Raina segera merengkuh tubuh Aleta yang terkulai lemah, membawanya menuruni tangga dengan tertatih.
"mas .. !!" seru Raina pada Allan yang sedang bermesraan dengan Monica.
"apa sih triak-triak?" Monica sewot saat kekasihnya di bentak oleh Raina.
"tadi Aleta kalian kasih makan apa?" Raina berapi-api, sorot matanya penuh emosi memandang lurus pada Allan.
"emang kenapa?"
"Raina tanya, Aleta makan apa? kenapa balik tanya".
"lobster sama cumi". jawab Allan dengan dahi mengkerut.
Tanpa berkata apapun, Raina segera keluar membawa Aleta yang terbalut selimut dalam gendongannya.
"mau kemana?" Allan meneriaki Raina, namun Raina tidak menggubris abangnya itu.
"heh, dasar anak pungut nggak tau diri, dikasih hati minta jantung", Monica menghina Raina dengan lantang, seolah kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah gurauan.
"Monic, kamu nggak boleh ngomong gitu, Raina itu nyelametin bapak". Allan memprotes kekasihnya.
"namanya anak pungut tetep anak pungut".
"diem kamu, sekali lagi kamu ngomong Raina anak pungut, aku bakalan marah banget sama kamu". bentak Allan.
Raina terpaku, berdiri membelakangi kedua manusia yang sedang berdebat tentang dirinya itu.
"rain, kamu mau kemana?" tanya Allan sekali lagi.
"ke rumah sakit".
"kenapa?"
"kenapa? mas tanya kenapa?" Raina mengulang pertanyaan Allan.
"iya, emang kenapa?" tanya Allan lagi.
"mas sadar apa yang mas lakuin? mas biarin Aleta seharian pakai baju basah, kasih makan dia seafood, yang paling parah, mas ngga tau kalo alergi Aleta kambuh?" mata Raina berkaca-kaca, menuduh laki-laki yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"alergi apa?" Allan semakin keheranan, tidak mengerti tentang apa yang Raina bicarakan.
"dah lah, mas urus aja dokter gadungan itu". Monica yang tidak terima atas ucapan Raina lantas berdiri dan menampar Raina.
"jaga ya mulut kamu, saya kuliah mahal-mahal buat jadi dokter yang baik, enak aja di bilang dokter gadungan". Monica berteriak seperti orang gila.
"kalo kamu benar-benar dokter, seharusnya kamu tau gejala alergi yang di alami Aleta, bahkan ketika tubuhnya mulai bereaksi tidak menerima makanan itu". Raina menunjuk wajah Monica, dia sangat emosi ketika bersangkutan dengan Aleta.
Monica hanya diam, tatapan matanya nanar menatap ke arah Raina yang masih menggendong Aleta.
Setelahnya, Raina bergegas pergi, Allan yang berusaha menahan untuk mengantar Raina, dia tolak mentah-mentah.
Raina memilih di antar oleh sopir pribadinya, langsung menuju Rumah Sakit terdekat. Di ruang UGD Aleta di periksa dengan seksama, dokter menyarankan Aleta untuk di rawat inap, dan Raina menyetujui hal itu.
Perut Raina berbunyi karena dari siang dia tidak makan, saat dia hampir memesan makanan lewat gojek tiba-tiba Hpnya bergetar. Johan, pria dengan wajah teduh itu melakukan panggilan video.
"halo". jawab Raina malu-malu hanya menampilkan sebelah wajahnya.
"rain, kamu lagi RS?" Johan mengamati background di belakang Raina.
"iya kak, Aleta sakit". jawab Raina dengan wajah sedih.
"kamu sama siapa?"
"sendiri".
"kakak susul ya?"
"ngga usah kak, takut ngerepotin". jawab Raina sungkan.
"nggak, kamu di RS mana?"
"Bunda Medika kak".
"kakak langsung kesitu sekarang". Johan mematikan panggilan video nya.
Raina kembali menatap Aleta yang masih memejamkan mata. Bibirnya yang bengkak membuat Raina semakin sesak, kesedihan menyelimuti hatinya.
Sekitar 20 menit, Johan datang dengan satu buah plastik dengan logo makanan cepat saji yang terkenal. Satu kotak besar pizza, kentang goreng, burger dan dua gelas besar cola.
"hai..". sapa Johan ketika melihat Raina yang duduk sendiri di sofa.
