Satu hari berlalu, pak Mada tak juga kunjung pulang, Raina yang gelisah meminta ijin dari tempatnya bekerja untuk pulang lebih awal untuk menemui bapaknya di kantor polisi.
"selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang polisi muda pada Raina.
"pak, saya ingin menjenguk bapak saya, namanya Mada Prasetya". Raina datang dengan dua bungkus nasi goreng untuk di makan bersama pak Mada.
"sebentar ya dek". Raina hanya mengangguk, berharap dapat segera bertemu dengan bapaknya.
"maaf dek, bapak Mada Prasetya sedang dalam proses interogasi jadi belum bisa di jenguk".
"pak, masa dari kemarin interogasi terus?"
"memangnya sejak kapan?"
"sudah dua hari dua malam pak". Raina merendahkan suaranya, berharap polisi itu memberi dia kesempatan untuk bertemu bapaknya.
"ah, saya tidak tau karena itu di luar wewenang saya, adek pulang saja dulu, kesini lagi dua atau tiga hari lagi".
Raut muka Raina berubah seketika, mendung menggelayut di pelupuk matanya, lelehan air mata jatuh tanpa permisi, Raina menangis lagi.
-
Dua hari berselang, Raina seperti mayat hidup, tatap matanya kosong, dia sama sekali tidak bicara jika tidak di butuhkan, berbeda dari biasanya.
Raina berharap jam berjalan lebih cepat, dia terlalu lelah, ingin sekali merebahkan raganya yang lemah.
Jam pulang kerja pun tiba, Raina mengayuh sepeda onthelnya dengan lemah hingga jalannya meliuk-liuk seperti tidak memiliki keseimbangan.
Sesampainya di rumah, Raina melihat para tetangga sedang berdiri di depan rumahnya, membaca selembar kertas yang tertempel di daun pintu.
"Rain, yang sabar ya, ibu percaya bapak kamu nggak salah, bapak kamu orang baik".
"iya Bu, makasih ya Bu Imah". Raina merangsek maju pada kerumunan tetangganya, dengan mata berkaca-kaca Raina membaca tulisan yang menjadi pusat perhatian mereka.
Isinya kurang lebih bahwa Raina harus segera meninggalkan rumah itu dalam kurun waktu 24 jam.
Dia harus kemana? sanak saudara tidak punya, tetangganya juga sama melaratnya, menumpang tinggal di rumah tetangga sama dengan menambah beban mereka, Raina menghela nafas, sesak di dadanya semakin bertambah.
Langit semakin menghitam, dua orang polisi datang mengabarkan bahwa besok Raina harus pergi dari rumah itu, karena akan di adakan penyelidikan. Raina di persilahkan untuk mengemasi barang-barangnya yang dia perlukan dengan pengawasan kedua polisi tadi.
"pak, memangnya bapak saya terbukti bersalah pak, kok rumah kami harus di sita?"
"sebenarnya bukan wewenang saya dek untuk menyampaikan hal ini, namun status bapak adek telah di naikan menjadi tersangka".
"apa? berarti bapak saya terbukti melakukan korupsi pak?"
"sepertinya begitu dek, kamu yang sabar, semoga kebenaran akan segera terungkap jika benar bapak adek tidak bersalah". polisi tadi menghela nafas nya yang berat, seolah tidak yakin dengan tuduhan yang di layangkan kepada pak Mada, bagaimana bisa, koruptor hidup dalam gubuk kecil dari papan, tanpa tabungan di bank, tanpa kendaraan mahal dan kemewahan lainnya.
-
Nasib malang belum usai menimpa Raina, hari ini dia di pecat karena bosnya takut jika Raina melakukan hal yang sama dengan bapaknya. Bahkan Raina tidak mendapatkan gaji trahir yang seharusnya dia dapatkan dua hari lagi.
"Bu, saya sudah sebulan bekerja, kenapa ngga bisa dapet gaji?"
"saya curiga, barang-barang yang hilang selama ini pasti kamu yang mencuri".
"astagfirullah Bu, saya memang miskin tapi saya bukan maling". mata Raina yang sembab mulai berkaca-kaca kembali.
