenanya saja.
"Oh ya udah. Pulang jam berapa nanti aku jemput."
Kedatangan Radit membuat Echa meletakkan ponselnya di dalam saku bajunya. Echa tersenyum ke arah Radit yang sudah membawa beberapa bungkus makanan.
"Banyak banget," ucap Echa.
"Itu buat kalian ngemil." Echa pun tersenyum.ke arah Radit.
"Kamu makan, ya." Echa hendak mengambil makanannya namun, dilarang Radit.
"Aku suapin, jadi kamu masih bisa fokus diskusinya."
"Terserah lah." Radit tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Riza menahan rasa sakitnya ketika melihat Radit dan Echa sangat dekat. Dan selalu tertawa bahagia yang Echa tunjukkan jika bersama Radit.
"Udahlah nyerahin aja," ujar Doni.
"Dikejar juga gak akan sampai. Cuma akan terus buat lu kecewa. Mending urusin tuh tunangan lu yang lagi ngamuk," imbuh Doni. Riza menatap ke arah Tere yang sedang memarahi anggota lainnya. Riza hanya menghela napas kasar.
"Dit," panggil Pak Frans.
"Iya Pak."
"Ketika pensi, datanglah ke sini. Nyanyi satu lagu mah. Biar guru-guru terobati dengan suara khas kamu." Radit pun tersenyum.
"Kalo kuliah saya senggang saya pasti datang Pak."
"Harus datang lah, kan Echa juga akan perform. Lihatlah perform pacar kamu, pasti kamu makin sayang." Radit tersenyum dan menatap Echa yang sudah blushing.
"Siapp Pak, demi pacar saya akan datang."
Riza tersedak air yang baru saja akan masuk ke dalam tenggorokannya.
"Antara aku, pacar dan mantan." Ucapan Pak Frans membuat semua orang tertawa.
Setelah diskusi selesai. Echa dan dua panitia lainnya langsung menyerahkan hasil diskusi. Ada waktu satu hari lagi untuk memperbaikinya. Mereka pulang terlebih dahulu dibandingkan panitia yang lain. Berkat bantuan Radit juga mereka bisa cepat menyelesaikan diskusi. Karena memang Radit berotak cerdas dan kreatif.
"Langsung pulang?" tanya Radit yang sudah memakaikan helm untuk Echa. Echa mengangguk.
"Kak Radit makasih ya makanannya," ucap salah seorang rekan panitia Echa. Radit pun hanya membalas dengan seulas senyum.
"Jangan senyum-senyum begitu," imbuh Echa sambil menekan pipi Radit dengan jari telunjuknya.
Radit hanya tertawa. "Meskipun senyumku untuk semua orang, tapi hatiku hanya untuk kamu seorang." Echa hanya tersenyum mendengar gombalan Radit. Mereka pun meninggalkan sekolah.
Tak lama, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Pak Muh yang sedikit merasa curiga langsung menghampiri mobil itu.
"Cari siapa Pak?" tanya Pak Muh.
"Echa udah selesai rapatnya?"
"Neng Echa udah dijemput Pak. Baru saja dia pergi." Rindra tersenyum ke arah Pak Muh dan melajukan mobilnya kembali.
"Udah SMA masih aja diantar jemput sama Papanya," ujar Rindra dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
****
Happy reading ...
Sengaja aku sisipkan fotonya Mamang penjual kopi. Biar ada manis-manisnya gitu.😁
Kalian di tim mana? Radit atau Rindra ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
Aq kang Radit yg murah senyum dan ramah pada setiap orang
gak kayak Rindra si kutub utara si beruang Es, 😁😁😁😁
2024-10-10
0
Epi Tri Wahyuni
pilihan yang sulit😂😂😂😂
2023-08-04
0
Aulia azmy
dua duanya sama sama perpengaruh,, tp pilihanku jatuh pada Radit 😉😍
2022-12-03
0