"kak Jo nggak sibuk, rain ngga enak, takut ngerepotin". jawab Raina menyambut uluran tangan Johan.
"kita di luar aja ya, takut ganggu Aleta". kata Johan tanpa melepaskan tangan Raina.
"iya kak".
"Rain, emang Allan belum bisa nerima Aleta?" tanya Johan.
"Kakak tau tentang Aleta?" Raina mengerutkan keningnya, seolah tidak percaya dengan perkataan Johan.
"siapa yang nggak tau sih rain, itu bukan rahasia". Johan menyalakan rokok setelah menutup pintu balkon. Raina duduk menghadap ke arah ranjang Aleta.
"ah, Raina kira ngga ada yang tau soal Aleta".
"rain, Kaka sama Allan itu dulunya sahabat baik, tapi akhirnya pecah gara-gara Monica".
"Monica?".
"kakak sama Monica itu pacaran sejak SMA, terus pas kita udah sama-sama punya kerjaan, kakak kenalin dia sama Allan yang waktu itu lagi down gara-gara Aleta, ngga lama kemudian mereka selingkuh di belakang kakak". Johan tersenyum, mungkin baginya luka itu sudah tidak berarti, jadi dia sudah bisa tersenyum ketika mengingatnya.
"hah? kok bisa, selingkuh dari kak Jo sama mas Allan?" Raina menggeleng pelan, tidak percaya dengan perkataan Johan.
"serius, sampai waktu itu Monica bantu Allan buat bawa Aleta ke panti asuhan, untung aja ketahuan Bu Lidya". jawab Johan.
"jadi? kak Jo sama mas Allan udah saling kenal dari dulu, Raina kira kalian nggak saling kenal".
"pak William kan sering bawa Allan buat main golf sama papa dan aku, walaupun umur kami beda jauh, tapi kami bisa bersahabat dengan baik".
"ohh ..".
"makan dulu rain, nanti keburu dingin, kamu pasti belum makan?" Johan membuka kotak pizza dan mengambil sepotong untuk Raina.
"makasih".
Mereka makan hingga kekenyangan, Raina menatap Johan yang di sinari cahaya remang-remang, tampan mapan, sebuah perpaduan yang sempurna untuk seorang laki-laki.
"hai, kok liatin aku sampai gitu sih?"
"ah, nggak kak" Raina tersipu malu.
"mau di temenin nginep di sini?" tanya Johan.
"nggak usah kak, Raina sendiri aja, kak Jo kan sekarang lagi sibuk".
"ya udah, aku pulang ya, kalau ada apa-apa langsung telepon".
"oke". Raina mengantar Johan ke depan pintu, Johan membelai puncak kepalanya, lalu hampir mencium dahi Raina, namun Allan datang di waktu yang sama.
"mau ngapain?" Allan menarik kerah baju Johan.
"mas, ngga usah kasar bisa?" Raina membentak abangnya.
"its okay rain, kakak pulang dulu". Johan melepas paksa kerah bajunya yang di cengkeram oleh Allan.
Sepeninggal Johan, Raina duduk kembali di kursi dekat ranjang Aleta, tangannya merasai kening Aleta, demamnya sudah turun, bengkak di bibirnya mulai berkurang, dan ruamnya juga sudah pudar. Raina tersenyum lalu mencium pipi Aleta.
Sedangkan Allan merebahkan badan di ranjang yang di sediakan untuk penunggu pasien sambil menyalakan televisi.
Raina yang malas melihat Allan memutuskan untuk keluar ke balkon lagi, hawa dingin menyapu kulit lengannya yang terbuka, Raina memeluk dirinya sendiri pak Jaya yang tadi di minta mengambil pakaiannya dan Aleta juga belum kembali.
Tiba-tiba Allan keluar, menyelimuti tubuh Raina dengan jaket yang tadi dia pakai.
"di luar dingin, ayo masuk".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
sherly
Allan sialan
2023-05-26
0
Herta Siahaan
Allan itu bodoh atau terlalu cuek atau terlalu cinta sich.... g jg bisa baca siapa Monica
2022-08-21
0
Aprillia
moga aja apa yg saya pikirkan jg rasakan,memang benar adanya.
hmmm 🤔
wuaaah..diriku ini penasaran sendiri,bisa" yg lain ikut penasaran jga 😁😁
2021-03-03
2