Bunyi bel rumah membuat jantung Raina berdebar, lima menit yang lalu Johan mengirimi dia pesan bahwa Johan telah sampai pada persimpangan jalan yang mendekati rumahnya.
Sekali lagi Raina mematut diri, melihat tubuhnya yang terbalut dress abu-abu gaya vintage selutut dengan kerah dan kancing sampai bawah.
"apakah aku tidak terlihat tua?" kata Raina pada dirinya sendiri, baju itu adalah pilihan Bu Lidya tadi.
"rain, sayang, itu Johan sudah datang nak". Panggil Bu Lidya dari luar pintu, Raina segera keluar setelah memakai lip balm yang membuat bibirnya berwarna pink alami.
"iya ma".
"nah kan, mama bilang apa, kamu cantik pakai baju model begini, yuk turun Johan udah nunggu".
Raina dan Bu Lidya menuruni tangga berdua, ternyata pak William telah terlebih dahulu menyapa Johan sebelum pergi.
"rain, bapak sama mama pergi ya, kamu baik-baik dirumah, abangmu masih di atas itu". kata pak William.
"iya pak". Raina mengangguk sambil mengulas senyum semanis mungkin.
"nak Johan temani Raina ya, Tante sama om pergi dulu".
"iya om, Tante, hati-hati di jalan".
Kini, hanya tinggal Raina dan Johan yang ada di ruang tamu, Rasa canggung menyelimuti keduanya.
"katanya mau pergi sama pacarnya". jawab Raina.
"masih sama Monica?" tanya Johan pada Raina.
"kakak kenal?"
"dulu kita temen satu SMA". kata Johan dengan senyum ceria.
"Tante rain..". Aleta yang datang ke ruang tamu dari arah dapur langsung memeluk Raina.
"siapa rain?"
"ini keponakanku kak, namanya Aleta".
"Aleta, beri salam sama om". Lalu Aleta menyalami Johan dengan malu-malu.
Beberapa saat kemudian Aleta mulai akrab dengan Johan, bahkan tidak segan-segan duduk di pangkuannya untuk menonton film cartoon yang di putar Johan di hpnya. Raina yang melihat itu tersenyum tulus, Aleta yang tidak pernah mendapat perhatian dari papanya terlihat nyaman di pangkuan Johan.
Derap langkah Monica terdengar mendekat, ujung Hellsnya beradu dengan ubin, menimbulkan suara yang menggangu. Raina, Johan dan Aleta menoleh bersamaan. Monica membawa sebuah totebag berlogo coklat merk luar negeri yang mewah.
"Jo, kenapa di sini?" tanya Monica dengan tatapa. mata heran, lalu duduk di sofa yang bersebrangan dengan mereka bertiga.
"ketemu Raina". jawab Johan dengan ketus.
"oh.. rain, Allan masih di atas?"
"iya mbak".
"haii princes Aleta sayang, ini Tante bawakan coklat, makannya satu-satu ya sayang, nanti gigi kamu keropos". kata Monica mendekatkan wajahnya pada Aleta, sedangkan Aleta malah mundur merapat ke dada Johan. "rain, pastikan Aleta sehari jangan makan lebih dari dua, kadar gulanya terlalu banyak".
"iya mbak, Aleta juga nggak terlalu suka coklat kok".
"ya sudah, aku naik dulu ya, mau ketemu pacarku dulu". Monica beranjak pergi setelah menyadari kehadirannya tidak hi harapkan oleh ketiga orang tadi.
Aleta masih sibuk tertawa dan menanyai Johan tentang satu persatu adegan dalam kartun, tentang belalang makannya apa, tentang semut tidurnya dimana dan lain sebagainya, hingga Allan turun, Raut wajah Aleta yang tadinya ceria berubah murung, menatap Monica yang mengait lengan Allan.
Allan sama sekali tidak menyapa mereka, berlalu begitu saja.
"kenapa Allan gitu sama kamu rain?" tanya Johan.
"iya kak, biarin aja, mas Allan memang sedikit aneh". jawab Raina dengan tawa kecil, untuk mencairkan suasana.
"dari dulu ngga berubah dia".
"emang kak Jo udah kenal lama sama mas Allan?" tanya Raina penasaran.
"sejak dia masih jadi tentara, dulu sering di ajak ke rumah sama pak William".
"ohh gitu". Raina mengangguk paham.
