PERHATIAN!
Sebelum membaca episode cerita novel ini, Silahkan dukung author dengan mengklik Suka ❤️, Bintang⭐, Beri Komentar pada cerita novel ini.
Jangan lupa *Mengikuti* akun author juga ya☺️ ditunggu ya dukungannya dari kalian. Karena dukungan kalianlah untuk menyemangati author menulis episode selanjutnya.
Saat ini, Jesika duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Daniel.
“Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu, Dan. Aku ingin menjadi orang pertama yang kamu lihat ketika kamu sadar nanti. Aku mencintaimu, Daniel. Sangat, sangat mencintaimu.” ucap Jesika menatap wajah pucat Daniel yang masih setia menutupi kedua matanya dan dirinya dibantu oleh beberapa peralatan medis yang melekat di bagian tubuhnya.
“Semua usahamu itu sia-sia saja, Jesika.”
Jesika menoleh ke arah Budi. “Apa maksud kamu, Bud?” tanya Jesika selidik.
Budi tersenyum tipis. “Kamu tidak perlu berpura-pura baik di depan semua orang lagi, Jes. Aku sudah tahu kebusukan hati kamu. Bahkan, aku juga tahu rencana kamu yang ingin menghancurkan hubungan Daniel dengan Dissa. Aku tidak menyangka kamu sekeji itu terhadap temanmu sendiri, Jes.” ucap Budi berjalan ke arah Jesika dengan tatapan tajam bak elang di hadapan Jesika.
Jesika yang mendengar semua ucapan Budi yang mengetahui semua rencana kebusukannya itu, takutnya nanti Daniel tiba-tiba sadar dan mendengar percakapan mereka, Jesika bergegas menarik tangan Budi ke sudut tenda.
“Kamu tidak tahu seberapa lama aku memendam perasaan ini, Bud. Sudah sangat lama. Bahkan, jauh sebelum Dissa mengenal Daniel. Apa aku salah jika masih mencintai Daniel?” ucap Jesika menatap wajah datar Budi.
Budi menghela napas kasar. “Tentu saja salah, Jesika! Kamu, kan tahu mereka akan menikah. Kenapa kamu masih mencintai Daniel? Seharusnya, kamu buang rasa cinta kamu itu sejauh mungkin. Biarkan Daniel bahagia dengan pilihan dia sendiri.”
“Cinta ini sudah mengakar hingga ke lubuk hatiku yang terdalam, Bud. Aku tidak bisa merelakan Daniel dengan wanita lain. Aku mencintai dia dan akan membuat dia mencintai aku. Jadi, kamu jangan ikut campur urusan aku!” jelas Jesika yang bersikeras untuk merebutkan Daniel dari genggaman Dissa.
“Mau sekeras apa pun usaha kamu memperjuangkan perasaan kamu, percuma saja, Jes. Daniel tetap mencintai Dissa.” bujuk Budi menatap wajah Jesika.
“Aku tidak peduli! Aku akan menghancurkan siapa pun yang menghalangi rencanaku, termasuk kamu, Bud.” bentak Jesika tidak terima dengan sikap Budi yang lebih memilih mendukung Dissa daripada dirinya.
Budi geram. Ia mencengkeram lengan Jesika. “Tidak akan kubiarkan kamu melancarkan rencanamu itu, Jesika!”
Jesika mengempas tangan Budi. “Aku tidak takut dengan ancamanmu, Bud!” ucap Jesika pergi ke luar tenda.
Ketika Budi akan menyusul Jesika, salah satu rekannya meminta dia untuk memeriksa para korban. Budi pun mengurungkan niatnya dan melangkah pergi bersama rekannya itu.
***
Sementara di dalam kamar, Dissa duduk termenung di pinggir jendela kamarnya. Sudah beberapa hari ini, dia tidak keluar kamar. Hal ini membuat Dedi dan Dila (orang tuanya Dissa) menjadi khawatir.
“Apa yang harus kita lakukan, Ded? Kita tidak bisa hanya berdiam diri melihat Dissa seperti ini. Tidak lama lagi dia akan menikah,” ucap Dila menatap wajah tampan suaminya.
“Aku juga bingung, Dil. Kita tidak tahu apa pokok permasalahan yang membuat dia melamun terus. Setiap kita menanyakan penyebabnya, dia selalu bungkam dan menyendiri di kamar,” balas Dedi.
Dila menghela napas panjang. “Aku akan coba bicara dari hati ke hati. Mungkin saja dia mau cerita ke aku.” saran Dila.
“Ya, semoga saja, Dil. Kamu, ‘kan ibunya. Dia pasti lebih terbuka dengan kamu dibanding aku.”
“Aku masuk dulu, ya.” Dila menghampiri Dissa. “Sayang, kita sarapan dulu, yuk! Kamu sudah tiga hari tidak mau makan. Mama tidak ingin kamu sakit, apalagi kamu akan menikah satu bulan lagi. Kamu harus menjaga kesehatan kamu.” bujuk Dila yang berdiri di hadapan Dissa.
