"selamat malam pak William, saya tersanjung sekali bapak dan ibu mau meluangkan waktu untuk menghadiri undangan kami". kata pak Herman.
"saya juga merasa terhormat mendapat undangan dari bapak sekeluarga, dan perkenalkan ini istri saya Lidya dan anak gadis saya Raina". Bu Lidya dan Raina menyalami anggota keluarga pak Herman satu persatu.
"ah iya pak, ini istri saya Lani, dan anak semata wayang saya Johan".
Raina dan Johan duduk berhadapan, Raina terlihat canggung, beberapa kali menunduk, menghindari tatapan mata Johan yang melekat padanya
"saya baru tau kalau pak William punya anak gadis, apa sebelumnya kuliah di luar negeri?"
"sebelumnya dia tinggal di Jakarta pak". jawab Bu Lidya dengan ramah.
"wah, pantas saja, cantik sekali ya Bu putrinya". kata Bu Lani.
"terima kasih". Bu Lidya tersenyum senang karena anak gadisnya di puji.
"kalau tidak salah, Johan ini kandidat calon walikota termuda di Indonesia ya pak?" tanya pak William.
"iya, anak saya ini sedang merintis karirnya di bidang politik pak, saat ini kan sedang menjadi anggota DPRD". jawab pak Herman.
Pria tampan usia awal 30an itu terlihat ramah, sesekali dia ikut tertawa ketika ada obrolan yang lucu, Raina yang sedari datang hanya menunduk canggung, lama-lama ikut berbaur dengan mereka.
"oh iya, Raina masih kuliah?"
"iya, masih kuliah baru masuk, kemarin sempat istrahat dulu, sekarang baru masuk kedokteran". jawab Bu Lidya.
"ahh, calon dokter muda rupanya, sangat cocok dengan karakternya yang, terlihat lembut dan baik hati". kata pak Herman.
Johan menatap Raina yang sedang menjadi bahan perbincangan, kecantikan Raina mencuri hatinya, Raina yang menyadari bahwa Johan memperhatikan nya menunduk tersipu malu.
"sepertinya anak saya tertarik pada anak anda pak". kata pak Herman, menambah semu merah di pipi Raina semakin nyata.
"bagaimana kalau kita besanan pak". jawan pak William diikuti dengan tawa mereka. Raina sadar betul, Johan adalah pria mapan yang terlalu baik untuknya, jangankan untuk menolak, menerima Johan saja Raina tidak berani.
"jangan terburu-buru pa, anak kita baru masuk kuliah". kata Bu Lidya tidak suka anaknya di jodoh-jodohkan.
"biarkan mereka kalau memang ingin saling mengenal, kita sebagai orang tua tidak usah ikut campur". kata Bu Lani membela Bu Lidya.
"setuju sekali jeng". Bu Lidya tersenyum puas.
Setelah acara makan malam selesai, mereka berenam beriringan keluar Restaurant, Raina dan Johan di barisan belakang, Johan yang tidak ingin kehilangan kesempatan segera meminta nomor telepon Raina.
"ehmm, Raina, boleh saya minta nomor kamu?" kata Johan sambil mengulurkan hpnya.
"ah, iya". Raina menerima hp Johan dan menuliskan nomornya.
"nanti saya kirim pesan".
"iya". jawab Raina sebelum masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Bu Lidya tampak, puas dengan makan malamnya, satu set makanan khas timur tengah lengkap telah mengisi ruang kosong di perutnya.
"rain, kamu tertarik dengan Johan?" tanya pak William di kursi belakang sedangkan Raina di depan bersama ajudan pak William.
"dia terlihat baik pak".
"bapak sudah kenal lama dengan keluarga Herman, mereka baik, berpendidikan dan memiliki pengaruh di negeri ini". sambung pak William.
"pengaruh? di negeri ini?" tanya Raina belum paham dengan maksud pak William.
"papanya itu punya bisnis di bidang ekspor impor makanan pokok terbesar di Indonesia rain, kalau perusahaanya berhenti maka keseimbangan negeri ini juga ikut goyah".
"ah, begitu".
"iya rain, bapak setuju kalau kamu sama Johan, dia anak yang baik, bapak tau dia sejak dia SD".
