Rania yang masih dikurung dikampung gaib tidak bisa berbuat banyak selain menunggu kedatangan mbah Karto untuk menjemputnya, karena semakin lama berada dikampung gaib itu tubuh Rania yang ada di dunia nyata akan semakin lemah dan mengurangi usia nya.
Sementara Petter yang berhasil menerobos masuk kedalam kampung gaib nampak bingung mencari keberadaan jiwa Rania.
Dengan menyamar berubah bentuk yang sama mengerikan dengan penduduk disana Petter berhasil memasuki rumah warga gaib itu satu persatu.
Petter terus mencari sampai disuatu tempat yang dipenuhi dengan tulang belulang manusia, dia melihat seorang gadis dengan rambut tergerai tengah menangis sesegukan tanpa mengeluarkan suara.
Sementara Rania yang sadar didekati oleh seseorang dengan wujud mengerikan langsung beringsut kedalam tumpukan batu batu koral yang ada di belakang nya.
"Rania ini aku Petter keluarlah, aku akan membawamu keluar dari sini", ujar Petter dengan nada suara pelan serta mengulurkan tangan nya.
"Tidak kau adalah bagian dari mereka, kau menyamar menjadi Petter untuk membodohiku".
"Aku memang Petter temanmu keluarlah aku akan merubah wujudku yang sebenarnya".
Dengan perlahan Rania keluar dan melihat yang berbicara padanya memang benar Petter.
Petter mengajak jiwa Rania pergi dari kampung gaib itu, tapi perjalanan ini tidak akan mudah.
Baru saja mereka beranjak dari tempat itu, banyak hewan jadi jadian yang siap memangsa jiwa mereka.
Lalu mereka berlari kencang ke arah hutan yang dari jauh terlihat seperti area pemakaman.
Sayup sayup Rania mendengar suara lantunan seseorang yang membaca ayat suci, Rania mencari darimana arah suara itu berasal.
Petter yang bingung dengan ulah Rania yang tiba tiba seperti mencari jalan keluar nampak mengikutinya.
"Kau mau kemana Rania jangan sampai kita ketahuan bisa bisa jiwa kita tidak akan bisa kembali ke dunia nyata dan menjadi budak abadi kampung gaib".
"Aku seperti mendengar suara mama yang sedang mengaji dari arah sana, kita harus mengikuti sumber suara itu Petter pasti orang tuaku sedang berusaha menolongku", ujar Rania dengan sedikit semangat yang masih tersisa.
"Ta tapi...".
"Kalau kau ragu pulanglah sendiri Petter aku hanya ingin mencari tau dimana suara mamaku berasal pasti dia sedang menungguku disuatu tempat".
"Baiklah aku akan mengikutimu Rania tapi kita harus lebih berhati hati karena ini adalah alam gaib mereka bisa berbuat apa saja pada kita dan ingatlah jika kau melihat seseorang yang memanggilmu dengan wujud orang yang kau kenal dia adalah penunggu kampung gaib jadi kau jangan sampai diperdaya dan mendekati nya ketika mereka berusaha memanggilmu".
"Oke Petter aku mengerti, ayolah kita mencari suara mamaku yang sedang mengaji itu karena itu sudah pasti bukan penunggu disini mana ada setan bisa baca ayat suci", ujar Rania dengan terus berjalan mengendap ngendap dikegelapan malam.
Rania dan Petter sampai disebuah pohon kembar yang sangat besar dengan akar akar nya yang sedikit mencuat keluar dari tanah.
Nampak banyak nisan kuburan disana mereka terus berjalan sampai kesebuah pondok yang sangat besar dan bersih, ketika mereka memasukinya Rania melihat ada beberapa makam dengan nisan bertuliskan huruf arab dan ada satu nisan yang terlihat berbeda dari yang lainya karena papan nisan dikuburan itu hanya ada satu saja.
Rania yang merasa aman disana berdoa meminta perlindungan supaya bisa kembali ke dunia nya, tiba tiba dari dalam pendopo keluar lelaki tua bersorban putih dengan tongkat ditanganya.
"Jika kau ingin selamat dan kembali keduniamu kau harus mencari papan nisan yang hilang ini, setelah kau menancapkanya kembali kau bisa dengan selamat kembali ke dunia asalmu".
"Tapi pak kami tidak tau dimana papan nisan yang hilang ini, ketika kami masuk memang sudah tidak ada", ujar Rania dengan mata berkaca kaca.
"Kembalilah ke desa gaib temukan papan nisan itu di pendopo desa, malam ini kepala desa gaib itu akan menikahkan putrinya dan semua warga desa akan sibuk dengan pesta hajatan kalian bisa diam diam masuk kedalam pendopo tapi ada satu hal yang perlu kalian tau, jangan bersuara diamlah meski apapun yang kalian lihat jangan sampai kau berteriak kalau tidak mereka akan menyadari kehadiran kalian".
"Lalu dimana kami bisa mengambil nisan itu pak l".
"Ambilah ini, ketika kau sudah memasuki pendopo nisan itu akan mengeluarkan cahaya keemasan yang akan memantulkan cahayanya kedalam batu itu", ucap bapak tua itu dengan mengeluarkan batu berlian berwarna coklat keemasan.
Rania dan Petter berjalan kembali ke arah kampung gaib itu, yang nampak dari jauh seperti sedang ada acara karena terdengar suara gamelan dan sinden yang bernyanyi dengan suara yang mengerikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
Mahrita
serem
2023-04-03
0
putri rani
j
2022-05-12
3
Yanti Syukur Ci'ini
baca ini koq aku yg nderedeg..dag dig dug
2022-03-11
6