Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.

"selamat malam pak William, saya tersanjung sekali bapak dan ibu mau meluangkan waktu untuk menghadiri undangan kami". kata pak Herman.

"saya juga merasa terhormat mendapat undangan dari bapak sekeluarga, dan perkenalkan ini istri saya Lidya dan anak gadis saya Raina". Bu Lidya dan Raina menyalami anggota keluarga pak Herman satu persatu.

"ah iya pak, ini istri saya Lani, dan anak semata wayang saya Johan".

Raina dan Johan duduk berhadapan, Raina terlihat canggung, beberapa kali menunduk, menghindari tatapan mata Johan yang melekat padanya

"saya baru tau kalau pak William punya anak gadis, apa sebelumnya kuliah di luar negeri?"

"sebelumnya dia tinggal di Jakarta pak". jawab Bu Lidya dengan ramah.

"wah, pantas saja, cantik sekali ya Bu putrinya". kata Bu Lani.

"terima kasih". Bu Lidya tersenyum senang karena anak gadisnya di puji.

"kalau tidak salah, Johan ini kandidat calon walikota termuda di Indonesia ya pak?" tanya pak William.

"iya, anak saya ini sedang merintis karirnya di bidang politik pak, saat ini kan sedang menjadi anggota DPRD". jawab pak Herman.

Pria tampan usia awal 30an itu terlihat ramah, sesekali dia ikut tertawa ketika ada obrolan yang lucu, Raina yang sedari datang hanya menunduk canggung, lama-lama ikut berbaur dengan mereka.

"oh iya, Raina masih kuliah?"

"iya, masih kuliah baru masuk, kemarin sempat istrahat dulu, sekarang baru masuk kedokteran". jawab Bu Lidya.

"ahh, calon dokter muda rupanya, sangat cocok dengan karakternya yang, terlihat lembut dan baik hati". kata pak Herman.

Johan menatap Raina yang sedang menjadi bahan perbincangan, kecantikan Raina mencuri hatinya, Raina yang menyadari bahwa Johan memperhatikan nya menunduk tersipu malu.

"sepertinya anak saya tertarik pada anak anda pak". kata pak Herman, menambah semu merah di pipi Raina semakin nyata.

"bagaimana kalau kita besanan pak". jawan pak William diikuti dengan tawa mereka. Raina sadar betul, Johan adalah pria mapan yang terlalu baik untuknya, jangankan untuk menolak, menerima Johan saja Raina tidak berani.

"jangan terburu-buru pa, anak kita baru masuk kuliah". kata Bu Lidya tidak suka anaknya di jodoh-jodohkan.

"biarkan mereka kalau memang ingin saling mengenal, kita sebagai orang tua tidak usah ikut campur". kata Bu Lani membela Bu Lidya.

"setuju sekali jeng". Bu Lidya tersenyum puas.

Setelah acara makan malam selesai, mereka berenam beriringan keluar Restaurant, Raina dan Johan di barisan belakang, Johan yang tidak ingin kehilangan kesempatan segera meminta nomor telepon Raina.

"ehmm, Raina, boleh saya minta nomor kamu?" kata Johan sambil mengulurkan hpnya.

"ah, iya". Raina menerima hp Johan dan menuliskan nomornya.

"nanti saya kirim pesan".

"iya". jawab Raina sebelum masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil Bu Lidya tampak, puas dengan makan malamnya, satu set makanan khas timur tengah lengkap telah mengisi ruang kosong di perutnya.

"rain, kamu tertarik dengan Johan?" tanya pak William di kursi belakang sedangkan Raina di depan bersama ajudan pak William.

"dia terlihat baik pak".

"bapak sudah kenal lama dengan keluarga Herman, mereka baik, berpendidikan dan memiliki pengaruh di negeri ini". sambung pak William.

"pengaruh? di negeri ini?" tanya Raina belum paham dengan maksud pak William.

"papanya itu punya bisnis di bidang ekspor impor makanan pokok terbesar di Indonesia rain, kalau perusahaanya berhenti maka keseimbangan negeri ini juga ikut goyah".

"ah, begitu".

"iya rain, bapak setuju kalau kamu sama Johan, dia anak yang baik, bapak tau dia sejak dia SD".

"iya pak". jawab Raina.

Sesampainya di rumah, Raina menyempatkan diri melihat Aleta di kamarnya, gadis kecil itu tidur sendirian, Raina masuk dan membenarkan selimutnya, berhenti sejenak untuk mencium kening Aleta.

"sudah pulang?" tanya Allan yang sedang berdiri di depan pintu.

"sudah mas".

"ketemu Johan?" tanya Allan sinis.

"iya mas".

"oh". Allan meninggalkan Raina yang masih membatu.

Raina hanya bisa mengumpat Allan di dalam hatinya sebelum kembali ke kamarnya, bagaimana bisa abangnya itu begitu aneh.

