Bintang mengangguk, lalu bergegas keluar dari rumah sakit. Bintang akhirnya kembali lagi ke kantor untuk berduel dengan Kuncoro.
Sesampainya di kantor, Bintang langsung saja menghampiri Kuncoro. Kuncoro yang tahu Bos nya datang ia langsung beranjak dari tempat duduknya, menghindari tatapan Bosnya yang begitu menusuk. Mereka akhirnya kejar-kejaran bak film Tom and Jerry. Tapi karena gaya berlari Kuncoro begitu sexy, (Hahaha gimana tuh gaya berlari sexy, bayangin sendiri aja deh😆) akhirnya Bintang sanggup menangkapnya dengan cepat. Bintang lalu menarik jenggot Kuncoro yang saat itu sudah mulai memanjang belum dicukur. Kuncoro langsung memekik kesakitan.
"Astajim, Mbos nih, sakit tahu, panas perih janggut Akika, jahara Pak Bos." Kuncoro mengelus dagunya yang terasa perih.
"Ih, kamu tuh Coro, bener-bener yah, sudah ketularan lambe turah yah?" Bintang berkacak pinggang di depan Kuncoro.
"Pak Bos, masa Akika dipanggil coro, coro itu kan kecoa Bos."
"Bodo amat," jawab Bintang ketus. Untung Kuncoro ini masih sepupunya, masih keluarga, coba kalau bukan, ingin sekali Bintang ulek sama cabe jablay biar jadi Kuncoro geprek. Gemes pokoknya.
"Maaf Mbos, Akika takut, Mamih ancam Akika ditendang ke pesantren, Akika kan nggak mau Mbos, tau sendiri kan Mamih rempong kalau sudah introgasi itu persis Najwa Sihab, terus aja Akika dicecar sampai mentok. Gugur deh pertahanan." Kuncoro memasang wajah memelas sambil memainkan kuku jari tangannya yang begitu terawat.
Bintang mendengus kesal, "Hais, Mamih," teriaknya.
"Lagian kenapa sih Bos, bukannya malah bagus ya kalau Mamih tahu?"
"Malu lah, aku sama Bulan itu masih berteman, belum lebih."
Kuncoro tersenyum, "Belum lebih? berarti ada rencana lebih dong Bos?"
Bintang melirik Kuncoro, "Jangan asal ngomong kamu."
Kuncoro malah terkekeh, "Tadi Mamih ke rumah sakit Bos?"
Bintang mengangguk, Bintang menceritakan kejadian pagi itu, Bintang juga menceritakan perihal Mamih yang ternyata sudah mengenal Bulan.
Kuncoro malah bertepuk tangan, "Bagus dong Bos, lampu hijau nih."
"Bagus, bagus, aku malu, aku belum begitu kenal dekat dengan Bulan, tapi Mamih main serobot aja."
"Ih, Bos mah, malu, malu terus, gimana mau dapet jodoh coba, ngurusin malu mah nggak ada habisnya Bos, mau sampai kapan membujang terus, sudah 31 tahun lhoo Bos, nanti keburu pohon randu berubah jadi kasur." Kuncoro terkikik geli.
Bintang memutar kedua bola matanya, lalu melempar Kuncoro dengan pulpen yang tergeletak di atas meja.
"Aw, Pak Bos, kekerasan dalam rumah tangga nih."
"Lambemu, sejak kapan kita berumah tangga." Bintang langsung ngeloyor pergi dari hadapan Kuncoro dan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Bintang duduk, menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit-langit ruangan kerjanya, sambil menerawang, sedang apakah Mamih dan Bulan di rumah sakit. Sekilas Bintang terbayang senyum manis Bulan, jantung Bintang berdetak lebih kencang dari biasanya. Bintang memegangi dadanya.
"Apaan sih nih, jantung suka bikin penasaran aja," gumam Bintang dalam hati.
Bintang lalu segera tersadar saat ada dua cicak di atap ruangannya sedang kejar-kejaran. Haduh, Bintang yang sedang melamun seketika ambyar karena ulah si cicak. Bintang segera membuka leptop yang ada di meja kerjanya lalu sebisa mungkin berusaha fokus bekerja.
...***...
Setelah selesai sarapan, Bulan menghampiri Mamih Bela yang tengah duduk di sebelah Bu Widya. Bulan melihat ujung mata Mamih Bela berair, Mamih Bela sepertinya begitu iba dengan keadaan Ibu. Bulan merasa sifat Pak Bos sama persis seperti Mamih Bela yang mudah ikut sedih. Mamih Bela setahu Bulan juga terkenal dermawan, persis seperti Pak Bos.
Mamih Bela menyadari kehadiran Bulan di sebelahnya. Mamih Bela lalu meraih tangan Bulan, menggandeng dan membawanya duduk di sofa. Mamih Bela ingin mengobrol banyak dengan Bulan.
"Bulan, maaf, tante mau tanya, apa gosip yang beredar selama ini benar?" Mamih Bela menatap Bulan dengan penuh kelembutan.
"Gosip apa tante?"
"Ibu dan Ayahmu bercerai?"
