"Tidak bisakah kamu untuk tidak membahasnya sekarang? Kamu hanya perlu diam sayang, biar aku yang mengerjakan semuanya!" ujar Edric sambil meninggalkan tanda di bahu Dita yang terbuka.
"Eeeuungh." Dita melenguh karena sentuhan yang diberikan Edric. "Tapi kau harus janji!"
"Apa itu?" tanya Edric sambil tetap mencumbu pada istrinya.
"Kau harus mau tes kesuburan besok di rumah sakit." Dita memberikan syarat.
"Fine sayang, apapun itu untuk bercinta denganmu malam ini." Edric sudah bergelut dengan gairah, nafsunya sudah tak bisa ia tahan lagi dan harus segera dituntaskan saat itu juga.
Hampir dua jam mereka melakukan aktivitas panas yang sarat akan birahi. Mereka berdua pun bermandikan peluh sisa percintaan berdua. Dan akhirnya keduanya tertidur pulas dengan saling berpelukan.
Edric mengedarkan pandangan ke luar jendela dari ruang kantornya. Ia selalu merasakan rindu setiap dirinya mengingat Dita. Betapa wanita itu sangat dipujanya, hanya Dita yang mampu menggetarkan seluruh raga hingga merasuk ke dalam sukmanya.
Pria dengan tubuh atletis itu pun kembali duduk di kursinya. Ia membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah map coklat dari dalamnya.
"Sebenarnya, apa yang kau inginkan dari pemeriksaan ini?" gumam Edric sambil memandangi map dengan logo rumah sakit tersebut.
Edric membuka kembali surat keterangan yang berada di dalamnya. Surat yang mereka buat lima tahun lalu dan mereka dapatkan dari dokter spesialis kesuburan.
Dalam surat tersebut dinyatakan jika keduanya memiliki kesuburan yang baik dan tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki masalah infertilitas.
Hanya saja, lagi-lagi masalah ini kembali pada Tuhan Yang Maha Esa yang memberi kehidupan. 'Seandainya keluargaku tidak mempermasalahkan keturunan dari kami, mungkin aku tidak perlu melibatkan orang lain dalam rumah tangga ini.' Edric merenungi jalan rumah tangganya.
Sebuah getaran terdengar dari saku celana Edric, ponselnya menerima panggilan. Pria itu pun segera mengambil dan mengangkatnya.
"Halo sweetheart?" Sapa Edric pada orang yang meneleponnya, siapa lagi jika bukan Dita.
"Bagaimana sayang? Sudah bertemu Luna?"
"Aku sudah berbicara dengan Luna, sesuai dengan permintaanmu."
"Bukan permintaanku seorang sayang, ini juga demi kelancaran rencana kita. Kau sudah membuatnya menyetujui tawaran kita?"
"Emmm, ya ... sepertinya sudah."
"Ah, kau terdengar meragukan."
"Maafkan aku, Sayang."
"Sudahlah, kita bahas lagi nanti. Bisakah kau jemput aku sekarang?"
"Kau masih meeting di kantormu?"
"Aku sudah selesai, kau mau makan siang bersama?"
"Itu yang selalu kutunggu, sweetheart."
"Aku tutup teleponnya, ya!"
Mereka pun mengakhiri panggilan itu. Edric pun bergegas untuk segera menjemput istrinya yang baru selesai mengadakan pertemuan di kantornya.
Dita adalah seorang wanita pebisnis. Perusahaan yang ia miliki merupakan warisan dari Hendro, almarhum suaminya yang sangat kaya raya.
Bahkan rumah sakit tempat bapak Luna dirawat juga merupakan salah satu bagian dari kekayaannya.
Hendro sudah tidak memiliki orang tua, dia juga tidak memiliki saudara kandung. Sehingga semua aset milik Hendro dikuasai oleh Dita, sesuai dengat surat wasiat yang dibuat oleh pria itu sebelum meninggal.
Namun, meskipun Dita memiliki banyak kekayaan dari mantan suaminya itu, Edric tidak ingin aji mumpung memanfaatkan kekayaan istrinya.
Edric tetap menghormati Dita yang ingin mengelola bisnis warisan tersebut. Sementara Edric tetap pada cita-citanya sejak dulu, yakni menjadi dosen kimia di salah satu universitas ternama di ibu kota.
Edric memarkirkan mobilnya di parkiran gedung perusahaan milik Dita. Pria itu pun mengirim pesan pada istrinya.
[Sweetheart, aku sudah sampai. Turunlah!]
***
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
lilies susanto
janda tajir tapi menyebalkan,
2022-08-24
1