Setelah makhluk menyeramkan itu menghilang yang lainya bingung kenapa simbah melemparkan garam ke atap pojokan dapur, karena yang bisa melihat wujud menyeramkan itu hanya aku dan simbah.
"Ada apa ini kenapa Rania berteriak", tanya papa.
"Gak ada apa-apa kok pa, simbah sedang menenangkan Rania mungkin tadi dia melihat sesuatu yang membuatnya terkejut", jawab mama dengan mengusap rambut ku.
"Kalian semua tunggu di ruang tv saja biar aku sama Anggi yang melanjutkan memasak", ucap bude Walimah.
Kemudian aku dan Wati berjalan mengikuti papa menuju ruang tv, sedangkan simbah terlihat berbicara dengan bude dan mama di dapur.
Aku bercerita pada Wati tentang apa yang aku lihat tadi didapur dan Wati pun bergidik ngeri mendengar ceritaku.
"Sudah Rania jangan dibahas terus, kalau kamu sering ceritain nanti makhluk itu akan datang lagi karena merasa terpanggil", papa berkata dengan memainkan gawai ditanganya.
"Iya papa aku gak akan bahas itu lagi, kita baca buku pelajaran saja yuk wati selagi bude dan mama memasak", ajakku pada Wati.
"Ayolah Ran kamu juga perlu tau pembelajaran disini supaya kamu bisa mengikutinya karena bisa jadi topik pelajaran di Jakarta dan didesa berbeda", kata Wati seraya menarik tanganku kembali masuk ke kamar.
"Eh Ran tadi yang kamu omongin beneran kamu lihat pocong diatas dapur?", tanya Wati dengan mengernyitkan dahi nya.
"Beneran Wati aku tidak berbohong buktinya simbah juga bisa melihatnya dan segera mengusir pergi hantu itu", jawabku dengan menatap wajah Wati.
"Aku kasih tau ya Ran, kalau dari cerita-cerita orang di desa ini jika di rumah mereka ada banyak belatung pasti akan ada teror dirumah itu bahkan akan ada tumbal nyawa yang akan diminta hantu itu", jelas Wati.
"Hah kamu ga bohong kan Wat, masa iya hari gini masih ada tumbal-tumbalan", ucapku tidak percaya.
"Terserah kalau kamu tidak percaya, pokoknya mulai sekarang kita harus hati-hati karena ada orang yang mengincar keluarga kita untuk dijadikan tumbal", jawab Wati dengan berkacak pinggang.
"Kita harus bicarain ini sama simbah Wat, biar keluarga kita aman karena sepertinya simbah bisa mengatasinya", ucapku.
Tidak lama bude Walimah memanggilku dan Wati untuk segera makan malam, dan setelah makan malam selesai simbah mengatakan sesuatu jika ada orang di desa ini yang berniat jahat pada keluarga kami.
Simbah meminta papa menaburi garam yang sudah simbah doa kan untuk ditaburi keseluruh penjuru rumah, agar tidak ada gangguan dari makhluk menyeramkan itu.
Disaat papa menaburkan garam papa melihat bapak-bapak tua yang aku lihat kemaren dan kali ini bapak-bapak tua itu bukan melemparkan belatung tapi bunga tujuh rupa di belakang rumah kami lalu papa mengejarnya tapi papa kehilangan jejak orang itu malah papa bertemu sosok menyeramkan yang biasa kalian sebut kuntilanak di atas pohon kebun mangga.
Si kuntilanak itu tertawa begitu mengerikan sambil duduk memainkan rambutnya yang membuat papa lari sekencang-kencangnya.
"Mbah simbah... Ucap papa dengan nafas yang tersengal-sengal".
"Ada apa Le kenapa kamu berlari ketakutan seperti itu", tanya simbah.
"Tadi saya melihat ada bapak-bapak tua sedang menaburi bunga tujuh rupa dibelakang rumah kita, dan saat saya mengejarnya malah bertemu dengan hantu kuntilanak diatas pohon mangga makanya saya lari kencang mbah", jawab papa yang masih susah mengatur nafasnya.
"Sepertinya aku tau Le siapa yang menaburkan bunga itu, kalian sekarang istirahat saja untuk malam ini kalian semua aman dari gangguan makhluk-makhluk menyeramkan itu", simbah berkata dengan memandang langit dari jendela rumah.
