Fitting Baju Pengantin

PERHATIAN!

Sebelum membaca episode cerita novel ini, Silahkan dukung author dengan mengklik Suka ❤️, Bintang⭐, Beri Komentar pada cerita novel ini.

Jangan lupa *Mengikuti* akun author juga ya☺️ ditunggu ya dukungannya dari kalian. Karena dukungan kalianlah untuk menyemangati author menulis episode selanjutnya.

"Sayang banget hari ini kita gak bisa menyelesaikan fitting baju pernikahan kita, kamu pulangnya terlalu malam, jadi Salon Aura sudah tutup," ucap Dissa, lalu memasukan sesuap nasi ke mulutnya.

Mereka sedang makan malam bersama di sebuah Restoran langganan.

"Maaf sayang, lalu lintas sedang padat karena jam pulang kantor," jelas Daniel, Dissa mengangguk pun memaklumi. "Sayang, aku mau membicarakan sesuatu."

"Bicara saja." ucap Dissa singkat.

"Sayang, besok aku izin untuk pergi karena mendapat amanah dari rumah sakit." ujar Daniel menatap kedua bola mata indah Dissa yang berdiri di hadapannya.

"Mau pergi mengisi seminar di luar kota lagi?" tanya Dissa yang sudah hafal kegiatan calon suaminya yang sering dipercaya rumah sakit untuk mengisi seminar di luar kota.

"Pergilah, tetapi jalan lupa bawakan aku buah tangan." Dissa menampilkan rentetan giginya.

"Bukan seminar ke luar kota, tetapi ... aku akan menjadi dokter relawan di Perbatasan Gaza."

Senyuman Dissa seketika meluntur. "Apa? Perbatasan Gaza? Perbatasan antara Palestina dan Israel maksudmu?"

Daniel mengangguk.

"Apa kamu gila?" bentak Dissa dengan sedikit berbisik karena tak ingin menjadi tontonan pengunjung yang lain. "Beberapa bulan lagi kita akan menikah Daniel."

"Aku tahu Sayang, tetapi menolong korban adalah pekerjaanku."

"Dari sekian banyak dokter di rumah sakit, bahkan di dunia mengapa harus kamu yang pergi ke sana?"

"Karena aku ... mengajukan diri," gumam Daniel.

"Ya Tuhan, Daniel ... kita ini akan menikah, bagaimana bisa kamu malah mengajukan diri untuk menjadi relawan di area konflik? Apa pernikahan ini tidak ada artinya bagimu?"

Dissa memijit pelipisnya, terkadang dia masih tak habis pikir dengan jalan pikiran calon suaminya.

"Pernikahan kita masih dua bulan lagi, aku hanya bertugas tiga bulan, dan lagi pula persiapan pernikahan sudah kita urus bersama. Apa kamu tidak kasihan melihat situasi di sana yang memprihatinkan? Mereka membutuhkan aku sayang."

"Aku mengerti, tetapi bukan itu yang aku khawatirkan." Dissa menghela napas sejenak. "Di sana adalah daerah konflik antar dua negara, situasi di sana sangatlah membahayakan. Bagaimana jika kamu kena peluru lepas? Bagaimana jika mereka melempar granat? Bagaimana jika—"

"Sayang ...." Daniel menggenggam tangan Dissa. "Jangan mengucapkan yang tidak-tidak. ucapan adalah doa. Aku akan pulang dengan selamat. Satu bulan sebelum pernikahan kita. Aku janji."

"Tetap tidak bisa!"

"Sayang." Daniel menampilkan wajah memohon.

Dissa menatap Daniel dengan tatapan ragu, tetapi Dissa menyerah. Ia kalah saat menatap Daniel dengan wajah memohon seperti itu.

"Kamu harus sering-sering kabarin aku, minimal sehari sekali," perintah Dissa.

"Siap, Yang Mulia!" jawab Daniel dengan memberi hormat. " Terima kasih, Sayang."

"Kamu jaga diri baik-baik di sana, jangan memforsir tubuhmu. Ingatlah bahwa di sini ada aku yang menunggu."

