Raina terus memeluk Aleta setelah kepergian Allan, bibirnya terus bergumam merapal segala doa mengutuki laki-laki itu.
Baginya dirinya dan Aleta adalah dua anak manusia yang memiliki nasib yang bertolak belakang, Raina di lahirkan di dalam keluarga miskin yang serba kekurangan, namun berlimpah kasih sayang, sedangkan Aleta, dia tidak pernah merasakan tidur dengan memeluk baskom untuk menampung kebocoran namun dia juga tidak pernah merasakan hal sepele yang di namakan kasih sayang.
"rain". Bu Lidya masuk dengan wajah tegang, melihat anak gadisnya sedang menangis memeluk cucunya yang sakit.
"ma, mama udah pulang?"
"iya, mama ambil penerbangan pagi, Aleta kamu nggak apa-apa sayang?"
"Aleta udah sembuh kok eyang mama". jawab Aleta dengan senyum khas anak kecil.
"Allan di mana?" Bu Lidya mengedarkan pandangan mencari tanda-tanda keberadaan anak sulungnya.
"mas Allan baru aja pulang ma, abis nyuapin Aleta".
"nyuapin Aleta?" Seolah mendengar berita luar biasa, Bu Lidya sampai mengernyitkan dahinya.
"iya ma".
"Aleta, kemarin bisa sakit kenapa rain?"
"di kasih makan lobster sama mas Allan ma".
"eyang mama, Aleta nggak mau jalan-jalan sama papa lagi kalo ada Tante Monica". tiba-tiba gadis kecil itu bersuara.
"kenapa sayang?"
"kemarin Aleta di dorong biar masuk laut, terus pas Aleta kedinginan Tante Monic nggak mau gantiin baju Aleta".
"apa?" jawab Raina dan Bu Lidya serentak.
"iya ma, kemarin Aleta pulang bajunya basah". jelas Raina.
"keterlaluan !!". Bu Lidya segera mengambil Hpnya untuk menelpon Allan.
"halo".
"halo ma"
"kamu ke rumah sakit sekarang, mama tunggu, ajak Monica juga".
"kenapa?"
"nggak usah banyak tanya". Bu Lidya langsung mematikan telepon tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Bu Lidya mengepal erat hingga kuku jarinya yang lentik memutih, dia memeluk cucu kesayangannya dengan tatapan nanar, sedangkan Raina sibuk membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa saat kemudian, datanglah orang yang di tuduh Aleta, Monica dengan dress merah selutut tampak serasi dengan Allan yang tampan.
"duduk". hardik Bu Lidya pada dua orang tadi.
"kenapa sih?" Allan bergumam tapi aku masih bisa mendengarnya.
"pertama, Allan, Aleta itu anak kamu, kalau kamu tidak suka dengan dia, silahkan tinggalkan rumah mama, jangan berharap dapat warisan apapun dari keluarga Sebastian, lalu kamu, Monica, kalau kamu ingin menyingkirkan Aleta seperti dulu, saya akan pastikan kamu yang tersingkir dari dunia ini, sampai saya mati, saya tidak akan membiarkan kamu menyentuh Aleta dengan niat busukmu". Bu Lidya menunjuk-nunjuk wajah kedua manusia tadi bergantian.
Allan hanya terdiam, apa lagi Monica, matanya berkaca-kaca, mereka berdua menunduk, tidak mampu menatap Bu Lidya yang sedang kalap.
"keluar kamu sekarang, saya tidak sudi melihat kamu lagi, saya tidak perduli jika nanti mamamu datang dan memutuskan kerja sama usaha kami". Bu Lidya menantang dokter muda yang cantik itu.
"mah, mama jangan gitu, Allan cinta sama Monica".
"ikuti saja dia, tinggalkan kunci mobil dan dompet, silahkan ikuti dia". Tangan Bu Lidya mengulur ke arah pintu, mempersilahkan Allan pergi.
Monica berdiri, langkah kakinya di hentakkan sekuat tenaga yang menimbulkan kebisingan akibat ujung Hellsnya yang beradu dengan ubin rumah sakit.
Sedangkan Allan masih membatu, seolah dia juga merelakan kepergian Monica.
"kenapa nggak pergi?" sindir Bu Lidya.
"Allan juga sadar, kalau Monica ngga mungkin jadi mamanya Aleta". Sorot matanya sayu, seolah tidak ada pilihan dalam hidupnya. "Allan sangat menyayangi Monica, tapi sifatnya lama-lama membuat Allan muak". Melihat putranya telah sadar, Bu Lidya tersenyum senang.