Dissa menggeleng pelan. “Aku tidak selera makan, Ma.” ucap Dissa yang masih menatap ke arah luar jendela.
“Sebenarnya, apa yang membuat kamu jadi seperti ini, Dissa? Cerita ke Mama. Papa dan Mama sangat mengkhawatirkan keadaan kamu.” ujar Dila yang menatap sedih keadaan anak gadinya yang terlihat kusut tak terurus.
“Daniel, Ma,” jawab Dissa dengan mata yang berkaca-kaca. “Dia ... sudah berselingkuh dengan wanita lain.” ucap Dissa mengadu keluh kesah hatinya di hadapan mamanya.
Dila terkejut. “Kamu tahu dari mana, Sayang? Jangan berprasangka buruk kepada calon suamimu! Apa kamu punya bukti?” tanya Dila selidik.
“Seseorang mengirim foto-foto Daniel sedang bermesraan dengan seorang wanita DNS wanita itu adalah Jesika, Ma. Dia yang selalu mengambil seseorang yang berharga di hatiku dan sekarang dia melakukan hal yang sama padaku. Hiks... hiks... hiks... Hati aku sangat hancur, Ma. Aku coba telepon Daniel, tetapi nomornya tidak aktif. Di saat hari pernikahan kami yang semakin dekat, Daniel sudah menunjukkan bahwa dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Dia,” tangisan Dissa semakin kencang, “tidak mencintaiku lagi, Ma.” ucap Dissa lagi.
Dila terenyuh mendengar tangisan Dissa yang begitu pilu, lalu menarik tubuh Dissa ke pelukannya. Dia mengusap-usap punggung Dissa dengan penuh kasih sayang. “Sabar, ya, Sayang. Mama yakin Daniel bukan tipe pria yang seperti itu. Mungkin ada seseorang yang tidak menyukai hubungan kalian berdua sehingga dia mengirim foto-foto itu untuk membuatmu sedih dan cemburu. Mama sarankan kamu cari tahu dulu kebenarannya, Sayang. Setelah itu, kamu baru boleh menyimpulkannya.” ucap Dila menenangkan Dissa agar menjadi tegar.
“Maksud Mama, foto-foto itu hasil sebuah kesengajaan dari seseorang?” tanya Dissa menatap wajah mamanya.
Dila mengangguk. “Ya. Mungkin saja, kan?”
Dissa menyanggah pendapat Dila, “Itu tidak mungkin, Ma. Foto-foto yang aku terima itu bukan hasil editan atau rekayasa seseorang, melainkan foto asli. Mama lihat ini.” Ia menunjukkan foto-foto Daniel yang dikirim ke ponselnya.
Semua foto yang ditunjukkan Dissa membuat Dila menelan pil pahit bahwa Daniel benar-benar menduai hati putri tunggalnya.
“Untuk sementara waktu, kamu tanyakan kepada pihak rumah sakit terkait kabar Daniel. Mungkin saja mereka tahu yang sebenarnya.” saran Dila.
“Untuk apa aku meminta penjelasan mereka, Ma? Semua bukti ini sudah cukup menjelaskan bahwa hubungan kami harus berakhir.” ucap Dissa mulai frustasi dengan masalah yang di hadapinya saat ini.
Dila segera menghentikan niat Dissa yang akan beranjak dari tempatnya. Dia menyentuh pundak Dissa. “Kamu mau ke mana, Sayang? Dengarkan Mama! Oke, Mama tidak tahu mana yang benar dan salah. Mama hanya bisa menduga-duga. Pesan Mama, kamu jangan berprasangka buruk dulu kepada Daniel! Terus hubungi Daniel, lalu tanyakan soal foto-foto itu dan kita dengar apa pendapat dia.” jelas Dila panjang lebar.
“Mau sampai kapan aku harus menghubungi dia, Ma? Sudah beberapa hari, aku terus mencoba menelepon dia. Hasilnya tetap sama. Bahkan, dia tidak pernah sekali pun balik menelepon aku sejak dia berada di sana. Apa dia tidak merindukanku? Apa dia tidak mencemaskan keadaanku? Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Lama-lama, aku merasa seperti pungguk merindukan bulan. Aku merindukan Daniel, tetapi tidak terbalaskan.” ujar Dila menatap kedua bola mata mamanya yang berada duduk di hadapannya.
...*******Jangan Lupa dukung cerita ini ya, dengan cara mengklik vote, rate, like dan beri komentar ya pada cerita ini*****...
...*****Untuk mengetahui episode selanjutnya silahkan follow aku juga ya supaya aku lebih semangat up ceritanya*******...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
blackonix_29
Dengarkan saja mamamu Dissa, mamamu sudah berpengalaman dan cukup tahu mengenai hubungan, hrsnya, nanti kamu nyesel lho pas tau yg sesungguhnya
2021-02-20
0