Raina membalikkan badan, pandangannya bertemu dengan Allan, tidak bisa di pungkiri, Allan lebih menarik di banding Johan, kepribadian Johan yang terlalu baik dan datar membuat semuanya biasa saja.
"masuk". perintah Allan setelah salah tingkah karena beradu pandang dengan adik angkatnya.
"aku masih mau di sini". Raina mencoba mengendalikan perasaanya sendiri, hatinya tidak bisa menolak pesona Allan.
"kenapa?" tanya Allan sembari duduk di kursi balkon.
"mas Allan masuk aja".
"kamu marah?" merasa ada yang salah dengan Raina, Allan mencoba mencari jawaban dengan melihat wajah Raina yang menatap kosong ke arah jalanan yang lengang.
"rain?" panggil Allan lagi.
"mas, mas Allan masuk aja, Raina lagi pengen sendiri".
"kalo ini soal Aleta, aku minta maaf, aku ngga punya pengalaman soal ngurus anak".
"ngga punya, apa emang nggak mau?" jawab Raina sinis.
"aku belum bisa nerima Aleta, aku nggak pernah berharap punya anak dengan Valerie, dia cuma cewek bayaran, dia cuma buat mainan".
"apa mas pikir Aleta juga mau punya orang tua kaya mas? Aleta juga nggak bisa memilih dari rahim siapa dia di lahirkan".
"rain, kamu seharusnya mengerti, aku memenuhi semua kebutuhan Aleta, apa itu masih kurang?" Allan terlihat frustasi.
"Aleta nggak cuma butuh uang dan harta, anak seusia Aleta itu butuh kasih sayang untuk membentuk kepribadian nya".
"mama sayang kok sama Aleta". Pandangan Allan beralih, dari menatap Raina kini menatap putrinya yang masih terlelap.
"mas nggak lihat, betapa banyaknya hal buruk yang udah dia lalui sendiri? bahkan dia menahan sakitnya di cubit, di gigit di pukuli Marni karena Marni selalu bilang, kalo dia ngga ngadu maka mas akan sayang sama dia, mas pernah ngga mikirin perasaan Aleta, setiap dia manggil mas dengan sebutan papa tapi mas seolah ngga perduli?"
Allan diam, hanya ubin balkon yang bisa menjadi tempatnya membuang pandangan, tangannya mengepal kuat, hatinya sakit, yang dia ingat adalah kehadiran Aleta membuat karirnya hancur.
"kelahiran Aleta menghancurkan hidupku".
"mas Allan sendiri yang membawa Aleta ke dunia ini, mungkin nanti saat dia dewasa dia akan berfikir bahwa tidak pernah di lahirkan pasti lebih baik daripada hidup dalam keadaan seperti ini".
Raina hendak meninggalkan Allan yang ada balkon, tapi langkahnya terhenti ketika Allan meraih tangannya.
"rain, bantu aku, ajari aku menyanyi Aleta, seperti kamu menyayangi dia". bibir Allan bergetar, air mata menggenang di pelupuk matanya.
"rasa sayang akan timbul karena terbiasa, biasakan untuk mengajak Aleta bermain, setidaknya 10 menit sehari".
"Aleta butuh mama, dan Monica tidak mungkin bisa menempati posisi itu".
"lalu?"
"entahlah". Allan terlebih dahulu masuk, menatap Aleta dengan sendu, lalu duduk di kursi dekat ranjang gadis kecil itu. "kamu tidur aja, biar aku yang jaga Alleta".
Malam itu, waktu berjalan lambat, Raina yang tidak bisa tidur berulang kali mengecek keadaan Aleta, dan papanya. Pikiran Raina melayang, teringat kata-kata Johan tentang Monica yang pernah membantu Allan untuk membawa Aleta ke panti asuhan, itu tandanya Monica tidak menginginkan Aleta dalam hubungannya dengan Allan.
Allan tidur di sofa, dengan celana pendek dan kaos tipis membuat Allan melipat tangannya di dada untuk mengurangi hawa dingin. Raina yang melihatnya segera mengambil selimut di dalam lemari untuk menyelimuti Allan yang terlelap.
-
"Tante suapi ya sayang, Aleta udah baikan kan?" Raina memegang semangkuk bubur yang baru saja di antar oleh seorang petugas. Namun lirikan Aleta mengarah ke Allan yang hanya diam membatu.
"Aleta mau di suapi papa?" Raina mengulas senyum tulus, dan gadis kecil itu mengangguk.
Dengan segera Raina memberikan buburnya pada Allan, wajahnya terlihat kebingungan dengan mangkuk bubur di tangannya.
