PERHATIAN!
Sebelum membaca episode cerita novel ini, Silahkan dukung author dengan mengklik Suka ❤️, Bintang⭐, Beri Komentar pada cerita novel ini.
Jangan lupa *Mengikuti* akun author juga ya☺️ ditunggu ya dukungannya dari kalian. Karena dukungan kalianlah untuk menyemangati author menulis episode selanjutnya.
Dissa mengangguk. “Sudah, Dok. Namun, nomornya selalu tidak aktif. Saya jadi khawatir. Oleh karena itu, saya datang kemari. Mungkin saja Dokter Agus tahu tentang keadaan Daniel selama di sana.” ucap Dissa.
“Maaf, Bu. Sampai saat ini, saya belum mendapat kabar tentang Daniel. Yang saya tahu, masih terjadi perang susulan di sana dan banyak korban yang terluka.” jelas Agus menatap wajah Dissa.
Degup jantung Dissa memompa cepat. Rasa cemas mulai menguasai hati dan pikirannya. "Daniel, apa kamu baik-baik saja di sana? Kenapa kamu tidak meneleponku lagi? Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, termasuk soal foto-foto itu," Monolog Dissa pada dirinya. Berbagai Pertanyaan mulai menguasai pikirannya.
Ketika Dissa sibuk menerka dalam hati, Agus mendapat telepon dari Budi.
“Halo, Dokter Budi! Kebetulan sekali, Anda menelepon saya. Ada kekasih Dokter Daniel di sini. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Dokter Daniel. Apa Dokter Bud bisa menyambungkan panggilan ini kepada Dokter Daniel?” tanya Agus panjang lebar dari panggilan masuk yang diterimanya.
Terdengar helaan napas berat. “Sebenarnya, ada dua hal yang ingin saya sampaikan kepada Dokter Agus. Yang pertama, persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan tinggal sedikit. Kami tidak bisa mencari bantuan dari luar karena daerah perbatasan sedang ditutup. Yang ke dua ....” ucap Budi terputus.
***
“Dokter Bud, bagaimana ini? Persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan kian menipis, sedangkan para korban sangat membutuhkan semua itu. Kita tidak bisa mencari bantuan dari luar karena daerah perbatasan sedang ditutup terkait perang susulan yang terjadi beberapa hari terakhir ini,” ungkap salah satu rekan Budi.
Budi menghela napas panjang. “Saya juga tidak tahu harus melakukan apa, Dokter Yan. Di saat seperti ini, Dokter Daniel yang bisa diandalkan. Namun, dia masih belum sadarkan diri hingga sekarang.” balas Budi.
Tampak cemas di wajah Yani. “Peluru yang bersarang di tubuh Dokter Daniel bukanlah peluru biasa, melainkan peluru jenis beracun. Saya khawatir dengan kondisi Dokter Daniel jika masih tidak sadarkan diri beberapa hari ke depan. Peralatan medis di sini sangat terbatas. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit pusat untuk mendapat perawatan intensif dengan alat medis yang lebih memadai.” jelas Yani panjang lebar di hadapan Budi.
“Bagaimana kita membawa dia ke sana? Keadaan di sini masih belum aman. Ditambah lagi, masih banyak korban jiwa yang terluka. Kita doakan saja semoga Dokter Daniel segera sadar.” ucap Yani menatap di sekelilingnya yang masih berzona merah.
“Oh, ya. Apa Dokter Bud sudah menghubungi Dokter Agus tentang keadaan Dokter Daniel sekarang?” tanya Yani.
Budi menggeleng. “Aku belum sempat mengabarinya karena sibuk memeriksa dan merawat pasien-pasien di sini.” tutur Budi.
“Coba Dokter Bud menghubungi Dokter Agus. Mungkin saja Dokter Agus bisa memberi saran dan mencari bantuan untuk kita.” ujar Yani.
“Ya, kamu benar, Dok. Astaga, kenapa aku tidak terpikirkan ke sana, ya? Baiklah, aku akan menelepon Dokter Agus.” Budi mulai mengambil ponsel dari saku celananya dan mulai mengecek nomor yang menjadi tujuannya dan menelponnya.
***
“Apa tujuan Anda datang menemui saya, Bu?” tanya Agus menatap Dissa yang duduk di hadapannya.
“Saya ingin mengetahui keadaan Daniel, Dok,” jawab Dissa.
“Apakah Anda sudah menghubungi Dokter Daniel?” tanya Agus
Dissa mengangguk. “Sudah, Dok. Namun, nomornya selalu tidak aktif. Saya jadi khawatir. Oleh karena itu, saya datang kemari. Mungkin saja Dokter Agus tahu tentang keadaan Daniel selama di sana.” ucap Dissa.
“Maaf, Bu. Sampai saat ini, saya belum mendapat kabar tentang Daniel. Yang saya tahu, masih terjadi perang susulan di sana dan banyak korban yang terluka.” jelas Agus menatap wajah Dissa.
Degup jantung Dissa memompa cepat. Rasa cemas mulai menguasai hati dan pikirannya. "Daniel, apa kamu baik-baik saja di sana? Kenapa kamu tidak meneleponku lagi? Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, termasuk soal foto-foto itu," Monolog Dissa pada dirinya. Berbagai Pertanyaan mulai menguasai pikirannya.