"rain, kita jalan-jalan yuk".
"jangan kak, Aleta ngga ada yang jagain". jawab Raina.
"siapa bilang kita mau ninggalin Aleta?"
"hah? Aleta mau di bawa?" Raina tidak paham dengan maksud Johan.
"iya, yuk kita jalan". Johan mengangkat tubuh kecil Aleta untuk menggendongnya. "Aleta mau jalan-jalan sama om Jojo?"
Aleta mengangguk, Raina geli mendengar Johan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan om Jojo.
Raina dan Johan membawa Aleta ke timezone, dengan sabar Johan membantu Aleta yang belum bisa main sendiri, sedangkan Raina hanya mengikuti dari belakang sambil membawa susu kotak dan jaket Aleta.
"Jo, whatsap men.. wah ini anak Lo?" tanya seorang pria berkulit hitam dengan rambut di kepang kecil-kecil ala rapper. "istri Lo cantik benget". lanjut pria tadi dengan sedikit berbisik.
Raina segera menggendong Aleta, memberinya susu kotak yang dari tadi dia bawa agar Johan bisa mengobrol dengan temannya.
"ya udah bro, gue lanjut ya, kapan-kapan main ke tempat gue dong Lo". kata pria tadi lalu pergi dengan senyum yang lebar.
"Ayo Aleta kita main lagi". kata Johan, namun niatnya dia urungkan setelah melihat Aleta mengucek matanya tanda bahwa dia sudah mengantuk.
"Aleta ngantuk kak, kita pulang saja ya?" kata Raina.
"iya ayo pulang". Johan membelai rambut Aleta dengan gemas, Aleta hanya menguap, tanpa kantuknya sudah tidak bisa di tahan. Semenjak tidak ada Marni, dan Aleta sudah di rawat di Rumah sakit untuk detoksifikasi kini pola tidurnya sudah kembali normal.
"kak, Raina anter Aleta ke kamar dulu ya". kata Raina saat hampir menaiki tangga.
"aku pulang dulu ya rain, sudah malam".
"ah, iya kak, maaf ngga bisa nganter ke depan pintu".
"nope, see you". kata Johan sembari melambaikan tangan yang di balas senyuman oleh Raina.
Raina membaringkan Aleta yang sudah terlelap ke atas tempat tidurnya, sebelum pergi ke kamarnya sendiri Raina terlebih dahulu mendaratkan kecupan pada dahi Aleta.
"rain !!". Raina yang terkejut namanya di panggil hampir saja berteriak, untuk saja dia bisa mengendalikan dirinya
"iya mas".
"ayo ke luar, saya mau bicara". Tanpa banyak bicara Raina keluar mengikuti langkah kaki panjang Allan.
"jangan sekali-kali bawa Aleta kalau mau pergi sama dia, terserah kamu mau kemana tapi jangan bawa Aleta".
"Raina ngga bilang kalo Aleta itu anak mas Allan kok, Raina cuma ..".
"nggak usah bantah, sejak kapan kamu berani bantah saya?" Raina tertunduk lesu, ingin rasanya menangis, tapi dia tahan.
"kenapa? kamu mau nangis?" Tanya Allan , Raina menggeleng pelan.
"kenapa Al?" tanya Bu Lidya yang ternyata sudah pulang.
"Raina bawa Aleta pergi main sama Johan". Raut wajah penuh emosi membuat Allan menakutkan.
"terus kenapa?" tanya Bu Lidya heran.
"Allan nggak suka". jawab Allan lalu pergi begitu saja meninggalkan Raina dan Bu Lidya.
"hei, jangan terlalu posesif pada adikmu, Raina juga butuh masa depan seperti kamu". kata Bu Lidya setengah berteriak karena Allan telah menjauh.
"sepertinya Allan cemburu karena kamu pergi dengan Johan rain". perkataan Bu Lidya membuat Raina seperti tercekat pil pahit di tenggorokannya, Raina terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Herta Siahaan
tentang Monica kok Marina g bilang obat itu dari siapa dan mereka g curiga gitu ma Monic secara Marina kan pilihan Monic
2022-08-21
0
An-nur
jo baik ya sayang sama anak kecil meskipun bukan anaknya,saat jalan" mereka seperti keluarga kecil bahagia ya
2021-01-06
4
Ani
mencerminkan hatinya yang gak baik
nenek sihir
2021-01-04
3