"selamat pagi pak". Raina memberanikan diri menyapa seorang polisi yang terlihat garang.
"ada apa?" jawab polisi gendut dengan ketus.
"ini pak, pak William kemarin di rampok terus sekarang kesasar sampai sini".
"di rampok?" polisi gendut tadi melihat pak William dari ujung kepala sampai kaki, melihat pakaiannya yang mengenaskan.
"iya pak, tolong bantu pak, beliau ingin pulang ke Situbondo". Raina memohon pada ke dua polisi tadi.
"bantu saya pak, tolong sambungkan saya pada Polda Jatim".
"Polda? ngapain telpon Polda? ngga usah aneh-aneh lah pak". kata polisi tinggi kurus teman si polisi gendut.
"tolong hubungkan saja, bilang bahwa William Sebastian ada di sini". kata pak William dengan nada tegas, berbeda saat berbicara dengan Raina.
Ke dua polisi tadi mengacuhkan Raina dan pak william, malah tertawa sembari melihat Cewek ABG pamer **.
"pak, permisi, bisa bantu pak William?"
"apa sih, udah sana pulang, orang gila kaya dia nggak usah di ladenin, nanti kamu ketularan". polisi gendut menggerakkan dagunya ke arah pak William.
"pak, saya buat iklan di Instagram aja ya, siapa tau keluarga bapak nyariin". ucap Raina memberi saran.
"jangan rain, nanti banyak kekacauan kalo semua orang tau bapak di rampok". jawab pak William yang khawatir.
"kenapa pak?"
"nanti bapak jelaskan rain". Raina hanya mengangguk."pak, bapak hafal nomer keluarga bapak nggak?" lanjut Raina lagi.
"bapak cuma hafal nomer anak bapak rain, tapi bapak nggak yakin dia mau ngangkat telpon orang asing". pak William terlihat putus asa.
"kita coba saja dulu pak, berapa nomornya".
"0813 6245 xxx"
Tut Tut Tut
"nyambung pak, tapi belum di angkat".
Tut Tut tut
Percobaan ke dua masih sama.
"nama anak nya pak William siapa pak?"
"Allan, Allan Sebastian".
mas Allan, saya sedang bersama pak William, beliau di rampok lalu sekarang sedang bersama saya.
Raina mengirim pesan tadi kepada Allan tak lupa melampirkan foto pak William, namun tetap tidak ada balasan.
sekali lagi, Raina menghubungi nomor yang pak William berikan.
Tut..
"halo ..". Raina segera memberikan telpon ke pak William ketika di jawab oleh Allan.
"hallo Allan, ini papa, papa sekarang ada di.. rain ini dimana?"
"di kampung rawa Jakarta pak".
"kampung rawa Jakarta Al, kamu jemput papa kesini, sekarang, biar Raina mengirim lokasi kami"
"baik pa".
Pak William mematikan telpon dan meminta Raina mengirim lokasi mereka ke Allan melalui aplikasi WA.
-
Raina mengajak pak William untuk beristirahat di rumahnya, sembari menunggu Allan menjemputnya.
"silahkan pak di minum dulu, atau bapak kalau mau mandi silahkan ke belakang, nanti saya pinjami pakaian bapak saya".
"bapak mandi dulu Rain sudah 3 hari nggak mandi".
20menit kemudian, pak William dan Raina duduk di ruang tamu, pak William teringat cerita Raina yang tadi bilang bahwa dia ke kantor polisi.
"oh iya rain, kamu bilang tadi kamu ke kantor polisi, ada urusan apa?"
"Bapak saya di tangkap polisi pak, tuduhannya karena bapak saya di fitnah korupsi"
"korupsi?" pak William mengedarkan pandangan ke dalam rumah Raina, mencari adanya tanda-tanda korupsi.
"jika bapak saya memang korupsi apa mungkin kami tinggal di rumah seperti ini pak?" Raina mulai ingin menangis lagi.
"rain, bapak janji nanti setelah Allan jemput bapak, bapak akan menyelidiki kasus bapak kamu".
"benar pak?" mata Raina berbinar-binar, seolah baru saja ada keajaiban datang kepadanya.
