Kami semua masih terpaku melihat cacing belatung yang begitu banyak menggeliat di tanah area rumah yang kami tempati.
"Dedy ambil korek api dan kayu kita harus segera membakar semua belatung ini supaya tidak masuk kedalam rumah", perintah bude.
"Iya mbakyu aku ambil ke dapur belakang dulu", jawab papa dengan berjalan meninggalkan kami.
"Mbakyu ini ada apa, kenapa tiba-tiba banyak belatung disini?", tanya mama.
"Gak ada apa-apa Nggi mungkin sedang ada hama saja, jadi banyak belatung disini", jelas bude.
Aku hanya terdiam mendengar percakapan bude dan mama karna aku tau pasti ini semua karna perbuatan bapak-bapak tua tadi, tapi aku belum bisa menjelaskanya karna aku tidak mau dibilang salah lihat lagi jadi aku harus memastikanya dulu.
"Ini mbakyu kayu dan korek api nya, biar aku saja yang membakarnya", lalu papa menumpuk kayu diatas smua belatung dan membakarnya dengan korek api.
"Mari kita masuk mbakyu aku membawakan oleh-oleh dari Jakarta untukmu simbah dan Wati, ngomong-ngomong kangmas Diman kapan pulangnya?", mama bertanya seraya berjalan kedalam rumah dengan bude.
"Nanti sebelum simbah berangkat umroh juga kangmas mu itu pulang Nggi, maklum kerja nya di luar pulau sama kaya kamu dan Dedy nanti jauh jaraknya", seloroh bude Walimah.
Sementara papa melanjutkan mencuci mobil aku berjalan-jalan di dekat rumah sambil melihat-lihat pemandangan desa ini, kalau masih terang gini sih indah dan sejuk banget udaranya berbeda kalau sudah gelap nanti udara malam didesa ini sangat tidak enak untukku.
Saat aku sedang berada disebuah kebun pisang disana aku melihat banyak belatung lagi, dan aku berpikir apa didesa ini begitu banyak belatung ya sesuai namanya "Desa rawa belatung", dan apa hubunganya dengan bapak-bapak tua tadi.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku.
Plak...
"Rania aku kangen sama kamu", ucap Wati dengan memelukku.
"Aduh Wati kamu ngagetin aku aja sih, kata bude kamu pulangnya sore kenapa siang udah pulang dan dimana simbah", tanyaku pada Wati.
"Aku pulang sekarang karna ibuku mengabariku jika kamu dan orang tuamu baru datang dari Jakarta, jadi aku buru-buru pulang meninggalkan simbah disana nanti sore juga simbah sudah pulang di antar mas Agus anaknya lek Ngatini", jelas Wati.
Setelah itu aku dan Wati berjalan pulang lalu aku menceritakan kejadian di rumah tadi pagi dan tentang bapak-bapak tua misterius itu, menurut Wati dia tau siapa bapak-bapak yang aku maksut itu tapi Wati tidak melanjutkan pembicaraanya karna bude Walimah memanggil kami masuk kerumah.
"Wati sudah pulang kok gak masuk rumah dulu to nduk", ucap bude Walimah.
"Iya bu maaf tadi aku lihat Rania diluar dan kami berbincang sebentar sambil melihat-lihat pemandangan di kebun sana".
"Iya bude tadi aku yang mengajak wati ngobrol sebentar didepan".
"Iya gak apa-apa nduk tapi jangan main ke kebun itu lagi ya, kalau mau keluar rumah sama Wati saja dia tau tempat yang bagus-bagus disini loh", ucap bude.
alAku dan Wati masuk kekamar dan aku mulai bertanya tentang bapak-bapak tua misterius itu dan kenapa bude melarangku main ke kebun itu, tapi wati seakan bingung mau menjawab apa dan dia malah mengalihkan pembicaraanku.
"Rania kamu nanti kan pindah satu sekolah denganku, semoga aja kita satu kelas ya", kata bude Walimah seraya mencoba baju yang dibawa ibu sebagai oleh-oleh.
"Iya Wati biar aku gak canggung di kelas nanti kalau ada kamu, semoga kita satu kelas kalau bisa satu bangku hehehe", jawabku dengan memainkan ponselku.
Tak terasa hari sudah sore simbah pun pulang diantar mas Agus dengan membawa makanan ala-ala orang punya hajat di desa.
"Sudah datang to nduk semoga kamu betah ya tinggal di desa ini", kata simbah dengan duduk di kursi goyangnya.
"Iya mbah Rania pasti betah kok disini kan ada Wati yang akan menjadi temanku", jawabku seraya mencium punggung tangan simbah.
