"Aleta nggak suka sama Tante Monica ma". kata Aleta lirih.
"kalo nggak suka, nggak usah di lihat sayang, anggap aja nggak ada". Senyum kecut terukir di bibir Raina, belakangan ini dia jarang tidur satu kamar dengan Allan, Bu Lidya dan pak William memutuskan untuk tinggal di Malang setelah pak William pensiun beberapa waktu lalu, mereka ingin menghabiskan masa tua dengan tenang, dan akan kembali ke rumah utama nanti saat Raina dan Allan memberi adik untuk Aleta.
-
LED clock di dinding menunjukkan pukul 18. 30, Raina yang telah bersiap sesuai permintaan Allan memakai dress hitam selutut tanpa lengan, simple, namun elegan, tak lupa dia juga menyiapkan pakaian untuk Allan, sebuah kaos turtle neck dan setelan jas berwarna abu-abu gelap. Raina sangat suka ketika melihat suaminya berpenampilan seperti itu.
Tak lama setelah menyiapkan semuanya, Raina kembali ke kamar Aleta, menyisir rapi rambut anak gadisnya, Aleta tampak cantik dengan rok tutu hitam dan atasan brukat abu-abu senada dengan ayah dan ibunya.
"hai Raina, halo Aleta, rapi banget, mau kemana?" Monica bersandar di pintu kamar Aleta.
Raina menulikan telinganya, dia enggan menanggapi pertanyaan Monica, baginya, Monica adalah sebuah jurang pemisah antara Raina dan Aleta untuk berada di sisi Allan, Monica adalah penyebab dari hancurnya masa depan Raina, jika saja dia mampu menjadi ibu yang baik bagi Aleta, kesengsaraan ini tidak akan di alaminya.
"hei, punya telinga nggak sih ini manusia dua?" Monica meninggikan suaranya, namun Raina tetap bungkam, menutup mulutnya rapat-rapat.
"hai sayang, kamu udah pulang?" Suara Monica berubah menjadi lembut, Raina melirik ke arah pintu, Allan berdiri sambil menatap anak dan istrinya.
"kamu kenapa di sini?" tanya Allan pada Monica.
"babe, kamu nggak inget ini hari apa?" Bisik Monica dengan suara manja, lalu di tariknya dasi Allan hingga bibir mereka bertemu. Allan yang terkejut langsung mundur selangkah menjauhi kekasihnya.
"ada Aleta". Kata Allan dengan nada tinggi.
"kenapa? Aleta juga ngga liat". kata Monica.
"kamu mau ngapain kesini?" Allan berjalan menuju kamarnya dan Raina.
"babe, ini anniversary kita loh, kamu nggak inget?" rubah betina itu mengikuti Allan masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya, Raina hanya menggeleng pasrah.
"mama, Aleta benci sama papa".
"kenapa sayang?" Guratan kesedihan tampak di wajah Aleta.
"papa nggak kaya papanya temen-temen Aleta, papa jahat". gadis kecil itu mengepalkan tangan, seraya memeluk boneka kelinci kesayangannya.
"papa nggak jahat sayang, papa baik, papa beliin baju baru sama mainan buat Aleta". Raina mencoba menenangkan anak sambungnya, namun belaian lembut dan kecupan hangat sudah tidak mampu melunturkan kebencian dari gadis kecil itu, kilatan matanya masih berapi-api.
"rain, kamu sudah siap?" Allan berdiri di depan pintu, mengenakan pakaian yang telah di siapkan oleh Raina sebelumnya, dalam waktu sepersekian detik Raina hanya tertegun, menatap suami 80%nya.
"rain?" Allan mengernyitkan dahi, menyadari bahwa orang yang dia ajak bicara tidak mengindahkan pertanyaan nya.
"ah, iya mas, sudah".
"babe, seharusnya yang ikut dinner itu aku, bukan dia". Monica menghentakkan kakinya di lantai dengan kasarnya.
"semua orang tau, istri aku itu Raina, bukan kamu". Allan tampak malas meladeni Monica, gadis cantik itu terus bergelayut di lengan Allan , lipstiknya tampak belepotan dan tali tipis dres merah satin yang dia pakai melorot sebelah.
"aku tunggu kamu di kamar ya, cepetan pulang".sebelum keluar, Monica mencium bibir Allan sekilas, pria itu tampak terkejut, dia menatap putrinya yang mengintip dari balik kaki Raina.
