PERHATIAN!
Sebelum membaca episode cerita novel ini, Silahkan dukung author dengan mengklik Suka ❤️, Bintang⭐, Beri Komentar pada cerita novel ini.
Jangan lupa *Mengikuti* akun author juga ya☺️ ditunggu ya dukungannya dari kalian. Karena dukungan kalianlah untuk menyemangati author menulis episode selanjutnya.
Daniel berjalan menyelusuri lorong jalan ruangan rumah sakit menuju satu ruangan teratas gedung. Setelah, dia sampai di depan pintu ruangan. Dia mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu di hadapannya, setelah mendengar perintah masuk dari dalam ruangan. dia membuka pintu tersebut.
Daniel menatap keliling seluruh isi ruangan, ternyata benar dugaannya, dia datang terlambat menuju ruangan ini dan mau tidak mau dia harus meminta maaf kepada pemilik perusahaan industri terkaya kedua di dunia.
"Permisi tuan Dedi, maaf saya datang terlambat tadi saya sedang menangani pasien," jawab Daniel berjalan ke arah tempat tidur dan menatap kedua bola mata berwarna coklat milik Dedi.
"Tidak apa-apa, silahkan kamu periksa anak saya karena dia tidak bisa mengeluarkan kapas di katenbat yang menyangkut di dalam telinga anak saya," ucap Dedi menatap sinis ke arah dokter magang itu berdiri di sebelah kiri Daniel.
"Baiklah, saya izin periksaaa...," Daniel menoleh ke arah pasien yang sedang duduk di atas kasur dan dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan seorang yang berhasil mencuri hatinya.
"Kamu!" ucap Daniel menatap ke arah seorang wanita itu.
Dissa tersenyum menatap ke arah Daniel dan membiarkan dirinya ditangani oleh dokter tampan yang berjalan ke arah tempat ranjang yang sedang dia duduki itu.
"Dokter, Saya semalam mengorek telinga saya menggunakan katenbat dan tanpa saya sadari ternyata kapas pada katenbat menyangkut di dalam telinga saya. Dokter itu bilang, dia tidak melihat kapas apapun di dalam telinga saya tetapi saya tidak yakin dengan perkataannya, bisakah kamu menolong saya untuk mengambil kapas katenbat di dalam telinga saya ini," ucap Dissa sambil memegang telinga kanannya dan berusaha mengadu keluhannya di hadapan Daniel.
Daniel sedari tadi menatap intens ke arah Dissa, mulai mengambil beberapa peralatan tht dan alat otoskop untuk mengecek keberadaan posisi kapas itu.
"Permisi, izinkan saya mengecek telinga kanan nona sebentar," ucap Daniel yang berjalan ke arah Dissa dan menyuruhnya untuk memiringkan kepalanya ke kiri agar telinga kanannya berada di atas dan memudahkan Daniel memeriksanya. Beberapa kali Daniel mengeceknya namun nihil tidak ada kapas dan akhirnya dia menyuruh Lia untuk membantunya. "Itu kapasnya sudah terlihat," ucap Daniel, sambil mengorek alat otoskop di dalam telinga Dissa. "Dalam sekali posisi kapasnya, harap tenang dan tahan sedikit rasa sakitnya karena saya ingin mengeluarkan kapas itu," Daniel masih memegang alat otoskop dan dibantu oleh besi stainless agar sedikit demi sedikit mengorek kapas keluar dari dalam telinga.
"Ini nona Dissa, kapasnya sudah saya keluarkan. Lain kali, jangan menggunakan katenbat lagi untuk membersihkan telinga. Sebenarnya, fungsi kotoran telinga yaitu sebagai alat untuk melindungi bagian dalam telingga dan jika kuman atau serangga yang masuk maka mereka mati karena termakan kotoran telinga kita dan tadi saya lihat ada sedikit goresan luka, karena saya terlalu semangat mengambil kapas dan akan saya berikan obat pereda rasa nyeri untuk diminum sesuai takaran obat yang diberikan." jelas Daniel panjang lebar di hadapan Dissa.
"Oke," jawab Dissa singkat seraya turun dari tempat ranjang tidur dan berjalan menuju tempat papanya yang sedang duduk di sofa.
"Bagaimana dengan telingamu? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?" tanya Dedi menatap putrinya yang duduk di hadapannya.
"Sudah Papa," jawab Dissa mengambil beberapa obat yang diberikan langsung oleh Daniel.
"Terima kasih atas kerjanya, kamu memang hebat bisa mengeluarkan sekecil kapas itu dan tidak dengan wanita satu ini, seragamnya saja jurusan kedokteran tetapi jiwa menolongnya tidak ada dan hanya setengah niat kerjanya," sindir Dedi melirik Dokter Lia yang sedang menundukkan kepadanya.
