"iya rain, aku memang sudah gila, semenjak ada kamu yang datang dan sangat menyayangi Aleta aku menjadi gila". Allan mencengkeram lengan kecil Raina.
"apa salahku?"
"karena kamu menyadarkan aku, bahwa semua yang terjadi pada Aleta adalah salahku". Allan berkaca-kaca.
"aku bersedia membesarkan Aleta, tapi tidak dengan menjadi istrimu". Raina mencoba meloloskan diri dari Allan.
"rain, aku berjanji, aku akan membebaskan dirimu sesuka hatimu hingga nanti cinta itu tumbuh di antara kita".
"jika cinta tidak pernah tumbuh, apa yang akan kamu lakukan padaku?" Raina putus asa.
"aku akan menjadikanmu mamanya untuk selamanya". Allan hanya tidak mampu mengungkapkan perasaannya, sebenarnya dia telah memiliki perasaan kepada Raina sejak awal pertemuan mereka.
"aku tidak berminat". jawab Raina tegas.
"Aku tidak sedang membuat penawaran". tegukan terakhir dari botol minuman itu menyelesaikan percakapan mereka, Allan pergi meninggalkan Raina yang masih membatu di dapur.
-
Sepulangnya Bu Lidya dan pak William dari luar kota, Allan memberi tahu bahwa dia dan Raina telah setuju atas pernikahan itu. Raina juga sama sekali tidak membantahnya karena dia tidak tega melunturkan senyum bahagia yang ada di wajah kedua orangtuanya.
Sebelum acara pernikahan di gelar, pak William telah melakukan konferensi pers, mengabarkan tentang rencana pernikahan anak sulung dan anak angkatnya, beliau menceritakan tentang seluruh kejadian yang mempertemukan beliau dan Raina, semua orang bertepuk tangan.
Tidak lupa tentang Aleta, tentang bayi kecil yang di tinggalkan pacar Allan di depan rumah karena lahir di luar nikah. Semua orang diam, hening, namun ketika Aleta keluar dengan di gendong Allan akhirnya mereka kembali memberi dukungan dan pujian karena Allan mampu bertanggung jawab hingga putrinya tumbuh menjadi gadis yang manis.
-
Rumah megah milik keluarga William di dekorasi se demikian rupa, pelaminan super mewah di datangkan langsung dari Semarang beserta MUA kenamaan asal kota tersebut, puluhan ikat bunga beraneka ragam menumpuk di halaman untuk menghiasi pelaminan, semua orang sibuk, kecuali Aleta, Raina dan Allan, mereka berada di kamar masing-masing.
Raina tampak ayu dengan riasan pengantin Jawa, Allan menatapnya tanpa berkedip, setelah melakukan Ijab Qobul mereka duduk di pelaminan, menyalami satu persatu tamu yang datang dengan senyum palsu untuk menyenangkan hati orangtuanya. Menjelang sore Raina berganti baju dan membaur dengan tamu undangan yang hadir.
Bu Lidya sangat bahagia, melihat kedua anaknya bersanding sebagai suami istri, Aleta sama sekali tidak mau jauh dari Raina, dia mengekor kemanapun Raina pergi menemui tamu kedua orang tuanya, sedangkan Allan entah pergi kemana, mungkin bergabung dengan tamu yang merupakan relasi bisnis atau teman semasa dia menjadi seorang tentara.
Waktu di rasa terlalu cepat bagi Raina, rumah mereka telah sepi, hanya beberapa orang dari tim dekorasi yang masih lalu lalang mengatur ulang tempat pesta untuk acara resepsi tahap dua yang akan di gelar esok hari.
Di resepsi kedua, pak William dan Bu Lidya mengundang semua teman sekolah mereka, sekalian mengadakan reuni, meski usia pak William dan Bu Lidya terpaut 11 tahun tapi mereka tampak sangat serasi, saling menyayangi dan menghormati.
"rain, kamu capek?" tanya Allan ketika melihat Raina duduk sambil membersihkan sisa makeup di meja rias.
"iya".
"malam ini kamu tidur di kamar Aleta aja, besok gantian aku". Allan mengambil pakaian yang ada di lemarinya, kini dia harus berbagi lemari dengan istrinya.
