PERHATIAN!
Sebelum membaca episode cerita novel ini, Silahkan dukung author dengan mengklik Suka ❤️, Bintang⭐, Beri Komentar pada cerita novel ini.
Jangan lupa *Mengikuti* akun author juga ya☺️ ditunggu ya dukungannya dari kalian. Karena dukungan kalianlah untuk menyemangati author menulis episode selanjutnya.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh tata letak buku yang disusun rapi dan disinilah Dissa berada di perpustakaan umum. Semenjak, dia berhasil menulis opininya hingga terbit. Hal itu menjadi candu baru baginya. Saat ini, dia sedang nengoprak-aprik isi buku yang dibacanya dan barulah dia mendapatkan ide yang cemerlang.
"Lebih baik aku catat dulu, beberapa ide permasalahannya. setelah itu, aku susun ide itu menjadi serangkaian kata menjadi setiap kalimat pada paragraf dan menulis referensi menurut pendapat para ahli," gumam Dissa seraya menulis di dalam buku kosong yang telah dia siapkan sejak pergi kesini.
Dissa menyusun kembali beberapa buku yang dipinjamnya dan dia mengambil tas untuk bersiap-siap bertemu dengan Ayu di kampusnya.
Saat dia berjalan keluar, dia bertemu seseorang yang menghujatnya dan sialnya dia berjalan berpapasan saat keluar dari pintu dan orang itu masuk ke arah pintu yang dia lewati.
"Kenapa harus bertemu dengannya?" tanya Dissa pada dirinya sendiri. Dia berjalan menuju Parkiran mobil dan disana sudah ada supir pribadi Dissa yang setia menunggu dan mengantarkannya pergi kemanapun dia mau.
***
Berbeda dengan suasana di dalam perpustakaan umum yang ditempati oleh Dissa tadi. Suara teriakan histeris bergema di dalam ruangan itu. Reza yang menjadi sorotan bagi setiap wanita yang sedang berkunjung, mulai melakukan aksi untuk memperebutkan hati seorang pemilik perusahaan teknologi terkaya ketiga di dunia.
Reza duduk termenung di depan meja yang diisi oleh 3 buku yang diambilnya.
"Cantik juga wanita tadi, aku jadi pengen dekat dengannya," gumam Reza tersenyum.
"Hey bro, ngapain dari tadi hanya diam saja. Gak minat baca nih bukunya?" tanya Arka duduk di sebelah Reza seraya memegang satu buku terbaru yang dipinjam oleh Reza.
"Arka, kamu tahu gak siapa nama perempuan yang jalan berhadapan denganku tadi?' tanya Reza yang tahu betul temannya tadi melihatnya berjalan.
"Perempuan itu namanya Dissa Richard, anak dari pemilik perusahaan industri terkaya nomor kedua di dunia. Orangnya dingin banget seperti batu es," jawab Arka santai di hadapan Reza.
"Wow, boleh juga itu didekati. Untuk sikap dinginnya, biasa aku takluti dan kok kamu tahu semua tentang Dissa. Apa jangan-jangan kamu suka dengannya?" selidik Reza terhadap Arka.
"Ya gak lah, kamu tahu sendirilah aku sudah punya pacar dan ngapain cari wanita lagi. Aku hanya mendengar cerita dari temanku yang berusaha mendekatinya namun sampai saat ini rencananya tidak berhasil," jelas Arka panjang lebar.
"Oh," balas Reza singkat.
Arka yang sebenarnya tahu dengan perubahan sikap Reza sejak pertemuannya, sudah mengetahui pasti Reza mulai menyukainya. Namun, dia merasa aneh bukankah saat pertemuannya dia mengejek wanita itu dan malahan sekarang dia tertarik ingin mendekatinya.
***
"Tring,"
Dissa membuka pesan masuk dari ponselnya dan tetap memakan spaghetti yang dia beli di kantinnya.
"Assalamualaikum. Selamat Dissa atas terbitnya opini perdanamu. Saya Zidan selaku dosen yang menangani media massa ingin meminta bantuan dalam perihal menyambut kegiatan akreditasi kampus. Maka, pihak kampus mencari beberapa mahasiswi yang menulis artikel dan pernah menang dalam perlombaan. Kegiatan itu saya yang menjadi tanggung jawab besar untuk mengumpulkan informasi itu menjadi sebuah buku berisi artikel opini Milenial yang nantinya akan diterbitkan," jelas Zidan panjang lebar dari pesan yang sedang dibaca oleh Dissa dan dia mengklik beberapa file dokumen yang berisikan daftar nama siswa yang dipilihnya untuk memberikan artikelnya untuk dibukukan.
Dissa berpikir sejenak, setelah beberapa menit memantapkan diri dengan keputusannya. Dia membalas pesan itu dan mencari dokumen artikelnya dari ponselnya dan tidak lupa mengirimkan artikel opininya kepada dosen.