Ketika Dissa sibuk menerka dalam hati, Agus mendapat telepon dari Budi.
“Halo, Dokter Budi! Kebetulan sekali, Anda menelepon saya. Ada kekasih Dokter Daniel di sini. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Dokter Daniel. Apa Dokter Bud bisa menyambungkan panggilan ini kepada Dokter Daniel?” tanya Agus panjang lebar dari panggilan masuk yang diterimanya.
Terdengar helaan napas berat. “Sebenarnya, ada dua hal yang ingin saya sampaikan kepada Dokter Agus. Yang pertama, persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan tinggal sedikit. Kami tidak bisa mencari bantuan dari luar karena daerah perbatasan sedang ditutup. Yang ke dua ....” ucap Budi terputus.
Agus mengerutkan dahi. “Yang ke dua tentang apa, Dokter Bud?” tanya Agus.
Dissa memegang dadanya yang terasa nyeri. 'Kenapa firasatku jadi tidak enak seperti ini? Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Daniel." gumamnya yang masih di dengar oleh Agus.
“Dokter Daniel terluka parah akibat terkena peluru beracun, Dok. Dia masih belum sadarkan diri hingga sekarang. Kami ingin membawa Daniel ke luar perbatasan, tetapi jalur masuk ke sini sedang ditutup. Kami tidak bisa berbuat banyak. Mungkin Dokter Agus bisa mencari solusi atas masalah kami di sini.” jelas Budi panjang lebar dari ponselnya.
“Apa? Dokter Daniel tertembak?” Agus terkejut.
Dissa tergugu dengan mata yang membelalak. "Da ... niel tertembak? Tidak! Itu tidak benar! Daniel pasti baik-baik saja," gumam Dissa pada dirinya. Buliran bening menetes di pipinya. Bibirnya bergetar. Ia tak mampu berkata-kata.
Beberapa hari lalu, Dissa mendengar bahwa Daniel mengalami luka tembak yang serius. Dissa sempat jatuh sakit saat mengetahui keadaan Daniel yang katanya belum sadarkan diri.
Dissa duduk di atas ranjangnya. Sudah tiga hari, semenjak mendengar kabar buruk tentang Daniel, Dissa tak mau makan dan jatuh sakit. Dila—ibu Dissa tak kuasa menahan tangisannya, melihat Dissa yang seperti ini.
"Sayang ... makan dulu, ya," ucap Dila menatap wajah pucat Dila.
"Dissa enggak lapar, Ma," balas Dissa dengan nada lemah.
"Tapi sayang, kalau kamu enggak makan, nanti kamu terus-terusan sakit gimana, Sayang?" tanya Dila. Dissa hanya diam.
"Ma ... Daniel, Ma. Gimana pernikahan Dissa sama Daniel, Ma? Daniel koma, Ma. Daniel tidak lupa dengan janji Dissa, ‘kan?" tanya Dissa tiba-tiba.
"Sayang ... dengerin Mama dulu. Pernikahan kamu masih beberapa minggu lagi, Sayang. Daniel pasti sembuh dan akan ingat janji kamu, Sayang. Daniel pasti pulang sebelum pernikahan kamu berlangsung," jawab Dia meyakinkan Dissa.
"Tapi, Ma. Kalau Daniel kenapa-napa gimana, Ma? Siapa yang jagain Daniel di sana?" Dissa menangis.
"Dissa, kamu harus sabar, ya. Ini ujian yang diberikan Tuhan kepada kamu dan Daniel. Daniel akan baik-baik saja di sana. Di sana juga ada dokter yang handal yang akan menjaga Daniel. Sekarang, kamu istirahat, ya."
Dissa hanya mengangguk, lalu berbaring diatas ranjangnya.
Hari demi hari, telah dia jalani. Tanpa kehadiran Daniel yang mendampinginya di saat dia jatuh sakit.
Dissa yang masih berbaring lemas di atas tempat tidur, terus saja menangis. Dia memikirkan, bagaimana keadaan Daniel sekarang? Apa Daniel sudah siuman atau masih koma? Lalu, Bagaimana dengan pernikahannya yang beberapa bulan lagi dilaksanakan jika Daniel tidak bangun dari komanya?" Itulah pertanyaan yang sama selalu menguasai dirinya.
Dia menyesal memberi izin dengan keberangkatan Daniel di area perbatasan Gaza. Tapi, harus bagaimana lagi. Semua sudah terjadi dan tidak bisa dicegah kembali.
"Daniel..." panggil Dissa yang sedang duduk bersandar di tempat tidur dan menatap beberapa foto dirinya bersama Daniel yang sedang merayakan hari jadinya.
...******Jangan Lupa dukung cerita ini ya, dengan cara mengklik vote, rate, like dan beri komentar ya pada cerita ini*****...
...*****Untuk mengetahui episode selanjutnya silahkan follow aku juga ya supaya aku lebih semangat up ceritanya*******...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
blackonix_29
Aduh kasian banget sama Dissanya, kasian juga sama Danielnya, kisah cinta mereka berat banget
2021-02-20
0
Deva
kok balik lagi sih ceritanya
2021-01-15
0