Kami semua memasuki kamar untuk tidur tapi tidak dengan simbah, karena ku lihat simbah pergi kebelakang rumah sendirian entah apa yang akan dilakukan nya.
Ayam pun berkokok menandakan pagi sudah datang kami semua terbangun dari tidur yang nyenyak malam tadi, seperti kata simbah malam ini tidak akan ada gangguan dari hantu-hantu itu.
Tapi apa yang dilakukan simbah semalam di belakang rumah, aku masih penasaran tapi tidak berani bertanya pada simbah.
Pagi itu mama dan papa akan mendaftarkanku ke sekolah Wati sekalian mengantarkan Wati berangkat ke sekolahnya.
Saat sudah sampai di sekolahnya Wati segera masuk ke kelas nya, lalu aku bersama orang tuaku berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk mendaftarkan aku pindah ke sekolah ini.
Setelah proses pendaftaran selesai aku berkeliling sebentar di sekolah ini, saat aku melewati gudang di ujung sekolah aku melihat ada seorang anak kecil berambut pirang dengan baju seperti orang Belanda jaman dulu, dia sedang mengintipku dari balik pintu.
"Hai kamu siapa, kenapa melihatku dari balik pintu keluarlah aku tidak akan marah padamu", aku berkata dengan berjalan perlahan mendekati pintu gudang itu.
"Ka kamu bisa melihatku?", tanya nya dengan gagap.
"Tentu saja aku bisa melihatmu, kau ini lucu ya kenapa harus berkata seperti itu", jawabku dengan menyeringai.
"Kemarilah jangan takut padaku, perkenalkan aku Rania Putri Sejagad tapi kamu memanggilku Rania saja hehe", jawabku dengan tersenyum dan memainkan rambutku.
"Aku Petter Van Disk panggil saja Petter".
"Baiklah Petter salam kenal ya, ngomong-ngomong kenapa tadi kamu melihatku dari balik pintu itu Petter?".
"Aku hanya kaget melihatmu, karena aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya dan hanya kamu saja yang mengajakku bicara selama aku disini".
"Memangnya kenapa mereka semua tidak mengajakmu berbicara Petter, apa kamu membuat kesalahan?".
"Tidak... Aku tidak pernah berbuat salah pada mereka tapi memang mereka tidak bisa berbicara padaku".
"Kenapa tidak bisa Petter, jangan-jangan kamu ini adalah ha hantu ya", jawabku dengan berjalan mundur menjauhi Petter".
"Ya aku memang hantu tapi kamu tidak perlu takut padaku Rania, aku tidak akan berbuat jahat padamu karena aku senang bisa berbicara denganmu dan membuatku merasa tidak sendiri lagi, kamu mau kan jadi temanku?", tanya Petter".
"Kamu beneran gak akan jahat padaku dan menakutiku?".
"Iya Rania aku berjanji karena aku hanya ingin mempunyai teman dan hanya kamu saja yang bisa melihat dan berbicara padaku".
"Ok mulai sekarang kita berteman", ucapku seraya menguluakan jari kelingking ku".
Disambut dengan jari kelingking Petter yang entah aku bisa merasakan nya atau tidak, karena setelah itu aku berpamitan pada Petter untuk pulang karena mama sudah mengirimkan pesan padaku untuk segera ke parkiran.
"Bye Petter sampai jumpa lagi ya".
Diluar sana aku lihat Petter melambaikan tanganya padaku, seakan dia sangat senang berteman padaku dan enggan membiarkanku pulang ke rumah meski besok kalau berangkat sekolah aku bisa bertemu dengan nya lagi.
Diperjalanan pulang ada sekumpulan orang sedang menandu sesuatu dan banyak orang yang mengikutinya dari belakang, ternyata di desa ini baru saja ada orang yang meninggal dunia dan para warga lain nya akan menguburkan nya.
Mobil kami berhenti untuk memberi jalan pada rombongan lelayu itu, disaat keranda mayat itu melewati mobil kami aku melihat banyak bayangan hitam di belakangnya dan itu berbau busuk sekali entah papa dan mama melihatnya atau tidak aku hanya diam dan tidak bertanya karena aku terkejut selalu melihat kejadian-kejadian janggal yang setiap harinya bisa aku lihat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
دمياطى
Mayan bnyk misteri nya😁😱
2023-10-14
0
ryfanbetmut
😐👍
2023-06-16
0
Yach Yulianah
seremm Thor..
2023-05-11
0