***

"Sayang kamu harus ingat untuk mengabari aku minimal sehari sekali, dengan durasi minimal dua menit, setiap kamu ingin memulai kegiatan sempatkan diri untuk mengirim pesan padaku, kamu juga jangan lupa mengisi perut karena mau bagaimanapun makan itu penting, lalu kamu—" ucap Dissa panjang lebar.

"Iya, Sayang. Kamu dari semalam bawel banget, aku di sana akan baik-baik saja. Ini bukan kali pertamaku menjadi dokter relawan, kamu tahu akan hal itu, bukan?" tanya Daniel, ini sudah kali kesekian Dissa mengingatkannya. Bahkan saat mengantarkan ke Bandara saat ini pun Dissa masih mengingatkannya.

"Tetap saja berbeda. Kamu biasanya ikut serta di daerah terdampak bencana alam, bukan ikut serta di daerah konflik."

"Harus berapa kali aku bilang, aku akan baik-baik saja, Sayang." Daniel mengusap puncak kepala Dissa. "Omong-omong sudah jam segini di mana rekanku?"

Daniel dan Dissa memandang sekitar mencari rekan medis lain yang akan berangkat bersama, Dissa sebenarnya juga tidak tahu siapa saja yang akan pergi bersama Daniel karena ia lupa menanyakan pada Daniel.

"Nah, itu dia." Daniel menunjukkan orang di belakang Dissa.

Dissa sedikit terkejut melihat seorang wanita dan pria berjalan menujunya, Dissa mengenali mereka berdua, terlebih wanita yang tengah tersenyum puas ke arahnya, Jesika.

"Budi?" Daniel menatap barang-barang yang ditenteng sahabatnya. "Kamu?"

"Kejutan! Aku juga diutus untuk ikut bersama kalian," jawab Budi tersenyum.

"Aku sangat senang kau ikut bersamaku dan Sarah. Kita akan menjadi tim yang imbang." Daniel memeluk Budi.

Jesika berdeham, Daniel sontak melepas pelukannya.

"Oh iya, Sayang, kenalkan ini Jesika. Jesika ini Dissa calon istriku." Daniel memperkenalkan Dissa dan Jesika.

"Aku tidak dikenalkan?" sindir Budi.

"Ayolah, Bud, kalian ini bersepupu. Kamu nanti akan menjadi sepupu iparku."

Dissa memandangi Jesika di sebelahnya, Sarah adalah kakak tingkat sekolahnya sewaktu duduk di bangku SMA. Dulu Jesika adalah wanita yang merebut mantan kekasihnya. Jesika mendekati Dissa dan berbisik, "Calon suamimu sangat memasuki tipeku, apa boleh dia buatku saja, Dissa?"

Dissa mengepal tangannya, lalu menatap tajam Jesika. Dia menyesali keputusannya mengizinkan Daniel pergi, tetapi tidak mungkin sekarang ia melarang Daniel.

"Jadi bagaimana rute perjalanan kita, Daniel?" tanya Jesika membuat Dissa memutar bola matanya.

"Kita akan transit di Jeddah, lalu kita lanjut ke Kairo menuju Kota El Arish, kita akan melewati imigrasi Rafah," jelas Daniel.

"Berarti kalian akan melewati Zona Merah Sinai Utara?" tanya Dissa khawatir.

Daniel mengangguk. “Jangan khawatir Sayang, kami akan pulang dengan selamat."

"T-tapi ... di sana juga merupakan daerah konflik."

Daniel meraih tangan Dissa. "Kamu gak perlu khawatir, cukup doakan kami sampai dengan selamat."

Dissa mengangguk, lalu berbalik menatap Budi. "Budi! Kamu harus jaga Daniel! Kalau sampai Daniel kenapa-napa, kamu aku coret dari daftar persepupuan!" ancam Dissa.

"Kalau aku yang kenapa-napa?" tanya Budi.

"Harta warisanmu untukku," jawab Dissa, mengingat hanya mereka cucu sang kakek. Budi hanya berdecak tak percaya.

"Sudah-sudah, ayo kita berangkat!" ajak Daniel menengahi pertengkaran antar saudara.

"Kalian duluan saja, aku ingin berbicara dengan Dissa dulu," ujar Budi.

