Rival menatap aneh ke arah Abangnya yang sedari tadi senyum-senyum sendiri di taman belakang. Membuat Rival bergidik ngeri. Setan apa yang sedang menempel di tubuh Abangnya yang dingin itu?
Radit baru saja turun dari kamarnya. Dia dihadang oleh Rival. "Apaan?"
"Mau ke mana udah wangi, udah ganteng," goda Rival.
"Minggirlah, mau ngejar jodoh aku nih," ujar Radit.
Rival menarik tangan Radit agar mengikutinya. "Tuh liat Abang lu." Radit mengerutkan dahinya.
"Sejak kapan Abang bisa ketawa?" Rival menoyor kepala adiknya.
"Abang gak kaku-kaku banget, Raditya," geram Rival.
"Ya, kali Kak. Tiap hari muka Abang udah kaya kanebo kering yang setahun gak kena air."
"Kok gua ngeri ya, liatnya," imbuh Rival.
"Kagak usah diliatin Kak. Biarin aja, siapa tau tuh es kutub udan mulai mencair," sahut Radit.
"Dah ah, aku cabut Kak."
Rival hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya dan juga Abangnya. Adiknya yang sedang mengejar bocah SMA dan Abangnya yang entah sedang kasmaran dengan siapa. Hanya Abangnya dan Tuhan yang tahu.
Sesampainya di rumah Echa, Radit langsung disambut hangat oleh Gio dan juga Ayanda.
"Echa di kamarnya," ujar Ayanda.
"Aku ke atas ya, Tante." Ayanda mengangguk.
Radit masuk ke dalam kamar Echa namun, tidak ada Echa di sana. Dilihatnya pintu balkon terbuka. Radit tersenyum ketika melihat Echa sedang duduk bersila di sofa.
Radit langsung duduk di samping Echa membuat Echa menatap sinis ke arah Radit. Echa bangkit dari duduknya namun, tangannya ditarik oleh Radit hingga dia duduk kembali di sofa.
"Jelasin ke aku, apa salah aku?" tanya Radit serius.
"Gak ada yang perlu dijelasin," jawabnya.
"Cha, tatap mata aku," pinta Radit yang sudah menggenggam erat tangan Echa.
Echa masih memandang lurus ke arah depan. Tanpa mau menatap Radit. Radit menangkup wajah Echa dan mengarahkan wajah Echa agar berhadapan dengannya.
"Kenapa? Coba jelasin," ucap Radit penuh dengan kelembutan.
"Cha, bicara lah. Aku mohon."
"Pergi lah ke rumah pacarmu," kata Echa.
"Pacar? Siapa?"
"Tidak usah berkilah Radit. Perempuan itu ... perempuan yang bersama kamu di pesta ulang tahun kolega Papa. Perempuan yang memakai baju senada dengan kamu ...."
Radit mengusap kepala Echa dengan penuh kasih sayang. Dia mencubit gemas pipi Echa yang mulus.
"Kamu cemburu?"
"Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan kalian," ketusnya.
Radit tersenyum dan menarik tangan Echa masuk ke dalam dekapannya. "Lepas Dit," sentaknya.
"Gak sopan kamu. Bilang dulu Kak Radit baru aku lepas."
"Gak mau," sahut Echa.
Radit semakin mengeratkan dekapannya dan akhirnya Echa pun menyerah. "Lepasin Kak Radit," katanya.
Radit tersenyum penuh kemenangan. Dia duduk di bawah sofa dan menatap ke arah Echa. Tangannya sudah menggenggam tangan Echa.
"Dia sepupu aku, Cha. Bukan pacar aku. Malam itu, keluarga besar ku ingin mengadakan foto keluarga. Makanya kami semua memakai baju dengan warna senada."
Echa membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar. "Dapat dari mana foto itu?" Radit langsung merampas ponsel Echa. Dan dia membuka aplikasi chat dan ternyata Dimas yang mengirimkannya.
"Perempuan itu sama seperti yang kamu lihat di acara itu, kan. Dia Devi, sepupu perempuan aku yang seumuran sama aku. Kita emang Deket banget. Bagi orang yang gak tau, pasti mengira kami ini sepasang kekasih," jelasnya.
"Jangan marah lagi. Aku gak pernah bohongin kamu. Aku masih single kok. Suer," ucapnya sambil mengangkat dua jarinya ke atas membuat Echa tertawa.
"Apa peduli ku kalo kamu masih single?"