"iya pak". jawab Raina.
Sesampainya di rumah, Raina menyempatkan diri melihat Aleta di kamarnya, gadis kecil itu tidur sendirian, Raina masuk dan membenarkan selimutnya, berhenti sejenak untuk mencium kening Aleta.
"sudah pulang?" tanya Allan yang sedang berdiri di depan pintu.
"sudah mas".
"ketemu Johan?" tanya Allan sinis.
"iya mas".
"oh". Allan meninggalkan Raina yang masih membatu.
Raina hanya bisa mengumpat Allan di dalam hatinya sebelum kembali ke kamarnya, bagaimana bisa abangnya itu begitu aneh.
Dengan piyama bergambar Pororo Raina berbaring di kasur empuknya, hpnya bergetar beberapa kali, terlihat nomor baru yang terbit di layarnya.
sudah sampai rumah kah?
-jo.
Raina tersenyum, sejujurnya Raina sedikit tertarik pada Johan, karena dia manis dan ramah, tidak seperti abangnya.
sudah kak.
Entah apa yang ada di pikiran Raina hingga memanggil Johan dengan sebutan kakak.
besok ada acara setelah kuliah?
Pesan balasan Johan membuat Raina salah tingkah, baru kali ini dia berkirim pesan dengan lawan jenisnya, dia bingung sendiri akan menjawab apa.
tidak ada, kenapa?
Apakah tidak sopan dengan jawaban seperti ini? Raina menutup wajahnya dengan bantal menunggu pesan balasan dari Johan.
bisa bertemu?
Tanya Johan lagi.
dengan ijin mama papa Raina.
Jawab Raina yang kebingungan.
besok saya jemput di rumah.
Raina hanya mengiyakan ajakan Johan untuk bertemu.
Paginya di meja makan, Raina yang duduk di sebelah Aleta hanya menunduk dan memainkan jarinya, Bu Lidya yang menyadari tingkah laku putrinya lalu bertanya.
"rain, apa apa?" tanya Bu Lidya.
"ehm, nanti malam rain boleh ketemu Johan?"
"boleh, tapi dia harus kesini jemput kamu". jawab Bu Lidya.
"iya ma".
"nanti malam papa sama Mama mau ada acara, suruh Johan datang sebelum jam7". kata pak William dengan mode tegas, melihat anak gadisnya akan di bawa oleh laki-laki.
"iya pa".
"nanti malam aku pergi sama Monica, Aleta ngga ada yang jagain, kamu nggak boleh pergi". protes Allan.
"kenapa kamu egois? ada Rini dan pembantu yang lain, biasanya Aleta juga sama mereka". jawab Bu Lidya.
"Aleta masih trauma, dia harus di temani salah satu dari kita".
"kalau begitu kamu saja yang dirumah, jaga Aleta". jawab pak William.
"Raina ngga pergi juga ngga apa-apa kok pak". jawan Raina.
"bagus, anak gadis ngga boleh pergi malem-malem, apa lagi sama orang asing". Allan menaikkan sebelah bibirnya, tanda kemenangan telah ada di pihaknya.
"iya mas".
Raina langsung mengirim pesan kepada Johan ketika selesai makan.
maaf kak, nanti malam kita ngga bisa pergi, Raina tidak dapat ijin dari mas Allan.
Raina jujur, karena memang hanya Allan yang tidak mengijinkan dia pergi.
Nanti saya main ke sana saja kalau memang tidak boleh pergi.
tidak sampai q menit Johan langsung menjawab pesan Raina.
Raina hanya bisa pasrah, toh Allan tidak melarang Johan main ke rumahnya, Allan hanya melarang Raina pergi dengan Johan.
Sejujurnya Raina sendiri bingung harus berbuat apa jika nanti Johan datang ke rumahnya, karena pengalaman percintaan yang minim bahkan hampir tidak ada, ini menjadi yang pertama kali untuk Raina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Aprillia
haiiis...mas allan kok gitu 😖
2021-03-03
1
Cristal
muda Thor to aku suka
2021-01-08
2
An-nur
terlalu muda visualnya untuk jo yang umur 30
2021-01-06
1