Bintang tahu bahwa masa lalu itu sudah tak berlaku. Segala yang hadir dalam ingatan bukan lagi apa yang sedang terjadi, tetapi apa yang sudah terjadi dan berlalu. Karena itulah, mengingat Sintia, seperti membasuh luka lama yang membuat Bintang semakin terluka. Segala hal tentang aku dan kamu memang sudah tak ada lagi di realita.
"Memangnya Bulan mau sama modelan Hello kitty kaya kamu, kepedean." Bintang melirik Kuncoro sambil nyengir. Sok-sokan mau ngrebut Bulan.
"Eh Bos, Akika juga bisa glow up, nanti Akika cukur kumis sama brewok biar tambah endulita😆 jangan macem-macem Yey Bos, Akika juga bisa ganteng kaya Yey, bapak Akika sama Mamih kan beranak di rahim yang sama😁😁 Akika kalau dipermak bisa ganteng juga kaya yey, ya paling cuma beda 1 centimeter😆😆." Kuncoro terkikik.
Bintang memutar kedua bola matanya. Sialan banget emang Kuncoro ini, Bintang kan jadi takut beneran inih. Takut Kuncoro berubah jadi Manly. Kesleding nanti pas ngejar cinta Bulan.
"Awas aja kalau sampai berani, aku suruh Papih coret nama kamu dikartu kelurga."
"Ya makanya Yey jangan deket-deket lagi sama tuh hantu."
"Iya, cuma bingung aja, ngapain gitu dia kesini, apa perempuan seribet itu ya, mau cerai aja mendadak tanya mantan."
Kuncoro tergelak, "Biasa Bos, kadang nih PDKT sama si Asep, si Agus sama si Doni. Giliran main sama si Adrian, yang baper si Rizal, eh jadiannya sama si Bambang, dasar betina. Suka begindang Bos, jadi jangan heran."
Bintang mengernyitkan dahinya. Tapi betul juga kata Kuncoro, contohnya sintia, pacaran sama siapa eh nikah sama siapa, sekarang mau jadi jendes balik lagi ke siapa.
"Ah udah ayo ngebut kerja, nanti sore mau ke rumah sakit, mau jemput Mamih."
"Jemput Mamih apa mau ketemu Bul bul Bos?" Kuncoro terkekeh, ia begitu senang saat melihat ekspresi Bintang saat digoda tentang Bulan.
Bintang melemparkan pulpen ke arah Kuncoro. Sompret dasar Kuncoro, ngeledek teros. Kuncoro malah tergelak dan menangkap pulpen yang Bintang lempar.
...***...
Saat Bulan akan kembali ke Cafe, Riko melarangnya, Riko menyuruh Bulan untuk menjaga Ibunya dulu sampai Ibunya membaik. Riko juga memberikan amplop berupa uang untuk membantu Bulan membayar rumah sakit. Bulan sangat berterimakasih karena Riko sudah begitu baik dengannya.
Saat Riko sudah pulang dan Ibu sudah tertidur. Bulan menghampiri Tante Bela, Bukan ingin menanyakan perihal foto yang ia ambil di restoran tadi. Bulan berharap tante Bela tahu siapa laki-laki yang ada difoto tersebut.
"Tante, Bulan mau tanya boleh, tapi di sofa aja yah Tan, jangan disitu, takut Ibu denger."
"Memangnya kenapa?"
"Ini masalah serius."
Tante Bela mengerti, ia lalu berjalan menuju sofa lalu duduk di sana, di samping Bulan.
"Tante Bulan mau tanya, Tante kenal nggak sama orang yang ada difoto ini?" Bulan menunjukan sebuah foto dari ponselnya.
Tante mengerutkan dahinya, "Ini yang perempuan bukannya istri ayah kamu Lan."
Bulan mengangguk, "Tapi laki-laki yang dipegang tangannya itu bukan ayah Bulan, Tante kenal nggak?"
"Haduh maaf Bulan, tante jarang bergaul dengan laki-laki, oh ya, kamu kirim saja foto itu ke WhatsApp tante, nanti tante tanyakan ke Papih Bintang, biasanya sesama laki-laki siapa tahu kenal." Tante Bela memberikan nomer ponselnya pada Bulan, Bulan segera mengirimkan fotonya.
"Tante akan membantu kamu, pokoknya kalau butuh apa-apa bilang Tante aja yah."
Bulan mengangguk, anak sama emak sama-sama baiknya. Ya Allah berikan Bulan mertua sebaik Mamih Bela. Kalau Mamih Belanya sih Bulan minder, soalnya masa kentang mau bersanding sama logam mulia, kan jauh yah.😆
"Itu tadi siapa? pacar kamu?" Mamih Bela mulai kepo. Pokoke Bintang harus selangkah lebih maju.