"Dimana orang tuamu nduk kok gak kelihatan", tanya simbah.
"Papa mama sedang keluar bersama bude Walimah membeli barang dipasar katanya sebentar lagi juga pulang mbah", jelasku.
Kemudian Wati menolong mas Agus membawa kelapa untuk di angkut kedalam mobil bak nya untuk dibawa pulang, dan mas agus langsung pulang setelah berpamitan dengan simbah.
"Sudah sore nduk mau magrib tutup semua pintu dan jendela nya jangan lupa hidupkan semua lampu nya biar terang ya nduk", perintah simbah.
Terdengar bunyi suara mobil papa diluar sana tidak lama kemudian mama dan bude masuk kerumah membawa belanjaan disusul papa dibelakangnya
"Wah simbah sudah pulang ya", ucap mama dan papa kompak dengan mencium punggung tangan simbah.
"Iya tadi sore pulang, kalian semua katanya kepasar", ujar simbah.
"Iya mbah ini lho beli bahan masakan buat beberapa hari sekalian mumpung ada Dedy sama Anggi yang masih akan tinggal beberapa hari lagi."
Aku melihat bude Walimah dan simbah sedang berbisik membicarakan sesuatu yang sepertinya serius, kemudian bude dan simbah masuk kedalam kamarnya simbah entah apa yang akan bude bicarakan pada simbah sampai masuk kedalam kamar.
Aku dan Wati berjalan mengikuti mama ke arah dapur untuk menata bahan masakan kedalam kulkas, sementara papa pergi kekamar mandi untuk wudhu bersiap melaksanakan sholat magrib dan papa mengajak kami untuk berjamaah.
Setelah sholat magrib kami sekeluarga bersiap untuk makan malam bersama, simbah lah yang pertama kali mengambil nasi tapi entah kenapa tiba-tiba simbah membuang nasi didalam piringnya dan simbah berkata
"Buang iki kabeh nduk masak seng anyar wae (buang ini smua nak masak yang baru saja)", seru simbah Parti.
"Memang kenapa mbah kok mau dibuang semua", tanya mama.
"Uwes tak buang saja Nggi, ayo kita masak lagi saja buat makan malam pasti anak-anak sudah lapar", jawab bude.
"Ya sudah aku nonton berita di tv dulu", ucap papa.
alAku dan Wati hanya saling pandang seakan kami tau apa yang sedang terjadi, karna tidak sengaja wati menginjak belatung di kaki nya dan wati pun berteriak.
"Duuh mbah nginjek apa aku ini kok empuk-empuk gini to", ucapnya seraya memeriksa kakinya.
Wati pun kaget saat tau yang diinjaknya adalah belatung, dan dia segera mencuci kaki nya.
"Simbah sebenernya ada apa sih di desa ini, kok aku merasa ada yang aneh didesa ini karna tadi pagi aku juga melihat bapak-bapak tua membuang belatung didekat rumah ini", ucapku pada simbah dengan memasang muka penasaran dengan memainkan kedua aslis mataku.
"Tidak ada apa-apa kok nduk cah ayu, itu hanya hama dari pohon pisang saja karna di desa ini kan cukup banyak pohon pisang jadi wajar saja kalau ada belatungnya", jawab simbah dengan mengusap rambutku.
"Ayo kita bantu memasak saja didapur biar lebih cepat kita makannya" celetuk walimah sambik menarik tanganku.
Sedangkan bude dan mama memasak di dapur aku melihat sekelebat bayangan putih di jendela dapur, kemudian tercium bau busuk yang sangat menyengat disetai bau anyir darah.
Nampak di atas pojok dapur ada pocong yang menggelantung diatas sana dengan wajah berdarah dan mata yang kosong karna tidak ada bola matanya.
"Pop.. Pop... Pocong... Aku berteriak dengan kencang".
Kemudian mama dan bude kaget karna teriakan ku dan mereka mencari keberadaan sosok yang aku sebutkan itu tapi mama dan bude tidak bisa melihatnya, begitu juga dengan Wati yang takut tapi tidak bisa melihat sosok menyeramkan itu.
Dari belakang simbah datang memelukku sambil melemparkan sejumput garam ke arah makhluk menyeramkan itu, kemudian hantu itu menghilang entah kemana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
Clair
ceritanya seru dan penuh misteri
2023-07-11
0
Rosyid Rizal Azriel
mampir yu karya terbaru saya "DUSUN RAHAYU" Makasih❤️
2022-11-20
0
Risma Farna
Kadang nama Wati dan ibunya ketukar ya thor
2022-08-24
1