Bu Lidya menatap anak beranak yang sedang menangis sesegukan saling memeluk satu sama lain, di hatinya terbersit rasa benci pada siapapun yang telah membuat hidup mereka lebih dari menderita, bagiamana tidak, setelah hidup dalam kemelaratan mereka harus mengalami hal buruk seperti ini.
"pak, bapak yang sehat ya, Raina janji bakalan bawa bapak pulang secepatnya, semoga pak William sama mas Allan bisa segera menemukan buktinya".
"bapak tidak apa-apa disini rain, yang penting kamu sekarang sudah bisa hidup layak, bahkan bergelimang kemewahan yang tidak bisa bapak berikan". pak Mada mengusap peluh di dahinya, nafasnya sesak, sepertinya asmanya kambuh.
"bapak sakit? asmanya kambuh?" tanya Raina khawatir pada bapaknya.
"bapak baik-baik aja, kamu jangan khawatir sama keadaan bapak, di dalam bapak punya banyak temen yang baik, bapak juga ngga harus nunda buat sholat 5 waktu karena sekarang bapak nggak harus mumpet-mumpet kalo mau sholat". pak Mada tertawa bahagia, seolah menemukan secuil hal baik dari timbunan kemalangan yang menimpanya.
"pak Mada butuh apa pak? nanti saya bawakan". tanya Bu Lidya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka berdua.
"ngga ada Bu, saya nitip Raina aja".
"maaf ya pak, kami belum bisa ngajak pak Mada pulang, saya mohon bapak untuk sabar sebentar lagi". Bu Lidya menahan tangisnya dengan mengulas senyum penuh ketulusan.
"saya tidak apa-apa Bu, justru di sini saya senang karena tidak harus bekerja". sekali lagi pak Mada tertawa, ingatannya kembali pada beberapa hari lalu, ketika dia harus menjadi buruh bangunan selepas bekerja sebagai staf TU.
"rain, kamu jangan nangis terus, nanti mata kamu bengkak". pak Mada menepuk pelan kepala putrinya.
"pak, Raina harus bagaimana?" Raina sesegukan, tubuhnya bergetar menahan kegundahan yang ada di hatinya.
"pulang lah bersama Bu Lidya, ikuti perintah bu Lidya, jangan suka mbantah, jangan nyusahin Bu Lidya, bapak tidak bisa lagi menjaga kamu rain, bapak minta maaf kalo bapak nyusahin kamu".
"iya pak, bapak janji sama Raina ya bapak nggak boleh sakit".
"iya InsyaAllah". pak Mada beranjak karena jam besuk telah berakhir.
-
Jam 5 pagi Raina mengambil air wudhu sebelum menunaikan subuhnya.
"rain, kamu cepetan sholat, kita ke RS Bhayangkara, bapak kamu masuk RS.
"lhoh ..kenapa ma?"
"sesak nafas katanya, cepet sholat dulu".
"iya ma"
-
Di rumah sakit, suasana sudah begitu kacau, pak Mada kritis, bukan hanya asma, ternyata pak Mada juga menderita asam lambung dan kurang darah, sebuah komplikasi penyakit yang selalu menjangkit orang-orang miskin.
Raina terus menerus menangis, Allan yang sedari tadi membatu kini mulai merasa iba. Ingin rasanya dia ikut menangis, selama hidupnya baru kali ini merasakan atmosfir yang begitu menyesakkan dada. Bahkan bertahun-tahun menjadi tentara belum pernah dia merasakan hawa dingin seperti sekarang ini.
Pukul 02.00 dinihari, kondisi pak Mada semakin menurun,. bahkan beberapa kali kehilangan kesadaran, semua dokter telah mengupayakan yang terbaik,Bu Lidya berulang kali memarahi dokter yang hanya bisa meminta maaf saat ditanya soal kondisi pak Mada.
Raina kehilangan harapan, tubuh ringkihnya dia sandarkan di dinding rumah sakit yang terasa dingin menusuk tulang, tatapan matanya nanar, memandang jauh ke lorong gelap tak berujung.
Allan masih setia menemani dua wanita yang sedang gusar itu, sedangkan pak William sedang masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
"keluarga bapak Mada". kata seorang suster ketika kluar dari ruang perawatan pak Mada.