"Bukan, itu Bos, sekaligus teman Bulan, dia yang masih perduli dengan Bulan disaat Bulan seperti ini Tan."
Haduh gawat nih, selain saingan Bintang ganteng, masih muda, tapi juga baik hati, apalagi sudah membantu Bulan dari awal Bulan terpuruk. Mamih Bela jadi pesimis nih.
"Kamu istirahat Bulan, semalaman pasti kamu lelah menjaga Ibumu."
Bulan mengangguk, mumpung Ibu juga sedang tidur, Bulan pun berusaha menejamkan matanya. Mengistirahatkan badannya.
...***...
Sore harinya sebelum Bintang ke rumah sakit, Bintang menyempatkan ke cafe jomblo terlebih dahulu, siapa tahu Bulan belum pulang, jadi bisa sekalian jemput.
Sesampainya di cafe Jomblo ternyata Bulan sudah tidak ada. Bintang sempat bertanya pada Jesika, tapi Jesika bilang Bulan diantar Bos Riko ke rumah sakit. Bulan diperbolehkan cuti beberapa hari. Ah kan Bintang jadi curiga, kenapa Bosnya begitu baik. Apa karena mereka berteman, ataukan karena Bosnya sudah demen.
Bintang akhirnya keluar dari cafe lalu bergegas menuju rumah sakit. Kuncoro merasa heran kenapa bosnya kembali lagi namun sendirian.
"Bul bulnya mana Bos?"
"Cuti, bosnya nyuruh cuti, jadi Bulan sekarang ada di rumah sakit."
"Baik banget Bosnya, besok Akika mau kenalan sama Bosnya, siapa tahu cocok." Kuncoro terkikik geli. Ia menyalakan mesin mobilnya lalu bergegas menuju rumah sakit.
"Adam itu tercipta untuk hawa, bukan untuk Asep, ntar burung perkututmu disleding Mamih baru nyaho, mau apa? mau disambung pake gedebok pisang?"
"Ih Bos, lambe yey kalau ngomong serem ih."
Bintang tergelak, padahal menurut Bintang si Kuncoro ini jika Manly pasti cukup ganteng. Nggak usah diobral di tanah abang juga banyak cewi cewi yang rela antri. Sayangnya rohnya mungkin tertukar tertinggal diluar negri, jadi berubahlah seperti yang ada saat ini.😆
Sampai di rumah sakit, Bintang langsung menuju kamar Bu Widya, Bintang melihat Mamihnya sedang berceloteh begitu renyah dengan Bu Widya. Lumayan lah, cukup mengurangi kecerewetan di rumah😆.
Bintang mengajak Mamihnya pulang karena hari sudah semakin sore. Mamih dan Bintang berpamitan pada Bu Widya dan Bulan. Kuncoro masih asyik di mobil, ia tidak ikut masuk karena Bintang bilang ia hanya sebentar, hanya untuk menjemput Mamihnya.
Mereka bertiga sudah ada di mobil. Kuncoro segera mengemudikan mobilnya. Mamih melirik kearah Bintang yang nampak santai melihat sekeliling jalanan ibukota.
"Bintang, Mamih maunya kamu sama Bulan, Mamih maunya punya mantu Bulan," Celetuk Mamih Bela.
Astagfirullah si Mamih yah, pulang kerja malah di todong pengen mantu. Mana mintanya si Bulan lagi.
Bintang terdiam tidak membalas ucapan Mamihnya.
"Gerak cepat dong Bintang, Bulan banyak yang suka, tadi aja ada si Riko, Bosnya datang menjenguk, kalau tidak ada rasa, nggak mungkin seorang bos sampai menyempatkan waktunya menjenguk Ibu dari karywannya."
Bintang mulai gusar, "Ih Mamih, udah kaya mak lambe-lambean, suka menyimpulkan yang belum tentu."
"Dih, Mamih tuh udah pernah ngrasain muda, jadi tau tuh, mana-mana yang suka, mana-mana yang cuma simpati, kamu kalau nggak cepat nanti ditikung lhoo."
"Bulannya juga masih jual mahal mamih, coba kalau flash sale, pasti Bintang antri nomer satu dah."
Tanpa ba bi bu, Mamih langsung menjewer telinga bujang bontotnya yang suka sembarangan kalau ngomong. Bintang mengaduh kesakitan, sementara Kuncoro tergelak begitu senang melihat sepupunya dijewer emaknya.😆
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
(Vote Rang 24, terjun ke jurang ini mah😆 Jangan lupa like komen dan Vote)
Selalu ditunggu komen 150 nya🤭
Salam sayang.
Santy Puji
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
fauzi
semangat bintang
2021-11-03
0
Hary Nengsih
lucu
2021-09-30
0
Ami Kerto Surat
ngakak
2021-09-22
0