Setelah lelah bersepeda dari sekolah aku dan Wati langsung merebahkan tubuh kami ke tempat tidur, tiba-tiba bude pamit mau pergi melayat ke tetangga kampung sebelah yang masih ada hubungan keluarga dengan pakde ku suaminya bude Walimah.
"Rania dan Wati dirumah saja ya temani simbah karena mama sama papa akan mengantar bude sebentar", ujar mama.
"Siap mama sayang", seraya memberi hormat pada mama.
Kemudian papa mengendarai mobilnya bersama mama dan bude, hanya tinggal aku dan Wati bersama simbah dirumah tapi aku tak mendengar suara simbah didalam kamarnya.
Aku buka pintu kamar simbah tapi kamar itu kosong, kemudian aku mencari ke dapur ternyata simbah sedang membuat pepes jamur kesukaan mama.
"Ada apa nduk kok belum ganti baju to, cepat sana ganti bajumu dan segera makan bersama Wati".
"Iya mbah Rania kira tadi simbah gak ada dirumah, Rania ganti baju dulu ya", jawabku seraya berjalan menuju kamar.
Setelah berganti baju aku makan siang bersama Wati dan simbah, kemudian kami menemani simbah ke kebun mangga yang berada tidak jauh dari rumah karena akan ada tengkulak yang akan membeli semua buah mangga yang akan dipanen simbah.
Aku berjalan sambil melihat pemandangan desa yang begitu asri meski disiang hari tanpa terasa aku berjalan terlalu jauh dari kebun simbah dan aku memasuki sebuah kebun yang lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi disisi kiri dan kananku.
Aku tidak tau sedang berada dimana saat ini karena dimanapun mataku memandang hanya ada pohon dimana-mana, sepertinya aku tersesat sendirian disini tanpa ada seorangpun manusia disekitarku.
Aku terus berjalan mencari jalan ke arah kebun simbah tapi semakin aku berjalan justru aku semakin masuk lebih dalam lagi ke arah hutan belantara ini.
Karena hari semakin sore dan aku belum menemukan jalan keluar dari hutan ini, aku terduduk lesu sambil menyesali perbuatanku yang dengan bodohnya berjalan sendirian melihat-lihat pemandangan tanpa ditemani wati yang membuatku tersesat dihutan ini sendirian.
Tiba-tiba ada siluet putih yang beterbangan diatas pohon-pohon itu dan suara burung hantu yang mulai terbangun dari tidurnya dan itu menandakan malah telah tiba sedangkan aku masih berada dihutan ini tanpa penerangan lampu yang ada hanya sinar bulan di atas langit.
Terdengar suara tawa cekikikan perempuan tapi aku tidak melihatnya dimana, sejauh mataku memandang tidak ada satu manusia pun disini kecuali aku lantas siapa yang tertawa cekikikan disini, gumamku seraya beringsut kebawah pohon dengan berjongkok sembunyi.
Tiba-tiba diatas kepalaku ada kuntilanak yang berterbangan dari pohon satu kepohon lain nya, dengan mata semerah darah dan kini bukan suara cekikikan tawa lagi tapi berganti dengan suara tangis yang begitu menyeramkan kemudian aku berlari menjauhi kuntilanak itu aku berlari ke arah kebun pisang.
Kok aneh ya didalam hutan bisa ada kebun pisang, tiba-tiba tercium bau bangkai yang sangat busuk saat aku menoleh kesamping ada pocong yang sedang menatap tajam ke arah ku dengan belatung-belatung yang berjatuhan dari tubuhnya yang dibalut kain putih lusuh dengan noda darah dimana-mana.
Aku semakin berlari kencang tak tentu arah karena kini kedua hantu menjijikan itu mengejarku, kuntilanak terbang diatas kepala ku sambil menertawakan diriku yang terus berlari karena ketakutan sementara pocong itu mengejarku dengan badanya yang mengambang dari tanah.
Mencium bau busuk dari hantu-hantu menjijikan itu membuatku ingin muntah saja, tapi aku harus menahanya karena aku harus segera bersembunyi dari hantu-hantu itu.
