"Bulan?"
"Hemm, iya Pak Bos."
Kuncoro mulai mundur alon-alon saat Pak Bos mulai ingin mengobrol dengan Bulan.
"Ngomong apa tadi itu si kupret?"
" Ya begitulah Pak Bos, masih selalu bilang masih cinta banget katanya sama saya."
"Kan dia sudah sama cewek lain, seharusnya tidak ada alasan untuk dia bilang cinta."
"Katanya masih cinta sama saya, soalnya saya yang paling mengerti dia, saya yang paling sabar menghadapi dia."
"Dan kamu percaya?"
Bulan mengendikan bahunya, "Entahlah."
" Dia bohong Bulan, cinta itu tidak butuh alasan, cinta itu tidak ada karena karena, karena kamu penyabarlah, karena kamu ngertiin lah, itu bukan cinta namanya." Bintang sedikit meninggikan suaranya hingga Bulan terkejut. Kenapa sih Pak Bos, ngegas terus.
"Ya Mas Arkan memang pandai merayu, dari dulu juga seperti itu."
"Kamu masih punya perasaan untuk dia?"
"Enggak Pak Bos, cape saya dirayu terus di sakiti lagi, saya tidak sebodoh itu Pak Bos."
"Tau dari mana kalau kamu sudah tidak punya perasaan lagi ke dia?"
Bulan mengernyitkan dahinya, Pak Bos ini lagi kenapa sih, introgasi soal mantan terus, bingung deh Bulan.
"Titik tertinggi melepaskan adalah ketika si doi lwat tapi kita sudah tidak merasakan 'Deg' lagi, gitu lhoo Pak Bos, saya udah gak merasakan 'Deg' lagi kok saat Mas Arkan mencoba terus merayu."
Bintang tersenyum, Bintang senang karena Bulan sudah move on dari mantannya.
"Jangan senyum gitu ah Pak Bos."
"Kenapa?"
" Ngeri ih, kadar alkoholnya berapa persen sih?"
Bintang bingung dengan pertanyaan Bulan, kenapa senyuman malah jadi nyrempet-nyrempet ke kadar alkohol.
"Memabukkan," Celetuk Bulan, tapi memang bener kok, senyum Pak bos memang manis banget. Bintang tertawa mendengar gombalan dari Bulan.
"Nanti saya telfon Mamih biar ke rumah sakit lagi nemenin Ibu kamu Lan, hati-hati yah, saya mau berangkat ke kantor."
"Makasih ya Pak Bos, oh ya, nanti dulu, saya buatin kopi nih buat Pak Bos." Bulan membuatkan kopi 2 cup untuk Pak Bos dan Kuncoro.
Bintang membaca tulisan di cup kopi gula aren yang dikemas Bulan.
"Kopi Mantan menikah."
"Itu untuk Pak Bos," ucap Bulan sambil tersenyum.
Bintang mengernyitkan dahinya, Bintang lalu membaca cup yang satunya lagi.
"Kopi Teh AnDi Lau."
"Itu untuk Asisten Bos, kopi teh antara dilema dan galau, dia pasti dilema antara pengen jadi Kuncoro apa Konita." Bulan malah tergelak, begitu juga dengan Bintang.
"Sa ae ih Bulan."
"Ya ini memang menu-menu kopi di cafe jomblo Pak Bos, ada Kopi Kenangan Mantan, Kopi Kenangan Masa Lalu, Kopi Mantan Menikah, Kopi Lupakan Dia, Kopi Teh AnDi Lau (Antara Dilema dan Galau), Teh Susu Kenangan Terindah, Minuman Selingkuhan dan macem-macem lainnya."
Bintang menepuk keningnya, aneh-aneh saja ini cafe. Bintang lalu berpamitan ke kantor pada Bulan. Bintang lalu menghampiri Kuncoro yang sedang asyik bermain ponsel.
"Ayo." Kuncoro melirik Bintang.
"Sudah Pak Bos ngobrol cantiknya."
"Sudah." Bintang berlalu menuju parkiran, Kuncoro segera mengejar Bintang. Di mobil kuncoro sesekali melirik Bintang yang tengah tersenyum sambil memandag cup kopi di tangannya.
"Matalah yang mengirim gelenyer cinta, hemat biaya, pulsa juga kuota," celetuk Kuncoro terkekeh.
"Siapa?"
"Maemunah sama Bambang, ya yey sama Bul Bul lah."
"Apa sekentara itu?"
"Iya cin, mata Yey gak bisa dibohongi Bos."
Bintang malah jadi salah tingkah, ia meletakan cup kopi di dashboard mobil, Bintang pura-pura melihat pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi dari kaca mobil yang tertutup rapat.
...***...
"Bulan, mau nggak anterin aku belanja?" Tanya Bos Riko.
"Aku Bos?" Bulan menunjuk pada dirinya.
"Iya, banyak bahan-bahan yang sudah habis soalnya."