"mas, cukup !! kalau memang kalian mau pergi berdua silahkan, tapi jangan pernah kalian tunjukkan hal menjijikkan semacam ini di hadapan Aleta". Raina mencengkeram kaos yang di pakai Allan tepat di bagian dada, jarak mereka begitu dekat.
"kamu cemburu?" Allan menatap bulir air mata yang hampir jatuh di mata Raina, air mata yang telah dia tahan sejak menyadari kehadiran Monica.
"aku?" Raina menyungging senyum di sebelah bibirnya, tanda hinaan untuk Allan suaminya.
"bagus kalau kalau kamu tidak cemburu, karena memang bukan hak kamu untuk cemburu". Seketika, senyum di bibir Raina hilang, tatapan matanya nanar, melihat punggung Allan yang telah berbalik menuju kamar mereka tempat di rubah betina bersemayam.
Hening
Hanya deru nafas Raina yang bersautan dengan suara pendingin ruangan yang terdengar, Aleta menunduk dengan tatapan kesedihan, Raina menyesal, kenapa dia telah menikah dengan pria tidak berperasaan semacam allan.
"rain, satu menit lagi saya tunggu di depan". Pria itu kembali, di bibirnya terlihat jelas noda lipstik berwarna merah terang.
Raina mengikuti Allan dengan menggandeng Aleta, di tangannya terdapat beberapa helai tisu. Allan berhenti, mencoba meraih Aleta untuk menggendongnya,gadis itu beringsut, mengambil langkah mundur menjauhi papanya.
"kenapa dia rain?"
"kamu menyakiti hatinya". bisik Raina sembari mengusapkan tisu pada bibir suaminya. Allan tidak menolak. "hapus ini, aku malu jika nanti client-mu mengira itu perbuatan ku". lanjutnya.
Allan melanjutkan penghapusan bukti ciuman panasnya dengan Monica, dia melirik Aleta, gadis kecil itu membuang pandangan ketika Allan menatapnya, padahal akhir-akhir ini hubungan mereka telah membaik berkat Raina.
"Aleta, mau papa gendong?" tawar Allan sambil merentangkan kedua tangannya di depan Aleta, namun sekali lagi, penolakan di tunjukkan dari sikap Aleta, gelengan kecil mempertegas bahwa dia kecewa dengan papanya.
Allan putus asa, dia berjalan menjauh, tangannya menarik rambutnya sendiri, terlihat jelas bahwa ada kebimbangan yang berkecamuk di hatinya saat ini. Raina segera menyusul langkah panjang suaminya, Aleta dengan setia menautkan tangannya dengan sang mama.
"maafkan aku rain". Kata keramat itu meluncur dari bibir Allan, jika biasanya Allan akan marah bila Raina dan Aleta tidak bertindak sesuai keinginannya namun kali ini dia benar-benar menyadari kesalahannya, dia meminta maaf terlebih dahulu, satu hal langka yang mungkin akaan Raina dengar seumur hidup sekali.
"untuk apa?"
"untuk semuanya". Allan menunduk, menatap Aleta yang menyembunyikan wajahnya di pangkuan Raina.
"minta maaf saja pada Aleta". Pandangan Raina menerawang ke luar jendela.
"Aleta, maafin papa ya". Allan merengkuh Aleta dalam pangkuannya dalam sekali gerakan, membuat Aleta tidak memiliki kesempatan untuk melawan.
"liat papa, jangan nunduk terus". lanjut Allan, Aleta mengangkat wajahnya, menatap pria yang dia panggil papa itu dengan malas.
"Aleta marah sama papa?" lanjutnya sembari mencium dahi Aleta yang di tutupi poni.
"Aleta benci kalau papa sama Tante Monica !!"
"kenapa?"
"seharusnya papa sayang sama mama dan Aleta, seperti papanya Bilqis, papanya Zora, papanya Ello,pokoknya papanya temen-temen Aleta, tapi papa sayangnya sama Tante Monica".
Deg
Allan terpaku, tidak tau harus menjawab apa pada perkataan anaknya, dia hanya memeluk Aleta, bersembunyi di balik rambut panjang anaknya.
"papa nangis?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
sihat dan kaya
air mata buaya tu C Allan.... sikit² nangis ... konon sedih.... tp tak insaf²... pooodhaaaa
2024-07-04
0
sherly
papamu gatel
2023-05-26
0
Enita Triana
move on dong lan
2021-08-21
0