"ahh..nggak juga, Aleta cuma butuh perhatian kalo menurut saya".
"Aleta di sayang sama mama papa kok, dia nggak kekurangan apapun"
"bagaimana dengan orang tuanya?"
Allan hanya diam, terlihat jelas bahwa dia tidak ingin menjawab pertanyaan Raina.
Mereka telah sampai di parkiran sekolah Aleta, bahkan tepat di depan taman tempat para siswa sedang makan di temani ibu-ibu mereka.
"itu Aleta, sama Marni". Raina menunjuk sebuah kursi taman yang terletak agak jauh dari kerumunan orang-orang.
"kenapa ngga sama yang lain sih?" tanya Allan penasaran.
"katanya kasian Aleta, sia sering di omongin karena selalu di anter pengasuh nya". Raina memandang lekat pada keponakan barunya itu.
"oh, itu Marni ngapain ya?" Allan memandang Marni dengan tatapan curiga, terlihat Aleta yang menggeleng berkali-kali saat Marni hendak menyuapinya.
Sepertinya Marni telah kehilangan kesabaran, ketika anak lain telah selesai makan, Aleta masih diam menutup mulutnya rapat-rapat. Marni dengan emosi memencet hidung Aleta hingga gadis kecil itu membuka mulut untuk bernafas. Namun, sebelum Aleta sempat memasukkan oksigen ke paru-parunya Marni telah terlebih dahulu menyuapkan sendok penuh nasi ke dalam mulut Aleta.
Aleta tersedak, memuntahkan nasi beserta lauk pauknya ke rok mini yang di pakai Marni. Raina dan Allan masih membeku, menatap perlakuan Marni pada Aleta.
Seketika Marni mendorong Aleta hingga jatuh dari kursi taman yang mereka duduki, Marni meracau sambil membersihkan pakaiannya, lalu menjewer telinga Aleta dan menariknya hingga Aleta kembali duduk di sebelahnya.
Tanpa Raina sadari Allan telah pergi menghampiri mereka berdua, Allan menggendong Aleta dan memarahi Marni, menunjuk-nunjuk wajah Marni dengan penuh emosi.
Belum sempat Raina menyusul mereka, Allan telah terlebih dahulu kembali dan membuka pintu mobil di sebelah tempat duduk Raina, meletakkan Aleta yang menangis dalam pangkuannya.
"sayang, Aleta nggak apa-apa kan?"
Hening.
Hanya suara sesegukan Aleta yang terdengar di dalam mobil, Raina melirik Allan yang telah duduk di sebelahnya.
Sesampainya di rumah, Raina menggendong Aleta yang telah tertidur pulas, Raina menyelimutinya dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
Allan sedang memarahi Marni, dan hari itu juga dia memecatnya.
Hari menjelang sore, Aleta masih terlelap dengan seragam sekolahnya. Tubuh kecilnya terlihat rapuh, wajahnya yang manis membuat Raina merasa pedih, perlakuan Marni tadi masih melekat erat pada ingatannya.
"sayang, bangun yuk, kita mandi". kata Raina setengah berbisik di telinga Aleta. Aleta yang mengerjap, lalu bangun seketika.
"Tante rain".
"iya sayang, ayo mandi". Aleta segera bangkit ketika mendengar ajakan Raina.
Dengan penuh kasih sayang Raina membuka seragam sekolah Aleta di mulai kaos kaki panjang hingga lututnya, di ikuti dengan seragam terusannya.
Mata Raina membulat, jantungnya seperti hampir melompat, Raina lemas, dia terduduk di dalam kamar mandi hampir pingsan, begitu banyak luka memar yang ada di tubuh kecil Aleta, tangan kaki, paha hingga punggungnya tak luput dari luka memar itu. Raina membolak-balikkan tubuh Aleta, mencoba menghitung banyaknya luka yang bersarang di sana.
"Aleta, ini kenapa?" tanya Raina dengan tangan gemetar menunjuk salah satu luka memar di paha Aleta.
"di cubit mbak Marni". jawab Aleta tenang.
"kenapa ngga bilang sama eyang mama?"
"kata mbak Marni kalo Aleta nurut sama mbak Marni nanti papa jadi sayang sama Aleta". air mata Raina mengalir begitu saja, di peluknya tubuh kecil penuh luka itu.
Raina kembali melanjutkan pekerjaannya, dengan tangisan yang tak mau berhenti.
Belum usai rasa sakit yang mendera batin Raina, dia kembali di kejutkan dengan pekikan kecil Aleta saat Raina menyentuh tangan kanannya.
"sakit Tante".
"kenapa sayang?" tanya Raina di ikuti gerakan Aleta menunjukkan tangan kanannya.
Mata Raina kembali membulat, luka bekas deretan gigi orang dewasa yang masih baru terlihat di sana, disertai dengan warna kebiruan yang menandakan bahwa Aleta di gigit dengan sangat keras oleh pelakunya.
Tok tok tok
Raina mengetuk pintu kamar Allan sembari menggendong Aleta.
"kenapa?" tanya Allan saat membuka pintu.
Raina yang sudah di kuasai oleh emosi dan kekhawatiran langsung menerobos masuk ke kamar Allan, mendudukkan Aleta pada ranjang milik Allan.
"mas, lihat ini". Raina membuka atasan piyama panjang Aleta, Allan terbelalak, matanya hampir keluar dari lubangnya.
"ini kerjaan Marni, jangan biarkan dia pergi dari rumah ini". kata Raina menghardik Allan. Seketika Allan keluar kamar dan menyeret Marni ke ruang keluarga, disana dia di hakimi.
Raina dan Aleta melihat kejadian itu dari lantai 2, Aleta memeluk erat Tantenya.
Beberapa saat kemudian datang dua orang polisi untuk menyeret Marni ke penjara.
"ayo rain kita bawa Aleta ke rumah sakit untuk visum".
"iya mas". Raina segera membawa Aleta mengikuti langkah kaki Allan.
Sebelum mereka pergi Allan telah menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga rumahnya agar tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari rumah itu.
-
Setibanya di rumah sakit Aleta segera di visum, dan hasilnya sangat mengejutkan, terdapat 13 luka cubitan, 2 bekas luka gigitan, dan 1 pukulan benda tumpul di kepala Aleta, beruntungnya luka di kepala Aleta tidak mempengaruhi kesehatannya.
Dengan ragu Raina mengatakan hal yang selama ini dia pendam kepada Allan.
"mas, boleh Raina bicara?"
"silahkan". Allan menunduk lesu setelah membaca hasil visum Raina.
"bolehkan Raina minta tes darah untuk Aleta?"
"kenapa?"
"ada beberapa hal yang Raina curigai selama ini".
"apa?"
"nanti Raina jelaskan jika sudah ada bukti mas". Allan hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Raina menuju ruangan dimana Aleta berada.
-
Hari berikutnya, masih dengan perasaan was-was Raina dan Allan pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab Aleta, karena Bu Lidya dan pak William sedang ada di luar negeri jadi hanya mereka berdua yang menyelesaikan masalah ini.
Allan meremas kertas hasil tes laboratorium Raina, berjongkok di lantai menutup wajah dengan kedua tangannya. Allan menangis, Raina yang sedang menggendong Aleta merasa kebingungan.
"mas, mas Allan kenapa?" pertanyaan yang sebenarnya Raina sendiri sudah tau jawabannya, pasti apa yang di takutkan Raina menjadi kenyataan.
"papa, papa kenapa?" tanya Aleta yang sudah berdiri di samping Allan.
"papa, jadi mas Allan adalah papanya Aleta?" Raina bermonolog dengan dirinya sendiri.
Allan berdiri, lalu menyuruh Raina membawa Aleta ke ruang perawatan yang ternyata telah di siapkan setelah mendapatkan hasil dari laboratorium. Sedangkan dia sendiri pergi ke Kantor polisi.
"rain, jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan Aleta".
"baik mas".
Dalam hati Raina masih banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan jawaban, namun kini hanya ada dirinya dan Aleta yang tidak mungkin bisa memberi jawaban atas pertanyaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
sherly
kasian Aleta, padahal kakek,nenek,papanya ada dirmh.. Marni pembantu sialan
2023-05-26
0
Nanik Lestari
lemot bener
2023-02-24
0
Leni Ani
kasihan aleta🥺🥺🥺😭😭😭😭😭
2021-05-25
1