PERHATIAN!
Sebelum membaca episode cerita novel ini, Silahkan dukung author dengan mengklik Suka ❤️, Bintang⭐, Beri Komentar pada cerita novel ini.
Jangan lupa *Mengikuti* akun author juga ya☺️ ditunggu ya dukungannya dari kalian. Karena dukungan kalianlah untuk menyemangati author menulis episode selanjutnya.
Dissa dan Ayu berjalan ke arah parkiran mobil. Namun, langkah terakhir mereka berjalan melewati salah satu ruangan kelas kampus terhenti, ketika mereka mendengar salah satu dari mereka dipanggil oleh seseorang.
"Ayu," panggil Jesika yang merupakan Kakak tingkat Dissa yang sudah wisuda 2 tahun yang lalu, dia berjalan menuju ke arah Ayu dan Dissa.
"Iya," jawab Ayu menoleh ke arah Jesika dan membetulkan posisi berdirinya di hadapan Jesika.
"Kamu dari mana? Kok gak gabung bareng kami? Ikut aku yuk bantuin teman-teman yang lain menyelesaikan skripsinya," ujar Jesika.
"Gak mau, males aku," balas Dissa cepat.
"Ayolah, Dissa dan Ayu, kalian ini sombong banget gak mau bantuin kami menyelesaikan skripsi. Gak susah kok, Kalian cukup cek saja setiap kalimat yang kami tulis itu berdasarkan EYD dan Penggunaan bahasa yang benar dalam penulisan Bahasa Indonesia," bujuk Jesika menatap melas di hadapan Dissa dan Ayu.
"Iya... iya aku ikut," balas Dissa dan Ayu secara bersamaan dan berjalan mengikuti langkah kaki Jesika menuju ke arah ruangan kelas yang pernah mereka tempati.
***
Di dalam ruangan kelas, beberapa mahasiswi cantik yang sedang fokus mengetik di laptop dan memasukkan data yang diambil dari hasil penelitian mereka.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah selesai?" tanya Dissa secara spontan dan membuat 6 mahasiswi itu menoleh ke arahnya.
"Aku baru masuk Bab 4," balas Rita menatap ke arah Dissa yang berdiri di depan laptopnya.
"Boleh aku bantu," tawar Ayu yang berdiri di sebelah Dissa.
"Iya boleh, sekalian aku mau bertanya ada aku kurang aku mengerti," jawab Rita.
Ayu berjalan ke arah kursi Rita dan mendudukkan dirinya di sebelah Rita untuk membantu mengisi data yang belum diketik.
Dissa yang merasa bosan melihat dua sejawat sedang berbincang-bincang membahas skripsi, dia berjalan keluar ruangan kelas dan melihat-lihat sekitar pekarangan kampus.
"Dissa, bolehkah aku meminta bantuanmu untuk menemaniku meminta sumbangan sukarela kepada mahasiswa yang lain?" tanya Jesika yang sudah berdiri di sebelah Dissa.
"Hem..." Dehem Dissa, mengikuti langkah kaki Jesika menuju setiap ruangan kelas untuk meminta sumbangan sukarela terhadap orang tua mahasiswa yang meninggal.
Dissa mendengar setiap ucapan Jesika untuk meminta izin kepada dosen sedang mengajar dan menerangkan sumbangan sukarela ini akan diberikan kepada orang tua mahasiswa yang meninggal dunia. Tugas Dissa hanya tersenyum dan mengarahkan kotak sumbangan kepada setiap mahasiswa di hadapannya.
Setelah memasuki beberapa ruangan kelas, tibalah satu ruangan kelas terakhir dan Jesika menarik lengan Dissa sebelum masuk ke ruangan kelas kampus untuk memberitahukan kepadanya bahwa dirinya merasa lelah karena berbicara dari tadi sedangkan Dissa mau enak saja dan dia menyuruh Dissa untuk bergantian berbicara di hadapan mahasiswa. Dissa yang tidak ingin berdebat panjang kali lebar, hanya menyetujui permintaan Jesika dan akhirnya mereka masuk ke ruangan tersebut.
"Tok... tok...tok,"
"Permisi pak, maaf menggangu bapak, bolehkah kami izin masuk," ucap Dissa sopan di depan pintu kelas seraya menatap kedua mata dosen pengajar.
"Iya silahkan," ucap Dosen mempersiapkan Dissa dan Ayu masuk ke ruangan kelas.
"Pak, kami dari semester 7 ingin meminta sumbangan sukarela atas meninggalnya ayahanda Riki dan disini kami meminta teman-teman yang lain turut membantu keluarga yang merasa ditinggalkan," ujar Dissa meminta izin di hadapan dosen yang sedang duduk di dalam ruang kelas.
"Baiklah, saya beri waktu 2 menit dimulai dari sekarang," ucap Dosen.