"Ya Kali mau coba jadi pacar aku," jawab Radit.
"Cinta bukan untuk coba-coba tapi untuk belajar artinya setia," balasnya.
Radit pun tersenyum. "Maafin aku, ya. Aku janji akan setia sama kamu." Radit mengulurkan jari kelingkingnya. Echa pun menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Radit.
"Baikan," ucapnya berbarengan.
Radit dan Echa pun sudah mulai bercanda dan tertawa bersama kembali. Sudah saling bercerita tentang hal-hal yang tidak penting.
Tak terasa waktu sudah larut. Angin malam sudah menusuk ke dalam tulang. "Masuk, nanti kamu sakit."
"Aku mau di sini dulu. Aku ingin melihat langit malam yang sangat indah," ucapnya.
Radit membuka jaketnya dan menyematkan di tubuh Echa. Membuat Echa tersenyum ke arah Radit. Radit merangkul bahu Echa dan membaringkan kepala Echa di pundaknya.
Tangan Radit sudah mulai menggenggam jari tangan Echa. "Jangan pernah cuekin aku," pintanya.
Echa hanya tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Radit. Ayanda dan Gio yang berada di belakang mereka hanya tersenyum bahagia.
Sebagai orangtua Ayanda dan Gio tidak melarang Echa untuk pacaran. Hanya saja ada batasan yang harus mereka jalankan.
Pagi harinya, seperti biasa Radit menjemput Echa. Mengantarnya dengan menggunakan motor. Alasannya motor lebih mempercepat perjalanan dibandingkan menggunakan mobil.
Setelah berpamitan kepada kedua orangtua Echa. Radit melajukan motornya dengan sangat pelan. "Pegangan Cha, ntar jatuh," ucap Radit.
Tangan Echa mulai memeluk pinggang Radit dan membaringkan kepalanya di punggung Radit. Hal sekecil ini mampu membuat hati Radit sangat berbunga.
Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Radit membukakan helm untuk Echa dan merapihkan poni Echa yang sedikit berantakan.
"Hari ini rapat lagi?" Echa mengangguk.
"Ya udah, nanti aku jemput ya." Seulas senyum yang Echa berikan kepada Radit.
"Aku berangkat, bye."
Echa melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Mima dan Sasa sudah tersenyum penuh arti. "Marahan, baikan lagi, rujuk lagi. Ampun dije," goda Sasa.
Echa hanya tertawa dibuatnya. Kedatangan Riza melunturkan senyumnya. Mima dan Sasa pun merasa jengah melihat kehadiran Riza pagi ini.
"Cha aku udah membatalkan pertunangan aku sama Tere," imbuhnya.
"Lalu?"
"Tolonglah kembali kepadaku, Cha. Aku sangat mencintaimu," jawan Riza dengan wajah sendunya.
"Apa vas bunga yang sudah pecah akan bisa kembali utuh seperti semula?"
Riza hanya terdiam. "Vas bunga itu cerminan hati aku. Semuanya bisa kembali utuh ketika ada orang yang memunguti serpihan vas itu lalu menempelnya kembali. Namun, tidak akan sebagus vas itu sebelum pecah."
"Jangan pernah sia-siakan orang yang menyayangimu dengan tulus. Kamu akan menyesal ketika kamu melihat orang itu bahagia dengan lelaki lain, yang lebih baik dari kamu."
Ucapan Echa membuat hati Riza patah. Sudah tidak ada jalan untuk kembali lagi. Echa adalah perempuan yang sangat keras. Namun, berhati sangat lembut. Sekecil apapun dia disakiti, selamanya dia akan mengingatnya.
Di lain rumah, Rindra sedang tersenyum dengan jari yang sudah bermain di atas layar ponselnya. Dahi Echa mengerut ketika melihat pesan yang masuk.
"Pagi."
"Pagi Kak."
Hanya balasan seperti itu sudah membuat seorang Rindra senang bukan main. Ketika Rindra pergi ke kamar mandi, Rival dengan sangat ingin tahunya melihat isi ponsel Rindra. Matanya melebar dengan sempurna melihat wallpaper di ponsel milik Abangnya.
"Itu kan ...."
****
Happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yus Nita
nama ny juga gak tau, kli itu calon adek ipar
ntah sapa yg salaaahhh...
2024-10-10
0
Dilah Mutezz
wedeh wedeh saingannya sehatt gx ya abang n adek nii 🤭🤭🤭
2021-10-22
0
Ai
triple like
feedback playboy
2021-05-01
0