"Maafkan saya, saya tidak bisa bekerja dengan baik dan tolong jangan keluarkan saya dari rumah sakit ini karena sebentar lagi masa magang kuliah kerja saya akan berakhir," Lia berjongkok untuk memohon dengan memegang kedua kaki Dedi yang sedang berdiri di hadapannya.
"Tuan Dedi, tolong maafkan Lia. Dia memang belum hebat seperti saya dan tolong jangan laporkan ini ke direktur, berilah dia kesempatan untuk berubah," ujar Daniel.
"Baiklah, apabila kejadian ini terulang kembali saya tidak segan melaporkan kejadian ini dan bila perlu saya belikan rumah sakit dan seluruh pegawai bekerja pindah ahli bekerja dengan saya," ancam Dedi menatap tajam ke arah kedua orang yang sedang berdiri di hadapannya. Dedi mengajak Dissa pulang ke mension dan menaiki mobil mewahnya.
Di kediaman mension mewah ditempati oleh Dissa, kedua orang tuanya beserta maid dan bodyguard yang menjaga mension. Kini Dissa yang telah makan siang bersama kedua orang tuanya, dia berniat melanjutkan menulis opininya yang berjudul "Pentingnya Prank Berlebihan di Kehidupan Bermasyarakat." Dissa mulai mengetik satu persatu setiap kalimat yang dirangkainya menjadi sebuah paragraf. Dia membuka beberapa buku untuk mencantum pendapat para ahli sebagai sumber referensi dari opininya.
"Akhirnya selesai juga opiniku," gumam Dissa seraya membaca kembali opininya yang telah diketik. Setelah dirasa sudah benar semua, dia mengirim opininya memalui gmailnya menuju alamat Gmail resmi koran nasional.
Dissa mematikan laptopnya dan merapikan kembali buku-buku yang berserakan di atas meja belajar. Kemudian, dia berjalan keluar kamar dan memanggil kepala maid bernama Rana untuk menyiapkan makanan nasi goreng dan salad buah kesukaannya.
Di area tempat yang di penuhi bermacam-macam bunga yang tumbuh indah dan pohon yang rindang untuk meneduhkan orang yang sedang duduk di bawahnya.
Dissa yang sedang duduk di belakang mensionnya, melihat-lihat suasana tanaman asri yang tumbuh indah. Rana yang telah menyelesaikan pesanan Dissa, membawanya menuju mension belakang.
"Nona muda, ini makanannya sudah saya buatkan," ucap Rana menunduk di hadapan Dissa.
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang!" perintah Dissa seraya mengambil nasi goreng yang akan dimakannya.
"Iya nona muda," Rana meminta izin undur diri dan berjalan masuk ke dalam mension.
Saat sedang berada di dapur, Rana mendengar namanya dipanggil oleh nyonya besarnya.
"Iya nyonya," jawab Rana berjalan ke arah Dila.
"Dimana Dissa? Apa dia belum pulang dari rumah sakit?" tanya Dila, mamanya Dissa.
"Nona Dissa, sudah pulang Nyonya dan sekarang dia sedang berada di taman belakang mension," jawab Rana.
"Oh, bagaimana keadaannya? Sudah tidak sakit lagi telinganya?" tanya Dissa lagi.
"Tidak Nyonya, Nona Dissa merasa sudah lebih baik telingganya," jawab Rana.
"Okelah, sekarang kamu bisa melanjutkan tugasmu di dapur," ujar Dila meninggalkan Rana yang masih diam di tempat dan menatap heran Nyonya besarnya yang sedang berjalan ke arah pintu lift.
"Nyonya besar, tumben sekali pulang cepat dan tidak seperti biasanya yang selalu pulang larut malam," gumam Rana pada dirinya sendiri dan berjalan menuju dapur mension.
Terima kasih telah membaca novel pertama saya dan sudah mendukung saya dengan mengklik Like, rate, follow dan Coment ya. Bagi yang belum silahkan diklik supaya saya lebih semangat update episode selanjutnya di setiap hari.
...*Selamat Tahun Baru 2021*...
...***Jangan Lupa dukung cerita ini ya, dengan cara mengklik vote, rate, like dan beri komentar ya pada cerita ini*...
...*Untuk mengetahui episode selanjutnya silahkan follow aku juga ya supaya aku lebih semangat up ceritanya***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
coni
Aster Hadir bawa 5 like kakak, semangat dan mari saling mendukung 🥰🥰
Ditunggu feedback nya!!
Salam ANGKASA 🥰
2021-05-01
0
Chococips
hai author aku mampir lagi nih dengan membawa like untuk episode terbaru❤️ semangat terus author😻 jangan lupa feedback ke cerita "IPA IPS Jadi Penghalang"💓
2021-01-01
0
Ama
next 😍
mampir jg dong ke karyaku
"ketulusan mutia"
2021-01-01
0