"iya"
"mau aku bantu bersihin yang item-itemnya itu?" Allan menunjuk paes yang ada di dahi Raina, sebenarnya tadi orang rias pengantin menawarkan diri untuk membersihkannya, tapi Raina menolah karena ingin segera pergi dari keramaian.
"nggak usah".
"rain, kamu dosa lho udah kaya gini".
"dosa apa?" jawab Raina seolah dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di katakan Allan.
"kamu itu sekarang udah jadi istri, apapun yang kamu lakukan itu bisa terhitung ibadah atau dosa".
"maksudnya?"
"pelajari sendiri, aku juga baru menikah jadi belum paham". Allan terkikik geli.
Sudah hampir tengah malam dan Raina masih sibuk membersihkan polesan paes yang seperti tinta hitam itu.
Allan berinisiatif membantunya, kali ini Raina tidak menolak, dia sendiri sudah putus asa dengan itu. Setelah melihat tutorial di YouTube Allan mengambil sebuah sendok dari dapur, mengikis perlahan paes itu ke arah atas agar sisanya tidak jatuh di wajah cantik Raina. Dengan segera paes itu hampir bersih, Raina bisa bernafas lega.
Setelah mandi, Raina segera keluar untuk pergi ke kamar Aleta, tapi ternyata di sana ada Bu Lidya, entah kenapa beliau ada disana. Raina berniat pergi ke kamarnya yang lama, tapi kamar itu juga sudah di gunakan oleh sahabat Bu Lidya semasa sekolah yang datang dari luar kota, semua barang Raina yang tidak seberapa banyak juga telah di pindah ke kamar Allan.
"kenapa balik lagi?" Allan heran ketika melihat Raina masuk kamarnya dengan menggigit bibir bawahnya.
"mama di kamar Aleta, kamar lamaku di pakai tamu mama". sorot mata Raina terlihat putus asa.
"ya sudah kamu istirahat di sini, aku ke bawah mau ngopi". Allan beranjak pergi, sepertinya dia mau menjaga janjinya pada Raina.
"terserah". Raina duduk di sofa, melihat HPnya di penuhi ucapan selamat oleh teman-teman kuliahnya.
Raina tersenyum getir, dengan pernikahan ini, dia di keluarkan dari kampusnya, di DO karena dianggap melanggar peraturan dasar kampusnya.
OK, mulai sekarang dia tidak memiliki masa depan, yang harus dia lakukan adalah mengikuti alur permainan Allan.
Malam ini, dia tidur di tepi ranjang, tangannya memegang erat selimut untuk untuk menutup mulutnya, meredam Isak agar tak bersuara.
"Al, kok kamu di sini, kamu nggak menemani Raina?" tanya pak William saat melihat putranya duduk di kursi taman belakang sendirian.
"Allan belum ngantuk pa".
"apa ada sesuatu?"
"nggak pa, Allan sama Raina baik-baik saja".
"kenapa kalian tidak melakukannya? dulu aja waktu sama Valerie nyosor sampe keluar Aleta". pak William menggoda putra semata wayangnya.
"ah papa, besok masih ada resepsi kasian Raina kalo kecapean".
"ah baiklah, papa tidur dulu, kamu masuklah, angin malam tidak baik untuk kesehatan". pak William menepuk pundak putranya.
Jam 2 malam Raina terbangun karena panggilan alam, dia melihat keadaan kamar yang gelap, dia membuka selimutnya, mengintip pakaiannya yang ternyata masih lengkap. Matanya tertuju pada Allan, laki-laki itu tidur di atas sofa dengan celana pendek dan sweater, Raina yang tidak tega lantas menyelimuti Allan seperti saat di rumah sakit waktu itu.
Raina tidak bisa tidur lagi, matanya melirik kiri kanan, mengambil HPnya untuk melihat dunia luar, dia menemukan film Korea yang dulu dia sukai, judulnya My Little Bride. Film tentang seorang laki-laki bernama Park sang min yang di jodohkan dengan gadis kecil bernama suh boen yang usianya selisih sekitar 10 tahun, mereka di besarkan bersama seperti saudara, karena kakek mereka bersahabat. Hampir sama dengan kisahnya dengan Allan, tapi apakah kisah mereka juga memiliki akhir yang sama? biarkan waktu yang menjawab.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Ana Khadijah
pengantennya korea rasa jawa ayu tenan
2021-01-09
3
An-nur
ini sebenernya rumah pak william situbondo apa semarang sih
2021-01-06
1