Ayu berjalan ke arah meja makan yang ditempati Dissa dan menaruh makanan nasi goreng dan minuman orange jus di atas meja.
"Kamu kenapa?" tanya Ayu seraya duduk di hadapan Dissa.
"Gak apa-apa, cuma membantu dosen untuk akreditasi kampus." jawab Dissa yang masih menatap layar ponselnya.
Ayu memakan nasi goreng yang dipesannya karena pagi tadi dia tidak makan maka dengan lahapnya dia memasukkan nasi goreng di mulutnya. Dia mengabaikan suasana sekitar yang sangat berisik jika seorang sedang mengerjakan tugas di kantin kampus maka niat fokus mengerjakan akan hilang. Beginilah kalo mahasiswa dan mahasiswi berkumpul menjadi satu tempat di setiap jurusan dan angkatan selalu heboh dengan urusannya masing-masing.
"Dissa, kata si Arka tadi cerita sama aku, Reza mau minta nomor ponselmu," Ayu menceritakan ucapan Arka di hadapan Dissa.
Dissa yang sedang meminum jus melon langsung tersedak, hingga membuat dirinya terbatuk-batuk.
Ayu yang melihat Dissa susah payah untuk bernafas, dia langsung memberikan air putih kepada Dissa agar lebih tenang.
"Pelan-pelan minumnya," saran Ayu menatap wajah Dissa yang terlihat lemas.
"apa sudah lebih baik?" tanya Ayu.
Dissa menggangguk dan menaruh gelas yang sudah diminumnya. dia membuka topik pembicaraan yang lain sehingga pembicaraan dari Ayu tadi dapat diabaikan.
Setelah membayar biaya makan siang mereka di kantin kampus, kini mereka menuju parkiran mobil. Di sepanjang jalan, Dissa terdiam memikirkan terus menerus perkataan dari Ayu. "Apa benar kata si Arka kalo si Reza mau minta nomor ponselku tetapi kenapa dulu dia menghujatku jelek padahal dia sendiri yang berniat untuk mengejar diriku," gumamnya yang masih di dengar oleh Ayu.
"Cie... Cie... Sudah ku duga, ternyata seorang Dissa Richard bisa merasa something dengan ucapanku tadi," ucap Ayu menampilkan dua gigi putih menoleh Disa yang berjalan di sampingnya.
"Gak juga, cuma heran saja. dulu waktu pertama melihatnya dia pernah..." ucapan Dissa terhenti saat mengingat dirinya mulai membongkar kejahatan mulut Reza yang tanpa sadar menghujatnya.
"Dia pernah apa? ayo lanjutkan?" tanya Ayu penuh selidik dengan temannya ini sepertinya ada yang tidak beres seperti biasanya kalo ada seorang pria meminta nomor ponselnya pasti dia sekedar bertanya tetapi tidak dengan pria satu ini.
"Pernah mengobrol dengan Jesika," jawab Dissa asal menatap wajah Ayu di sebelahnya.
"Oh begitu, Jesika dari dulu sampai sekarang suka banget sama si Reza. Makanya, kalo ada Reza, dia selalu ngintilin Reza kemanapun pergi. Dengar-dengar dulu, Jesika pernah menyatakan cintanya kepada Reza tetapi ditolak. Kata si Reza bukan tipe ceweknya tapi kamu tahu sendiri gimana sifat Jesika itu pantang menyerah sebelum menjadi hak sah milik orang lain dia tetap berusaha mendekatinya walaupun menyakiti dirinya sendiri," jelas Ayu panjang lebar.
"Oh," ucap Dissa singkat.
"Dissa, cobalah kalo bicara itu yang benar. Janganlah kamu membalas dengan jawaban Oh, Oke, Ya udah. Itu seperti tidak menghargai perkataanku dan rasanya tuh sakitnya disini," ucap Ayu menunjukkan jarinya ke arah hatinya.
"Terus perlu aku bilang wow gitu, ya gak mungkinlah. Sudahlah jangan masukkan ke dalam hati nanti kamu jatuh cinta lagi padaku," ledek Dissa memberikan senyuman canggung dan menampilkan dua jari di hadapan Ayu. Dissa yang tahu betul respon dari Ayu karena sikap cueknya, dia bersiap-siap berlari dari hadapan Ayu karena sudah dipastikan Ayu akan mencubiti seluruh tubuh Dissa.
...*Author mumet banget kalo ditanyain mana visual pemain di novel ini, padahal yang kasih like, rate dan follow akun author sedikit sekali. Ayolah kerjasama kita saling feedback ya, menulis tidak semudah membaca dan silahkan dukungan author ya pada cerita ini.*...
...*******Jangan Lupa dukung cerita ini ya, dengan cara mengklik vote, rate, like dan beri komentar ya pada cerita ini*****...
...*****Untuk mengetahui episode selanjutnya silahkan follow aku juga ya supaya aku lebih semangat up ceritanya*******...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments