Bab 9 : Papanya Aleta.

"ahh..nggak juga, Aleta cuma butuh perhatian kalo menurut saya".

"Aleta di sayang sama mama papa kok, dia nggak kekurangan apapun"

"bagaimana dengan orang tuanya?"

Allan hanya diam, terlihat jelas bahwa dia tidak ingin menjawab pertanyaan Raina.

Mereka telah sampai di parkiran sekolah Aleta, bahkan tepat di depan taman tempat para siswa sedang makan di temani ibu-ibu mereka.

"itu Aleta, sama Marni". Raina menunjuk sebuah kursi taman yang terletak agak jauh dari kerumunan orang-orang.

"kenapa ngga sama yang lain sih?" tanya Allan penasaran.

"katanya kasian Aleta, sia sering di omongin karena selalu di anter pengasuh nya". Raina memandang lekat pada keponakan barunya itu.

"oh, itu Marni ngapain ya?" Allan memandang Marni dengan tatapan curiga, terlihat Aleta yang menggeleng berkali-kali saat Marni hendak menyuapinya.

Sepertinya Marni telah kehilangan kesabaran, ketika anak lain telah selesai makan, Aleta masih diam menutup mulutnya rapat-rapat. Marni dengan emosi memencet hidung Aleta hingga gadis kecil itu membuka mulut untuk bernafas. Namun, sebelum Aleta sempat memasukkan oksigen ke paru-parunya Marni telah terlebih dahulu menyuapkan sendok penuh nasi ke dalam mulut Aleta.

Aleta tersedak, memuntahkan nasi beserta lauk pauknya ke rok mini yang di pakai Marni. Raina dan Allan masih membeku, menatap perlakuan Marni pada Aleta.

Seketika Marni mendorong Aleta hingga jatuh dari kursi taman yang mereka duduki, Marni meracau sambil membersihkan pakaiannya, lalu menjewer telinga Aleta dan menariknya hingga Aleta kembali duduk di sebelahnya.

Tanpa Raina sadari Allan telah pergi menghampiri mereka berdua, Allan menggendong Aleta dan memarahi Marni, menunjuk-nunjuk wajah Marni dengan penuh emosi.

Belum sempat Raina menyusul mereka, Allan telah terlebih dahulu kembali dan membuka pintu mobil di sebelah tempat duduk Raina, meletakkan Aleta yang menangis dalam pangkuannya.

"sayang, Aleta nggak apa-apa kan?"

Hening.

Hanya suara sesegukan Aleta yang terdengar di dalam mobil, Raina melirik Allan yang telah duduk di sebelahnya.

Sesampainya di rumah, Raina menggendong Aleta yang telah tertidur pulas, Raina menyelimutinya dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.

Allan sedang memarahi Marni, dan hari itu juga dia memecatnya.

Hari menjelang sore, Aleta masih terlelap dengan seragam sekolahnya. Tubuh kecilnya terlihat rapuh, wajahnya yang manis membuat Raina merasa pedih, perlakuan Marni tadi masih melekat erat pada ingatannya.

"sayang, bangun yuk, kita mandi". kata Raina setengah berbisik di telinga Aleta. Aleta yang mengerjap, lalu bangun seketika.

"Tante rain".

"iya sayang, ayo mandi". Aleta segera bangkit ketika mendengar ajakan Raina.

Dengan penuh kasih sayang Raina membuka seragam sekolah Aleta di mulai kaos kaki panjang hingga lututnya, di ikuti dengan seragam terusannya.

Mata Raina membulat, jantungnya seperti hampir melompat, Raina lemas, dia terduduk di dalam kamar mandi hampir pingsan, begitu banyak luka memar yang ada di tubuh kecil Aleta, tangan kaki, paha hingga punggungnya tak luput dari luka memar itu. Raina membolak-balikkan tubuh Aleta, mencoba menghitung banyaknya luka yang bersarang di sana.

"Aleta, ini kenapa?" tanya Raina dengan tangan gemetar menunjuk salah satu luka memar di paha Aleta.

"di cubit mbak Marni". jawab Aleta tenang.

"kenapa ngga bilang sama eyang mama?"

"kata mbak Marni kalo Aleta nurut sama mbak Marni nanti papa jadi sayang sama Aleta". air mata Raina mengalir begitu saja, di peluknya tubuh kecil penuh luka itu.

Raina kembali melanjutkan pekerjaannya, dengan tangisan yang tak mau berhenti.

Belum usai rasa sakit yang mendera batin Raina, dia kembali di kejutkan dengan pekikan kecil Aleta saat Raina menyentuh tangan kanannya.

"sakit Tante".

"kenapa sayang?" tanya Raina di ikuti gerakan Aleta menunjukkan tangan kanannya.

Mata Raina kembali membulat, luka bekas deretan gigi orang dewasa yang masih baru terlihat di sana, disertai dengan warna kebiruan yang menandakan bahwa Aleta di gigit dengan sangat keras oleh pelakunya.

Tok tok tok

Raina mengetuk pintu kamar Allan sembari menggendong Aleta.

"kenapa?" tanya Allan saat membuka pintu.

Raina yang sudah di kuasai oleh emosi dan kekhawatiran langsung menerobos masuk ke kamar Allan, mendudukkan Aleta pada ranjang milik Allan.

"mas, lihat ini". Raina membuka atasan piyama panjang Aleta, Allan terbelalak, matanya hampir keluar dari lubangnya.

"ini kerjaan Marni, jangan biarkan dia pergi dari rumah ini". kata Raina menghardik Allan. Seketika Allan keluar kamar dan menyeret Marni ke ruang keluarga, disana dia di hakimi.

Raina dan Aleta melihat kejadian itu dari lantai 2, Aleta memeluk erat Tantenya.

Beberapa saat kemudian datang dua orang polisi untuk menyeret Marni ke penjara.

"ayo rain kita bawa Aleta ke rumah sakit untuk visum".

"iya mas". Raina segera membawa Aleta mengikuti langkah kaki Allan.

Sebelum mereka pergi Allan telah menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga rumahnya agar tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari rumah itu.

-

Setibanya di rumah sakit Aleta segera di visum, dan hasilnya sangat mengejutkan, terdapat 13 luka cubitan, 2 bekas luka gigitan, dan 1 pukulan benda tumpul di kepala Aleta, beruntungnya luka di kepala Aleta tidak mempengaruhi kesehatannya.

Dengan ragu Raina mengatakan hal yang selama ini dia pendam kepada Allan.

"mas, boleh Raina bicara?"

"silahkan". Allan menunduk lesu setelah membaca hasil visum Raina.

"bolehkan Raina minta tes darah untuk Aleta?"

"kenapa?"

"ada beberapa hal yang Raina curigai selama ini".

"apa?"

"nanti Raina jelaskan jika sudah ada bukti mas". Allan hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Raina menuju ruangan dimana Aleta berada.

-

Hari berikutnya, masih dengan perasaan was-was Raina dan Allan pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab Aleta, karena Bu Lidya dan pak William sedang ada di luar negeri jadi hanya mereka berdua yang menyelesaikan masalah ini.

Allan meremas kertas hasil tes laboratorium Raina, berjongkok di lantai menutup wajah dengan kedua tangannya. Allan menangis, Raina yang sedang menggendong Aleta merasa kebingungan.

"mas, mas Allan kenapa?" pertanyaan yang sebenarnya Raina sendiri sudah tau jawabannya, pasti apa yang di takutkan Raina menjadi kenyataan.

"papa, papa kenapa?" tanya Aleta yang sudah berdiri di samping Allan.

"papa, jadi mas Allan adalah papanya Aleta?" Raina bermonolog dengan dirinya sendiri.

Allan berdiri, lalu menyuruh Raina membawa Aleta ke ruang perawatan yang ternyata telah di siapkan setelah mendapatkan hasil dari laboratorium. Sedangkan dia sendiri pergi ke Kantor polisi.

"rain, jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan Aleta".

"baik mas".

Dalam hati Raina masih banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan jawaban, namun kini hanya ada dirinya dan Aleta yang tidak mungkin bisa memberi jawaban atas pertanyaannya.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

kasian Aleta, padahal kakek,nenek,papanya ada dirmh.. Marni pembantu sialan

2023-05-26

0

Nanik Lestari

Nanik Lestari

lemot bener

2023-02-24

0

Leni Ani

Leni Ani

kasihan aleta🥺🥺🥺😭😭😭😭😭

2021-05-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Tuduhan korupsi.
2 Bab 2 : Bertemu pak William.
3 Bab 3 : Allan Sebastian.
4 Bab 3 : Menjadi tersangka.
5 Bab 5 : Putusan Hakim.
6 Bab 6 : Kepergian pak Mada.
7 Bab 7 : Ada apa dengan Aleta?
8 Bab 8 : kedatangan Monica.
9 Bab 9 : Papanya Aleta.
10 Bab 10 : Kehancuran karir Allan.
11 Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.
12 Bab 12 : Om Jojo.
13 Bab 13 : Pergi ke pantai.
14 Bab 14 : Alergi Aleta kambuh.
15 Bab 15 : Janji kelingking Raina.
16 Bab 16 : Pilihan sulit.
17 Bab 17 : Ciuman pertama.
18 Bab 18 : My Little Bride.
19 Bab 19 : Menepati janji.
20 Bab 20 : Rubah betina.
21 Bab 21 : Pembahasan yang membuat tidak nyaman.
22 Bab 22 : Tanda merah.
23 Bab 23 : Rona merah jambu.
24 Bab 24 : Penyakit kelamin.
25 Bab 25 : Apa boleh?
26 Bab 26 : Keberanian Raina.
27 Bab 27 : Pengakuan Monica.
28 Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.
29 Bab 29 : Spinocerebellar Ataxia.
30 Bab 30 : Ada apa dengan Allan?
31 Bab 31 : Ucapan terima kasih dari pak William.
32 Bab 32 : Monica menjadi buronan.
33 Bab 33 : Mesin capit.
34 Bab 34 : Takut kehilangan Aleta.
35 Bab 35 : Apa aku tidak boleh bahagia?
36 Bab 36 : Kepergian Allan.
37 Bab 37 : Lamaran yang terlambat.
38 Bab 38 : Luka.
39 Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.
40 Bab 40 : Obat kangen.
41 Bab 41 : Kehamilan Raina.
42 Bab 42 : Penyelesaian masalah part I
43 Bab 43 : Penyelesaian masalah part II
44 Bab 44 : Penyelesaian masalah part III
45 Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV
46 Bab 46 : Terkuak fakta.
47 Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.
48 Bab 48 : Penyesalan pak William.
49 Bab 49 : Kapten Ri.
50 Bab 50 : kecantikan Valerie.
51 Bab 51 : Cemburu.
52 Bab 52 : Perubahan.
53 Bab 53 : Jatuh cinta lagi.
54 Bab 54 : Pelajaran untuk Allan dan Carter.
55 Bab 55 : Stalking.
56 Bab 56 : Sebuah peringatan.
57 Bab 57 : Albani Julian Sebastian.
58 Bab 58 : Makan siang bersama.
59 Bab 59 : oke?
60 Bab 60 : Sindiran Bu Lidya.
61 Bab 61 : Kamu tidak gila, tapi sinting !!
62 Bab 62 : Ada apa dengan Alex?
63 Bab 63 : Pendonor untuk Alex.
64 Bab 64 : Tentang Aleta.
65 Bab 65 : Ali cemburu.
66 Bab 66 : The end.
67 Extra part
68 Extra part
69 Novel baru
70 Novel baru lagi
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1 : Tuduhan korupsi.
2
Bab 2 : Bertemu pak William.
3
Bab 3 : Allan Sebastian.
4
Bab 3 : Menjadi tersangka.
5
Bab 5 : Putusan Hakim.
6
Bab 6 : Kepergian pak Mada.
7
Bab 7 : Ada apa dengan Aleta?
8
Bab 8 : kedatangan Monica.
9
Bab 9 : Papanya Aleta.
10
Bab 10 : Kehancuran karir Allan.
11
Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.
12
Bab 12 : Om Jojo.
13
Bab 13 : Pergi ke pantai.
14
Bab 14 : Alergi Aleta kambuh.
15
Bab 15 : Janji kelingking Raina.
16
Bab 16 : Pilihan sulit.
17
Bab 17 : Ciuman pertama.
18
Bab 18 : My Little Bride.
19
Bab 19 : Menepati janji.
20
Bab 20 : Rubah betina.
21
Bab 21 : Pembahasan yang membuat tidak nyaman.
22
Bab 22 : Tanda merah.
23
Bab 23 : Rona merah jambu.
24
Bab 24 : Penyakit kelamin.
25
Bab 25 : Apa boleh?
26
Bab 26 : Keberanian Raina.
27
Bab 27 : Pengakuan Monica.
28
Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.
29
Bab 29 : Spinocerebellar Ataxia.
30
Bab 30 : Ada apa dengan Allan?
31
Bab 31 : Ucapan terima kasih dari pak William.
32
Bab 32 : Monica menjadi buronan.
33
Bab 33 : Mesin capit.
34
Bab 34 : Takut kehilangan Aleta.
35
Bab 35 : Apa aku tidak boleh bahagia?
36
Bab 36 : Kepergian Allan.
37
Bab 37 : Lamaran yang terlambat.
38
Bab 38 : Luka.
39
Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.
40
Bab 40 : Obat kangen.
41
Bab 41 : Kehamilan Raina.
42
Bab 42 : Penyelesaian masalah part I
43
Bab 43 : Penyelesaian masalah part II
44
Bab 44 : Penyelesaian masalah part III
45
Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV
46
Bab 46 : Terkuak fakta.
47
Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.
48
Bab 48 : Penyesalan pak William.
49
Bab 49 : Kapten Ri.
50
Bab 50 : kecantikan Valerie.
51
Bab 51 : Cemburu.
52
Bab 52 : Perubahan.
53
Bab 53 : Jatuh cinta lagi.
54
Bab 54 : Pelajaran untuk Allan dan Carter.
55
Bab 55 : Stalking.
56
Bab 56 : Sebuah peringatan.
57
Bab 57 : Albani Julian Sebastian.
58
Bab 58 : Makan siang bersama.
59
Bab 59 : oke?
60
Bab 60 : Sindiran Bu Lidya.
61
Bab 61 : Kamu tidak gila, tapi sinting !!
62
Bab 62 : Ada apa dengan Alex?
63
Bab 63 : Pendonor untuk Alex.
64
Bab 64 : Tentang Aleta.
65
Bab 65 : Ali cemburu.
66
Bab 66 : The end.
67
Extra part
68
Extra part
69
Novel baru
70
Novel baru lagi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!