Dengan piyama bergambar Pororo Raina berbaring di kasur empuknya, hpnya bergetar beberapa kali, terlihat nomor baru yang terbit di layarnya.

sudah sampai rumah kah?

-jo.

Raina tersenyum, sejujurnya Raina sedikit tertarik pada Johan, karena dia manis dan ramah, tidak seperti abangnya.

sudah kak.

Entah apa yang ada di pikiran Raina hingga memanggil Johan dengan sebutan kakak.

besok ada acara setelah kuliah?

Pesan balasan Johan membuat Raina salah tingkah, baru kali ini dia berkirim pesan dengan lawan jenisnya, dia bingung sendiri akan menjawab apa.

tidak ada, kenapa?

Apakah tidak sopan dengan jawaban seperti ini? Raina menutup wajahnya dengan bantal menunggu pesan balasan dari Johan.

bisa bertemu?

Tanya Johan lagi.

dengan ijin mama papa Raina.

Jawab Raina yang kebingungan.

besok saya jemput di rumah.

Raina hanya mengiyakan ajakan Johan untuk bertemu.

Paginya di meja makan, Raina yang duduk di sebelah Aleta hanya menunduk dan memainkan jarinya, Bu Lidya yang menyadari tingkah laku putrinya lalu bertanya.

"rain, apa apa?" tanya Bu Lidya.

"ehm, nanti malam rain boleh ketemu Johan?"

"boleh, tapi dia harus kesini jemput kamu". jawab Bu Lidya.

"iya ma".

"nanti malam papa sama Mama mau ada acara, suruh Johan datang sebelum jam7". kata pak William dengan mode tegas, melihat anak gadisnya akan di bawa oleh laki-laki.

"iya pa".

"nanti malam aku pergi sama Monica, Aleta ngga ada yang jagain, kamu nggak boleh pergi". protes Allan.

"kenapa kamu egois? ada Rini dan pembantu yang lain, biasanya Aleta juga sama mereka". jawab Bu Lidya.

"Aleta masih trauma, dia harus di temani salah satu dari kita".

"kalau begitu kamu saja yang dirumah, jaga Aleta". jawab pak William.

"Raina ngga pergi juga ngga apa-apa kok pak". jawan Raina.

"bagus, anak gadis ngga boleh pergi malem-malem, apa lagi sama orang asing". Allan menaikkan sebelah bibirnya, tanda kemenangan telah ada di pihaknya.

"iya mas".

Raina langsung mengirim pesan kepada Johan ketika selesai makan.

maaf kak, nanti malam kita ngga bisa pergi, Raina tidak dapat ijin dari mas Allan.

Raina jujur, karena memang hanya Allan yang tidak mengijinkan dia pergi.

Nanti saya main ke sana saja kalau memang tidak boleh pergi.

tidak sampai q menit Johan langsung menjawab pesan Raina.

Raina hanya bisa pasrah, toh Allan tidak melarang Johan main ke rumahnya, Allan hanya melarang Raina pergi dengan Johan.

Sejujurnya Raina sendiri bingung harus berbuat apa jika nanti Johan datang ke rumahnya, karena pengalaman percintaan yang minim bahkan hampir tidak ada, ini menjadi yang pertama kali untuk Raina.