Bulan mengangguk, "Iya benar, sudah satu tahun yang lalu Ibu dan Ayah bercerai, Bulan juga kurang faham sebenarnya, Bulan merasa Ayah dan Ibu baik-baik saja, tapi tiba-tiba Ayah mengusir Ibu dari rumah. Saat itu Ibu yang punya darah tinggi tiba-tiba pingsan, Ayah sama sekali nggak nolongin Ibu, jadi Bulan yang menolong Ibu, waktu itu Bulan juga baru aja pulang kuliah, sampai saat ini Bulan masih belum tau alasan Ayah mengusir Ibu, tapi setelah kejadian itu, 3 bulan berikutnya Ayah menikah lagi, Bulan benci Ayah Tan." Mata Bulan sudah berkaca-kaca.
"Lalu, selama ini kalian tinggal dimana?"
"Sejak saat itu, Ayah membuat pilihan untuk Bulan, mau pergi dengan Ibu apa tinggal dengan Ayah dengan segala fasilitasnya. Bulan memilih pergi dengan Ibu walaupun dengan segala keterbatasan. Setelah pingsan itu, Ibu di diagnosa dokter menderita stroke Tan, jadi Bulan harus berhenti kuliah, Bulan kerja jadi Barista di cafe teman Tan, Alhamdulillah masih ada yang mau menolong Bulan disaat semuanya meninggalkan Bulan. Sekarang Bulan ngontrak, karena gaji Bulan hanya cukup untuk itu, Bulan belum bisa bahagiain Ibu, belum bisa kasih tempat yang bagus, kasur yang empuk, dan pempers yang mahal buat Ibu." Bulan begitu tegar menceritakan semuanya di depan Mamih Bela. Malah Mamih Bela yang menangis sesenggukan.
Mamih memeluk Bulan, "Tante bangga sama kamu Lan, kamu lebih memilih Ibu kamu ketimbang hidup dengan berkecukupan, Widya juga pasti bangga mempunyai anak seperti kamu."
Bulan hanya mengangguk, "Sudah, tante jangan nangis, Bulan sama Ibu baik-baik saja kok, Bulan insyaallah bisa menghadapi ujian ini, doain ya Tan, maafin Ibu ya Tan kalau Ibu punya banyak salah, titip salam aja buat semua teman-teman Ibu."
"Engga Lan, Ibu kamu baik banget, selalu nasehatin yang baik-baik sama kita-kita semua."
Bulan tersenyum senang. Benar kata Mamih Bela, Ibunya memang sangat baik, tapi entahlah kenapa Ayahnya tiba-tiba menceraikan dan mengusir Ibu, padahal Ayahnya yang telah berhianat, buktinya 3 bulan setelah bercerai, Ayahnya tiba-tiba sudah menikah lagi dengan wanita lain.
Mamih Bela menatap Bulan, Mamih Bela bergumam dalam hati, "Mamih akan bantu selidiki semuanya Lan, karena di luar sana banyak sekali beredar gosip yang tidak benar."
"Kamu kenal Bintang dimana?" tanya Mamih Bela mengalihkan pembicaraan. Mamih Bela tidak ingin Bulan semakin sedih karena harus mengenang kehidupan pahitnya.
"Bintang? Bulan mengerutkan dahinya.
"Iya, anak Tante itu."
"Oh Pak Bos, Bulan kenal di cafe, waktu itu Pak Bos katanya lagi cari jodoh, jadi mampir deh di cafe jomblo, eh tapi yang dipasangkan dengan pak Bos keburu pergi, jadi Bulan suruh gantiin,"ucap Bulan sambil terkekeh ketika mengenang kembali pertemuannya dengan Bintang.
Mamih Bela menepuk dahinya, mendengar cerita Bulan tentang putranya yang mencoba peruntungan di cafe jomblo. Apa sebegitu tidak lakunya sampai harus mencoba peruntungan di sana. Haduh Bintang.
"Kok manggilnya pak Bos?"
"Iya soalnya kita sebenernya belum kenalan Tan, Bulan panggil Pak Bos karena asistennya memanggilnya pak bos, jadi Bulan ngikut aja deh."
Mamih Bela tertawa, "Pasti itu Kuncoro."
"Tapi nggak mau dipanggil Kuncoro Tan, maunya dipanggil Konita."
"Hais, enak saja, kalau mau dipanggil Konita, tuh burung perkutut Mamih disleding nanti pakai gergaji."
Bulan tertawa terbahak-bahak, ia malah jadi membayangkan Kuncoro yang berteriak histeris ketika akan disleding Tante Bela.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Seneng pokoke otor nangkring di rengking 16, pertahankan sampai 2 minggu ini yah, bantu yah zayeng, biar otor makin cemungut up nya)
Selalu ditunggu 150 komentarnya🤭
Salam sayang,
Santy puji
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Maryana Fiqa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 burung si Kuncoro mau di sleding sm mami pakai gergaji,, asli bkin nggak banget...
2023-10-22
0
Anz Hany
😀😀😂😂 cerita ny kocak bgt thor
2022-05-27
0
Nuniek Nurhandayani
😂😂😂
2021-12-15
0