"alah, buah itu jatuh nggak jauh dari pohonnya, bapakmu bisa korupsi kamu pasti juga bisa mencuri". wanita gendut dengan makeup tebal itu memandang rendah keluarga Raina.
"ibu boleh memecat saya, tapi jangan bawa-bawa bapak saya, saya bersumpah, suatu hari nanti saya akan membalas siapapun yang jahat pada kami hari ini". Raina melempar satu kardus kuas makeup yang tadinya akan dia tata.
Para pegawai lainnya juga memandang Raina dengan sinis, mereka berbisik-bisik seolah membenarkan tindakan bosnya.
Di halte bus, Raina hanya bisa menangis, matanya semakin sulit di buka karena bengkak, Hp di saku celananya bergetar sedari tadi. Allan, dia menelpon Raina, entah kenapa.
"halo". jawab Raina dengan bibir bergetar.
"kamu dimana? saya sama papa dirumah kamu".
"Raina di usir mas, sekarang di halte dekat King Plaza"
"oke, saya kesana"
-
"kamu tidur di sini malam ini, bapak sama Allan di kamar sebelah, kalau ada apa-apa langsung bilang".
"iya pak". Raina masih sesegukan setelah menceritakan bahwa rumahnya di sita untuk barang bukti.
"kamu tenang ya, besok kita ketemu sama bapakmu". pak William menepuk pelan puncak kepala Raina.
"bisa pak?"
"insyaallah bisa rain, kamu tidur dulu".
"iya pak".
Keesokan harinya.
"rain, kenapa wajah kamu jadi seperti ini, kamu semakin kurus". Pak Mada menatap lekat pada putrinya yang terlihat menyedihkan di matanya.
"Raina ngga apa-apa pak, bapak sendiri gimana?"
"bapak baik rain, itu siapa?" pak Mada mengalihkan pandangannya kepada pak William dan Allan yang sedang mengobrol dengan petugas kepolisian.
"itu namanya pak William pak, beliau yang membantu Raina untuk ketemu bapak".Setelah menyadari bahwa Raina memangdangnya pak William mengajak Allan untuk mendekat pada Raina dan pak Mada
"perkenalkan nama saya William Sebastian, ini anak saya Allan". pak William dan Allan menyalami pak Mada secara bergantian.
"saya Mada, bapaknya Raina".
"iya pak, bapak tenang ya pak, saya akan mengurus semua kasus bapak, insyaallah bapak akan segera bebas".
"apa bapak yakin bisa membebaskan saya?".
"jika bapak memang tidak bersalah"
"saya berani bersumpah pak, jangankan bermiliar-miliar satu rupiah pun saya tidak menggunakan dana operasional itu untuk kebutuhan pribadi saya sendiri". Mata pak mata berkaca-kaca.
"baik pak, saya sudah menyiapkan pengacara untuk bapak, dan selama bapak belum bisa pulang, bolehkan saya membawa Raina ke Situbondo?"
"kenapa? bapak ada niat apa membawa putri saya? lebih baik saya mendekam di penjara dari pada harus menjual putri saya".
"bapak, jangan galak-galak sama pak William". Raina menegur bapaknya.
"begini pak ... ... ". pak William menceritakan tentang kejadian tempo hari, sehingga beliau berniat membalas kebaikan Raina.
"maaf pak, saya sudah salah faham". pak Mada menunduk berkali-kali meminta maaf pada pak William.
"sudah pak tidak apa-apa, sudah sewajarnya seorang ayah melindungi putrinya". pak William menepuk pundak pak Mada.
Setalah itu, Raina di bawa ke Situbondo atas persetujuan pak Mada, pak William juga menjadikan Raina sebagai anak angkatnya, beliau akan menyekolahkan Raina kembali agar cita-citanya dapat tercapai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Wiwik Andayani
Alan orang Situbondo ko spt opa korea
2024-07-01
0
Aprillia
saya ikut prihatin dgn kisah raina
2021-03-03
1
Fitria Dafina
Kasihan Raina thor..
2021-02-28
2