Terpopuler

Comments

Aprillia

Aprillia

haiiis...mas allan kok gitu 😖

2021-03-03

1

Cristal

Cristal

muda Thor to aku suka

2021-01-08

2

An-nur

An-nur

terlalu muda visualnya untuk jo yang umur 30

2021-01-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Tuduhan korupsi.
2 Bab 2 : Bertemu pak William.
3 Bab 3 : Allan Sebastian.
4 Bab 3 : Menjadi tersangka.
5 Bab 5 : Putusan Hakim.
6 Bab 6 : Kepergian pak Mada.
7 Bab 7 : Ada apa dengan Aleta?
8 Bab 8 : kedatangan Monica.
9 Bab 9 : Papanya Aleta.
10 Bab 10 : Kehancuran karir Allan.
11 Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.
12 Bab 12 : Om Jojo.
13 Bab 13 : Pergi ke pantai.
14 Bab 14 : Alergi Aleta kambuh.
15 Bab 15 : Janji kelingking Raina.
16 Bab 16 : Pilihan sulit.
17 Bab 17 : Ciuman pertama.
18 Bab 18 : My Little Bride.
19 Bab 19 : Menepati janji.
20 Bab 20 : Rubah betina.
21 Bab 21 : Pembahasan yang membuat tidak nyaman.
22 Bab 22 : Tanda merah.
23 Bab 23 : Rona merah jambu.
24 Bab 24 : Penyakit kelamin.
25 Bab 25 : Apa boleh?
26 Bab 26 : Keberanian Raina.
27 Bab 27 : Pengakuan Monica.
28 Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.
29 Bab 29 : Spinocerebellar Ataxia.
30 Bab 30 : Ada apa dengan Allan?
31 Bab 31 : Ucapan terima kasih dari pak William.
32 Bab 32 : Monica menjadi buronan.
33 Bab 33 : Mesin capit.
34 Bab 34 : Takut kehilangan Aleta.
35 Bab 35 : Apa aku tidak boleh bahagia?
36 Bab 36 : Kepergian Allan.
37 Bab 37 : Lamaran yang terlambat.
38 Bab 38 : Luka.
39 Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.
40 Bab 40 : Obat kangen.
41 Bab 41 : Kehamilan Raina.
42 Bab 42 : Penyelesaian masalah part I
43 Bab 43 : Penyelesaian masalah part II
44 Bab 44 : Penyelesaian masalah part III
45 Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV
46 Bab 46 : Terkuak fakta.
47 Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.
48 Bab 48 : Penyesalan pak William.
49 Bab 49 : Kapten Ri.
50 Bab 50 : kecantikan Valerie.
51 Bab 51 : Cemburu.
52 Bab 52 : Perubahan.
53 Bab 53 : Jatuh cinta lagi.
54 Bab 54 : Pelajaran untuk Allan dan Carter.
55 Bab 55 : Stalking.
56 Bab 56 : Sebuah peringatan.
57 Bab 57 : Albani Julian Sebastian.
58 Bab 58 : Makan siang bersama.
59 Bab 59 : oke?
60 Bab 60 : Sindiran Bu Lidya.
61 Bab 61 : Kamu tidak gila, tapi sinting !!
62 Bab 62 : Ada apa dengan Alex?
63 Bab 63 : Pendonor untuk Alex.
64 Bab 64 : Tentang Aleta.
65 Bab 65 : Ali cemburu.
66 Bab 66 : The end.
67 Extra part
68 Extra part
69 Novel baru
70 Novel baru lagi
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1 : Tuduhan korupsi.
2
Bab 2 : Bertemu pak William.
3
Bab 3 : Allan Sebastian.
4
Bab 3 : Menjadi tersangka.
5
Bab 5 : Putusan Hakim.
6
Bab 6 : Kepergian pak Mada.
7
Bab 7 : Ada apa dengan Aleta?
8
Bab 8 : kedatangan Monica.
9
Bab 9 : Papanya Aleta.
10
Bab 10 : Kehancuran karir Allan.
11
Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.
12
Bab 12 : Om Jojo.
13
Bab 13 : Pergi ke pantai.
14
Bab 14 : Alergi Aleta kambuh.
15
Bab 15 : Janji kelingking Raina.
16
Bab 16 : Pilihan sulit.
17
Bab 17 : Ciuman pertama.
18
Bab 18 : My Little Bride.
19
Bab 19 : Menepati janji.
20
Bab 20 : Rubah betina.
21
Bab 21 : Pembahasan yang membuat tidak nyaman.
22
Bab 22 : Tanda merah.
23
Bab 23 : Rona merah jambu.
24
Bab 24 : Penyakit kelamin.
25
Bab 25 : Apa boleh?
26
Bab 26 : Keberanian Raina.
27
Bab 27 : Pengakuan Monica.
28
Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.
29
Bab 29 : Spinocerebellar Ataxia.
30
Bab 30 : Ada apa dengan Allan?
31
Bab 31 : Ucapan terima kasih dari pak William.
32
Bab 32 : Monica menjadi buronan.
33
Bab 33 : Mesin capit.
34
Bab 34 : Takut kehilangan Aleta.
35
Bab 35 : Apa aku tidak boleh bahagia?
36
Bab 36 : Kepergian Allan.
37
Bab 37 : Lamaran yang terlambat.
38
Bab 38 : Luka.
39
Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.
40
Bab 40 : Obat kangen.
41
Bab 41 : Kehamilan Raina.
42
Bab 42 : Penyelesaian masalah part I
43
Bab 43 : Penyelesaian masalah part II
44
Bab 44 : Penyelesaian masalah part III
45
Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV
46
Bab 46 : Terkuak fakta.
47
Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.
48
Bab 48 : Penyesalan pak William.
49
Bab 49 : Kapten Ri.
50
Bab 50 : kecantikan Valerie.
51
Bab 51 : Cemburu.
52
Bab 52 : Perubahan.
53
Bab 53 : Jatuh cinta lagi.
54
Bab 54 : Pelajaran untuk Allan dan Carter.
55
Bab 55 : Stalking.
56
Bab 56 : Sebuah peringatan.
57
Bab 57 : Albani Julian Sebastian.
58
Bab 58 : Makan siang bersama.
59
Bab 59 : oke?
60
Bab 60 : Sindiran Bu Lidya.
61
Bab 61 : Kamu tidak gila, tapi sinting !!
62
Bab 62 : Ada apa dengan Alex?
63
Bab 63 : Pendonor untuk Alex.
64
Bab 64 : Tentang Aleta.
65
Bab 65 : Ali cemburu.
66
Bab 66 : The end.
67
Extra part
68
Extra part
69
Novel baru
70
Novel baru lagi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!