"iya, kami sus". Bu Lidya menjawab mendahului Raina.
"dokter memanggil masuk Bu".
Lalu Raina dan Bu Lidya masuk ke ruangan penuh alat bantu itu.
"Bu, kondisi pak Mada sudah seperti ini, sekarang kita hanya bisa menunggu mukjizat, mari kita berdoa bersama semoga Allah masih memberi kesempatan untuk beliau". Raina hanya bisa menunduk, mencoba bernafas setenang mungkin di tengah Isak tangisnya.
"tidak ada cara lain untuk menyembuhkan pak Mada, obat mahal juga akan saya beli, atau harus di bawa ke luar negeri?" kata Bu Lidya dengan bibir bergetar.
"peralatan kami lengkap Bu, dan penyakit beliau bukan penyakit yang susah di sembuhkan, namun sepertinya kondisi tubuh beliau yang terlalu lemah dan tidak mampu lagi untuk bertahan".
bruk
Raina pingsan setelah beberapa lama mencoba menguatkan diri.
Allan segera membopongnya keluar ke UGD dengan hati-hati. Akhirnya Raina juga tumbang, selang infus mengalirkan cairan ke tubuhnya.
Setelah beberapa saat pingsan, Raina sadar dengan sendirinya, mengerjakan mata dan menyadari bahwa dirinya ada di ruangan perawatan, dia melihat Allan yang tertidur di sofa, hatinya tiba-tiba sakit, sesak teringat keadaan bapaknya, Isak tangis kembali terdengar dari bibir Raina.
"kamu udah sadar?" tanya Allan saat mendengar suara tangis Raina. Namun Raina bergeming, hanya nafasnya yang semakin tersengal-sengal.
"mas.. ayo ki-ta ke ru-a-ngan bapak". kata Raina dengan terbata-bata. Allan hanya mengangguk membantu Raina turun dari tempat tidurnya.
Langkah kaki Raina sempoyongan, tubuhnya lemah, sejak pak Mada di nyatakan bersalah dia sangat tertekan hingga tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.
"rain, kamu sudah sadar nak?" Tanya pak William yang ternyata sudah datang dan kini menemani Bu Lidya di depan ruangan pak Mada.
"iya pak".
Raina duduk dengan memegang besi tiang infus yang dia bawa dari ruangnya, tadinya Raina ingin infusnya di lepas, namun Allan menolaknya dengan tegas.
Selang beberapa saat, dokter yang menangani pak Mada kembali memanggil pihak keluarga, kali ini pak William yang memasuki ruangan, Detak jantung dan tekanan darah pak Mada semakin menurun, pupil matanya juga sudah tidak bereaksi, dokter hanya mampu memberi obat penunjang namun tubuh pak Mada sendiri yang sudah tidak mampu menerimanya.
Dan akhirnya, semua alat menunjukkan bahwa pak Mada kehilangan kesadaran, pak William diminta untuk menunggu di luar, sedangkan dokter tetap berusaha menyelamatkan pak Mada.
"rain yang sabar, bapak sama mama kamu ada disini, walaupun kita baru saja bertemu dan saling mengenal, percayalah, kami akan menyayangi kami sama seperti Allan". Kata pak William namun tidak mendapat respon dari Raina.
pukul 06.12 pak Mada di nyatakan meninggal setelah berjuang beberapa jam lamanya, Raina menguatkan diri agar tidak pingsan supaya bisa mengantar pak Mada ke peristirahatan terakhirnya.
Bu Lidya memeluk tubuh Raina, membelai punggungnya dengan lembut, Raina merasakan kenyamanan di tengah kegundahan yang dia rasakan, Raina ingat pesan terahir bapaknya, agar dia menurut dan menjadi anak baik untuk Bu Lidya, berarti bapaknya telah memiliki firasat bahwa beliau akan benar-benar meninggalkan Raina untuk selamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
dewi rofiqoh
😭😭😭😭😭😭😭
Jadi ingat bapak
Bapak..... Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik disisiNya aamiin
2023-05-14
1
Rika Baril
aku jadi nangis baca bab ini karna aku juga pernah merasakannya
2023-03-18
0
Leni Ani
kasihan raina udah jatuh di timpa tanga lag😭😭😭😭
2021-05-25
1