"lupakan Monica, cari istri yang bisa menyayangi Aleta seperti Raina".
Seketika perasaan aneh muncul dalam hati Allan, selama ini dia memang tidak pernah menganggap Raina sebagai adik, melainkan dia tetap melihat Raina sebagai wanita.
"mama itu sudah tua, seharusnya mama menikmati masa tua mama setelah papamu pensiun, bukanya harus mengurus balita yang baru bertumbuh". lanjut bu Lidya.
"kita bisa sewa baby sitter kan?"
"mama udah nggak percaya sama baby sitter, Rini juga entah kemana ngga ada kabarnya". Bu Lidya mengerucutkan bibirnya.
"biar Aleta sama Raina aja ma".
"kamu kuliah rain, kamu harus jadi dokter yang hebat".
"Raina akan membalas kebaikan mama dan bapak dengan menjaga Aleta". Raina bersungguh-sungguh, baginya, gelar dokter tidaklah penting.
"baik, kalau itu kemauan kamu sendiri, mama turuti, asal kamu menikah dengan Allan".
Deg.
"ma, ngga gitu juga kali ma". Allan memprotes mamanya.
"kalau dia tidak bisa menjadi dokter untuk merawat anakmu, maka sudah seharusnya dia menjadi istrimu, jadi ibu rumah tangga juga bagus, dulu mama juga cuma tamatan SMA". Bu Lidya melenggang, mengambil minuman kemasan di meja sebelah ranjang Aleta, sepertinya dia haus setelah menumpahkan kekesalannya.
"ma, Raina iklas kalau harus menjaga Aleta tanpa imbalan apa-apa ma".
"kamu tinggal pilih, kuliah atau menjaga Aleta, karena kamu tidak akan bisa melakukan keduanya bersamaan". Raina menunduk, ingin rasanya dia menarik kata-kata yang tadi keluar dari mulutnya.
"kasian Raina dong ma kalo dikasih pilihan kaya gitu". Allan protes, mewakilkan Raina.
"kamu juga tinggal pilih, menikah dengan wanita lain yang belum tentu bisa menerima Aleta, atau menikah dengan Raina, meskipun dia adalah anak angkat mama, tapi tidak menutup kemungkinan untuk menikahkan kalian berdua".
Dalam hati Raina menyesal, kenapa arah pembicaraannya menjadi seperti ini, yang awalnya membahas Aleta, kenapa malah jadi ke masalah pernikahan antara dia dan Allan.
"Aleta, kamu mau kan Tante rain jadi mama kamu". Bu Lidya bertanya pada gadis kecil di atas ranjang yang sedang asik melihat kartun favoritnya dengan hp Raina.
"apa? Tante rain jadi mama Aleta?" matanya berbinar, seolah ada kebahagiaan yang terpancar, keinginannya selama ini kini di tawarkan untuk di kabulkan.
"mau?" tanya Bu Lidya lagi.
"mau" Aleta mengangguk keras, Raina melirik Allan yang mengusap wajahnya dengan kasar.
ceklek..
"pa..". sapa Allan pada pak William yang baru saja masuk ke kamar perawatan Aleta.
"wah, cucu eyang udah sembuh kayaknya".
"eyang papa, Tante rain mau jadi mama Aleta". kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulut gadis kecil itu, ia segera mengabarkan bahwa dia akan segera mendapat mama baru.
"apa?" pandangan pak William bergantian menatap kedua anaknya.
"bukan begitu pak.." Raina mencoba menjelaskan.
"bapak sangat terkejut, tapi itu adalah hal yang baik, jadi kamu bisa sepenuhnya menjadi keluarga Sebastian". Raina menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan pak William juga mendukung istrinya.
"bagaimana Al? rain?" tanya Bu Lidya memastikan.
"Allan dan Raina butuh waktu untuk memikirkannya". entah kenapa, mereka berdua tidak menolak, meskipun tidak juga menerima perjodohan dadakan itu.
Hati Raina sangat kalut, bagaimana jika semua itu benar-benar terjadi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Etik Puji Astuti
lanjut kk
2023-04-03
0
Aprillia
sudah trjawab perasaanku...
aw aw aw
authorny....MuaaAnTap 👍👍👍
2021-03-03
1
Fitria Dafina
Wah Monika bakal jadi perusuh ini 🤔🤔
2021-02-28
1