Edric mengembuskan napas, ia sadar akan kesalahannya. Ia memegang dahinya dengan tangan yang bertumpu pada meja.
"Maaf, Edric." Dita menyentuh bahu suaminya yang sedang menunduk.
Edric terdiam untuk beberapa saat.
Sementara itu, air mata Luna mengambang di pelupuknya. Entah mengapa ia merasa sedih melihat Edric marah hanya karena Dita mengajaknya kemari, apa karena keberadaannya? Meski tak jelas suara Edric di telinga Luna, namun ia masih bisa merasakan aura kemarahan seorang Edric Adellard pada istrinya.
Luna pun menyelesaikan satu buah lagu. Dia pun lekas berdiri dan membungkukkan badan untuk memberi salam hormat. Luna pun bergegas pergi.
"Lun, Luna?" Pak Hasan mengejar Luna yang tiba-tiba berhenti.
Sementara itu pasangan Edric - Dita.
"Sudahlah!" Edric pun berdiri saat menyadari Luna sudah tak ada lagi di balik piano.
"Mau ke mana sayang?" tanya Dita.
"Kita pulang!" ajak Edric.
"Aah, emm ... baiklah!" Dita pun ikut berdiri mengikuti suaminya.
Perempuan itu pun naik mobil bersama suaminya. Edric duduk di balik kemudi, dan Dita di sebelahnya.
Setelah mereka berdua naik dan memasang sabuk pengaman, Edric tidak segera menyalakan mesin mobilnya. Ia mengubah posisi duduknya dengan menyamping, dan melihat ke arah istrinya.
"Jujurlah padaku, sayang. Apa kau memiliki tujuan lain saat membawaku kemari?" Edric menatap intens pada istrinya.
Dita menghindari tatapan suaminya. "Hmmm," jawab Dita yang memberi banyak arti bagi Edric.
"Katakan padaku! Apa benar perkataanku tentang Luna?" tanya Edric.
"Kalau iya memangnya kenapa? Aku hanya ingin melihat reaksi gadis itu saat kamu melihatnya bernyanyi, itu saja!"
"Lalu, kalau dia ternyata santai saja seperti tadi, kau mau apa?"
"Dia tidak santai, Edric! Sebagai seorang perempuan, aku tau dia mulai berkaca-kaca di akhir penampilannya saat ia mau turun panggung." Dita tersenyum miring.
"Lalu kalai dia hampir menangis, kenapa? Kau senang membuat orang lain seperti itu, apa sih keinginanmu, Dita?" Edric mulai tampak kesal.
"Keinginanku? Buktikan kalau spermamu itu juga berfungsi dengan baik! Hamili dia! Jika kau berhasil menghamilinya, maka aku akan percaya padamu. Tapi jika kau tidak berhasil menghamilinya, jujurlah pada keluargamu! Jangan biarkan mereka menyalahkan aku lagi!" Dita menatap tajam pada Edric.
Edric mendengar semua keluhan istrinya selama ini, Dita sering disalahkan oleh keluarganya sebagai pihak yang tidak subur. Edric tahu, sebagai perempuan, Dita pasti tersinggung. Namun ia tak menyangka, jika rasa sakit hatinya Dita membuat istri Edric itu melakukan hal gila seperti ini.
Edric melirik ke luar mobil, ia takut ada orang yang mendengar percakapan mereka.
"Baiklah, kita bahas masalah ini di rumah!" Edric pun melajukan mobilnya meninggalkan kafe tersebut.
Sementara itu, di bagian belakang kafe. Luna sudah mengganti bajunya dengan baju pelayan, gadis itu siap untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Luna!" panggil pak Hasan.
Gadis itu menoleh pada orang yang memanggilnya. "Kenapa, Pak?"
"Ke mana tamu spesial kita pergi? Lalu, kamu juga tadi saya lihat tiba-tiba turun dari panggung, ada apa?" tanya pak Hasan.
"Oh tidak, Pak. Saya hanya melihat tamu spesial kita sudah bersiap untuk pulang, jadi saya juga menyelesaikan permainan saya." Luna beralasan.
"Hmmm, begitu? Saya kira tamunya ada komplain, saya terkejut."
"Tidak, Pak!" jawab Luna sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Hasan pun pergi meninggalkan Luna. Gadis itu segera mengembuskan napasnya.
'Duh, hampir saja! Lagi pula, kenapa tadi aku merasa sakit hati, ya? Melihat pak Edric dan istrinya?' Luna memegang dada sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu tampak sedang meyakinkan diri, sebenarnya apa yang terjadi pada hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
lilies susanto
jangan ada rasa ntar sakit banget🥺
2022-08-24
2
IG : Chocollacious
semangat kak, nyicil sampai disini dulu
2021-01-07
2