Dan anehnya setiap bunga tujuh rupa yang ditabur di sepanjang jalan berubah menjadi belatung yang begitu banyak dan menjijikan, bagaimana tidak belatung itu berbau busuk sekali sampai tercium kedalam mobil, dan kali ini tidak hanya aku yang menyadari hal itu tapi papa dan mama juga mengetahuinya.
Kemudian papa menginjak gas mobilnya supaya kami cepat sampai di rumah, dan sesampainya di rumah simbah putri sedang berbincang dengan mbah Karto yang menurut mama mbah Karto ini orang sakti di desa ini.
"Sudah pulang nduk, bagaimana sekolahnya semoga kamu suka bersekolah disana karena hanya disitu sekolah yang terdekat dari desa ini", ucap simbah.
"Wah ini pasti Rania anaknya Anggi ya, sudah lama mbah Karto tidak melihatmu nduk".
Aku mendekati kedua orang tua itu seraya mencium punggung tangan mbah Karto dan simbah putri.
"Mbah Rania masuk kedalam dulu ya udah kebelet nih", ucapku dengan menahan ingin buang air kecil sedari tadi.
Aku pun berlalu meninggalkan papa dan mama yang kemudian mengobrol dengan mbah Karto dan simbahku.
"Mbah tadi ada orang yang meninggal tapi kok ada yang aneh ya", celetuk mama dengan menggaruk kepala seakan kebingungan.
"Sudah nduk simbahmu sudah paham semua", jawab mbah Karto.
"Memang di desa ini ada apa sih sebenarnya, saya merasa ada hal yang tak masuk dilogika kami jika kami memikirkanya", ujar papa.
"Selama beberapa tahun ini di desa Rawa belatung sepertinya ada yang ngilmu Le nduk, mereka menumbalkan nyawa seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kesaktian dan simbahmu sudah menjaga anak cucunya selama bebera tahun ini supaya tidak menjadi tumbal ilmu hitam itu tapi sepertinya orang yang ngilmu itu kesaktian nya semakin bertambah dan membuat simbahmu kewalahan makanya dia memintaku datang kesini untuk menolongnya".
Papa dan mama yang mendengarkan penjelasan mbah Karto langsung saling berpegangan tangan karena kaget mengetahui kebenaran itu, sedangkan aku dan bude yang dari belakang menuju kedepan sambil membawakan kopi hangat untuk mbah Karto juga tidak kalah kagetnya bahkan aku sampai menjatuhkan gelas kopinya.
Pyar...
"Ya Allah nduk kamu gak apa-apa kan Rania", tanya bude padaku.
"Maaf bude Rania tadi kesandung", ucapku berbohong padahal menurutku bude juga tau kalau aku kaget mendengar pembicaraan mbah Karto.
"Ya sudah Rania istirahat di kamar saja biar bude yang akan membuatkan minuman untuk mbah Karto".
Lalu aku berjalan memasuki kamarku dan berpikir keras, jika semua yang dikatakan mbah Karto itu benar berarti keluarga kami sedang dalam bahaya saat ini apalagi aku akan tinggal cukup lama disini membayangkanya saja aku bergidik ngeri karena takut jika sesuatu terjadi padaku dan keluargaku.
"Ini mbah Karto kopi hitamnya, monggo diminum dulu selagi masih hangat", celetuk bude seraya ikut duduk bersama mereka di teras depan.
"Mulai sekarang kalian harus banyakin ibadan dan berdoa memohon perlindungan sama yang maha kuasa, aku hanya bisa membantu sebisa ku tapi kalian juga harus meminta perlindungan dari yang diatas", ucap mbah Karto dengan meminum kopi hitamnya.
"Iya Le nduk kalian harus dengerin kata mbah Karto, karena simbah sudah kewalahan menghadapi makhluk mengerikan itu", tegas simbahku dengan wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.
Iya mbah kami mengerti, ucap bude papa dan mama serentak dengan memanggut-manggutkan kepalanya keatas dan kebawah.
Hari sudah menjelang sore Wati sudah pulang sekolah bareng teman satu kelasnya dan Wati segera mandi lalu menyusulku yang sedang membaca buku pelajaran fisika.
"Rania besok kamu sudah mulai berangkat sekolah kan, gimana kalau kita naik sepeda saja mulai besok jadi kita berangkat bersama teman yang lain nya", ajak Wati padaku.
"Terserah kamu Wat aku ngikut kamu saja".
Malam itu gangguan kembali datang disaat aku tertidur di kamar dengan Wati mulai tercium bau busuk yang mengganggu pernafasanku, disaat aku membuka mataku aku melihat ada pocong disamping tempat tidurku bahkan ada sesosok kuntilanak juga di pojok kamar membuatku berteriak kencang karena ketakutan.
Seketika Wati yang tidur disampingku ikut terbangun dan sama takutnya denganku ketika melihat hantu-hantu menjijikan itu, bagaimana tidak tubuh-tubuh mereka yang sudah membusuk dan mengelupas mengeluarkan aroma yang sangat busuk dengan belatung-belatung yang berjatuhan ke lantai benar-benar membuatku bergidik ngeri.
