Di Jewer Gara-Gara Tupperware

Bulan berpamitan pada Ibunya untuk membeli sate di gang depan kontrakan. Bulan berjalan ke gang depan membeli beberapa tusuk sate ayam hanya untuk Ibunya saja. Masakan tadi pagi lumayan masih bisa dimakannya, disaat keadaan seperti ini, Bulan tidak ingin membuang-buang makanan. Baginya sebutir nasi saja begitu berharga.

Saat menunggu Abang sate, sebuah mobil berhenti di depannya, seseorang turun dari mobil menghampiri Bulan, Bulan begitu terkejut ketika melihat di depannya sudah ada Mas Arkan, mantan pacarnya, yang meninggalkannya, yang memutuskan hubungan percintaannya hanya karena sebuah ancaman jabatan.

Mas Arkan bekerja di perusahaan Ayah Bulan, dan ternyata anak tiri Ayah Bulan menyukai Mas Arkan. Mas Arkan terancam di pecat jika tidak mau menerima Sarah, anak tiri Ayah Bulan. Dan Mas Arkan yang dulunya bisa masuk perusahaan Ayah karena rekomendasi Bulan, kini telah berhianat juga. Nasib Bulan memang miris. Tapi Bulan sadar, kejadian ini semua menjadikannya tahu sesiapa saja orang-orang yang benar-benar tulus mencintainya.

"Bulan,"Sapa Arkan. Bulan tidak menjawab, bahkan untuk menoleh saja rasanya enggan.

"Bulan." Arkan duduk di sebelah Bulan, sementara Bulan masih saja cuek, Bulan anggap Arkan yang ada di depannya ini tak terlihat, alias makhluk halus, alias syaiton. Bulan sudah terlanjur benci, benci tapi cinta. Bulan benci perasaannya yang sulit sekali membuang Arkan dari hatinya.

"Bulan." Bulan masih diam, hingga ia tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya karena kang sate sudah memberikan pesanannya, Bulan memberikan beberapa lembar uang pada Kang sate. Setelah itu Bulan meninggalkan Arkan yang masih duduk di tempat Kang sate. Arman tidak tinggal diam, ia langsung mengejar Bulan.

"Bulan, aku ingin bicara sama kamu."

Bulan menghentikan langkahnya, "Tidak ada yang perlu lagi dibicarakan, aku benci kamu, jangan temui aku lagi, jangan mengusik hidup aku lagi, aku tidak mau sampai pacar baru kamu itu marah dan mengatai ku dengan tuduhan palsunya."

"Bulan, aku bisa jelaskan."

"Cukup, sudah aku bilang, tidak ada lagi yang perlu di jelaskan."

"Bulan, apa hanya sebatas itu kamu mencintai ku?"

Bulan membalikan tubuhnya, ingin sekali Bulan lempar muka mantan pacarnya itu menggunakan sate, tapi Bulan ingat sisa-sisa uang yang tinggal beberapa lembar lagi tidak mampu bertahan sampai waktunya gajian lagi nanti.

"Apa kamu bilang, cinta, cinta Hah?" Bentak Bulan pada Arkan.

"Kamu bilang cintaku sebatas itu, terus kamu apa? cinta kamu cuma seharga jabatan di kantor, Dimana harga dirimu ARKAN, kamu dan Permana sama saja, kalian penjahat, kamu nggak ngerasain jadi aku, kedua laki-laki yang aku cintai meninggalkanku dalam waktu bersamaan, dalam keadaan terpuruk, jadi tolong pergi dari hidupku, jangan pernah datang lagi didepan mataku." Bulan langsung berlari menuju kontrakannya, sementara Arkan diam memaku mendengar perkataan Bulan.

Dada Bulan sesak, ingin sekali Bulan menangis, menumpahkan semua kekecewaannya lewat air mata. Tapi muara air mata Bulan memang sudah membeku. Patah hati karena cinta pertamanya dan pacar pertamanya, itu sungguh menyakitkan bagi Bulan. Permana digondol kucing girang, begitu juga dengan Arkan yang di caplok anak si kucing girang. Benar kata pepatah, Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kelakuan Sarah tidak jauh dari kelakuan Laras sang Pelakor yang menghancurkan keluarganya.