"suapi sambil tanya bagaimana keadaanya, katanya mas mau dekat sama Aleta?" bisik Raina, Allan mengangguk.
"sayang, Tante rain mandi ya, makan yang banyak sama papa". dengan satu kedipan mata, Raina meninggalkan anak beranak itu dan masuk ke kamar mandi.
"ayo makan, kamu harus makan yang banyak". Allan meminta Aleta membuka mulut dengan nada tinggi, lebih mirip orang memarahi daripada orang yang sedang menyuapi.
Aleta membuka mulutnya, satu suap demi satu suap masuk ke mulut Aleta, buburnya hampir habis ketika Raina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
Aleta menatap tantenya dengan mata berkaca-kaca, terlihat jelas bahwa dia menahan tangis sedari tadi, Raina yang melihat itu langsung menghampiri nya.
"sayang, kenapa?" Raina bingung, Aleta tiba-tiba memeluknya erat sambil terisak-isak. Pandangan Raina beralih pada Allan yang sudah bangkit dan mengenakan jaketnya.
"aku pergi rain". keputusasaan tampak jelas pada wajah Allan. Raina hanya mengangguk.
Bagaimana bisa, Raina yang hanya orang asing menjadi penengah antara anak beranak yang baru saja di kenalnya beberapa bulan yang lalu.
"Tante, papa udah pergi?" Aleta mengintip dari balik tubuh Raina, mencari keberadaan papanya.
"papa pulang sayang, Aleta kenapa nangis?"
"papa marahin Aleta". gadis kecil itu sesegukan, membuat demamnya naik lagi.
"nanti Tante rain marahin papa ya, biar nggak galak lagi sama Aleta?"
"Janji? Tante rain mau marahin papa?".
"iya sayang, janji". Raina mengangkat kelingkingnya, pertanda janji kepada Aleta.
-
"hai Aleta, kamu udah sembuh?" Monica masuk tanpa mengetuk pintu, suara sepatu hak tingginya terdengar memuakkan bagi Raina.
"kok diem sih, nih Tante bawain coklat buat Aleta". wanita itu mengulurkan beberapa batang Silverqueen dan kinder joy untuk Aleta. Gadis kecil itu bergeming.
"uhhh...nggak mau ya? maunya apa sayang? boneka? mainan?" Monica terus merayu Aleta, sedangkan Allan hanya diam terpaku melihat usaha kekasihnya yang sia-sia.
"sayang, nanti kalau udah sembuh mau Tante beliin apa? sepeda? skuter? atau sepatu roda?" Aleta hanya menggeleng, seolah tidak tertarik dengan semua itu.
"ah, bodo amat, aku udah nggak perduli, aku mau pulang". Monica melenggang pergi, membanting pintu sekuat tenaga, sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia adalah wanita berpendidikan.
"tuh pacarnya ngambek, nggak di kejar?" sindir Raina pada Allan.
"Aleta, kamu nggak boleh gitu sama Tante Monica ..!!!". Allan meneriaki anaknya tanpa rasa iba. Aleta kembali terisak.
"mas, lebih baik kamu keluar, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu jahat sama Aleta lagi, mulai Hari ini, besok, dan seterusnya, aku yang tanggung jawab soal Aleta". Raina menangis, wajahnya merah padam, terlihat jelas jika saat ini dia benar-benar marah pada Allan.
"rain, jangan di manjain, dia salah jadi harus di marahin".
"salah, yang salah itu kamu, kamu yang salah di masa lalu, tapi kamu melampiaskan kekecewaan kamu atas dirimu sendiri pada Aleta". Raina menunjuk-nunjuk dada Allan dengan telunjuknya suaranya lirih bahkan hampir berbisik namun mematikan lawan bicaranya. Allan hanya terdiam, dia memejamkan mata, tidak bisa lagi menjawab cercaan Raina, sepertinya memang itu yang di rasakan Allan selama ini, Aleta adalah pelampiasan atas rasa kecewanya terhadap dirinya sendiri.
"mas keluar aja, biar aku yang ngurus Aleta". telunjuk Raina berganti menunjuk pintu, mengisyaratkan bahwa dia ingin Allan pergi.
"maaf rain". Hanya maaf yang mampu Allan katakan, sekilas dia melirik Aleta sebelum pergi meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
sherly
Monica dokter gadungan
2023-05-26
0
Yuliastuti
Monica ga cocok jadi dokter
2021-04-23
0
Aprillia
hello hello...
ntu monica kan ngatain raina anak pungut,knp allan yg secara ank kandung skaligus papa kndungnya alleta malah kalah debat sama raina 🤣🤣🤣
liat nanti aja,ntar si monkey di depak sama ank pungut.
good job for author 👍
2021-03-03
1