Daniel memeluk Dissa, serta mencium keningnya. Hal itu membuat Jesika memutar bola mata malas.

"Jaga dirimu, aku mencintaimu" pesan Dissa.

"Aku lebih mencintaimu," balas Daniel.

Sepeninggalnya Daniel dan Jesika, Budi mendekat.

"Kenapa kamu gak bilang kalo Jesika satu rumah sakit dengan kalian?" hardik Dissa.

"Untuk apa? Aku pikir kamu juga gak akan peduli, tapi sepertinya dia menyukai Daniel."

"Iya dan dia barusan berbisik meminta Daniel!" geram Dissa.

"Tenang saja, itulah gunanya aku ikut dengan mereka. Selain menolong korban konflik aku juga menolongmu agar tidak menjadi korban pelakor." Budi pergi meninggalkan Dissa.

"Aku percaya padamu, Daniel," gumam Dissa.

***

Daniel, Budi, dan Jesika menaiki pesawat ke Jeddah, perjalanan kali ini akan menjadi perjalanan panjang, mungkin akan memerlukan waktu hingga tiga hari. Setelah transit di Jeddah ke Kairo mereka masih harus melakukan perjalanan ke kota El Arish, perjalan dari kota El Arish menuju Gaza ±54 KM, Ini menjadi kali pertama diizinkannya perjalanan malam dari kota El Arish ke perlintasan Rafah. Pengawalan ketat benar-benar diberlakukan. Bahkan, para relawan dikawal dengan mobil militer anti baja, kemudian terjadi pertukaran mobil, hingga akhirnya dengan menumpangi bus mereka mereka menuju imigrasi Rafah, Gaza di Palestina. Dua hari dua malam dalam perjalanan mereka pun sampai di Khan Yunis dengan check point(pos pemeriksaan) yang ketat, pukul dua dini hari.

"Perjalanan yang cukup seru, ya," seru Budi saat mereka memasuki tenda medis.

"Aku tidak menyangka perjalanan kita untuk dapat sampai ke sini sangat menegangkan," lanjut Jesika.

"Lebih baik kita beristirahat karena besok kita akan langsung terjun ke lapangan," intruksi Daniel.

"Oh iya, Daniel," panggil Jesika. "Seperti biasanya saat bertugas setelahnya kita diminta untuk membuat laporan, kamu bisa menjadi ketua pelaksana?"

"Iya, aku pun merasa di sini hanya kau yang pantas," imbuh Budi.

"Baiklah," putus Daniel.

"Aku bisa menjadi sekretaris untuk membuat laporan," usul Jesika.

"Lalu aku menjadi apa?" tanya Budi.

"Kamu bisa menjadi seksi dokumentasi," ujar Jesika.

"Seksi dokumentasi? Tidak terlalu berat, baiklah."

"Baik, selamat malam, gunakan waktu istirahat kalian dengan baik." Daniel kembali merapihkan barang bawaannya.

Sebelum tidur Daniel menyempatkan diri untuk mengirim kabar kepada Dissa, walaupun sinyal yang ia miliki sangat minim.

...*Jangan Lupa dukung cerita ini ya, dengan cara mengklik vote, rate, like dan beri komentar ya pada cerita ini*...

...*Untuk mengetahui episode selanjutnya silahkan follow aku juga ya supaya aku lebih semangat up ceritanya*...

Terpopuler

Comments

Prestiwati

Prestiwati

salfok dibagian pernikahan kita masih dua bulan lagi, aku hanya bertugas tiga bulan dan si Daniel bilang aku janji akan pulang satu bulan sebelum pernikahan

2021-02-19

0

blackonix_29

blackonix_29

Oke tadi sempet ada typo di bagian jangan lupa ya, itu yg kamu tulis itu jalan lupa🤣🤣🤣🤣

