Bab 3 : Menjadi tersangka.

Satu hari berlalu, pak Mada tak juga kunjung pulang, Raina yang gelisah meminta ijin dari tempatnya bekerja untuk pulang lebih awal untuk menemui bapaknya di kantor polisi.

"selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang polisi muda pada Raina.

"pak, saya ingin menjenguk bapak saya, namanya Mada Prasetya". Raina datang dengan dua bungkus nasi goreng untuk di makan bersama pak Mada.

"sebentar ya dek". Raina hanya mengangguk, berharap dapat segera bertemu dengan bapaknya.

"maaf dek, bapak Mada Prasetya sedang dalam proses interogasi jadi belum bisa di jenguk".

"pak, masa dari kemarin interogasi terus?"

"memangnya sejak kapan?"

"sudah dua hari dua malam pak". Raina merendahkan suaranya, berharap polisi itu memberi dia kesempatan untuk bertemu bapaknya.

"ah, saya tidak tau karena itu di luar wewenang saya, adek pulang saja dulu, kesini lagi dua atau tiga hari lagi".

Raut muka Raina berubah seketika, mendung menggelayut di pelupuk matanya, lelehan air mata jatuh tanpa permisi, Raina menangis lagi.

-

Dua hari berselang, Raina seperti mayat hidup, tatap matanya kosong, dia sama sekali tidak bicara jika tidak di butuhkan, berbeda dari biasanya.

Raina berharap jam berjalan lebih cepat, dia terlalu lelah, ingin sekali merebahkan raganya yang lemah.

Jam pulang kerja pun tiba, Raina mengayuh sepeda onthelnya dengan lemah hingga jalannya meliuk-liuk seperti tidak memiliki keseimbangan.

Sesampainya di rumah, Raina melihat para tetangga sedang berdiri di depan rumahnya, membaca selembar kertas yang tertempel di daun pintu.

"Rain, yang sabar ya, ibu percaya bapak kamu nggak salah, bapak kamu orang baik".

"iya Bu, makasih ya Bu Imah". Raina merangsek maju pada kerumunan tetangganya, dengan mata berkaca-kaca Raina membaca tulisan yang menjadi pusat perhatian mereka.

Isinya kurang lebih bahwa Raina harus segera meninggalkan rumah itu dalam kurun waktu 24 jam.

Dia harus kemana? sanak saudara tidak punya, tetangganya juga sama melaratnya, menumpang tinggal di rumah tetangga sama dengan menambah beban mereka, Raina menghela nafas, sesak di dadanya semakin bertambah.

Langit semakin menghitam, dua orang polisi datang mengabarkan bahwa besok Raina harus pergi dari rumah itu, karena akan di adakan penyelidikan. Raina di persilahkan untuk mengemasi barang-barangnya yang dia perlukan dengan pengawasan kedua polisi tadi.

"pak, memangnya bapak saya terbukti bersalah pak, kok rumah kami harus di sita?"

"sebenarnya bukan wewenang saya dek untuk menyampaikan hal ini, namun status bapak adek telah di naikan menjadi tersangka".

"apa? berarti bapak saya terbukti melakukan korupsi pak?"

"sepertinya begitu dek, kamu yang sabar, semoga kebenaran akan segera terungkap jika benar bapak adek tidak bersalah". polisi tadi menghela nafas nya yang berat, seolah tidak yakin dengan tuduhan yang di layangkan kepada pak Mada, bagaimana bisa, koruptor hidup dalam gubuk kecil dari papan, tanpa tabungan di bank, tanpa kendaraan mahal dan kemewahan lainnya.

-

Nasib malang belum usai menimpa Raina, hari ini dia di pecat karena bosnya takut jika Raina melakukan hal yang sama dengan bapaknya. Bahkan Raina tidak mendapatkan gaji trahir yang seharusnya dia dapatkan dua hari lagi.

"Bu, saya sudah sebulan bekerja, kenapa ngga bisa dapet gaji?"

"saya curiga, barang-barang yang hilang selama ini pasti kamu yang mencuri".

"astagfirullah Bu, saya memang miskin tapi saya bukan maling". mata Raina yang sembab mulai berkaca-kaca kembali.

"alah, buah itu jatuh nggak jauh dari pohonnya, bapakmu bisa korupsi kamu pasti juga bisa mencuri". wanita gendut dengan makeup tebal itu memandang rendah keluarga Raina.

"ibu boleh memecat saya, tapi jangan bawa-bawa bapak saya, saya bersumpah, suatu hari nanti saya akan membalas siapapun yang jahat pada kami hari ini". Raina melempar satu kardus kuas makeup yang tadinya akan dia tata.

Para pegawai lainnya juga memandang Raina dengan sinis, mereka berbisik-bisik seolah membenarkan tindakan bosnya.

Di halte bus, Raina hanya bisa menangis, matanya semakin sulit di buka karena bengkak, Hp di saku celananya bergetar sedari tadi. Allan, dia menelpon Raina, entah kenapa.

"halo". jawab Raina dengan bibir bergetar.

"kamu dimana? saya sama papa dirumah kamu".

"Raina di usir mas, sekarang di halte dekat King Plaza"

"oke, saya kesana"

-

"kamu tidur di sini malam ini, bapak sama Allan di kamar sebelah, kalau ada apa-apa langsung bilang".

"iya pak". Raina masih sesegukan setelah menceritakan bahwa rumahnya di sita untuk barang bukti.

"kamu tenang ya, besok kita ketemu sama bapakmu". pak William menepuk pelan puncak kepala Raina.

"bisa pak?"

"insyaallah bisa rain, kamu tidur dulu".

"iya pak".

Keesokan harinya.

"rain, kenapa wajah kamu jadi seperti ini, kamu semakin kurus". Pak Mada menatap lekat pada putrinya yang terlihat menyedihkan di matanya.

"Raina ngga apa-apa pak, bapak sendiri gimana?"

"bapak baik rain, itu siapa?" pak Mada mengalihkan pandangannya kepada pak William dan Allan yang sedang mengobrol dengan petugas kepolisian.

"itu namanya pak William pak, beliau yang membantu Raina untuk ketemu bapak".Setelah menyadari bahwa Raina memangdangnya pak William mengajak Allan untuk mendekat pada Raina dan pak Mada

"perkenalkan nama saya William Sebastian, ini anak saya Allan". pak William dan Allan menyalami pak Mada secara bergantian.

"saya Mada, bapaknya Raina".

"iya pak, bapak tenang ya pak, saya akan mengurus semua kasus bapak, insyaallah bapak akan segera bebas".

"apa bapak yakin bisa membebaskan saya?".

"jika bapak memang tidak bersalah"

"saya berani bersumpah pak, jangankan bermiliar-miliar satu rupiah pun saya tidak menggunakan dana operasional itu untuk kebutuhan pribadi saya sendiri". Mata pak mata berkaca-kaca.

"baik pak, saya sudah menyiapkan pengacara untuk bapak, dan selama bapak belum bisa pulang, bolehkan saya membawa Raina ke Situbondo?"

"kenapa? bapak ada niat apa membawa putri saya? lebih baik saya mendekam di penjara dari pada harus menjual putri saya".

"bapak, jangan galak-galak sama pak William". Raina menegur bapaknya.

"begini pak ... ... ". pak William menceritakan tentang kejadian tempo hari, sehingga beliau berniat membalas kebaikan Raina.

"maaf pak, saya sudah salah faham". pak Mada menunduk berkali-kali meminta maaf pada pak William.

"sudah pak tidak apa-apa, sudah sewajarnya seorang ayah melindungi putrinya". pak William menepuk pundak pak Mada.

Setalah itu, Raina di bawa ke Situbondo atas persetujuan pak Mada, pak William juga menjadikan Raina sebagai anak angkatnya, beliau akan menyekolahkan Raina kembali agar cita-citanya dapat tercapai.

Terpopuler

Comments

Wiwik Andayani

Wiwik Andayani

Alan orang Situbondo ko spt opa korea

2024-07-01

0

Aprillia

Aprillia

saya ikut prihatin dgn kisah raina

2021-03-03

1

Fitria Dafina

Fitria Dafina

Kasihan Raina thor..

2021-02-28

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Tuduhan korupsi.
2 Bab 2 : Bertemu pak William.
3 Bab 3 : Allan Sebastian.
4 Bab 3 : Menjadi tersangka.
5 Bab 5 : Putusan Hakim.
6 Bab 6 : Kepergian pak Mada.
7 Bab 7 : Ada apa dengan Aleta?
8 Bab 8 : kedatangan Monica.
9 Bab 9 : Papanya Aleta.
10 Bab 10 : Kehancuran karir Allan.
11 Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.
12 Bab 12 : Om Jojo.
13 Bab 13 : Pergi ke pantai.
14 Bab 14 : Alergi Aleta kambuh.
15 Bab 15 : Janji kelingking Raina.
16 Bab 16 : Pilihan sulit.
17 Bab 17 : Ciuman pertama.
18 Bab 18 : My Little Bride.
19 Bab 19 : Menepati janji.
20 Bab 20 : Rubah betina.
21 Bab 21 : Pembahasan yang membuat tidak nyaman.
22 Bab 22 : Tanda merah.
23 Bab 23 : Rona merah jambu.
24 Bab 24 : Penyakit kelamin.
25 Bab 25 : Apa boleh?
26 Bab 26 : Keberanian Raina.
27 Bab 27 : Pengakuan Monica.
28 Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.
29 Bab 29 : Spinocerebellar Ataxia.
30 Bab 30 : Ada apa dengan Allan?
31 Bab 31 : Ucapan terima kasih dari pak William.
32 Bab 32 : Monica menjadi buronan.
33 Bab 33 : Mesin capit.
34 Bab 34 : Takut kehilangan Aleta.
35 Bab 35 : Apa aku tidak boleh bahagia?
36 Bab 36 : Kepergian Allan.
37 Bab 37 : Lamaran yang terlambat.
38 Bab 38 : Luka.
39 Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.
40 Bab 40 : Obat kangen.
41 Bab 41 : Kehamilan Raina.
42 Bab 42 : Penyelesaian masalah part I
43 Bab 43 : Penyelesaian masalah part II
44 Bab 44 : Penyelesaian masalah part III
45 Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV
46 Bab 46 : Terkuak fakta.
47 Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.
48 Bab 48 : Penyesalan pak William.
49 Bab 49 : Kapten Ri.
50 Bab 50 : kecantikan Valerie.
51 Bab 51 : Cemburu.
52 Bab 52 : Perubahan.
53 Bab 53 : Jatuh cinta lagi.
54 Bab 54 : Pelajaran untuk Allan dan Carter.
55 Bab 55 : Stalking.
56 Bab 56 : Sebuah peringatan.
57 Bab 57 : Albani Julian Sebastian.
58 Bab 58 : Makan siang bersama.
59 Bab 59 : oke?
60 Bab 60 : Sindiran Bu Lidya.
61 Bab 61 : Kamu tidak gila, tapi sinting !!
62 Bab 62 : Ada apa dengan Alex?
63 Bab 63 : Pendonor untuk Alex.
64 Bab 64 : Tentang Aleta.
65 Bab 65 : Ali cemburu.
66 Bab 66 : The end.
67 Extra part
68 Extra part
69 Novel baru
70 Novel baru lagi
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1 : Tuduhan korupsi.
2
Bab 2 : Bertemu pak William.
3
Bab 3 : Allan Sebastian.
4
Bab 3 : Menjadi tersangka.
5
Bab 5 : Putusan Hakim.
6
Bab 6 : Kepergian pak Mada.
7
Bab 7 : Ada apa dengan Aleta?
8
Bab 8 : kedatangan Monica.
9
Bab 9 : Papanya Aleta.
10
Bab 10 : Kehancuran karir Allan.
11
Bab 11 : Makan malam dengan keluarga Chaniago.
12
Bab 12 : Om Jojo.
13
Bab 13 : Pergi ke pantai.
14
Bab 14 : Alergi Aleta kambuh.
15
Bab 15 : Janji kelingking Raina.
16
Bab 16 : Pilihan sulit.
17
Bab 17 : Ciuman pertama.
18
Bab 18 : My Little Bride.
19
Bab 19 : Menepati janji.
20
Bab 20 : Rubah betina.
21
Bab 21 : Pembahasan yang membuat tidak nyaman.
22
Bab 22 : Tanda merah.
23
Bab 23 : Rona merah jambu.
24
Bab 24 : Penyakit kelamin.
25
Bab 25 : Apa boleh?
26
Bab 26 : Keberanian Raina.
27
Bab 27 : Pengakuan Monica.
28
Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.
29
Bab 29 : Spinocerebellar Ataxia.
30
Bab 30 : Ada apa dengan Allan?
31
Bab 31 : Ucapan terima kasih dari pak William.
32
Bab 32 : Monica menjadi buronan.
33
Bab 33 : Mesin capit.
34
Bab 34 : Takut kehilangan Aleta.
35
Bab 35 : Apa aku tidak boleh bahagia?
36
Bab 36 : Kepergian Allan.
37
Bab 37 : Lamaran yang terlambat.
38
Bab 38 : Luka.
39
Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.
40
Bab 40 : Obat kangen.
41
Bab 41 : Kehamilan Raina.
42
Bab 42 : Penyelesaian masalah part I
43
Bab 43 : Penyelesaian masalah part II
44
Bab 44 : Penyelesaian masalah part III
45
Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV
46
Bab 46 : Terkuak fakta.
47
Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.
48
Bab 48 : Penyesalan pak William.
49
Bab 49 : Kapten Ri.
50
Bab 50 : kecantikan Valerie.
51
Bab 51 : Cemburu.
52
Bab 52 : Perubahan.
53
Bab 53 : Jatuh cinta lagi.
54
Bab 54 : Pelajaran untuk Allan dan Carter.
55
Bab 55 : Stalking.
56
Bab 56 : Sebuah peringatan.
57
Bab 57 : Albani Julian Sebastian.
58
Bab 58 : Makan siang bersama.
59
Bab 59 : oke?
60
Bab 60 : Sindiran Bu Lidya.
61
Bab 61 : Kamu tidak gila, tapi sinting !!
62
Bab 62 : Ada apa dengan Alex?
63
Bab 63 : Pendonor untuk Alex.
64
Bab 64 : Tentang Aleta.
65
Bab 65 : Ali cemburu.
66
Bab 66 : The end.
67
Extra part
68
Extra part
69
Novel baru
70
Novel baru lagi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!