Keesokan pagi nya aku dan Wati berangkat ke sekokah di antar oleh papa karena papa hawatir jika aku berangkat dan pulang sekolah hanya berdua dengan Wati.
Petter yang dari kemarin bersama ku melesat terlebih dulu ke sekolah, jam mata pelajaran pertama adalah ipa tentang makhluk hidup dan lingkungan jadi pak guru meminta kami meneliti pohon dan hewan yang ada disekitar sekolah jadi kami berkelompok pergi berpencar ke desa sekitar sekolah.
Singkat cerita aku sedang berjalan menyusuri jalan setapak berdua dengan teman satu kelompok ku Dante dia ini memang anak yang sedikit nakal dan jahil, sepanjang perjalanan dia ngomong tentang penunggu sungai dibelakang sekolah.
Aku mengingatkan nya untuk diam dan jangan membahas tentang mereka karena takutnya salah seorang dari mereka datang, pucuk dicinta ulam pun tiba seperti yang aku katakan hantu menyeramkan itu datang tapi bentuknya lebih seperti monster karena setengah badanya berwujud binatang tapi dia mempunya tangan seperti manusia.
Aku dan Dante berlari kencang sampai kami terpisah, entah dimana Dante berada kini hanya ada aku sendiri yang ketakutan mengingat wujud mengerikan itu.
Tuloong aku nduk tulooooong...
Aku mendengar suara perempuan minta tolong seperti awal pertama aku datang ke desa ini, bagaimana aku bisa menolongmu jika aku sendiri saja tidak bisa menolong diriku sendiri, gumamku didalam hati.
Saat aku sedang berlari terseok seok karena kondisi tanah yang becek ada seorang perempuan dengan rambut yang panjang berantakan memegangi tanganku dan meminta tolong padaku.
Aku hanya bisa menangis sejadi jadinya karena ketakutan tanpa aku sadari hantu yang berwujud monster itu meniup hantu perempuan yang sedang memegangiku sampai terhempas jauh entah kemana.
Aku semakin ketakutan bagaimanapun makhluk jadi jadian ini lebih menyeramkan dari hantu perempuan tadi, aku beringsut kebawah semak belukar dan memanggil nama Petter.
Petter tolong aku Petter hu hu hu...
Ucapku dengan menangis tersedu sedu.
Kemudian ada bayangan yang melesat dengan cepat ke arahku, dia adalah Petter yang berusaha menolongku tapi dia juga hampir menjadi korban makhluk jadi jadian itu.
Aku tau dia bukan lawan yang seimbang untuk Petter, kemudian Petter membaca ajian mantra dengan duduk menyilangkan kaki nya.
Wuuuuussh wwuuuushhhh...
Angin kencang datang tidak tentu arah setelah itu ada gulungan asap putih mengepul mendekati makhluk jadi jadian itu.
Braaaaak...
Makhluk menyeramkan itu terlempar sampai menghantam batu besar yang ada di belakangnya, ternyata mbah Karto yang menyerangnya.
"Petter kau bawa Rania kembali ke sekolahnya karena kau tidak akan bisa melawan nya, dia adalah makhluk yang dipuja orang sesat yang ingin menumbalkan nyawa Rania, karena dia tidak bisa masuk kerumah Rania maka dari itu dia datang ke sekolah untuk mengambil nyawa Rania", ucap mbah Karto.
"Cepat pergilah", perintah mbah Karto seraya mengeluarkan keris yang dibalut dengan kain berwarna putih itu.
Aku terus berlari ke arah sekolah menjauh dari mbah Karto yang sedang melawan makhluk menyeramkan itu sementara Petter dia berjalan mengambang dibelakangku.
Sementara di sekolah semua teman satu kelas Rania sedang bingung mencarinya karena Dante melaporkan ke pak guru jika tadi mereka dikejar hantu dan lari terpisah di hutan bahkan sampai saat ini Rania belum kembali.
Saat aku sampai di sekolah semua teman perempuan memelukku apalagi Wati yang tampak menangis karena aku hampir saja hilang lagi, Dante meminta maaf padaku karena tadi sudah berbicara sembarangan tentang penunggu suangai dan tidak sengaja meninggalkanku dihutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 311 Episodes
Comments
Yani Cuhayanih
Kalau menurut pengalaman aku sih jgn mudah percaya sama makhluk gaib kita harus mengetes dulu kejujuran mereka dgn cara yg tak biasa.
2022-08-06
0
Veronika Terni
gimana bisa sekolah kalau tiap hari diganggu
2022-07-25
0
Park Kyung Na
😱😱
2022-07-09
0