"Hahaha, semua orang menanyakan itu. Tentu betul sekali, mungkin jika melihat penampilanku, orang tidak akan percaya. Aku melakukan beberapa treatment di Korea. Bahkan, wajah ini juga yang membuat Edric jatuh cinta padaku." Dita memberi senyum manisnya, yang memang siapapun bila melihatnya pasti akan merasa Dita ini sangat cantik.
Luna sendiri sebagai seorang perempuan mengakui kecantikan wanita di hadapannya ini. 'Apa treatment yang ia maksud itu, operasi plastik?' Luna melamun. 'Ah, hus hus. Jangan bersu'udzon pada orang lain.' Luna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu sedang memikirkan apa, Luna?" nyonya Dita menatap penuh selidik.
Luna menggelengkan kepalanya.
"Jangan-jangan kamu berpikir saya melakukan operasi plastik di Korea, ya?" Tebakan Dita sangat tepat sasaran.
Luna terperanjat, dia benar-benar terkejut.
"Hahaha! Kamu ini, jadi benar kau berpikir demikian?" tanya Dita sambil menertawakan.
Luna menunduk, ia tersipu malu. "Maaf, Nyonya."
"Tidak perlu minta maaf, itu wajar bila kau berpikir demikian. Tapi asal kau tau, Luna. Kondisi yang sedang menderita penyakit keras ini, mana mungkin bisa operasi plastik." Dita meyakinkan Luna. "Tapi, jika kau tak percaya, itu tak masalah buatku. Yang penting, kau setuju dengan tawaranku?" tanya Dita lagi.
Luna menunduk, ia gelisah dengan pikirannya. Bagaimana ia harus memutuskan? Luna nampak bimbang.
"Tiga hari!" tegas Dita. "Saya beri kamu waktu tiga hari, ini kartu nama saya. Bagaimanapun keputusanmu, beritahu saya dalam tiga hari!" Dita menyodorkan sebuah kertas yang seukuran dengan KTP milik Luna.
"Dan satu lagi!" ujar Dita yang membuat Luna mendongak, jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang tawaran saya padamu. Aku juga sudah memberi tahu orang tuamu, agar tidak menyebarkan hal ini. Aku takut ada banyak orang yang menyelidiki, dan akhirnya mereka tahu atas keadaanku," lanjut wanita berparas jelita itu.
***
Luna berjalan di koridor rumah sakit. Dia memainkan jarinya seperti sedang menghitung-hitung sesuatu.
"Dua puluh milyar! Dua puluh milyar! Buat biaya rumah sakit bapak, paling seratus juta. Kuliahku, cuma lima puluh juta malah. Buat beli rumah, mobil, naik haji ibu-bapak!" Luna menghentikan kata-katanya.
"Aduuuh! Mana mungkin aku menerima tawaran ini, meski hadiahnya sangat besar!" Luna menjadi bimbang lagi, dia menatap pintu tempat ruang rawat bapaknya, namun ia tidak memutuskan untuk langsung masuk. Luna memilih untuk duduk di bangku rumah sakit yang berada di depan ruang rawat bapaknya.
Gadis itu memain-mainkan kakinya. "Tapi, apa benar bapak akan sembuh hanya dengan perawatan rumah sakit ini?" gumamnya.
"Luna ...?" Lilis, ibu Luna keluar dari ruang rawat, dia agak terkejut ketika mendapati anak gadis semata wayangnya berada di depan. "Sudah selesai ngobrol dengan nyonya Dita?" Suaranya terdengar khawatir.
Luna mengangguk, mengiyakan pertanyaan ibunya. "Ibu mau pergi ke mana?" tanya Luna.
"Mau cari angin aja, bapak sedang tidur, ibu bosan!" ungkap wanita paruh baya itu.
"Bu, usia ibu beneran udah 43 tahun?" tanya Luna tiba-tiba.
"Kok kamu nanya gitu, emang aneh kalau ibumu ini umur segitu? Anak ibu aja sudah 21 tahun lo, ya wajar ibunya sudah setua ini." Lilis menanggapi pertanyaan putrinya dengan tersenyum.
"Luna bukan nggak percaya sama ibu, tapi nyonya Dita. Ibu tebak berapa usia nyonya Dita?"
"Ya, sekitar 32 - 33 tahun lah, suaminya juga nggak beda jauh deh. Bener kan?"
"Hmmm, nyonya Dita umurnya 48 tahun, Bu. Bahkan lebih tua dari ibu."
***
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Adreena
Jangan2 eldric hidup di bawah tekanan...kok bisa menikah SM dita
2023-03-05
0
lilies susanto
jiwa miskinku meronta mendengar 20 m😅
2022-08-23
0
Andang All Iclas
disini penulis yg terlalu pinter,dosen aja' jadi bego
2022-08-16
0