"iya, bapak akan berusaha sekuat tenaga membebaskan bapak kamu, dan jika memang bapak kamu di fitnah, bapak sendiri yang akan menjebloskan pelakunya ke penjara". tangan pak William mengepal kuat.
"bapak sendiri bagaimana bisa sampai ke sini?"
"saat itu bapak sedang dalam perjalanan dinas ke Semarang, tiba-tiba mobil yang bapak naiki bersama ajudan bapak di rampok, bapak di buang di tengah alas Roban dalam keadaan pingsan, hanya tinggal mengenakan pakaian dalam seperti yang kamu lihat tadi, lalu bapak menumpang sebuah mobil truk hingga ke Jakarta, karena menurut bapak, di Jakarta akan lebih banyak orang, jadi lebih mudah meminta bantuan, tapi ternyata disini lebih sulit menemukan orang baik daripada di alas Roban".
"yang sabar ya pak, tapi kenapa bapak nggak dicari sama keluarga bapak".
"perkejaan bapak memang sering pergi tanpa memberi tahu keluarga rain, semacam melakukan misi rahasia".
"ah, begitu pak, resikonya ngga di cari ya pak kalo ilang". Raina sedikit tertawa, mencairkan suasana dan remuk redam di hatinya.
"iya rain, berkat kamu saya nggak jadi hilang sekarang, terima kasih rain". pak William juga ikut tertawa.
"sama-sama pak".
-
"assalamualaikum"
"walaikumsalam". Raina membuka pintu, terdapat tiga orang pria berperawakan tinggi gagah di hadapannya.
"Anda anak pak William?" tanya Raina menerka-nerka.
"iya, saya Allan, dimana bapak saya?"
"sedang istirahat di dalam, mari masuk" Raina membimbing Allan masuk ke dalam tempat bapaknya berbaring di ranjang bambu depan televisi.
"pah, papa bangun pa". Allan menggoyang pelan tubuh pak William.
"ah, Al kau sudah sampai?"
"iya pa, papa baik-baik saja?"
"papa baik Al, kenalin ini Raina yang bantu papa".
"Raina"
"Allan" mereka berjabat tangan.
Setelah mengobrol beberapa saat, Allan mengajak pak William pulang, pak William juga setuju, tubuhnya sudah terlalu lelah.
"simpan nomor saya, telpon jika aja hal penting, kasus bapak kamu, biar papa yang tangani, tenang saja". Raina mengangguk.
"rain, selama bapak kamu belum pulang, gunakan ini untuk pegangan". pak William memberikan sejumlah uang untuk rain, tapi Raina menolaknya.
"jangan pak, nggak usah, Raina ikhlas bantu bapak".
Pak William yang tidak ingin menyinggung hati Raina hanya menarik kembali tangannya. Ke iklasan Raina menyentuh hati pak William, tapi tidak dengan Allan, dalam hatinya dia berkata 'udah miskin, belagu lagi' .
"rain, bapak pulang dulu, nanti kalo ada apa-apa telpon Allan ya, semoga kita ketemu dalam keadaan baik tidak ada hal mendesak atau apapun".
"amin, hati-hati pak".
"iya rain, kamu juga hati-hati di rumah sendiri".
-
Sepulangnya pak William dan Allan, rain sedikit lebih tenang, setidaknya kini ada orang lain yang akan menyelesaikan kasus bapaknya, tapi pikiran Raina justru melenceng jauh dari masalahnya, yaitu pada Allan, laki-laki dewasa dengan umur sekitar 35an yang tampan, dewasa, namun tdrlihat dingin.
Raina menutup wajahnya, memarahi dirinya sendiri yang bisa-bisanya memikirkan laki-laki dalam keadaan seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
23. Satrio Gumelar
wih,kampung rawa jakarta,itu mah rumah masa kecil ane,sebelah mana nya mba rain
2023-09-08
0
sherly
dih itu bukan belagu Allan, itu namanya tanpa pamrih... situ aja ngk tau terima kasih Sdh ditolong msh aja buruk sangka
2023-05-26
0
Enies Amtan
sy mampir moga pas crt ny
2021-07-26
0