"Baik pak, terima kasih." balas Dissa dan Ayu.
Dissa mulai menjelaskan bahwa sumbangan sukarela itu akan diberikan oleh mahasiswa bernama Riki atas meninggalnya ayahanda semalam. Saat Dissa memulai memberikan kotak sumbangan, tanpa sengaja dia melihat seorang pria tampan yang pernah menghujatnya dulu. Tiba-tiba hatinya berdebar menatap wajah itu. Entahlah dia tidak tahu cara membedakan mana yang dia benci menjadi suka.
Setelah menerima kotak sumbangan yang sudah diisi oleh setiap sumbangan dari mahasiswa semester 7 jurusan Administrasi, dia meminta izin untuk mengundurkan diri dan disaat bersamaan pula orang itu menatapnya penuh arti. Dia yang tidak mau banyak drama lebih baik mengabaikan keberadaan orang itu dan segera mengucapkan terima kasih kepada dosen di ruangan kelas tersebut.
"Lihatlah, ternyata banyak sekali yang memberikan sumbangan dan setelah ini bantu aku menghitung uang ini untuk dimasukan ke dalam amplop," ucap Jesika polos di hadapan Dissa yang sedang menunjukkan wajah datarnya.
Dissa terus berjalan tanpa menghitung perkataan dari Jesika. dia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Jesika yang terus saja memanggil namanya. tanpa sengaja Dissa menabrak seorang pria yang sedang berjalan berlawanan dengannya.
"Haduh," ucap pria berpakaian jas putih seraya mengambil tas kerjanya terjatuh dari genggaman tangannya.
"Maaf," Dissa membantu mengambil tas itu dan ketika Denise menoleh ke arah pria itu, dia dan Daniel sama halnya terkejut dengan situasi ini selalu saja membuatnya terlibat dengan Daniel.
"Nona cantik, bertemu lagi dan apa ini kau yang menabrakku hingga semua barang medisku terjatuh dari dalam tasku. aku tidak mau tahu kamu harus ganti! sebagai gantinya kamu harus menemaniku makan siang nanti," ucap Daniel di hadapan Dissa.
"Apa-apaan ini, kok itu permintaan gantinya? Aku bisa memberikan 10 kali lipat alat medis bututmu itu." jawab Dissa menatap remeh Daniel yang sedang memegang tas medisnya.
"Tidak! Aku tidak mau! Pokoknya kamu harus menemaniku makan siang nanti bersamaku," Daniel menarik tangan Dissa untuk mengikuti langkah kakinya menuju sebuah ruangan yang akan dia datangi untuk mengisi seminar di kampus itu.
"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri! Kenapa kamu kasar sekali padamu! lepaskan!" Dissa mencoba melepaskan cengkraman kuat dari tangannya.
"Aku akan melepaskan tanganmu, asal kamu janji mau menerimaku dalam seminarku ini sampai kita pergi makan siang bersama nanti," ucap Daniel memberikan jari Kelingkingnya di depan Dissa.
"Iya janji," jawab Dissa acuh dan mengarahkan jari Kelingkingnya menuju jari kelingking Danial dan cepat-cepat melepaskannya.
"Anak pintar, ayo ikuti aku," ujar Daniel mengacak-acak rambut Dissa dan menyuruhnya berjalan ke arah ruangan kelas yang digunakan sebagai acara seminarnya.
***
Daniel sebagai pengisi acara seminarnya, antusias memberikan materi penjelasannya karena di bantu paling belakang terdapat seorang calon panutan hatinya sedang duduk mendengarkan menjelaskan materinya.
Tanpa sadar, Dissa tersenyum menatap Daniel yang sedang memberikan materinya dari sorotan Power pointnya di hadapan mahasiswa.
"Haduh, apa-apan aku ini? Tersenyum sendiri saja seperti orang gila," gumam Dissa menyadari dirinya merasa konyol dengan tingkah lakunya.
"Ternyata Daniel lebih tampan dari Reza, hem... apa perlu aku membuka hatiku kepadanya menjadi panutan hatiku," ucap Dissa. "Haduh, tidak-tidak! Tidak mungkin dan tidak boleh pokoknya aku tidak boleh menyukainya, titik gak pake koma," ucap Dissa memantapkan diri untuk berkomitmen dengan keputusannya.
...***Jangan Lupa dukung cerita ini ya, dengan cara mengklik vote, rate, like dan beri komentar ya pada cerita ini*...
...*Untuk mengetahui episode selanjutnya silahkan follow aku juga ya supaya aku lebih semangat up ceritanya***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
sella surya amanda
mana nih visual nya thor?
2020-12-31
0
Chococips
hai author aku mampir lagi nih dengan membawa like❤️ semangat terus author😻 jangan lupa feedback ke cerita "IPA IPS Jadi Penghalang"💓
2020-12-31
0