"Oh, ya udah, tapi ini nggak apa-apa kan ditinggal?"
"iya gak apa-apa, masih banyak karyawan lainnya kok."
Bulan membuka celemek terlebih dahulu lalu pergi berbelanja dengan Riko disalah satu tempat perbelanjaan khusus kopi. Riko adalah teman kuliah Bulan yang selama ini masih begitu baik dengannya.
Selesai berbelanja, Riko mengajak Bulan berbelanja juga di swalayan, Riko ingin menjenguk Ibu Bulan.
"Nggak usah repot-repot lhoo Bos."
"Kalau gak lagi di cafe jangan panggil Bos."
"Ah gak enak."
"Harus begitu pokoknya."
"Oke-oke."
"Kita mampir dulu yuk, makan."
"Masih kenyang tadi sarapan di rumah sakit."
"Nggak boleh nolak lhoo Lan."
"Iya iya deh."
Riko dan Bulan memasuki restoran. Sudah setahun lamanya Bulan tidak makan di restoran, jangankan makan di sana, setahun ini menginjakan kakinya di mall juga baru sekali ini, karena memang tidak ada waktu dan juga tidak ada uang. Bulan benar-benar prihatin demi Ibunya.
Bulan menatap berbagai makanan yang ada di depan matanya dengan tatapan sendu. Riko juga ikut sedih melihat kondisi Bulan saat ini.
"Makan ayo."
Bulan menggeleng, "Kamu aja Rik."
"Bulan, aku percaya kamu bisa melewati semuanya, kamu hebat Lan, kamu bisa cepat menyesuaikan keadaan."
"Jika aku tidak cepat menyesuaikan keadaan, apakabar dengan Ibu, ini saja aku masih belum maksimal menjaga Ibu, aku sedih Rik."
"Jangan sedih terus, pokoknya kalau kamu perlu apa-apa, kamu hubungi aku yah, aku pasti siap bantu."
Bulan mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih. Bulan ikut makan dengan Riko, Bulan begitu terharu ketika bisa merasakan kembali masakan restoran yang biasa ia dan keluarganya makan. Tapi sekarang, semua hanya tinggal kenangan.
"Rik, aku mau sisain ini buat Ibu boleh? aku bungkus."
"Makan aja, nanti aku pesankan lagi."
"Jangan, jangan, ini aja, Ibu makannya sedikit kok, nggak perlu pesan lagi, ini aja dibungkus."
Riko akhirnya menuruti kemauan Bulan. Selain kagum dengan Bulan karena Bulan yang pantang menyerah. Bulan juga tidak suka menyusahkan orang lain, tidak memanfaatkan orang lain juga. Padahal banyak diluaran sana wanita seumuran Bulan yang menjajakan tubuhnya demi mendapatkan uang untuk berfoya-foya. Bulan termasuk gadis cantik, kulitnya putih, tubuhnya ramping, tapi ia tidak memanfaatkan tubuhnya untuk mendapatkan uang demi gaya hidup. Bahkan yang Riko lihat selama satu tahun ini, Bulan hanya fokus pada Ibunya sampai seringkali mengabaikan dirinya sendiri.
Selesai makan Bulan segera menenteng belanjaannya, begitu juga Riko, karena hari ini belanja lumayan banyak. Riko bergegas ke kasir, saat Riko sedang di kasir. Bulan melihat Bu Laras, sedang bersama dengan laki-laki lain, namun bukan Ayahnya, mereka tambak mengobrol dengan akrab. Bahkan mereka saling bergenggaman tangan layaknya sepasang kekasih. Terlihat Bu Laras mengambil amplop coklat dari tasnya lalu memberikannya pada laki-laki tersebut. Bulan segera mengambil ponselnya lalu memotret keduanya.
Selesai melakukan pembayaran Riko menghampiri Bulan. Riko melihat Bulan sedang memperhatikan salah satu pengunjung restoran, wajah Bulan nampak memerah, tangannya mengepal. Saat Bulan ingin menghampiri Bu Laras, Riko langsung menghentikan Bulan.
"Mau kemana?"
Bulan menunjuk ke arah Bu Laras.
"Mau apa?"
"Mau ngelabrak."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Tung gantung gantung gantung gantung, yang gantung2 emang paling wenak😆😆 Rengking merosot lagi Mak🤭 Aku semangat nulis, emak semangat Vote dong zayang. Bakal banyak yang seru-seru, banyak misteri, banyak kejutan juga 🤭)
(Oh iya mohon bantuannya, tolong buka2 lagi novel kekasih halal, ga usah d baca jg gpp, d scroll2 aja biar nnti levelnya bertahan🙏🙏)
Salam sayang,
Santy puji
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
fauzi
tak usah bulan
2021-11-03
0
Ami Kerto Surat
sa ae
2021-09-22
0
fanthaliyya
apalagi yg dilakukan ular itu ??
2021-09-20
0