2021-02-02

1

blackonix_29

blackonix_29

jangan lupa mksdnya ya

2021-02-02

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Fitting Baju Pengantin
3 Hari Pertama Kerja
4 Daniel Terluka
5 Flashback
6 Persyaratan Wisuda
7 Daniel Menyapa
8 Belajar Menulis Artikel
9 Bertemu Daniel
10 Dissa Panik
11 Daniel Memeriksa Dissa
12 Bertemu Mama Daniel
13 Pria yang Menyebalkan
14 Daniel Mencintai Kekurangan Dissa
15 Daniel Operasi
16 Kekecewaan Dissa
17 Dissa Mencari Kebenaran
18 Dissa Sedih
19 Rencana Kepulangan Daniel
20 Dissa Sakit Hati
21 Jesika Kalah
22 Membatalkan Acara Pernikahan
23 Heron Marah
24 Penawaran Jesika
25 Hati Yang Kau Sakiti
26 Visual Pemain
27 Daniel Menenangkan Dissa
28 Epilog
29 S2. Bertemu Budi
30 S2. Bulan Madu
31 S2. Kedatangan Zico
32 S2. Rencana Kerja Di Daerah Mematikan
33 S2. Dugaan Dissa
34 S2. Melakukan Pencarian
35 S2. Criss Meminta Pertolongan
36 S2. Mengobati Criss
37 S2. Model Dadakan
38 S2. Kebusukan Jesika
39 S2. Menjemput Daniel
40 S2. Vaksin Simulasi
41 S2. Dissa Tertabrak
42 S2. Menerima Tawaran Kerjasama
43 S2. Informasi Menarik
44 S2. Perang lagi
45 S2. Pernikahan Yang Tak Diinginkan
46 S2. Menyelamatkan Dissa
47 S2. Janji Suci Kenzo
48 S2. Adikku Tersayang
49 S2. Kau Milikku
50 S2. Permainan Terakhir Kenzo
51 S2. Menekankan Dissa Agar Mencintaiku
52 S2. Menyembunyikan Dissa
53 S2. Jangan Menghalangiku
54 S2. Lepaskan Aku
55 S2. Dissa Terkejut
56 S2. Perkelahian Tak Bisa Dihindarkan
57 S2. Diki Mendapatkan Vaksin
58 S2. Kebaikan Dila
59 S2. Nick Professional
60 S2. POV Diki
61 S2. Dedi Terkejut
62 S2. Perhatian Nick
63 S2. Papa
64 S2. Kenyataan Yang Sebenarnya
65 S2. Diki Adalah Anakmu
66 S2. Dissa Terharu
67 S2. Dissa Mendoakan Kenzo Dengan Tulus
68 S2. Morning Kiss
69 S2. Menemui Diki dan Meminta Maaf
70 S2. Daniel Menyusul Dissa
71 S2. Daniel, Minumlah
72 S2. Dedi Pulang
73 S2. Takdir Diki
74 S2. Dissa Curiga
75 S2. Dedi Terlihat Tua
76 S2. Keputusan Criss
77 S2. Kebosanan Diki
78 S2. Jika Kita Berjodoh
79 S2. Kapan kah Mulai Mencintainya?
80 S2. Sikap Dissa Yang Berlebihan
81 S2. Merawat Diki
82 S2. Menunggu Kedatangan Novi
83 S2. Kejutan
84 S2. Menahan Tawa
85 S2. Memeriksa Dissa
86 S2. Keputusan Novi
87 S2. Kabar Kedatangan Jesika di Indonesia
88 S2. Saran Dedi
89 S2. Kabar Jesika Hamil
90 S2. Dissa Salah Mengambil Paket Barang
91 S2. Membawa Dissa Ke Rumah Sakit
92 S2. Harapan Nick
93 S2. Dissa Kritis
94 S2. Daniel Posesif
95 S2. Menemui Bidan Ratna
96 S2. Mimpi Buruk
97 S2. Obat Penahan Rasa Sakit
98 S2. Nick Terkejut
99 S2. Menolong Jesika
100 S2. Kemarahan Nick
101 S2. Nick Yang Sebenarnya
102 S2. Jesika Keguguran
103 S2. Terima Kasih
104 S2. Melamar Jesika
105 S2. Rencana Acara Pernikahan
106 S2. Kejujuran Diki
107 S2. Satu Minggu
108 S2. Selalu Bersama - Tamat
