Keesokan hari nya Rania yang sudah terbangun dari tidurnya segera mandi dan mengajak Wati pergi kerumah nya Marni.
Wati yang tidak tau apa apa bertanya pada Rania.
"Kita mau kemana Rania", tanya Wati yang sedang menaiki sepedanya.
"Kita akan ke rumah mbak Marni, kasian dia dibunuh paman nya sendiri", celetuk Rania yang menoleh ke arah Marni yang sedang terbang bersama Petter dan Evana.
"Siapa yang kau bicarakan Rania, dibunuh... Siapa yang dibunuh", tanya Wati dengan mengernyitkan dahi nya.
"Kau tau mayat yang dibuang dibelakang sekolah, itu adalah mayat mbak Marni dia sedang bersama kita sekarang".
"Hah... Yang benar saja, kau jangan menakutiku Rania", pekik Wati dengan wajah ketakutan.
"Ha ha ha kau tidak perlu takut Wati, tenanglah mbak Marni tidak akan menakutimu, bukankah kau sudah terbiasa dengan kehadiran Petter, jadi untuk apa kau takut", ujar Rania dengan tersenyum geli karena melihat Wati begitu takut pada hantu.
"Tapi kan Petter berbeda aku sudah terbiasa dengan nya, tapi hantu yang baru itu dia terbunuh dengan mengenaskan, jadi aku takut membayangkan wajahnya", ucap Wati yang bergidik ketakutan.
"Sudahlah Wati percayalah padaku mbak Marni tidak semenakutkan itu".
Setelah mereka menaiki sepedanya selama empat puluh menit akhirnya mereka tiba disebuah rumah sederhana dengan cat berwarna biru ditemboknya.
T**ok tok tok**...
C**eklekk**...
"Siapa ya", ucap ibu ibu yang memakai baju berwarna hitam.
"Maaf bu kami teman nya mbak Marni mau ada yang kami sampaikan", ujar Rania yang sedang memandang wajah Marni disebelahnya.
"Tapi Marni sudah meninggal kemarin hu hu hu", ucap ibu Marni dengan terisak mengingat anaknya.
"Iya bu kami sudah tau, kedatangan kami kesini untuk menyampaikan pesan mbak Marni", jawab Rania.
"Mari nak masuk silahkan duduk dulu", ucap ibu Marni seraya berjalan ke dapur mengambil air untuk minum Rania dan Wati.
Setelah itu Rania menjelaskan semua pada ibu Marni tentang kematian putrinya, tapi ibu Marni tidak percaya dengan perkataan Rania.
"Nak kamu jangan sembarangan kalau bicara, ini menyangkut nyawa seseorang", ucap ibu Marni meyakinkan Rania.
"Saya tau bu, pasti sulit untuk percaya karena mbak Marni sendiri yang memberitahu saya, ibu harus segera menemukan ponsel mbak Marni yang terjatuh karena itu satu satunya bukti", ujar Rania dengan menatap wajah ibu Marni.
"Kau tau darimana nak l".
"Arwah mbak Marni sendiri yang memberitahuku, bahkan sekarang dia ada disini", seru Rania dengan menunjuk Marni yang sedang berdiri disamping ibu nya.
"Kau tidak bohong kan nak dengan perkataanmu".
Lalu Marni membisikan sesuatu pada Rania, dan Rania langsung berdiri dan berjalan kesuatu ruangan.
"Ini disini kamar mbak Marni kan bu", ucap Rania yang langsung membuka pintu kamar Marni.
"Bagaimana kau bisa tau", seru ibu Marni.
"Saya sudah menjelaskan jika mbak Marni ada disini dan dia yang memberitahuku".
"Marni apa benar kau disini nduk", ucap ibu Marni yang berlinang air mata dan meraba kesegala arah seperti sedang mencari keberadaan Marni.
Sedangkan Marni yang melihat ibu nya menangisi dirinya hanya bisa bersedih, dia berusaha menyentuh ibu nya tapi selalu saja menembus badan ibu nya.
Ibu Marni sudah percaya pada ucapan Rania, dia akan segera ke kantor polisi untuk melaporkan adik dari suaminya itu, dan meminta polisi mencari ponsel Marni yang terjatuh, karena hanya itu bukti yang dapat membuktikan jika paman nya yang sudah membunuh Marni.
...Bersambung. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
Sendy Juwana
makin seru ceritanya 👿
2021-08-03
3
Siti Fatimah
kanapa tidak di hubungi aja tu ponsel kan bunyi
2021-04-21
9
Ria Diana Santi
Aku datang lagi!
2021-03-09
4