Hati Bulan perih, seorang yang ia kasihi, sayangi, ia percayai justru dengan mudahnya meninggalkannya. Bulan terpuruk karena apa yang telah ia korbankan dan perjuangkan justru terlihat sia-sia. Ada kalanya Bulan berpikir bahwa selama ini Bulan bertemu dan menjalin hubungan dekat dengan orang yang salah. Hemm, sudahlah.

Tapi karena patah hati Bulan belajar satu hal, cinta tak pernah salah memilih tempat dimana dia harus berada. Berarti selama ini Arkan bukanlah tempat yang tepat untuk melabuhkan sebuah cinta.

Bulan selama ini hanya berusaha berlari dari luka sendiri, membohongi luka hati dengan segala kepalsuan tawa. Mencoba kuat meski makin lemah. Bulan mencoba bisa, tanpa Arkan.

Bulan masuk ke kontrakannya lalu meletakan satenya di atas piring. Setelah itu memberikannya pada Ibunya.

"Bu, dimakan yah, makan yang banyak yah." Bulan menyuapi Ibunya. Walaupun perutnya juga merasa lapar, tapi Bulan lebih memilih menyuapi Ibunya terlebih dahulu.

...***...

Bintang memegangi pelipisnya, jalanan Jakarta selalu macet saat jam pulang kerja. Ia merasa akhir-akhir ini begitu banyak pekerjaan, ia juga memikirkan tekanan dari Mamihnya yang selalu menyuruhnya menikah.

Ponsel Bintang berdering. Saat Bintang ingin mengambil ponsel di saku kemejanya, tanpa sengaja masker dari Bulan ikut terambil. Bintang memandangi masker dari Bulan. Ia jadi teringat leher jenjang putih mulus milik Bulan.

Bintang menjitak kepalanya sendiri. "Otak ih, kenapa ngeres banget sih, sialan,"gumamnya.

"Kenapa Bos?" tanya Kuncoro.

"Eh, besok anterin lagi yah ke cafe tadi, aku mau balikin masker sama tu Barista,"jawab Bintang.

"Ish, beli baru lah bos, itu kan bekas jigong yey."

"Ya nanti aku belikan satu lusin sekalian."

"Besok mau mencoba keberuntungan lagi kah di kursi jomblo?"

"Enggak lah, nggak mau aku, najong, bikin malu, di tambah lagi nggak dapet pasangan, belum juga tuh cewek lihat aku yang ganteng maximal gini, malah kabur duluan, tuh cewek pasti nyesel deh kalau tahu yang didepannya itu ternyata cowo kece keren kaya aku,"ucap Bintang jumawa.

Kuncoro tertawa, "Pede Boros si Bos."

Bintang melengos, ia melihat pesan masuk dari Mamihnya yang menanyakan saat ini Bintang sudah sampai mana. Mamih memang super rempong.

Sesampainya di rumah, Bintang langsung di interogasi oleh Mamihnya, kedua tangan Mamihnya berkacak pinggang, matanya mendelik, seram pokoknya.

"Mana wadah Tupperware Mamih, sudah 2 wadah tidak dibawa pulang lhoo, besok-besok Mamih nggak bakalan yah bawain kamu bekal lagi kalau kamu sampai ilangin Tupperware Mamih."ucap Mamih dengan nada marah.

"Hadeh, itu tanya si Kuncoro dong Mih, dia asisten aku, pasti dia yang beresin Tupperware Mamih,"jawab Bintang.

Tanpa ba bi bu, Mamih langsung menjewer telinga Bintang yang hampir mendapat gelar bujang lapuk itu. Bintang langsung menjerit kesakitan. Duh gusti, turun harga diri nih, di kantor disegani, dihormati, di rumah dijewer Emak. Anak bujang gantengnya berasa tidak berharga dibandingkan dengan wadah Tupperware.😆😆😆 Jangan macam-macam dengan Tupperware Emak.

Terpopuler

Comments

Eva NurMalla

Eva NurMalla

iya emang aku aja belum jadi emak suka kesel kalo tupperware ku dikeja ilang terus adeku

2022-11-18

0

EmbunCahaya

EmbunCahaya

dimana2 tupperware mmg lebih berjarha dr anak sendiri wkwkwk

2021-12-28

1

Dian

Dian

bettull tupperware lebih berharga dr pd bintang,cos bintang jauuuh d sana🤭😃

2021-12-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!