"Di kelas ini, ada dua orang yang saya beri tugas tambahan. Namun pada saat pengumpulan, kenapa hanya ada satu tugas tambahan. Siapa yang belum mengumpulkan? Silakan mengaku dengan angkat tangan!" Edric sebenarnya sedikit enggan jika harus bersinggungan dengan Luna. Entah mengapa, saat melihat Luna saja ia langsung teringat akan permasalahannya dengan istrinya. Namun ia harus profesional dalam bekerja.
Dalam hatinya, Edric merutuki gadis itu yang selalu membuat masalah. Di saat Edric ingin mengabaikannya, Luna malah sengaja tidak mengumpulkan tugas. Mau tidak mau, Edric harus mengajak Luna berbicara, dan menghukumnya di kelas.
"Yang mendapat tugas tambahan kemarin siapa saja?"
Entahlah, saat ini Edric sangat enggan menyebut nama bahkan memanggil Luna. Edric berharap, gadis itu mau mengakui kesalahannya, angkat tangan dan langsung keluar tanpa harus banyak drama.
Namun yang diinginkan Edric tidak terjadi, seluruh isi kelas ini malah terdiam. Para mahasiswa menunduk, pandangan Edric tertuju pada gadis yang sedang membenamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja sudut ruangan.
'Apa dia ini tertidur? Dengan sengaja?' batin Edric yang melihat Luna diam saja.
"Ayo sebelum saya panggil, lebih baik kalian mengaku saja!" Edric berjalan ke arah bangku belakang kelas.
Rina tak bisa menatap dosen yang saat ini berjalan ke arahnya, dia sangat tahu, mahasiswa mana yang dimaksud oleh dosen killer itu.
"Sebagai teman yang baik, siapapun itu, coba tolong diingatkan temannya!" Sangat jelas Edric memerintahkan Rina untuk mengingatkan Luna.
Dengan menggunakan siku dan ujung kakinya, Rina menyenggol-nyenggol ke arah kanan, agar Luna segera angkat tangan. "Pssst! Lun-Luna!"
"Apa sih, Rin diem coba! Aku takut nih!" Luna dan Rina berbisik-bisik.
Akhirnya Edric sampai di depan bangku Luna. Dengan sangat Enggan, Edric harus memanggil gadis itu. 'Ini demi profesionalitas kerja!' begitu dalam hatinya berkata.
"Luna!" Satu kata dari suara bariton yang membuat jantung Luna berdetak kencang, dan saat itu juga otaknya seakan berhenti bekerja.
"Luna!" Suara itu terdengar lebih keras lagi.
Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya.
Kali ini, Edric tak bisa bersabar lagi. Suaranya menjadi semakin keras saat memanggil Luna. "Luna!"
"Eh iya, Pak! Maaf saya belum punya jawabannya, saya belum siap jadi istri kedua Pak edric!" jawab Luna dengan kata-kata super cepat.
"Hahahaha!" Satu kelas tertawa begitu riuh mendengar jawaban spontan Luna.
Namun berbeda dengan Edric, dia terlihat sangat kesal. Di saat dia sedang ingin menghindari ingatan tentang itu pada Luna, gadis itu malah sengaja menyebutkannya dengan gamblang di dalam kelas.
"Apa maksudmu, Luna? Saya tanya tugas tambahan yang waktu itu saya berikan padamu, apa sudah kau kerjakan?" Pertanyaan itu membuat suara gelak tawa yang tadi begitu riuh menjadi hilang dan kelas kembali sepi.
Luna sangat kikuk dan merasa sangat malu karena dia sudah keceplosan mengatakan hal tersebut. 'Aduh bagaimana ini?' Luna memukul-mukul mulutnya.
Gadis itu melihat ke sekeliling dengan celingukan, teman-temannya masih menahan tawa dan kepalanya menunduk. 'Sepertinya mereka hanya anggap sebagai candaan saja perkataanku!'
"Maaf, Pak! Saya sudah kerjakan waktu itu, tapi saya lupa kumpulkan tepat waktu." Luna berusaha membela diri. Bagaimanapun juga, penyebab ia tak mengumpulkan tepat waktu adalah karena Edric memanggilnya waktu itu.
"Baiklah, setelah kuliah ini, kamu ke ruangan saya!"
"Baik, Pak!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Dwi Niken
Oneng oneng Luna 😁😁😁😁😁😁
2021-05-20
0
DesisetyoAnggrahini
luna..luna lucu 😄😄😄
2021-04-11
0
Fasaddams
😂😂😂😂😂
2021-03-12
0