Terlihat ada sebuah gubuk tua disana dan aku masuk kedalamnya untuk bersembunyi supaya hantu-hantu itu tidak menangkapku dan menjadikanku tumbal seperti orang-orang didesa ini.
Braaaak...
Aku terjatuh ketanah sepertinya ada seseorang yang memukulku dari belakang dan membuatku kehilangan kesadaranku sampai aku pingsan disana saat itu juga.
Saat aku mulai tersadar dari pingsan samar-samar aku melihat ada bapak-bapak yang sedang membaca mantra didepan dupa dengan bunga tujuh rupa di dalam baskom air.
Ketika aku mendapatkan kembali kesadaranku, aku ingat siapa bapak tua itu, dia adalah bapak-bapak tua yang sudah membuang belatung di rumah kh tempo hari kemudian aku berteriak minta tolong karena tangan dan kaki ku terikat tidak bisa digerakan.
Bapak tua itu menghampiriku seraya berkata tidak akan ada orang yang bisa menolongku kali ini, karena dia akan mempersembahkan ku pada makhluk pujaaanya itu.
Aku menangis mengiba kepadanya supaya melepaskanku dan aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun jika dia yang melakukan persugihan selama ini.
Tapi bapak itu justru tertawa tidak menjawab permohonanku, aku terus menangis karena begitu takut akan ditumbalkan oleh bapak itu.
Kemudian aku berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa supaya melindungiku dari ancaman bapak tua ini, dengan terbata-bata aku menyebut nama Petter teman hantu di sekolah baruku.
"Petteeer... Tolong aku Petteeer...
aku takut Peter demi Tuhan tolooong aku hu..hu..hu...",
aku menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba ada tangan dingin yang menyentuhku, dia melepas ikatan tali dari tanganku seraya aku menoleh kearahnya.
Dia adalah Petter teman hantuku dia datang menyelamatkanku, setelah tanganku terlepas dari tali aku segera membuka tali yang mengikat kaki ku.
Disaat bapak-bapak tua itu membaca mantra nya, Petter menarik tanganku dan mengajakku berlari dari tempat itu.
Dengan perlahan aku berjalan berjinjit supaya tidak terdengar oleh bapak itu jika akh melarikan diri, saat aku sudah melewatinya Petter mengajakku terus berlari dengan syarat jangan menoleh kemanapun aku harus fokus berlari kedepan meski ada suara-suara yang memanggilku.
Aku menuruti perintah Petter dengan terus berlari bersamanya tanpa menoleh kemanapun, dan akhirnya aku berhasil keluar dari hutan menyeramkan itu.
Setelah sampai dikebun mangga simbah Petter memintaku pulang sendirian karena dia harus berada disini untuk menghentikan hantu-hantu peliharaan bapak tua itu, yang terus mengejarku karena perintan tuan nya.
Hantu-hantu itu berniat membawaku kembali ke gubuk tua itu supaya bapak-bapak tua itu bisa menumbalkan nyawaku untuk kekayaan dan juga kesaktianya.
Petter menghadang hantu-hantu itu sementara aku terus berlari menuju ke rumahku, saat aku berlari menuju rumah untungnya ada mbah Karto di dekat kebun mangga simbahku.
Aku menghampirinya dan meminta tolong pada mbah Karto supaya membantu Petter teman hantu ku karena dia yang sudah menolongku keluar dari cengkeraman bapak tua yang menakutkan itu.
Kemudian mbah Karto memintaku pulang secepatnya supaya hantu-hantu itu tidak bisa menangkapku karena dirumahku sudah dipagari oleh mbah Karto.
Lalu mbah Karto berjalan menemui Petter teman hantu ku yang sedang berusaha melawan hantu-hantu peliharaan tukang ilmu hitam itu.
"Pergilah Petter temani Rania sampai ke rumahnya, biar aku yang akan menghadapi hantu-hantu ini", ucap mbah Karto seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
EstY Dahlia
seru dan menarik sekali ceritanya
2024-11-28
0
Yuli Eka Puji R
kereennn
2022-08-05
1
Ayuk Vila Desi
deg degan bacanya....
2022-07-28
0