Sementara semua orang terbangun juga ternyata tidak hanya aku dan Wati yang di ganggu oleh hantu menjijikan itu nyatanya seisi rumah kami diteror juga, kami semua berlari keluar rumah bersama-sama lalu simbah datang membawa air di gelas dan menyuruh kami semua meminumnya sedikit-sedikit supaya air itu bisa kami minum bersama-sama karena airnya hanya ada segelas setelah meminumnya kami sedikit tenang dan simbah meminta kami semua untuk masuk dan sholat tahajud bersama sambil berdoa meminta perlindungan dari yang maha kuasa.
Aku kuatkan langkahku memasuki rumah meski sedikit tenang tapi aku masih terbayang hantu-hantu menakutkan itu, disaat kami sedang berwudhu hantu-hantu itu masih berusaha mengganggu kami tapi simbah mengusirnya menggunakan garam yang sudah didoakan oleh mbah Karto tadi sore.
Setelah itu kami semua sholat bersama dan berdoa kepada yang maha kuasa untuk melindungi semua keluarga kami dari teror makhluk tak kasat mata itu, dan berharap orang yang ngilmu hitam itu segera bertobat karena telah begitu banyak menumbalkan nyawa orang lain hanya untuk kekayaan dan kesaktian dirinya saja.
Tidak terasa gangguan dari hantu-hantu itu mulai menghilang, dan kami semua saling berpelukan karena merasa lega terlepas dari teror malam itu.
Karena hari sudah semakin larut malam papa meminta aku dan wati untuk segera tidur karena keesokan paginya kami harus berangkat sekolah.
Ayampun berkokok pagi pun telah tiba aku dan Wati yang terlambat bangun untuk sholat subuh pun segera melakukan ibadah kami dan segera mandi untuk bersiap berangkat ke sekolah.
Setelah sarapan pagi aku dan Wati menaiki sepeda ke sekolah kami dan aku mulai berkenalan dengan beberapa teman Wati, dihari pertamaku sekolah aku sudah mempunyai banyak teman dan juga teman hantuku Petter.
"Rania kamu terlihat lesu, apa kamu sakit wajahmu hampir sama pucatnya denganku", ucap Petter.
"Iya aku kurang tidur Petter, semalam keluarga ku di teror hantu-hantu menyeramkan".
"Bukan nya kamu tidak takut padaku, kenapa kamu harus takut melihat hantu Rania".
"Kamu dan hantu menjijikan itu berbeda Petter, kamu mengeluarkan aura hangat yang tidak menakutkan untukku berbeda dengan hantu-hantu itu aura nya begitu panas dan bau nya sangat busuk".
"Sepertinya itu hantu-hantu yang jahat Ran, mereka biasanya dimanfaatkan oleh orang yang berilmu sakti untuk mengganggu manusia karena kalau tidak mana mungkin semua keluargamu diteror", ucap Petter dengan berjalan mengambang dari tanah.
"Kau memang benar Petter simbahku juga berpendapat seperti itu, tapi simbah belum tau siapa orang yang ngilmu hitam itu sampe membuat begitu banyak korban nyawa untuk tumbah kesaktianya itu".
"Sebenarnya aku bisa membantumu mencari tau siapa orang yang menganut ilmu hitam itu Rania, tapi itu juga sangat berbahaya untukku karena jika aku sampai tertangkap oleh manusia sakti itu aku bisa dijadikan budak ilmu hitamnya untuk menyakiti manusia-manusia yang akan dia tumbalkan", jawab Petter dengan menundukan kepalanya.
"Tidak kau tidak usah membantuku Petter, aku tidak mau kamu dijadikan budak oleh manusia jahat itu lagipula simbah sudah minta bantuan kepada mbah Karto untuk menghentikan semua teror itu dan semoga saja mbah Karto bisa mengalahkan manusia jahat itu supaya tidak ada tumbal nyawa lagi di desa ini".
Bel masuk sekolah sudah berbunyi aku meninggalkan Petter di tempat persembunyian nya, dan aku melanjutkan pelajaran di kelasku.
Hari pertama bersekolah sudah selesai anak-anak mulai bergantian keluar dari kelas, aku menghampiri Petter untuk berpamitan pulang dan menaiki sepedaku bersama Wati menuju kerumah kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
Yani Cuhayanih
Aku juga pernah lihat makhluk yg mirip kelelawar raksasa hinggap di atap rumah dan dia mengincar anaku sebagai tumbal .Alhamdulilah karena kuasa Alloh anaku selamat.
2022-08-06
0
Ichabya Thoyyibah
sebenerx ini baru prtama kalix aq baca novel horor dNT ternyata seru👍👍
2022-08-05
0
Hasnah Siti
jantung ku olah raga terus nih thor....haishhhhhhhhh😰
2022-08-05
0