109 Informasi
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Prolog
2
Fitting Baju Pengantin
3
Hari Pertama Kerja
4
Daniel Terluka
5
Flashback
6
Persyaratan Wisuda
7
Daniel Menyapa
8
Belajar Menulis Artikel
9
Bertemu Daniel
10
Dissa Panik
11
Daniel Memeriksa Dissa
12
Bertemu Mama Daniel
13
Pria yang Menyebalkan
14
Daniel Mencintai Kekurangan Dissa
15
Daniel Operasi
16
Kekecewaan Dissa
17
Dissa Mencari Kebenaran
18
Dissa Sedih
19
Rencana Kepulangan Daniel
20
Dissa Sakit Hati
21
Jesika Kalah
22
Membatalkan Acara Pernikahan
23
Heron Marah
24
Penawaran Jesika
25
Hati Yang Kau Sakiti
26
Visual Pemain
27
Daniel Menenangkan Dissa
28
Epilog
29
S2. Bertemu Budi
30
S2. Bulan Madu
31
S2. Kedatangan Zico
32
S2. Rencana Kerja Di Daerah Mematikan
33
S2. Dugaan Dissa
34
S2. Melakukan Pencarian
35
S2. Criss Meminta Pertolongan
36
S2. Mengobati Criss
37
S2. Model Dadakan
38
S2. Kebusukan Jesika
39
S2. Menjemput Daniel
40
S2. Vaksin Simulasi
41
S2. Dissa Tertabrak
42
S2. Menerima Tawaran Kerjasama
43
S2. Informasi Menarik
44
S2. Perang lagi
45
S2. Pernikahan Yang Tak Diinginkan
46
S2. Menyelamatkan Dissa
47
S2. Janji Suci Kenzo
48
S2. Adikku Tersayang
49
S2. Kau Milikku
50
S2. Permainan Terakhir Kenzo
51
S2. Menekankan Dissa Agar Mencintaiku
52
S2. Menyembunyikan Dissa
53
S2. Jangan Menghalangiku
54
S2. Lepaskan Aku
55
S2. Dissa Terkejut
56
S2. Perkelahian Tak Bisa Dihindarkan
57
S2. Diki Mendapatkan Vaksin
58
S2. Kebaikan Dila
59
S2. Nick Professional
60
S2. POV Diki
61
S2. Dedi Terkejut
62
S2. Perhatian Nick
63
S2. Papa
64
S2. Kenyataan Yang Sebenarnya
65
S2. Diki Adalah Anakmu
66
S2. Dissa Terharu
67
S2. Dissa Mendoakan Kenzo Dengan Tulus
68
S2. Morning Kiss
69
S2. Menemui Diki dan Meminta Maaf
70
S2. Daniel Menyusul Dissa
71
S2. Daniel, Minumlah
72
S2. Dedi Pulang
73
S2. Takdir Diki
74
S2. Dissa Curiga
75
S2. Dedi Terlihat Tua
76
S2. Keputusan Criss
77
S2. Kebosanan Diki
78
S2. Jika Kita Berjodoh
79
S2. Kapan kah Mulai Mencintainya?
80
S2. Sikap Dissa Yang Berlebihan
81
S2. Merawat Diki
82
S2. Menunggu Kedatangan Novi
83
S2. Kejutan
84
S2. Menahan Tawa
85
S2. Memeriksa Dissa
86
S2. Keputusan Novi
87
S2. Kabar Kedatangan Jesika di Indonesia
88
S2. Saran Dedi
89
S2. Kabar Jesika Hamil
90
S2. Dissa Salah Mengambil Paket Barang
91
S2. Membawa Dissa Ke Rumah Sakit
92
S2. Harapan Nick
93
S2. Dissa Kritis
94
S2. Daniel Posesif
95
S2. Menemui Bidan Ratna
96
S2. Mimpi Buruk
97
S2. Obat Penahan Rasa Sakit
98
S2. Nick Terkejut
99
S2. Menolong Jesika
100
S2. Kemarahan Nick
101
S2. Nick Yang Sebenarnya
102
S2. Jesika Keguguran
103
S2. Terima Kasih
104
S2. Melamar Jesika
105
S2. Rencana Acara Pernikahan
106
S2. Kejujuran Diki
107
S2. Satu Minggu
108
S2. Selalu Bersama - Tamat
109
Informasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!